Monday, September 24, 2012

Sejarah Ornamen


بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Sejarah Ornamen 

Penciptaan suatu karya seni pada umumnya senantiasa berkaitan dengan suatu tujuan tertentu. Tidak berbeda dengan karya seni ornamen yang penciptaannya selalu berhubungan dengan tujuan tertentu pula. Beberapa tujuan diciptakannya ornamen diuraikan sebagai berikut:

  1. Untuk menghias
    Bentuk-bentuk ornamen diciptakan hanya untuk menghias saja demi keindahan suatu bentuk (benda ) atau bangunan, dimana ornamen tersebut ditempatkan. Penerapannya biasanya pada alat-alat rumah tangga, arsitektur, pada pakaian (batik, bordir, tenun, dan lain-lain) pada alat transportasi dan sebagainya. Hal ini sesuai dengan pendapat Soepratno yang menyatakan bahwa:


    ”Ornamen dimaksudkan untuk menghias suatu bidang atau benda, sehingga benda tersebut menjadi indah seperti yang kita lihat pada hiasan kulit buku, piagam, kain batik, tempat bunga dan barang-barang lainnya.


  2. Untuk menyatakan suatu nilai secara simbolis.
    Karya ornamen yang diciptakan pada umumnya mempunyai tujuan untuk memperindah suatu benda saja, namun tidak sedikit ornamen yang diciptakan untuk menyatakan suatu nilai tertentu secara simbolis, menurut norma-norma tertentu (adat, kepercayaan, dan sistem sosial lainnya). Bentuk, motif dan pola ornamen penempatannya sangat ditentukan oleh norma-norma tersebut terutama norma kepercayaan yang harus ditaati, untuk menghindari timbulnya salah pengertian akan makna atau nilai simbolis yang terkandung didalamnya. Oleh karena itu pengerjaan 
    suatu ornamen simbolis harus mengikuti aturan-aturan yang ditentukan. Contoh ornamen simbolis ini misalnya motif kala, motif pohon hayat sebagai lambang kehidupan, motif burung phonik sebagai lambang keabadian, motif padma, swastika, dan sebagainya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sunaryo yang menyatakan bahwa: ”Fungsi simbolis ornamen pada umumnya dijumpai pada produk-produk benda upacara atau benda pusaka dan bersifat keagamaan atau kepercayaan, menyertai nilai estetisnya”.

Kecenderungan manusia untuk menghias atau membuat ornamen sudah ada sejak zaman prasejarah. Temuan keping-keping benda prasejarah berupa senjata-senjata, benda-benda tembikar, peti mati, dan lain sebagainya oleh para ahli Arkeologi cukup menjadi bukti akan hal ini. Pada umumnya ornamen pada benda-benda prasejarah yang berupa tembikar masih berupa motif-motif yang berbentuk sederhana dan biasanya geometris. 





Ornamen pada tembikar dengan cara ditoreh, dicukil, ditekan atau dicap dalam keadaan masih basah merupakan temuan benda prasejarah

Ada beberapa pola hias yang tersusun dari motif geometris yang ditemukan, yaitu meander, tumpal, swastika, dan pilin. Pola Hias Tumpal menggunakan bidang segitiga sama kaki yang diulang-ulang secara berderet. Pilin adalah suatu bentuk yang dibatasi oleh garis lengkung yang mengikal pada titik pusat. Pilin tersebut pada umumnya dibuat berganda, bersambungan bentuknya semacam huruf ‘S’.  Pola Hias Meander adalah berupa huruf ‘T’ yang disusun berderet dan berbalikan. Sedangkan pola hias swastika adalah bentuk yang menyerupai galaksi atau kumpulan bintang-bintang di cakrawala, sesuai dengan Sukarman yang menyatakan bahwa: “Bentuk swastika ini dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan galaxi atau kumpulan bintang-bintang di cakrawala yang merupakan dasar kekuatan perputaran alam ini”


Searah jarum jam: Pola hias tumpal, pilin, meander dan swastika


0 komentar "Sejarah Ornamen", Baca atau Masukkan Komentar

Post a Comment