Showing posts with label Fotografi. Show all posts
Showing posts with label Fotografi. Show all posts

Saturday, March 2, 2013

Berbagai macam settingan di kamera DSLR



Ada berbagai macam pilihan settingan yang ada di kamera kita. Paling dasar, tentu saja ada segitiga exposure. berikut ini macam-macam settingan di kamera DSLR.

Metering Modes

Kamera mampu melihat hal yang sedang kita bidik, menghitung jumlah/ukuran daerah gelap dan terang, lalu memperhitungkan segitiga exposure yang kira-kira pas. Perhitungan ini dilakukan dengan mencatat perbandingan jumlah/ukuran daerah yang gelap/terang, lalu membandingkan dengan database kombinasi perbandingan gelap/terang dan exposure yang bersesuaian.

Nah, metering mode ini digunakan untuk menentukan bagian mana dari frame yang diperhitungkan. Istilah yang digunakan berbeda-beda, saya tuliskan dengan istilah yang saya kenal. Istilah di kamera Anda mungkin berbeda, tapi prinsipnya sama :)


Matrix/multi-segment/evaluative

Di mode ini, seluruh frame akan diperhitungkan. Mode ini berguna jika kita ingin memastikan bahwa tidak ada highlight yang overexposed, atau shadow yang underexposed, di seluruh frame. Dengan kata lain: jika kita ingin exposure yang tepat di seluruh frame. Berguna jika seluruh isi frame foto penting, misalnya di foto landscape.


Center-weighted

Di mode ini, bagian tengah frame diberi tingkat kepentingan yang lebih tinggi dibanding bagian pinggir. Mode ini digunakan untuk memastikan bahwa objek di tengah frame mempunyai exposure yang tepat, dan kita rela mengorbankan sedikit over/under exposure di pinggiran frame.









Spot


Hanya sebagian kecil dari frame saja yang diperhitungkan, biasanya berupa lingkaran kecil di tengah. Berguna untuk memastikan bahwa auto exposure disesuaikan untuk bagian/obyek tertentu saja; belum tentu obyek yang di tengah, karena bisa digunakan berbarengan dengan AE Lock lalu recompose.


Misalnya, untuk menciptakan siluet, maka kita gunakan spot metering, arahkan bagian tengah frame ke sumber cahaya (misalnya matahari), AE Lock sehingga kamera menggunakan exposure yang tepat untuk menampilkan matahari dengan baik, lalu kita recompose (bidik ulang sehingga komposisi sesuai dengan keinginan, misalnya matahari di sudut) sambil masih AE Lock, baru kita jepret.


Mode lain

Di antara matrix yang menggunakan seluruh frame, dan spot yang hanya menggunakan bagian tengah saja, mungkin saja terdapat berbagai macam mode metering yang lain. Center-weighted (dijelaskan di atas) adalah salah satu di antaranya: seluruh frame digunakan, namun dengan prioritas lebih tinggi terhadap obyek di tengah. Kombinasi lain mungkin saja tersedia, tergantung kameranya. Partial metering, misalnya, hanya menggunakan bagian tengah frame, namun dengan ukuran yang lebih luas daripada spot.


Autofocus (AF) Points

Kamera mempunyai banyak titik/sensor autofocus. Kita bisa menentukan titik mana (saja) yang digunakan.


Wide/multiple

Di mode ini, kamera akan menggunakan semua AF point yang ada. Kamera juga akan menentukan secara otomatis titik mana saja yang akhirnya akan difokuskan. Saya juga kurang begitu mengerti, keputusan ini berdasarkan apa. Karena itu, saya jarang menggunakan mode ini. Seringkali, kamera tidak terfokus di hal/titik yang saya inginkan, terutama jika ada foreground di depan obyek.


Mode ini berguna jika Anda perlu memotret tanpa melihat viewfinder (candid, misalnya). AF point yang banyak akan memperbesar kemungkinan obyek jatuh di salah satu dari AF point tersebut; kemungkinan ini akan sangat kecil jika kamera hanya menggunakan satu AF point seperti di mode lain.


Flexible
Di mode ini, kita hanya menggunakan satu AF point, dan kita bisa menentukan AF point mana yang akan digunakan. Berguna karena kita bisa memastikan kamera memfokuskan diri pada obyek yang kita inginkan. Ada satu hal yang perlu diingat jika menggunakan mode ini: pastikan Anda mengenali AF point yang mana yang cross-type dan mana yang bukan. Kamera entry level seringkali hanya mempunyai satu cross-type AF point: di tengah. Singkatnya, cross-type AF lebih akurat :)


Focusing mode

Istilahnya berbeda-beda, tapi biasanya hanya ada tiga focusing mode:


Single shot


Jika kita menekan tombol shutter setengah jalan (half press), maka kamera akan mencari fokus, lalu akan me-lock focus di jarak tersebut, tidak akan berubah lagi.


Continuous/AI Servo

Di mode ini, kamera tidak akan me-lock focus, dan terus menyesuaikan focus dengan objek, bahkan jika obyeknya bergerak.


Auto/AI Focus

Di mode ini, kamera akan me-lock focus pada saat half-press, namun bisa melepaskan locknya dan menyesuaikan focus jika obyek bergerak. Walaupun kedengarannya hanya sedikit berbeda dengan mode continuous, tapi ada beberapa orang yang berpendapat mode auto ini kurang akurat dibandingkan continuous; mungkin karena ada jeda untuk melepas lock dan refocusing.






Monday, November 26, 2012

FOTOGRAFI EKSPERIMEN

Fotografi eksperimen adalah suatu jenis aliran fotografi yang menggunakan obyek tertentu dimana obyek tersebut yang tidak tergolong atau termasuk pada jenis fotografi yang lainnya, obyek tersebut dibuat sebagai obyek percobaan dalam foto sehingga menemukan estetika dari obyek tersebut. (Abdul Aziz Ma'any, S.Pd.)













FOTOGRAFI MACRO





Fotografi makro adalah fotografi dengan jarak sangat dekat untuk mendapatkan detail yang tinggi namun tidak memerlukan bantuan alat pembesar optik seperti mikroskop. Fotografi makro biasanya memiliki rasio 1:1 yaitu besar gambar yang dihasilkan sama ukurannya dengan benda aslinya. Sebagai contoh, pada film 35 mm, lensa harus dapat fokus pada area sekecil 24×36 mm, yaitu ukuran gambar pada film.
Untuk fotografi makro, lensa makro adalah pilihan yang tepat. Lensa tipe ini biasanya memiliki perbesaran 1:1 atau bahkan lebih. Namun sayang, lensa makro identik dengan harga yang mahal. Oleh karena itu, anda dapat menggunakan alternatif lain seperti menggunakan extension tube, reverse ring atau filter close up. Berikut adalah cara cara yang dapat ditempuh untuk mendapatkan foto makro dengan biaya yang murah.
Cara pertama adalah dengan Filter close up.Filter close up adalah filter yang dipasang di depan lensa (seperti filter biasa) yang fungsinya seperti kaca pembesar yhang berguna untuk mendapatkan pembesaran fokus yang diinginkan. Dengan cara ini walaupun tidak memiliki lensa makro, dengan lensa kit biasa juga sudah bisa digunakan untukfoto makro.
Cara kedua adalah menggunakan reverse ring. Sebenarnya cara kerjanya reverse ring ini sama dengan membalik lensa agar bisa digunakan untuk foto makro. Reverse ring hanya sebuah alat bantu yang funsingnya untuk menyatukan badan kamera dengan lensa yang dibalik.
Cara ketiga adalah dengan makro extention tube. Extention tube ini berbentuk seperti pipa yang dipasang di antara badan kamera dengan lensa. Tujuannya adalah untuk mendapatkan jarak fokus yang lebih dekat agar bisa fokus untuk memotret benda yang kecil.
Gunakanlah Aperture Sempit
Mengeksekusi foto makro biasanya dilakukan dengan jarang yang sangat dekat. Dan foto yang dihasilkan akan memiliki ruang tajam (DoF) yang sangat sempit. Oleh karena itu, gunakanlah aperture sempit (f/8 keatas) untuk memperluas ruang tajam yang didapat.
Cobalah untuk tidak menggunakan ISO tinggi
Jika alat yang anda pergunakan tidak memungkinkan mendapatkan perbesaran yang wah, dan berniat melakukan perbesaran dengan cara cropping, cobalah untuk tidak menggunakan ISO terlalu tinggi. ISO yang terlalu tinggi akan menimbulkan grain pada hasil foto, terlebih ketika anda melakukan cropping. Grain juga cenderung mengurangi ketajaman foto.
Pastikan kamera tidak shake/goyang
DoF yang sempit pada foto makro berdampak pada susahnya untuk melakukan fokus pada objek. Sedikit guncangan saja, maka fokus dipastikan dapat meleset. Untuk mengatasi ini, pastikan kamera tidak mengalami shake ketika akan melakukan eksekusi. Anda dapat menggunakan tripod jika ingin. Namun hal ini bisa diatasi dengan menggunakan speed tinggi diatas 1/125. Hal ini juga berguna untuk mengantisipasi pergerakan serangga.
Gunakan bantuan cahaya lampu flash
Foto makro yang dihasilkan dengan cahaya alami tentu saja sangat baik. Namun saya jarang sekali dapat mengeksekusi foto makro dengan setingan aperture sempit – ISO rendah – speed tinggi tanpa bantuan flash. Jika anda tidak memiliki external flash, anda dapat menggunakan internal flash pada kamera.
Cobalah untuk selalu menggunakan manual fokus
Untuk mendapatkan perbesaran maksimal, cobalah untuk selalu menggunakan manual fokus. Caranya, setting lensa anda pada manual fokus, dan gunakan titik fokus terdekat. Lalu temukan fokus yang tepat dengan memaju-mundurkan lensa di depan objek hingga mendapatkan fokus yang pas.

FOTOGRAFI BUILDING


Fotografi building yaitu jenis fotografi yang menggunakan obyek bangunan-bangunan, seperti gedung, rumah, atupun bangunan yang lainnya.

Ada 2 pendekatan yang bisa dilakukan untuk memotret bangunan. Dari sisi arsitektur ataupun dari sisi cerita (essay) yang akan dibangun mengenai bangunan tersebut. Topik ini menekankan arsitektur (interior dan eksterior) suatu bangunan.
Perspektif bangunan sangat penting dalam sebuah foto arsitektur. Lensa kamera yang digunakan akan berpengaruh terhadap persepektif. Idealnya bangunan tampak lurus tanpa distorsi seperti mata manusia memandang. Ini bisa didapat dengan menggunakan lensa normal (50mm). Namun kondisi di lapangan seringkali tidak memungkinkan untuk selalu menggunakan lensa normal.

Bagaimana untuk mengatasi keterbatasan alat dan kondisi lapangan tersebut ? Berikut tipsnya :

  • Untuk menghasilkan foto dengan distorsi minimal, permukaan lensa harus sejajar dengan permukaan bangunan (paralel).
  • Untuk bangunan tinggi, usahakan naik setinggi mungkin hingga bisa sejajar dengan perut bangunan. Cara lainnya pemotretan dilakukan dari jarak jauh dengan menjaga agar lensa tidak mendongak keatas (tetap paralel). Akan banyak bidang kosong dibagian bawah, yang nantinya harus dibuang (croping).
  • Koreksi perspektif juga bisa dilakukan dengan bantuan program pengolah foto. Syaratnya ada bidang kosong yang cukup dan sengaja kita siapkan untuk melakukan koreksi perspektif melalui software.
  • Koreksi persepektif yang paling tepat adalah dengan penggunaan lensa Perspective Correction / Lensa Tilt & Shift ataupun dengan menggunakan View Camera.
Lensa sudut lebar dengan distorsi berbentuk gentong (barrel) tetap dapat digunakan. Ambil posisi low angle yang ekstrim. Namun jaga agar sumbu bangunan tetap berada ditengah dan lurus, karena distorsi minimal ada di bagian tengah lensa. Hasilnya akan terlihat cantik & dramatis, namun bangunan tidak terlihat seperti akan rubuh. Lensa fish eye jarang digunakan untuk pemotretan bangunan karena akan menghasilkan gambar yang tidak realistis.

FOTOGRAFI HUMAN INTEREST






Human Interest atau yang lebih di artikan sebagai kegiatan manusia merupakan suatu objek yang sangat bagus untuk dijadikan bahan sebuah karya photography. Bahkan Human Interest mempunyai disiplin tersendiri dalam dunia photography.

Biasanya yang dituangkan dalam aliran Human Interest ini adalah interaksi manusia, baik itu dengan alam, tumbuhan, hewan dan antar manusia itu sendiri. Namun kebanyakan yang menjadi objek foto dari aliran human interest ini adalah interaksi antara manusia dengan manusia itu sendiri.
 
Berikut beberapa trik dakam mengambil foto yang berjenis/aliran human interst.
  1. Jangan lewatkan moment.
    Moment adalah hal pentin dalam sebuah karya foto. Dengan jeli melihat moment maka hasil karya kita akan menjadi sesuatu yang berharga.
  2. Kuatkan konsep
    Sudah jadi rahasia umum dengan adanya konsep maka foto yang kita hasilkan akan membuat karya kita lebih berisi.
  3. Perhatikan komposisi
    Hal yang tidak bisa disepelekan dalam sebuah karya photograpy adalah pengaturan komposisi yang tepat. Sering berlatih akan membuat kita tanggap dalam membuat komposisi dalam karya photography yang kita buat.
  4. Gunakan lighting alami
    Bagian ini tidaklah harus wajib, namun menggunakan lighthing alami lebih di sarankan dari pada menggunakan flash karena warna yang dihasilkan akan lebih baik.
  5. Setting
    Adakalanya kita mempunyai konsep, dan konsep itu menuntut kita untuk mengatur objek yang akan kita tuangkan dalam sebuah karya. Karena objek kita adalah manusia kita masih bisa untuk mengatur mereka dengan catatan objek yang aka kita setting bersedia dan usahakan ekspresi yang didapatkan se natural mungkin.
  6. Tangkaplah ekspresi
    Karena yang kita inginkan adalah sebuah interaksi manusia maka ekspresi akan sangat penting dalam aliran photography ini. 

FOTOGRAFI NIGHT SHOT


 Perempatan ??? di Bali "Lupa Namanya"
 
 
Bambu Runcing Surabaya
 
Fotografi Night Shot atau kita kenal dengan fotografi malam sudah pasti pengambilan gambar dilakukan pada malam hari. Fotografi jenis ini memiliki tingkat kesulitan yang lumayan sulit kalau tidak mengetahui tekniknya. Berikut ini yang harus dipersiapkan dalam fotografi night shot:

a. Alat-alat
Dalam mengambil gambar sudah pasti diperlukan beberapa alat guna mendukung pembuatan foto tersebut antara lain:
  1. Kamera
    Tentu yang dibutuhkan paling utama adalah kamera, setting kamera anda sesuai dengan situasi dimana anda mengambil gambar usahakan settingan ISO jangan terlalu tinggi, bila settingan tinggi maka akan menimbulkan NOISE (bintik-bintik) pada hasil foto anda, Gunakan bukaan lensa terkecil ( >22). Lakukan pengambilan pertama kali dan rubah settingan kamera anda bila anda rasa kurang berkenan dengan hasil yang anda peroleh. Kemudian setting kamera pada mode pengambilan "timer" karena pada pengambilan Night Shoot dengan effect Slow Speed / Bulb goyangan sedikit pun pada kamera akan berdampak signifikan pada hasil foto.
  2. Lensa
    Mungkin lebih bagus menggunakan pilihan lensa wide, tapi pada kasus ini saya hanya punya lensa fix nikon 50/1,8D jadi saya manfaatkan ini. Tergantung lensa yang anda punya. Gunakan lensa yang anda miliki dan maksimalkan.
  3. Tripod
    Tripod adalah syarat umun dalam pengambilan Low Speed, karena dengan bantuan tripod kamera anda akan stabil dalam mengambil gambar, bila belum mempunyai tripod sandarkan kamera anda pada benda solid namun memang jauh lebih baik menggunakan tripod.
b. Cara pengambilan gambar 
Cari sudut pengambilan gambar yang baik, misalnya tidak terlalu gelap dan tidak terkena langsung cahaya (tidak disorot lampu2 motor/mobil yang lewat) karena akan membuat foto anda terkesan Over expose.
 

FOTOGRAFI MODEL

Fotografi Model adalah jenis fotografi yang menjadi point of view nya adalah seorang model yang dalam hal ini tentu saja adalah manusia sebagai obyeknya.

Sebenarnya memotret model (modeling photography), teknik dasarnya hampir sama dengan memotret obyek lainnya, hanya memiliki perbedaan khusus. Perbedaannya tentu saja seperti yang udah aku tulis tadi, adalah pada obyek yang kita foto, yaitu ‘manusia’ baik itu lelaki ataupun wanita, kecil dewasa maupun tua. Banyak sekali unsur yang mempengaruhi hasil kita ketika memotret manusia.

oleh karena itu, berikut beberapa hal yang perlu kita perhatikan saat memotret model atau manusia, yaitu antara lain: Kondisi si Model, Kostum & Make Up, Lokasi, Lighting, Angle & Komposisi, dan Komunikasi.

Sebelum bicara banyak soal si model, ada beberapa faktor utama yang menjadi penilaian utama dalam memotret manusia, antara lain: pose model, ekspresi, lokasi, komposisi, angle, costum, wardrop, makeup, background yang mendukung, dan lighting yang tepat!














FOTOGRAFI LANDSCAPE



Lost in Bali


Fotografi Landscape adalah fotografi pemandangan alam atau dalam pengertian lain adalah jenis fotografi yang merekam keindahan alam, dapat juga dikombinasikan dengan yang lain seperti manusia, hewan dan yang lainnya, namun tetap yang menjadi fokus utamanya adalah alam.
Pemandangan alam yang begitu indah pada saat-saat tertentu ketika secara sensitif kita bisa menandai sifat dan arah datangnya sinar matahari. Misalnya pada saat sore maupun pagi hari ketika sinar matahari bersifat kekuning-kuningan dan arah jatuhnya membentuk bayangan obyek yang sangat panjang. Selain itu saat pergantian musim, pada saat beberapa tumbuhan sedang mengalami pergantian daun. Foto Pemandangan bisa di kategorikan menjadi beberapa macam, misalnya :
Foto Landscape
Foto pemandangan alam daratan yang mencakup alam pegunungan, lembah, persawahaan. dan lain-lain

Foto Seascape
Foto pemandangan laut yang mencakup alam lautan, danau, dan segala obyek ya menekankan keberadaan air

Foto Skyscape
Foto pemandangan langit yang mencakup keberadaan awan, biru langit, sunrise, sunset, dan lain-lain

Foto Cityscape
Foto pemandangan kota atau pedesaan yang mencakup keunikan-keunikan dan keindahan-keindahan sudut-sudut perkotaan ataupun pedesaan yang mampu menginformasikan ciri khas kehidupan masyarakat didalamnya.

14 Tips untuk membuat hasil foto landscape yang indah

1. Maksimalkan Depth of Field (DoF)
Sebuah pendekatan konsep normal dari sebuah landscape photography adalah “tajam dari ujung kaki sampai ke ujung horizon”. Konsep dasar teori “oldies” ini menyatakan bahwa sebuah foto landscape selayaknya sebanyak mungkin semua bagian dari foto adalah focus (tajam). Untuk mendapatkan ketajaman lebar atau dgn kata lain bidang depth of focus (DOF) yang selebar2nya, bisa menggunakan apperture (bukaan diafragma) yang sekecil mungkin (f number besar), misalnya f14, f16, f18, f22, f32, dst.

2. Gunakan tripod dan cable release
Tripod dibutuhkan untuk long exposure untuk menjamin agar foto yang dihasilkan tajam. Cable release juga akan sangat membantu. Jika kamera memiliki fasilitas untuk mirror-lock up, maka fasilitas itu bisa juga digunakan untuk menghindari micro-shake akibat dari hentakkan mirror saat awal.

3. Carilah Focal point atau titik focus
Titik focus disini bukanlah titik dimana focus dari kamera diletakkan, tapi lebih merupakan titik dimana mata akan pertama kali tertuju (eye-contact) saat melihat foto.

4. Carilah Foreground (FG)
Foreground bisa menjadi focal point bahkan menjadi POI (Point of Interest) dalam foto landscape anda. Sebuah object atau pattern di FG bisa membuat “sense of scale” dr foto landscape kita.

5. Pilih langit atau daratan
Langit yang berawan bergelora, apalagi pada saat sunset atau sunrise, akan membuat foto kita menarik, tapi kita tetap harus memilih apakah kita akan membuat foto kita sebagian besar terdiri dari langit dgn meletakan horizon sedikit dibawah, atau sebagian besar daratan dgn meletakkan horizon sedikit dibagian atas.

6. Carilah Garis/Lines/Pattern
Sebuah garis atau pattern bisa membuat/menjadi focal yang akan menggiring mata untuk lebih jauh mengexplore foto landscape anda. Kadang leading lines atau pattern tersebut bahkan bisa menjadi POI dari foto tersebut.

7. Capture moment & movement
Sebuah foto Landcsape tidak berarti kita hanya menangkap (capture) langit, bumi atau gunung, tapi semua elemen alam, baik itu diam atau bergerak seperti air terjun, aliran sungai, pohon2 yang bergerak, pergerakan awan, dst, dapat menjadikan sebuah foto landscape yang menarik.

8. Bekerja sama dengan alam atau cuaca
Sebuah scene dapat dengan cepat sekali berubah. Oleh sebab itu menentukan kapan saat terbaik untuk memotret adalah sangat penting. Kadang kesempatan mendapat scene terbaik justru bukan pada saat cuaca cerah langit biru, tapi justru pada saat akan hujan atau badai atau setelah hujan atau badai, dimana langit dan awan akan sangat dramatis.

9. Golden Hours & Blue hours
Pada normal colour landscape photography, saat terbaik biasanya adalah saat sekitar (sebelum) matahari terbenam (sunset) atau setelah matahari terbit (sunrise). Golden hours adalah saat, biasanya 1-2 jam sebelum matahari terbenam (sunset) hingga 30 menit sebelum matahari terbenam, dan 1-3 jam sejak matahari terbit, dimana “golden light” atau sinar matahari akan membuat warna keemasaan pada object.

10. Cek Horizon
Ada 2 hal terakhir saat sebelum kita menekan shutter:
Apakah horizonya sudah lurus, ada beberapa cara untuk bisa mendapatkan horion lurus saat eksekusi di lapangan atau apakah horizon sdh di komposisikan dgn baik, lihat #5 untuk pengaplikasian Rule of third. Peraturan kadang dibuat untuk dilangar, tapi jika scene yang akan kita buat tidak cukup kuat (strong) elementnya, biasanya Rule of Third akan sangat membantu membuat komposisi menjadi lebih baik.

11. Ubah sudut pandang/angle/view anda
Banyak cara untuk mendapatkan fresh point of view. Tidak selamanya “eye-level angle” (posisi normal saat kita berdiri) dalam memotret itu yang terbaik. Coba dengan high-angle (kamera diangkat diatas kepala), waist-level angle, low level, dst, coba berbagai format horizontal dan/atau vertikal.

12. Pergunakan peralatan bantu
Penggunaan beberapa peralatan bantu dibawah akan sangat membantu untuk mendapatkan foto landscape yang lebih baik.
- CPL filter
- ND filter
- Graduated ND filter, lihat disitu tentang Graduated Natural Density (Grad ND): What, How, & When
- Graduated color filter
- Bubble level jika tdk ada grid pada view finder atau gunakan focusing screen dgn grid, sangat membantu untuk mencapai levelnya horizon.

13. Lensa yang dipergunakan
Kadang sering ada asumsi bahwa sebuah foto landscape itu harus menggunakan lensa yang selebar mungkin. Tapi dalam membuat sebuah foto landscape, semua lensa dapat dipergunakan, dari lensa super wide (14mm, 16mm, dst), wide (20mm – 35m), medium, (50mm – 85mm), hingga tele/super tele (100mm – 600mm). Semua range lensa bisa dan dapat dipergunakan. Semua itu tergantung atas kebutuhan dan scene yang kita hadapi.

14. Persiapkan diri dan sesuaikan peralatan
Walau ini tidak berhubungan langsung, tapi kadang sangat menentukan. Sering kali kita membutuhkan research atau tanya dulu kiri kanan, baik itu dgn googling atau bertanya dgn fotografer yang sudah pernah kesana ke satu lokasi sebelumnya, terutama jika mengunjungi tempat yang berbeda jauh iklim maupun cuacanya, krn itu akan menentukan kesiapan kita baik fisik maupun peralatan yang harus dibawa, baik itu peralatan fotografi maupun peralatan penunjang.

Tuesday, November 20, 2012

Potrait

Fotografi Potrait