Friday, December 14, 2012

WAYANG PANDAWA


بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


KELUARGA PANDAWA

Para Pandawa merupakan tokoh penting dalam wiracarita Mahabharata, yaitu pertempuran besar di daratan Kurukshetra antara para Pandawa dengan para Korawa serta sekutu-sekutu mereka. Kisah tersebut menjadi kisah penting dalam wiracarita Mahabharata.


Silsilah Keluarga Pandawa




1. Yudistira


Yudistira alias Dharmawangsa, adalah salah satu tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan seorang raja yang memerintah kerajaan Kuru, dengan pusat pemerintahan di Hastinapura. Ia merupakan yang tertua di antara lima Pandawa, atau para putera Pandu.


Istrinya Drupadi




Drupadi anak dari Prabu Drupada, raja negri Cempalareja, berputra bernama Pancawala.

Dalam tradisi pewayangan, Yudistira diberi gelar “Prabu” dan memiliki julukan Puntadewa, sedangkan kerajaannya disebut dengan nama Kerajaan Amarta.

a. Arti Nama
Nama Yudistira dalam bahasa Sanskerta bermakna “teguh atau kokoh dalam peperangan”. Ia juga dikenal dengan sebutan Dharmaraja, yang bermakna “raja Dharma”, karena ia selalu berusaha menegakkan dharma sepanjang hidupnya.

Beberapa julukan lain yang dimiliki Yudhisthira adalah:
- Ajatasatru, “yang tidak memiliki musuh”.
- Bharata, “keturunan Maharaja Bharata”.
- Dharmawangsa atau Dharmaputra, “keturunan Dewa Dharma”.
- Kurumukhya, “pemuka bangsa Kuru”.
- Kurunandana, “kesayangan Dinasti Kuru”.
- Kurupati, “raja Dinasti Kuru”.
- Pandawa, “putera Pandu”.
- Partha, “putera Prita atau Kunti”.
- Puntadewa, “derajat keluhurannya setara para dewa”.
- Yudistira, “pandai memerangi nafsu pribadi”.
- Gunatalikrama, “pandai bertutur bahasa”.
- Samiaji, “menghormati orang lain bagai diri sendiri”.

b. Sifat dan kesaktian
Sifat-sifat Yudistira tercermin dalam nama-nama julukannya, sebagaimana telah disebutkan di atas. Sifatnya yang paling menonjol adalah adil, sabar, jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya diri, dan berani berspekulasi. Kesaktian Yudistira dalam Mahabharata terutama dalam hal memainkan senjata tombak. Sementara itu, versi pewayangan Jawa lebih menekankan pada kesaktian batin, misalnya ia pernah dikisahkan menjinakkan hewan-hewan buas di hutan Wanamarta dengan hanya meraba kepala mereka.

Yudistira dalam pewayangan beberapa pusaka, antara lain Jamus Kalimasada, Tunggulnaga, dan Robyong Mustikawarih. Kalimasada berupa kitab, sedangkan Tunggulnaga berupa payung. Keduanya menjadi pusaka utama kerajaan Amarta. Sementara itu, Robyong Mustikawarih berwujud kalung yang terdapat di dalam kulit Yudistira. Pusaka ini adalah pemberian Gandamana, yaitu patih kerajaan Hastina pada zaman pemerintahan Pandu. Apabila kesabaran Yudistira sampai pada batasnya, ia pun meraba kalung tersebut dan seketika itu pula ia pun berubah menjadi raksasa besar berkulit putih bersih.


2. Bima



Bima (Sanskerta: Bhima) atau Bimasena (Sanskerta: Bhimaséna) adalah seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia dianggap sebagai seorang tokoh heroik. Ia adalah putra Dewi Kunti dan dikenal sebagai tokoh Pandawa yang kuat, bersifat selalu kasar dan menakutkan bagi musuh, walaupun sebenarnya hatinya lembut. Ia merupakan keluarga Pandawa di urutan yang kedua, dari lima bersaudara. Saudara se’ayah’-nya ialah wanara yang terkenal dalam epos Ramayana dan sering dipanggil dengan nama Hanoman. Akhir dari riwayat Bima diceritakan bahwa dia mati sempurna (moksa) bersama ke empat saudaranya setelah akhir perang Bharatayuddha. Cerita ini dikisahkan dalam episode atau lakon Prasthanikaparwa. Bima setia pada satu sikap, yaitu tidak suka berbasa basi dan tak pernah bersikap mendua serta tidak pernah menjilat ludahnya sendiri.

Beristri 3 :





1. Dewi Nagagini, putri Sanghyang Anantaboga dengan Dewi Supreti dari Kahyangan Saptapratala. berputra Arya Anantareja.

2. Dewi Arimbi, putri dari Prabu Arimbaka dari kerajaan Pringgandani.berputra Raden Gatotkaca.

3. Dewi Urangayu, adalah anak tunggal dari penguasa Samodra, keturunan bangsa Dewa, bernama Batara Baruna.berputra Arya Anantasena.




Kelahiran Sang Bima

Seluruh kerajaan Astina sangat berduka karena kelahiran anak jabang bayi
Prabu Pandu dan Dewi Kunti yang berwujud terbungkus. Tak ada senjata yang mampu untuk memecah bungkus tersebut. Kurawa yang juga ikut membantu memecah bungkus tersebut – walaupun dengan tujuan berbeda ingin melenyapkan sang jabang bayi – juga tidak sanggup melakukannya. Sampai akhirnya, terdapat wangsit dewata yang meminta bayi bungkus tersebut dibuang di hutan Krendawahana

Di pertapaan wukir retawu Begawan Abyasa kedatangan Raden Permadi yang dikuti oleh punakawan.
“Kakek bagaimana nasib kakak bungkus, sudah sampai beberapa tahun tak ada kabar baik mengenai ini eyang, menjadikan dukanya ibu Kunti”

Tentu saja sang Begawan yang memang dipenuhi oleh budi luhur sudah mengetahui apa yang akan terjadi.
“Cucuku ngger Permadi, mengertilah kalo kakakmu sedang menjalani karmanya. Di kemudian hari kakakmu si bungkus akan jadi ksatria utama dan akan mendapat apa yang disebut sebagai wahyu jati”

Adanya bayi bungkus tersebut menjadikan gegernya suralaya. Bumi gonjang ganjing bergetar seperti dibelah. Lautan menjadi kering.
Di suralaya Batara Guru memanggil Gajah Sena putra sang batara yang berwujud gajah untuk memecah si bungkus sehingga menjadi manusia yang sejati. Sang guru juga mengutus Dewi Umayi untuk melatih tentang keutamaan kepada si bayi bungkus.

Setelah memberikan pengajaran kepada si bungkus, Dewi Umayi memberikan busana berupa cawet bang bintulu merah, hitam, kuning, putih, pupuk, sumping, gelang, porong dan kuku Pancanaka.

Selanjutnya Gajahsena dengan kekuatan yang dimilikinya membuka bungkus sijabang bayi. Namun dengan pecahnya bungkus, sang bayi menjadi marah karena ia merasa disakiti, maka terjadilah perkelahian yang dahsyat diantara keduanya. Pertempuran tersebut berakhir dengan kalahnya Gajah Sena. Namun bersamaan dengan sirnanya jasad sang Gajah, seluruh roh dan kekuatannya merasuk kedalam badan si bayi bungkus.

Kemudian datanglah Betara Narada. Si bungkus kemudian bertanya pada Sang Kabayadewa,”Heeem, siapakah aku ini?”

“Anakku, *kamu itu sesungguhnya adalah putra nomor dua dari Raja Dimarta Prabu Pandu Dewanata. Kamu lahir berwujud bungkus, dan kehendak Dewata kamu akan menjadi ksatria utama, dan untuk itu engkau kuberi nama Bratasena ..”

Nama lain
* Bratasena

* Balawa

* Birawa

* Dandung Wacana

* Nagata

* Kusumayuda

* Kowara

* Kusumadilaga

* Pandusiwi

* Bayusuta

* Sena

* Wijasena

* Jagal Abilowo
* Werkudara
* Gandawastratmaja
* Dwijasena
* Arya Sena
* Arya Brata
* Wayunendra
* Wayu Ananda
* Bayuputra,
* Bayutanaya
* Bayusiwi
* Bilawa
* Bondan Peksajandu

a. Arti nama
Kata bhima dalam bahasa Sanskerta artinya kurang lebih adalah “mengerikan”. Sedangkan nama lain Bima yaitu Wrekodara, dalam bahasa Sanskerta dieja v?(ri)kodara, artinya ialah “perut serigala”, dan merujuk ke kegemarannya makan. Nama julukan yang lain adalah Bhimasena yang berarti panglima perang.

Nama lain dari Bima adalah Bratasena, Balawa, Birawa, Dandungwacana, Nagata, Kusumayuda, Kowara, Kusumadilaga, Pandusiwi, Bayusuta, Sena, Wijasena, Jagal Abilowo.

b. Sifat dan kesaktian.
Bima memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia bertemu dengan Dewa Ruci. Ia memiliki keistimewaan dan ahli bermain gada, serta memiliki berbagai macam senjata, antara lain: Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar) dan Bargawasta. Sedangkan jenis ajian yang dimilikinya antara lain: Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuklindu, Aji Bayubraja dan Aji Blabak Pangantol-antol.

Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah Dewata yang diterimanya antara lain: Kampuh atau Kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan Pupuk Pudak Jarot Asem.


3. Arjuna




Raden Arjuna adalah putra ketiga dari pasangan Dewi Kunti dan Prabu Pandu atau sering disebut dengan ksatria Panengah Pandawa. Seperti yang lainnya, Arjuna pun sesungguhnya bukan putra Pandu, namun ia adalah putra dari Dewi Kunti dan Batara Indra. Dalam kehidupan orang jawa, Arjuna adalah perlambang manusia yang berilmu tingga namun ragu dalam bertindak. Hal ini nampak jelas sekali saat ia kehilangan semangat saat akan menghadapi saudara sepupu, dan guru-gurunya di medan Kurusetra. Keburukan dari Arjuna adalah sifat sombongnya. Karena merasa tangguh dan juga tampan, pada saat 
mudannya ia menjadi sedikit sombong.


Para Istri Arjuna



1. Dewi Antakawulan, berputra Bambang Antakadewa.

2. Dewi Asmarawati ,berputra Bambang Jati Asmara

3. Dewi Citraganda/Citranggada putri Prabu Citradahana/Citrasena berputra Bambang Babruwahana/Wabruwahana

4. Dewi Citrahoyi.

4. Dewi Dresanala, berputra Bambang Wisanggeni.

6. Dewi Dyah Sarimaya.

7. Dewi Gandawati puteri dari Prabu Gandasena dari Kerajaan Tasikmadu berputra Bambang Gandawardaya/Bambang Gandakusuma.

8. Dewi Gagar Mayang.

9. Dewi Jimambang puteri Resi Wilawuk/Resi Wilwuk dari hutan alas Wanamarta atau Alas Mertani, berputra Bambang Kumaladewa dan Bambang Kumalasakti.

10.Dewi Juwitaningrat, berputra Bambang Sumbada/Bambang Senggata yang beujud raksasa.

11.Dewi Kencana Wati putri Prabu Sokadrema.

12.Dewi Kencana Wulan putri Prabu Sokadrema.

13.Dewi Lestari.

14.Dewi Larasati putri Prabu Bismaka/Arya Prabu Rukma, raja Kumbina dengan Ken Yusida/Ken Sagupi, berputra Bratalaras.

15.Dewi Larawangen.

16.Dewi Lengleng Mulat.

17.Dewi Maheswara/Endang Sabekti, putri Begawan Sidik Waspada dari pertapaan Glagahwangi berputra Bambang Priyambada.

18.Dewi Manikarya.

19.Dewi Manikhara.

20.Dewi Manuhara, putri Wiku Manikara dari pertapaan Tirtakawana. versi lain ia adalah putri Bagawan Sidik Wacana dari pertapaan Andong Sumiwi, berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati.

21.Dewi Palupi/Ulupi, puteri seorang Begawan Naga Korawya dari kerajaan Nagaloka, versi lain puteri*Begawan Kanwa, dari pertapaan Yasarata. Ada juga versi lainnya Dewi Ulupi puteri resi Jayawilapa dari Gunung Yasarata. berputra Bambang Irawan.

22.Dewi Pamegatsih, berputra Bambang Pamegatrisna.

23.Dewi Partawati, puteri Prabu Partakusuma *dari Kerajaan Waringinsungsang.

34.Dewi Purnama Sidi Puteri Begawan Sidi Wasana, dari Pertapaan Andong Purnama, berputera Bambang Manonbawa, atau Manon Manonton atau Kresna Malang Dewa.

25.Dewi Puspawati.

26.Dewi Rarasati anak Antagopa, gembala ternak Prabu Basudewa dari negara Madura. Tetapi sebenarnya Dewi Rarasati putri Basudewa yang dirahasiakan.

26.Dewi Ratri, puteri Prabu Jin Yudistira, versi lain cucu Begawan Partana dari Pertapaan Guwawarna, berputra Bambang Wijanarka.

27.Dewi Retna Kasimpar.

28.Dewi Srikandi adalah putra Prabu Drupada raja Pancalareja dengan permaisurinya Dewi Gandawati.

29.Dewi Srimendang putri Tambaksegara berputra Bambang Srigati.

30.Dewi Subadra atau Dewi Sumbadra, putri Prabu Basudewa, raja negara Mandura dari permaisuri Dewi Rohini/Dewi Badrahini, putra Raden Angkawijaya/Bambang Abimanyu.

31.Dewi Sulastri, berputra Bambang Sumitra.

32.Dewi Supraba, putri Bathara Indra. berputra Bambang Prabakusuma.

33.Dewi Surendra/Dewi Irim irin.

34.Dewi Suryawati putri Prabu Radea di negari Petapralaya..

35.Dewi Suyati.

36.Dewi Tunjungbiru.

37.Dewi Tilotama.

38.Dewi Warsini.

39.Dewi Warsiki.

40.Dewi Wilutama, berputra Bambang Wilugangga.versi lainnya menyebutkan Dewi Wilutama pernah turun ke Arcapada menjelma menjadi kuda sembrani betina dan membawa terbang Bambang Kumbayana/Resi Drona menyeberangi lautan yang waktu itu sedang mencari Arya Sucitra. Dalam peristiwa itu terjalin hubungan asmara antara Dewi Wilutama dengan Bambang Kumbayana. Akibatnya Dewi Wilutama hamil, dan melahirkan seorang putra lelaki yang mempunyai ciri-ciri berambut dan bertelapak kaki kuda, yang diberi nama Bambang Aswatama.

a. Arti Nama.
Arjuna memiliki dasanama sebagai berikut : Herjuna, Jahnawi, Sang Jisnu, Permadi sebagai nama Arjuna saat muda, Pamade, Panduputra dan Pandusiwi karena merupakan putra dari Pandu, Kuntadi karena punya panah pusaka, Palguna karena pandai mengukur kekuatan lawan, Danajaya karena tidak mementingkan harta, Prabu Kariti saat bertahta menjadi raja di kayangan Tejamay
a setelah berhasil membunuh Prabu Niwatakaca, Margana karena dapat terbang tanpa sayap, Parta yang berarti berbudi luhur dan sentosa, Parantapa karena tekun bertapa, Kuruprawira dan Kurusatama karena ia adalah pahlawan di dalam baratayuda, Mahabahu karena memiliki tubuh kecil tetapi kekuatannya besar, Danasmara karena tidak pernah menolak cinta manapun, Gudakesa, Kritin, Kaliti, Kumbawali, Kumbayali, Kumbang Ali-Ali, Kuntiputra, Kurusreta, Anaga, Barata, Baratasatama, Jlamprong yang berarti bulu merak adalah panggilan kesayangan Werkudara untuk Arjuna, Siwil karena berjari enam adalah panggilan dari Prabu Kresna, Suparta, Wibaksu, Tohjali, Pritasuta, Pritaputra, Indratanaya dan Indraputra karena merupakan putra dari Batara Indra, dan Ciptaning dan Mintaraga adalah nama yang digunakan saat saat bertapa di gunung Indrakila. Arjuna sendiri berarti putih atau bening.

b. Sifat dan Kesaktian
Sejak muda, Arjuna sudah gemar menuntut ilmu. Ia menuntut ilmu pada siapapun. Menurutnya lingkungan masyarakat adalah gudang dari ilmu. Guru-gurunya antara lain adalah Resi Drona, dari Resi Dona ia mendapat senjata ampuh yang bernama panah Cundamanik dan Arya Sengkali, yang kedua adalah Begawan Krepa, Begawan Kesawasidi, Resi Padmanaba, dan banyak pertapa sakti lainnya. Dalam kisah Mahabarata, Arjuna berguru pada Ramaparasu, namun dalam kisah pewayangan, hal tersebut hampit tidak pernah disinggung.

Arjuna memiliki banyak sekali senjata dan aji-aji.Senjata-senjata Arjuna antara lain adalah Panah Gendewa dari Batara Agni setelah ia membantu Batara Agni melawan Batar Indra dengan membakar Hutan Kandawa, Panah Pasopati dari Kirata, seorang pemburu jelmaan Batara Guru, sebelum Arjuna membunuh Niwatakaca, Mahkota Emas dan berlian dari Batara Indra, setelah ia mengalahkan Prabu Niwatakaca dan menjadi Raja para bidadari selama tujuh hari, keris Pulanggeni, keris Kalanadah yang berasal dari taring Batara Kala, Panah Sarotama, Panah Ardadali, Panah Cundamanik, Panah Brahmasirah, Panah Angenyastra, dan Arya Sengkali, keempatnya dari Resi Drona, Minyak Jayangketon dari Begawan Wilawuk, mertuanya, pusaka Mercujiwa, panah Brahmasirah, cambuk kyai Pamuk, panah Mergading dan banyak lagi. Selain itu aji-aji yang dimiliki Arjuna adalah sebagai berikut :

- Aji Panglimunan/Kemayan : dapat menghilang
- Aji Sepiangin : dapat berjalan tanpa jejak
- Aji Tunggengmaya : dapat mencipta sumber air
- Aji Mayabumi : dapat meperbesar wibawa dalam pertempuran
- Aji Mundri/Maundri/Pangatep-atep : dapat menambah berat tubuh
- Aji Pengasihan : menjadi dikasihi sesama
- Aji Asmaracipta : menambah kemampuan olah pikir
- Aji Asmaratantra : menambah kekuatan dalam perang
- Aji Asmarasedya : manambah keteguhan hati dalam perang
- Aji Asmaraturida : meanmbah kekuatan dalam olah rasa
- Aji Asmaragama : menambah kemampuan berolah asmara
- Aji Anima : dapat menjadi kecil hingga tak dapat dilihat
- Aji Lakuna : menjadi ringan dan dapat melayang
- Aji Prapki : sampai tujuan yang diinginkan dalam sekejap mata
- Aji Matima/Sempaliputri : dapat mengubah wujudnya.
- Aji Kamawersita : dapat perkasa dalam olah asmara


Arjuna mempunyai anak bernama Abimanyu, buah kerkimpoiannya dengan Subadra. Ditetapkan bahwa Abimanyu lah yang akan meneruskan tahta setelah Yudistira.

Dalam pewayangan, Abimanyu memiliki peran dan kedudukan yang istimewa karena ia merupakan satu-satunya tokoh yang sejak dalam kandungan telah mendapatkan wahyu karaton. Salah satu wahyu yang menitis ke dalam diri Abimanyu adalah Wahyu Cakraningrat yang disebutkan sebagai wahyu karaton.

Lakon ini menceritakan turunnya Wahyu Cakraningrat untuk menentukan wiji ratu dan sekaligus pancering ratu tanah Jawa. Siapa yang mendapatkannya, ia akan disahkan oleh rakyat untuk menduduki tahta kerajaan dan didudukkan sebagai pancering ratu tanah Jawa.

Tokoh-tokoh yang berusaha untuk mendapatkan wahyu adalah Raden Saroja Kusuma, Raden Samba, dan Raden Abimanyu dengan caranya masing-masing. Pada akhir kisah disebutkan bahwa yang berhak mendapatkan Wahyu Cakraningrat adalah Abimanyu karena ia telah ditakdirkan oleh Hyang Pada Wenang. Dengan demikian Abimanyu didudukkan sebagai pancering ratu tanah Jawa.

Dalam sebuah lakon wayang sunda diceritakan bahwa dalam perjalanan Abimanyu memperoleh Wahyu Cakraningrat, dia didampingi Semar sebagai pamomong. Ada postingan yang menarik dari percakapan Abimanyu dan Semar saat itu. Namun untuk pemahamannya, saya serahkan pada pribadi masing-masing.


4. Nakula



Resminya, Nakula atau Pinten adalah putra dari Prabu Pandu dan Dewi Madrim. Namun karena Prabu Pandu tak dapat behubungan tubuh dengan istrinya, maka Dewi Madri yang telah diajari ilmu Adityaredhaya oleh Dewi Kunti memanggil dewa tabib kayangan yang juga dikenal sebagai dewa kembar. Batara Aswan-Aswin. Nakula adalah putra dar Batara Aswan sedang
Sadewa adalah putra dari Batara Aswin.

Nakula beristri 2


1. Dewi Sayati putri Prabu Kridakirata, raja negara Awuawulangit, dan memperoleh dua orang putra masing-masing bernama; Bambang Pramusinta dan Dewi Pramuwati.

2. Dewi Srengganawati, putri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai/narmada Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra/Ekapratala) dan memperoleh seorang putri bernama Dewi Sritanjung.


a. Arti Nama.

Secara harfiah, kata nakula dalam bahasa Sansekerta merujuk kepada warna Ichneumon, sejenis tikus atau binatang pengerat dari Mesir. Nakula juga dapat berarti “cerpelai”, atau dapat juga berarti “tikus benggala”. Nakula juga merupakan nama lain dari Dewa Siwa.

b. Sifat dan Kesaktian.
Raden Nakula memiliki perwatakan jujur, setia, taat pada orang tua dan tahu membalas budi serta dapat menjaga rahasia. Menurut kitab Mahabharata, Nakula sangat tampan dan sangat elok parasnya. Menurut Dropadi, Nakula merupakan suami yang paling tampan di dunia. Namun, sifat buruk Nakula adalah membanggakan ketampanan yang dimilikinya. Hal itu diungkapkan oleh Yudistira dalam kitab Prasthanikaparwa.

Aji-aji yang dimiliki oleh Nakula adalah Aji Pranawajati yang berhasiat tak dapat lupa akan hal apapun. Aji ini ia dapat dari Ditya Sapujagad, seorang perwira Kerajaan Mertani di bawah kekuasaan Prabu Yudistira yang menyatu dalam tubuhnya. Nakula pun mendapat wilayah yang dulu diperintah oleh Sapujagad yaitu Sawojajar. Nakula juga memiliki cupu yang berisi Banyu Panguripan dari Batara Indra, cupu berisi Tirta Manik yang merupakan air kehidupan dari mertuannya Begawan Badawanganala.

Nakula adalah titisan Batara Aswin, Dewa tabib. Ia mahir menunggang kuda dan pandai mempergunakan senjata panah dan lembing. Menurut Mahabharata, si kembar Nakula dan Sadewa memiliki kemampuan istimewa dalam merawat kuda dan sapi. Nakula digambarkan sebagai orang yang sangat menghibur hati. Ia juga teliti dalam menjalankan tugasnya dan selalu mengawasi kenakalan kakaknya, Bima, dan bahkan terhadap senda gurau yang terasa serius. Nakula juga memiliki kemahiran dalam memainkan senjata pedang.



5. Sadewa



Raden Sadewa atau Tangsen yang merupakan saudara kembar dari Raden Nakula adalah bungsu dari Pandawa. Ia adalah putra dari Dewi Madrim dan Batara Aswin, dewa kembar bersama Batara Aswan, ayah Nakula.

Sadewa beristri 1:



Dewi Srengginiwati, adalah adik Dewi Srengganawati (Isteri Nakula), putri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai/narmada Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra/Ekapratala).
Dari pernikahan tersebut ia memperoleh seorang putra bernama Bambang Widapaksa/ Sidapaksa

a. Arti Nama.

Nama-nama lain dari Sadewa adalah Sudamala dan Madraputra. Adapun arti dari nama ini nubie belum bisa menemukannya. Semoga ada sepuh yang bisa memberi pencerahan di sini.

b. Sifat dan Kesaktian.
Raden Sadewa memiliki perwatakan jujur, setia, taat pada orang tua dan tahu membalas budi serta dapat menjaga rahasia. Dalam hal olah senjata, sadewa ahli dalam penggunaan pedang.

Jika Nakula tak dapat lupa akan segala hal maka, Sadewa juga memiliki ingatan yang kuat serta ahli dalam hal menganalisis sesuatu. Sadewa juga ahli dalam hal Metafisika dan dapat tahu hal yang akan terjadi. Ini diperoleh dari Ditya Sapulebu yang dikalahkannya dan menyatu dalam tubuhnya saat Pandawa membuka hutan Mertani. Selain itu, Sadewa mendapatkan wilayah Bumiretawu atau juga disebut Bawertalun.

Ia menikah dengan Dewi Rasawulan, putri dari Prabu Rasadewa dari kerajaan Selamiral. Menurut kabar, yang sanggup memperistri Dewi Rasawulan akan unggul dalam Baratayuda Di saat yang sama Arjuna dan Dursasana juga datang melamar, namun yang memenakan sayembara pilih itu hanyalah Sadewa karena ia sanggup menjabarkan apa arti cinta sebenarnya.


6 comments: