Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Monday, March 17, 2014

PERMAINAN JELUNGAN


Apa itu Jelungan ???? Permainan jelungan ini mungkin saja baru pertama kali anda dengarkan, atau mungkin anda pernah mendengar tetapi tidak tahu bagaimana bentuk dan cara permainannya. Dan jugan mungkin masih banyak juga diantara kita yang tahu tentang permainan jelungan ini. Bagaimanapun jugan permainan jelungan ini harus tetap kita lestarikan, karena jelungan merupakan salah satu permainan tradisional Indonesia yang juga pada jaman dahulu dipergunakan oleh para Wali untuk media dakwah penyebaran agama Islam lewat permainan jelungan ini. 

Saturday, October 5, 2013

Dinamika Seni Pesisir Gresik


Naskah ini disampaikan dalam acara SARASEHAN FESTIVAL KESENIAN PESISIR UTARA (FKPU) 2012, Tanggal 9 Maret 2012 di Gresik :
Latar Belakang Gresik
Sejak zaman kerajaan Majapahit, keberadaan kota Gresik sudah disebut-sebut sebagai salah satu prototype kota tua. Peranannya sebagai kota dagang mulai berkembang sejak pertengahan abad ke-14, seirama dengan dinamika kota-kota dagang lainnya di Nusantara yang juga terkait dalam jaringan perdagangan dunia. Kawasan nusantara menjadi kawasan paling timur yang dijadikan titik simpul perdagangan internasional terutama dari bangsa-bangsa Eropa dan Asia Tengah. Dari Maluku, jalur perdagangan melintasi selat Flores, Laut Jawa, Selat Malaka, Teluk Benggala, Pantai Coromandel dan Malabar di India, Gujarat, Persia serta diteruskan sampai ke Eropa dengan melewati simpul-simpul perdagangan lainnya. Pada jalur inilah kota Gresik menjadi salah satu simpul perdagangan yang sangat penting. Tome Pires, musafir Portugis yang mengunjungi kota ini pada abad ke-16 menyaksikan bahwa transaksi perdagangan sudah ramai dilakukan. Kapal-kapal yang singgah berasal dari Gujarat, Siam dan Cina. Disamping itu juga kapal-kapal dari dan Banda yang tampak ramai. Kesaksian Tome Pires yang dikutip oleh H. De Graaff the Piqeaud, Kerajaan Islam di Jawa.




Friday, August 23, 2013

Seni tentang Teater

Sejarah panjang seni teater dipercayai keberadaannya sejak manusia mulai melakukan interaksi satu sama lain.  Interaksi itu juga berlangsung bersamaan dengan tafsiran-tafsiran terhadap alam semesta. Dengan demikian, pemaknaan-pemaknaan teater tidak jauh berada dalam hubungan interaksi dan tafsiran-tafsiran antara manusia dan alam semesta. Selain itu, sejarah seni teater pun diyakini berasal dari usaha-usaha perburuan manusia primitif dalam mempertahankan kehidupan mereka. Pada perburuan ini, mereka menirukan perilaku binatang buruannya. Setelah selesai melakukan perburuan, mereka mengadakan ritual atau upacara-upacara sebagai bentuk “rasa syukur” mereka, dan penghormatan” terhadap Sang Pencipta semesta. Ada juga yang menyebutkan sejarah teater dimulai dari Mesir pada 4000 SM dengan upacara pemujaan dewa Dionisus. Tata cara upacara ini kemudian dibakukan serta difestivalkan pada suatu tempat untuk dipertunjukkan serta dihadiri oleh manusia yang lain.

Jenis-Jenis Teater Tradisional

Berbicara masalah seni tearer tradisi (daerah), kita akan berbicara mengenai masalah keragaman, kekhasan/keunikan, dan perkembangan di masyarakat. Hampir di setiap daerah kabupaten terdapat seni teater yang memiliki keunikan masing-masing. Suatu jenis kesenian daerah dikelompokkan sebagai seni tearer jika dalam teks pertunjukan terdapat unsur-unsur berikut.
a. naskah, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis;
b. tempat pertunjukan atau pentas, baik arena ataupun prossenium,
c. pemain (aktor dan aktris) atau para penari; dan
d. property (perkakas pementasan).
Media untuk mengungkapkan sebuah gagasan, bisa berupa bahasa verbal (dialog atau monolog dengan kata-kata), bahasa visual(gerak, tarian, dan rupa), dan bahasa audio (musik atau karawitan).

Bentuk-bentuk tearer yang hidup dan berkembang di Nusantara dapat dibagi menjadi sebagai berikut.

a. Teater boneka, yaitu pertunjukan water yang tokoh-tokoh ceritanya berupa boneka yang dimainkan oleh seorang dalang. Bentuk teater boneka di antaranya Wayang Kulit, Wayang Golek, dan Wayang Cepak. Wayang Kulit dan Wayang Golek biasanya membawakan cerita Ramayana dan Mahabrata, sedangkan Wayang Cepak biasanya membawakan cerita Babad. Jenis teater boneka termasuk teater total, maksudnya jenis teater ini menyertakan berbagai cabang seni, seperti tari, karawitan, sastra, rupa, dan seni.

Defenisi Teater

Teater berasal dari kata Yunani, “theatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan demikian, dalam rumusan sederhana teater adalah pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, sintren, janger, mamanda, dagelan, sulap, akrobat, dan lain sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain perang-perangan, dan lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis. Berdasarkan paparan di atas, kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan tentang teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993). Dengan demikian teater adalah pertunjukan lakon yang dimainkan di atas pentas dan disaksikan oleh penonton.

Macam - Macam Tarian Tradisional Indonesia

1. Tari Gantar
Tarian yang menggambarkan gerakan orang menanam padi. Tongkat menggambarkan kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian didalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya.
Tarian ini cukup terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara lainnya.Tari ini tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh suku Dayak Benuaq. Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn, Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak.


Macam Macam Tarian Mancanegara

Tarian Negara Kamboja.
Gerakannya lambat, seperti menghipnotis, mencerminkan gerakan tarian dari Negara Kamboja. Tubuh penari harus fleksibel dan seperti tak bertulang.

Tarian Samba, Brazil.
Gerakannya cepat dan seperti halnya tarian dari Amerika Selatan, mereka memiliki akar dari Afrika dan Karibia.

Tari Bali, Indonesia.
Di Bali, pelajaran menari diberikan secara terbuka sehingga semua orang dapat menyaksikannya. Pengajar tari bali tak hanya mengajarkan gerakan tari Bali, namun juga membetulkan posisi badan agar tercapai bentuk yang sempurna.

PENGERTIAN TARI MENURUT AHLI

Pengertian tari menurut beberapa ahli :

Tari menurut Drs. Soedarsono Pringgobroto dalam kuliah-kuliah ASTI Yogyakarta sekitar tahun 1967.
Tari adalah ekspresi jiwa manusia melalui gerak-gerak yang indah dan ritmis.

Tari menurut Susan K.Lenger
Tari adalah gerak-gerak yang dibentuk secara ekspresif yang diciptakan manusia untuk dapat dinikmati.

Tari menurut Curt Sacha seorang ahli tari Jerman dalam bukunya “World History of the Dance”.
Tari adalah gerak yang ritmis



Tari menurut Kamala Devi Chattopadhyaya seorang ahli seni dari India.
Tari adalah suatu instinct atu desakan emosi didalam diri kita yang mendorong kita untuk mencari ekspresi pada tari.

Tari menurut Hawkins menyatakan bahwa tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi bentuk gerak yang simbolis dan sebagai ungkapan si pencipta (Haukins: 1990, 2).
Tari menurut La Mery dalam bukunya “Dance Compotition” bahwa ekspresi yang berbentuk simbolis dalam wujud yang lebih tinggi harus diinternalisasikan.
Tari menurut Suryo mengedepankan tentang tari dalam ekspresi subyektif yang diberi bentuk obyektif (Meri:1987,12).
Tari menurut M. Jazuli dalam (Soeryobrongto:1987, 12-34) dikemukakan bahwa gerak-gerak anggota tubuh yang selaras dengan bunyi musik adalah tari. Irama musik sebagai pengiring dapat digunakan untuk mengungkapkan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan pencipta tari melalui penari (Jazuli, 1994:44).
Tari menurut Corry Hamstrong dalam bukunya “Danskunst” menyatakan bahwa, tari merupakan gerak yang diberi bentuk dalam ruang.
Tari menurut Suryodiningrat, Ingkang kawastanan beksa inggih punika ebahing sadaya saranduning badan, kesarengan ungeling gangsa, katata pika tuk wiramaning gending, jumbuhing pasemon kalihan pikajenging joged (arti: tari adalah gerak seluruh badan yang diiringi irama lagu musik yang diselaraskan dengan ekspresi tarinya). Dikemukakan oleh BPH Suryodiningrat, seorang ahli tari dari Daerah Istimewa Yogyakarta dalam bukunya “Babad lan Mekaring Joged Jawi”.
Drs. Wisnoe Wardhana dalam bukunya “Pengajaran Tari” menyatakan bahwa Tari adalah ekspresi estetis dalam gerak dengan media tubuh manusia.


SUMBER: http://spectradancestudio.wordpress.com/2012/08/31/hello-world/

JENIS TARI MENURUT KOREOGRAFI

Istilah koreografi adalah suatu istilah yang digunakan untuk susunan tari.Sedang untuk menyebut orang yang menyusun tari adalah koreografer.

Tari menurut koreografi dapat dibedakan menjadi :
 a. Tari Rakyat
Tari rakyat adalah tari yang hidup dan berkembang pada masyarakat tertentu sejak jaman primitif sampai sekarang.Ciri-ciri tari rakyat adalah :
  • Sederhana ( pakaian,rias,gerak dan ringan )
  • Tidak mengindahkan norma-norma keindahan
  • Memiliki kekuatan magis
Contoh tari rakyat :
Lengger, Tayub, Orek-Orek, Joget, Kubrasiwa, Buncis, Ndulalak, Sintren, Angguk, Rodat

Sekilas Tentang Seni Tari Tradisional Rakyat Jawa

Kebudayaan yang menjadi sebuah peradaban adalah hasil dari karya, cipta, dan karsa dari sekumpulan manusia yang disebut masyarakat. Hal tersebut karena manusia merupakan makhluk yang selalu untuk berkarya dalam menciptakan sesuatu. Seperti kata Koentjaraningrat: “Alam, kemajuan, dan perkembangan akal manusia sangat besar peranannya dalam pertumbuhan budaya.” Berangkat dari konsep ini melihat bahwa tari tradisional merupakan produk budaya yang dihasilkan, dipelihara, dikontrol, dan dikembangkan oleh suatu budaya tradisi tertentu, akan memberikan konsekuensi dalam proses kehidupan budaya.

PENGELOMPOKAN TARI JAWA TIMUR

Berdasarkan jenis koreografi, tari pada saat ini dapat diklasifikasi menjadi 3, yaitu Tari Klasik, Tari Kreasi, dan Tari kontemporer.
A. Tari klasik adalah tari yang mengalami kristalisasi keindahan yang tinggi dan sudah ada sejak jaman feudal.Tari ini biasanya hidup dilikgkungan keraton.
Ciri-ciri tari klasik adalah :
a. Mengalami kristalisasi keindahan yang tinggi
b. Hidup dikalangan raja-raja
c. Adanya standarisasi
d. Diturunkan antar generasi
Contoh tari klasik Jawa Tengah adalah bedaya,srimpi,lawung ageng,lawung alit dan juga karya-karya empu tari baik empu tari gaya Yogyakarta dan empu tari gaya Surakarta seperti S.Mariadi dan S.Ngaliman  yang sampai sekarang masih bisa dinikmati seperti : Gathotkaca Gandrung, Bondabaya, Bandayuda, Palguna-palgunadi, Retna Tinanding, Srikandi Bisma, dll
Contoh tari klasik dari Jawa Timur:
1. Tari Tari Remo Bolet/jombangan dari Jombang
2. Tari Tari Remo Munali dari Surabaya
3. Tari Beskalan dari Malang
4. Tari Gandrung dari Banyuwangi
5. Tari Kuda Lumping dari Ponorogo


B. Tari kreasi baru adalah tari-tari klasik yang dikembangkan sesuai dengan  perkembangan jaman dan diberi nafas Indonesia baru. Contoh tari kreasi  baru adalah karya-karya dari Bagong Kusudiarjo dari padepokan Bagong Kusudiarjo dan Untung dari sanggar kembang sore dari Yogyakarta.
Contohnya lainnya dari Jawa Tengah adalah :
Tari Kupu-Kupu , Tari Merak, Tari Roro Ngigel, Tari Ongkek Manis, Tari Manipuri, Tari Roro Wilis,dll
Contoh tari kreasi dari Jawa Timur:
1. Tari Banjar Kemuning dari Sidoarjo
2. Tari Kasomber dari Madura
3. Tari Zavin Mandailing dari Bawean, Gresik
4. Tari Lenggang Surabaya dari Surabaya
5. Tari Eblas dari Madura
C. Tari Kontemporer, Istilah ‘kontemporer’ begitu kerap digunakan di perbincangan dunia seni tari Indonesia, sementara makna dan cakupan definisinya tidak pernah didiskusikan secara diskursif. Akibatnya, pengertian ‘tari kontemporer’ cenderung disederhanakan sebagai sebuah istilah yang terlanjur popular, dan berada di antara dua kutub: yaitu semua karya seni tari yang bukan untuk konsumsi hiburan popular, namun secara bentuk juga bukan termasuk seni tari tradisional yang bersandar pada pakem-pakem yang sudah berlaku lama. Tapi, karya tari ‘kontemporer’ adalah yang bukan tari latar di acara seperti Gebyar BCA atau pertunjukan dangdut Inul, tapi juga bukan tari sakral macam Bedaya Ketawang atau tari rakyat ala jogedan ledek Banyuwangi.
Padahal, sebagai sebuah sistem pengetahuan dan wacana (diskursus), tari modern/kontemporer adalah topik yang paling tidak telah berkembang sejak seratus tahun terakhir. Jika bercermin pada diskusi yang berlangsung di tingkat global, sebelum sampai pada istilah ‘kontemporer’, dunia tari (terutama di Eropa dan Amerika) lebih dulu muncul dengan istilah ‘tari modern’ ― yang referensinya mengarah pada sebuah momentum artistik ketika penciptaan tari dimotivasi niat untuk menjadikan tari sebagai bahasa ucap ekpresi seni tari itu sendiri. Yaitu, momentum ketika tari bukan lagi melayani kebutuhan di luar dirinya ― entah itu konteks di dunia ritual, maupun ruang-ruang sosial dan kultural ― melainkan melayani tari itu sendiri (retro.blogspot.com).
Pengertian ‘kontemporer’ yang dapat dipahami selama ini adalah: Seni kontemporer adalah seni yang disemangati oleh kebebasan: Kata “kontemporer” yang berasal dari kata “co” (bersama) dan “tempo” (waktu). Sehingga menegaskan bahwa seni kontemporer adalah karya yang secara tematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui (spirit kekinian). [ http://www.dikbangkes-jatim.com/?p=1255]
Biasanya, tari kontemporer disajikan secara eksklusif, bukan untuk konsumsi hiburan popular/umum. Jenis tari ini biasa diciptakan untuk suatu kepentingan seni khusus seperti festival seni tari nasional dan international. Oleh karena itu orang umum kemungkinan banyak sekali yang tidak tau judul-judul tarinya dan apalagi penampilannya.
Tari kontemporer yang berasal dari Indonesia umumnya tetap mengangkat seni tradisi masing-masing daerah. Minimal koreografer mengangkat budaya lokal yang ada. Seperti budaya tayub, disajikan dengan paduan gerak-gerak lainnya yang non-tradisi. Dan kombinasi musik yang juga berbau tradisi namun tidak pakem, seperti gamelan dikombinasikan dengan biola.
Contoh tari kontemporer tradisi dari Jawa Timur:
1. Tari Ronjengan dari Madura (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2012 di gedung Cak Durasim)
2. Tari Barong Prejeng dari Banyuwangi (disajikan pada Perhelatan seni budaya dan pariwisata Kemilau Nusantara 2012)
3. Tari Ta’ Andhik Lesso dari Surabaya (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2005 di gedung Cak Durasim)
4.Tari Kidung Soren dari Surabaya (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2008 di gedung Cak Durasim)
5. Tari Somo Ellah dari Surabaya (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2012 di gedung Cak Durasim)
6. Tari Besut Beset dari Surabaya (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2012 di gedung Cak Durasim)
Ekspresi yang bersifat kekinian tentunya memiliki ciri-ciri yang menonjolkan inovasi (pembaharuan) maka selanjutnya disebut sebagai seni tari “modern”. Varian dari seni tari modern yang seringkali tampil sebagai bentuk “kemasan” atau Kicth, adalah seni tari yang bersifat menghibur, perkembangannya sesaat dan tidak memiliki dasar filosifis yang dalam. Perkembangan seni tari hiburan ini disebut sebagai popular performing art (seni tari populer).
Tari modern adalah sebuah tari yang mengungkapkan emosi manusia secara bebas atau setiap penari bebas dalam mewujudkan ekspresi emosionalnya yang tidak terikat oleh sebuah bentuk yang berstandar. Contoh tari modern adalah : Caca, Break Dance, Penari Latar, Samba, dll
Dirangkum dari berbagai sumber
Dikutip dari: spectradancestudio.wordpress.com/2012/11/08/beberapa-judul-tari-jatim-berdasarkan-jenisnya/

UNSUR-UNSUR DASAR SENI TARI

Tari adalah gerak-gerak dari seluruh anggota tubuh yang selaras dengan musik, diatur oleh irama yang sesuai dengan maksud dan tujuan tertentu dalam tari. Di sisi lain juga dapat diartikan bahwa tari merupakan desakan   perasaan   manusia   di   dalam   dirinya   untuk   mencari ungkapan beberapa gerak ritmis.Tari juga bisa dikatakan sebagai ungkapan ekspresi perasaan manusia yang diubah oleh imajinasi dibentuk  media  gerak  sehingga  menjadi  wujud  gerak  simbolis sebagai ungkapan koreografer. Sebagai bentuk latihan-latihan, tari digunakan untuk mengembangkan kepekaan gerak, rasa, dan irama seseorang. Oleh sebab itu, tari dapat memperhalus pekerti manusia yang mempelajarinya.

 1. Gerak

Gerak dapat diungkapkan dengan bermacam-macam. Diantara berbagai macam gerak itu, salah satu diantaranya ada yang mengandung unsur keindahan (sedap dipandang mata).
Angin bertiup dari tengah sasmudra mendesak air laut bergerak menuju ke pantai berupa gelombang samudra, menimbulkan suatu gerakan yang indah dipandang mata. Daun nyiur di pantai meliuk-liuk atas tiupan angin indah dalam pandangan mata.
Demikian pula di musim kemarau kunang-kunang mengibas-ngibaskan sayapnya menimbulkan cahaya gemerlapan di tengah sawah pada malam hari seperti cahaya mutiara indah yang sedang memantulkan sinar. Ikan mas berenang renang ke sana ke mari di dalam akuarium, selain menimbulkan pemandangan yang indah juga menimbulkan suasana ketenangan.
Tetapi mengingat bahwa seni tari merupakan salah satu cabang kesenian yang juga merupakan salah satu hasil budi manusia, maka unsur dasar tari utama yang berwujud gerak itu, tidak semua gerak dapat dikatakan gerak tari. Gerak yang berfungsi sebagai materi gerak pokok tari hanyalah gerakan-gerakan dari bagian tubuh manusia yang telah diolah dari gerak keadaan wantah menjadi suatu bentuk gerak tertentu. Dalam istilah kesenian, gerak yang telah mengalami stilisasi atau distorsi.
Dari hasil pengolahan suatu gerakan atau gerak yang telah mengalami sitisasi atau distorsi inilah nanti lahir dua jenis gerak tari. Yang pertama gerak tari yang bersifat gerak murni dan yang kedua bersifat gerak maknawi.
Gerak murni adalah gerak tari darihasil pengolahan gerak wantah yang dalam pengungkapannya tidak mempertimbangkan suatu pengertian dari gerak tari tersebut. Disini yang dipertimbangkan adalah faktor nilai keindahan gerak tarinya saja. Misalnya gerak-gerak memutar tangan pada pergelangan tangan, beberapa gerak leher seperti pacak-jangga di Jawa, dan sebagainya.
Sedangkan yang dimaksud dengan gerak maknawi adalah gerak wantah yang telah diolah menjadi suatu gerak tari yang dalam pengungkapannya mengandung suatu pengertian atau maksud disamping keindahannya. Misalnya dalam tari nelayan, kita dapat melihat gerak tari yang menggambarkan nelayan yang sedang mendayung. Gerak mendayung dalam tari nelayan ini disamping sedap dilihat karena keindahannya, juga tampak mengandung suatu arti atau maksud yaitu gambaran seorang nelayan yang sedang mengayunkan dayungnya agar perahunya dapat laju jalannya.
Di daerah pedalaman yang jauh dari pantai, seperti di hutan di dareah Kalimantan atau di Irian Jaya kita banyak mendapatkan ragam tari yang menggambarkan bagaimana dan dengan apa para pemburu akan manangkap binatang. Disini banyak digambarkan atau dilukiskan cara menangkap binatang dengan mengelu-elukan sebatang tombak, atau menarik anak panah. Dalam suatu bentuk gerak tari jelas bukan merupakan gerak wantah, tetapi berupa gerak yang telah distilisasi yang hasilnya disamping mengandung unsur keindahan juga menggambarkan suatu pengertian atau maksud tertentu. Disini yang digambarkan adalah seorang yang sedang berburu binatang dengan senjata tombak atau panah.
Di dataran rendah kita dapati beberapa bentuk tari pertanian, yang menggambarkan bagaimana cara bercocok tanam atau tarian pengrajin yang di dalamnya dapat berbentuk penggambaran cara masyarakat sedang menenun kain, membatik atau membuat perkakas dari tanah liat, dan sebagainya.
Dalam garapan suatu bentuk tarian, gerak-gerak maknawi ada yang masih tampak jelas artinya dalam cara pengungkapan geraknya tetapi juga banyak pula yang dalam pengungkapan geraknya tinggal tampak suatu kiasan saja. Untuk mencari contoh yang terakhir banyak terdapat dalam garapan tari tradisional atau tari klasik di pulau Jawa dan Bali. Seperti dalam tari klasik tradisional di Jawa, kita dapati gerak ragam tari yang disebut tari usap rawis yang menggambarkan bagaimana mengusap kumis. Ragam tari ngilo yang mengandung pengertian seseorang yang sedang bercermin setelah berbusana.
Begitu pula beberapa ragam tari gerakan perang. Gerak tari nitig paha dan nuding pada tari Bali mengadung pengertian terperanjat dan marah. Gerak menghadapkan telapak tangan pada penari lain mengandung pengertian menolak. Gerak menengadahkan telapak tangan dan muka ke langit berarti sembah atau sujud memuja Tuhan. Sedangkan menggeleng-gelengkan kepala berati kecewa, demikian pula gerak mengangguk-anggukkan kepala berarti setuju. Dengan demikian maka berdasarkan jenis pengungkapan geraknya, secara garis besar ada dua sifat gerak tari.
Ditinjau dari cara pengungkapannya ada dua bentuk tari, yaitu yang representatif dan yang non representatif. Tarian yang bersifat representatif yaitu gerak tarinya menggambarkan suatu pengertian atau maksud tertentu dengan gerakan tarian jelas. Tarian yang bersifat nonrepresentatif yang gerakan tarinya tidak menggambarkan suatu pengertian tertentu. Namun demikian dalam keseluruhan penggarapan sebuah tari pasti tidak meninggalkan salah satu sifat tersebut di atas. Keduanya saling bertautan dan isi mengisi. Hanya mana yang lebih ditekankan. Pada garapan-garapan tari non representatif banyak digunakan gerak murni atau pure movement. Sedang garapan yang bersifat representatif pasti saja banyak disusun dari gerak-gerak maknawi atau gesture. Bagi bangsa primitif ada suatu keyakinan bahwa semakin tepat dan cermat seorang penari melaksanakan gerakan tarinya, maka semakin tinggi atau semakin ampuh karunianya baik yang bersifat moral atau material. 
Pada pengobatan misalnya, bila si pawang atau dukun selama menari untuk memberi pengobatan pada si sakit dapat menunjukkan gerakan-gerakan yang tepat dan cermat serta penuh konsentrasi, maka ini berarti akan cepat penyembuhannya bagi si sakit. Demikian pula seorang juru bicara yang mengungkapkan suatu pengertian lewat gerak dapat tepat dan gempang diterima, maka ia akan semakin cepat diserap oleh pendengarnya. Dengan demikian jelaslah bahwa unsur dasar tari yang utama adalah gerak manusia.

2. Ritme

Di dalam kehidupan dunia sebagai makroskosmos, ritme ini selalu ada dan bersifat tetap. Contoh yang paling dekat bahwa matahari selalu terbit dari sebelah timur. Selanjutnya naik dan berjalan berpindah tempat sampai tenggelam di sebelah barat pada waktu sore hari. Ritme itu sendiri sebenarnya merupakan jarak yang tetap. Untuk memberikan suatu kehidupan maka perjalanan sepanjang jarak ini dilaksanakan dengan adanya daya naik dan turun. Dalam dunia karawitan atau musik daya tersebut sangat jalas. Daya ini bisa disebut padang-ulihan atau these-antithese. Dari inilah maka sebenarnya ritme itu merupakan pola waktu yang memberikan kehidupan. 

3. Iringan

Di atas telah disebutkan bahwa tari adalah suatu gerak ritmis. Untuk memperkuat dan memperjelas gerak ritmis dari suatu bentuk tarian dapat dilaksanakan dengan iringan. Iringan tersebut pada umumnya berupa suara atau bunyi-bunyian. Sumber bunyi sebagai iringan tari yang pertama adalah suara manusia sendiri.
Bangsa-bangsa primitif menari-nari dengan teriakan-teriakan sebagai musik pengiringnya. Anak kecil menari-nari dengan teriakan iringan nyanyian suara ibu atau inang pengasuhnya. Selanjutnya pada tingkat berikutnya demi keserempakan gerak mereka menari-nari dengan tepuk tangan sebagai pengiringnya. Hal ini ada kalanya disamping dengan nyanyian ada juga dengan tepuk tangan. Tarian Seudati dari Aceh merupakan tarian pria yang ditarikan secara massal dikuatkan dengan suatu tepukan tangan pada perut.
Bangsa Indian di pedalaman Amerika ataupun bangsa Pigmi di pedalaman benua Afrika menari-nari dengan menghentakkan kaki ke tanah. Suara yang ditimbulkan karena hentakan kaki itulah yang dipergunakan sebagai iringannya. Setelah mereka mengenal senjata atau tongkat, maka suara hentakan kaki tadi diganti dengan suara yang ditimbulkan dari hentakan tongkat pada tanah, ataupun suara lain yang ditimbulkan jarena pukulan tongkat dengan tongkat lain.
Selama orang laki-laki menari-nari, maka keluarga mereka melingkari sambil menyanyi ataupun bertepuk tangan membantu menguatkan suara si penari. Ada kalanya para istri mereka dan anak-anaknya memukul-mukul dahan pohon yang telah tumbang sebagai alat bunyi-bunyian yang dia mainkan dengan cara dipukul-pukul, seperti sekarang dapat kita lihat sebagai kentongan ataupun lesung alat penumbuk padi.
Di Jawa Tengah sampai saat ini ada suatu pertunjukan yang disebut Ketoprak lesung, dan lesung tadi dipergunakan sebagai alat bunyi-bunyian pengiringnya. Disamping alat musik pukul, dalam perkembangannya juga dikenal alat musik tiu seperti seruling. Tari-tarian yang diiringi dengan seruling sampai saat ini masih banyak terdapat di pulau Bali. Bunyi-bunyian dapat pula berbentuk alat petik seperti kecapi Sunda atau siter dan clempung di Jawa Tengah.
Alat bunyi lainnya ada yang cara membunyikannya dengan ditepuk baik sebelah sisi ataupun kedua sisinya, seperti terbang dan gendang. Khusus gendang disamping cara memainkannya dengan ditepuk dengan tangan ada pula yang cara memainkannya dengan dipukul dengan sebuah alat pukul seperti bedug.
Perkembangan selanjutnya, di Indonesia terdapat bermacam-macam alat bunyi-bunyian yang semuanya sesuai dengan tingkat perkembangan di setiap daerah. Didaerah Sulawesi sampai sekarang masih hidup suatu tarian yang hanya diiringi instrumen gendang saja, misalnya tari Bathara. Di daerah tersebut juga ada tarian yang diiringi dengan gendang/bedug, seruling dan semacam alat petik seperti instrumen gitar. Di pulau Sumatra kita lihat banyak tarian yang pada dasarnya diiringi dengan suara rebana, dengan viol ataupun akordion seperti tari Serampang duabelas, tari payung.
Ensambel instrumen pengiring yang lengkap pada umumnya terdapat di pulau Jawa dan pulau bali. Tariannya telah diiringi dengan saru unit alat bunyi-bunyian yang disebut gamelan. Dalam buhungannya dengan seni tari, pada umumnya iringan itu berfungsi sebagai penguat ataupun pembentuk suasana, misalnya iringan untuk tari perang, untuk mengiringi seorang pahlawan yang gugur, untuk adegan percintaan dan untuk tari pemujaan. Perlu diketahui bahwa ada pendapat yang mengatakan bilamana seorang tidak tahu iringan seperti orang yang kakinya pincang.

4. Tata Rias dan tata Busana

Pada mulanya para penari memakai pakaian sesuai dengan apa yang pada saat itu sedang dipakai. Perkembangan selanjutnya, sesuai dengan kedudukannya seagai salah satu unsur, maka pakaian atau busananya diatur dan ditata sesui dengan kebutuhan tari tersebut. Yang paling utama mendapat perhatian haruslah terlebih dahulu diketahui dan disadari bahwa yang terpenting adalah pakaian atau busana tersebut harus enak dipakai, tidak mengganggu gerak tari, menarik dan sedap dipandang. Bila perlu murah harganya dan mudah didapat.
Di luar jawa, kecuali daerah Bali, pakaian si penari tampak sangat dengat dengan orang-orang yang mengiringinya (musician). Sedangkan di pulau Jawa dan Bali pakaian antara penari dan pengiringnya tampak jauh berbeda. Lebih-lebih untuk tarian yang mengambil cerita wayang, umpamanya untuk tokoh Bima dan Rahwana. Bentuk dan warnanya telah mempunyai ketentuan yang mapan. Ketentuan ini disesuaikan dengan bentuk dan warna tokoh-tokoh tersebut dalam pewayangan.
Meskipun dalam kehidupan sehari-hari dikenal bermacam-macam warna, namun dalam hubungannya dengan kebutuhan pentas, hanyalah beberapa macam warna saja yang biasa dipergunakan. Warna-warna tersebut diambil berdasarkan arti simbolis, sebab secara umum setiap bangsa secara turun-temurun telah memberi suatu pengertian yang bersifat simbolis pada warna-warna tertentu. Misalnya warna merah berarti berani, warna putih berarti suci, warna hijau berarti muda atau remaja dan sebagainya.
Selain bahan pakaian yang dibuat dari kain, juga masih dipakai beberapa perhiasan seperti kalung, binggel, sumping dan sebagainya. Perhiasan ini ada yang dibuat dari jenis imitasi dan ada pula yang dibuat dari kulit binatang. Pada tari tradisional selain perhiasan juga dipakai ikat kepala., baik berbentuk peci atau ikat kepala yang disusun atau diatur dari lembaran kain. Untuk tarian yang mengambil cerita wayang, maka penutup kepala penarinya seperti bentuk kepala pada tokoh wayang tersebut. Kita dapat melihat di Jawa dan di Bali apa yang disebut gelung dan  tropong.
Sedangkan tata rias akan membantu menentukan wajah beserta perwatakannya, serta untuk memperkuat ekspresi. Disini harus diketahui perbedaan antara tata rias yang dipakai untuk sehari-hari dengan tata rias yang dipakai untuk pertunjukan tari. Yang dimaksud dengan tata rias sehari-hari adalah yang dipergunakan untuk kehidupan wajar, misalnya untuk pergi ke sekolah, darma wisata ataupun untuk mengunjungi suatu upacara. Maka cara pemakaiannya cukup serba tipis. Demikian pula untuk memperkuat bentuk mata dan bibir perlu dibantu dengan garis-garis yang tipis saja. Sedangkan untuk tata rias pertunjukan tari segala sesuatunya diharapkan harus terlihat lebih jelas. Hal ini selain sebagai penguat perwatakan dan keindahan juga yang penting diketahui bahwa tata rias ini akan dinikmati dari jarak jauh. Misalnya dalam memperjelas wajah, maka garis mata dan alis serta mulut perlu dibuat yang tebal.
Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini bahan tata rias tampaknya sudah merupakan hal yang tidak sulit dicari. Hanya masalah harganya saja yang masih sangat tinggi. Namun dapat juga dengan materi (bahan tata rias) yang relatif murah harganya. Tata rias tari sebagai salah saru cabang pertunjukan, pada waktu ini masih perlu dibedakan saja. Yaitu tata rias bagi seni tari yang dipentaskan melalui panggung, melalui televisi maupun melalui film.

5. Tema

Pada mulanya, orang menari bukan semata-mata untuk ditonton. Namun dalam perkembangan terakhir ini tari sengaja disusun untuk dipertontonkan. Untuk mendekati tercapainya tujuan maka perlu adanya unsur tema. Tema itu dapat diangkat dari bermacam-macam sumber. Hal ini dapat berasal dari manusia sendiri, dapat berupa pengalaman hidupnya seperti kegiatan sehari-hari, kisah ataupun pengalaman hidupnya sejak dalam kandungan ibu sampai pada masa penguburan junazah. Serta dapat pula dari hasil budidaya yang antara lain dapat berbentuk cerita-cerita baik yang bersifat legende, mitos ataupun sejarah. Yang berbentuk cerita misalnya epos Ramayana, epos Mahabarata. Yang berbentuk legende misalnya Nyai Roro Kidul dan yang berbentuk sejarah misalnya Pangeran Diponegoro, Gajah Mada.
Tari dapat pula diangkat dari tema flora dan fauna. Tema yang diangkat dari flora atau dunia tumbuh-tumbuhan misalnya tari tani, tari minta hujan, tari kumbang sari. Yang diangkat dari tema fauna atau dunia binatang misalnya tari kijang, tari burung, tari angsa dan sebagainya. Ada pula tari yang diangkat dari alam semesta misalnya tari ombak, tari api dan sebagainya. Biasanya tema tadi diambil dan disesuaikan dengan alam sekitarnya serta taraf kehidupan masyarakat pada jamannya.

6. Tempat

Tari dilakukan oleh manusia. Manusia sendiri adalah makhluk hidup yang mempunyai ukuran tiga dimensi, yaitu tinggi, panjang dan lebar. Sedangkan dalam kehidupannya manusia selalu bergerak berpindah-pindah. Maka untuk melaksanakan suatu kegiatan tari dibutuhkan waktu dan ruangan atau tempat.
Sepanjang sejarah kehidupan manusia, kegiatan-kegiatan tari selalu dilakukan di suatu tempat yang khusus. Tempat itu pada umumnya berbentuk suatu ruangan yang datar dan terang, artinya dapat dilihat. Mungkin tempat itu berbentuk suatu halaman atau lapangan yang dilingkari tumbuh-tumbuhan, baik di luar ataupun di dalam hutan. Mungkin tempat  tersebut terletak di pinggiran sungai atau di tepi laut. Dalam perkembangannya kebudayaan manusia sampai dewasa ini akhirnya terbentuklah suatu tempat khusus yang dipergunakan untuk pagelaran seperti bentuk arena, lingkaran ataupun pendapa. Ada pula tempat pertunjukan yang berbentuk proscenium, yaitu tempat pertunjukan yang antara penonton dengan yang ditonton dibatasai dengan suatu bingkai.
Mengingat bahwa kegiatan ataupun pagelaran seni tari sebagai tontonan melibatkan dua pihak, yaitu satu pihak yang ditonton dan pihak lain yang menonton, tentu saja tempat pihak yang ditonton memerlukan persyaratan penerangan lampu serta tata suara (sound system). Maka untuk mencapai keberhasilan pagelaran tari dibutuhkan pengaturan tata lampu dan tata suara yang baik.

7. Waktu

Dalam tarian, dinamika tari terwujud melalui cepat-lambat gerakan  dilakukan  oleh  penari.    Unsur  dinamika  ini  apabila dijabarkan   membutuhkan   waktu    gerak.    Penari    bergerak
menggunakan bagian anggota tubuh dengan cara berpindah tempat, berubah posisi, dan merubah kedudukan tubuh membutuhkan waktu.
Kebutuhan waktu yang diperlukan untuk perpindahan, perubahan posisi, dan perubahan kedudukan tubuh membutuhkan  waktu.  Perubahan  gerak,  perpindahan  tempat, dan penempatan kedudukan sikap tubuh ekuivalen dengan kebutuhan waktu yang dapat dijelaskan melalui   cepat-lambat, panjang-pendek, dan banyak-sedikit gerakan dilakukan butuh di dalam proses yang terjadi. Dengan demikian waktu menjadi bagian integral dari gerakan yang dilakukan.

8. Tenaga

Dalam gerak tari yang diperagakan indikasi yang menunjukkan intensitas gerak menjadi salah satu faktor gerakan tersebut  dapat  dilakukan  dan  dihayati.  Tenaga  terwujud  melalui
kualitas gerak yang dilakukan. Pencerminan penggunaan dan pemanfaatan tenaga yang disalurkan ke dalam gerakan yang dilakukan penari merupakan bagian dari kualitas tari sesuai penghayatan tenaga. Penghasil gerak dalam hubungannya dengan penggunaan tenaga dalam mengisi gerak tari sehingga menjadi dinamis, berkekuatan, berisi, dan antiklimak merupakan cara membangun tenaga dalam menari.
Ekstensi (penegangan) dan relaksasi (pengendoran) gerak secara keseluruhan berhubungan dengan kualitas, intensitas, dan penghayatan gerak tari. Teknik mengakumulasi kualitas dan intensitas  gerak  tari  seyogyanya  dikordinasikan  melalui  perintah kerja otak secara kordinatif.

9. Ekspresi

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia mengekspresikan diri bergantung pada situasi psikologis yang bersangkutan dalam menghadapi berbagai masalah. Ekspresi diri manusia secara umum berbeda cara dan ungkapnannya. Ungkapan ekspresi di dalam tari lebih cenderung dimanipulasi atau sering disebut distilisasi. Perbedaan ekspresi diri secara langsung dan ekspresi tari berhubungan terletak pada perubahan psikologis pembawaan suatu karakter. Ungkapan penghayatan ekspresi diri terletak pada perbedaan ekspresi sehari-hari lebih vulgar.
Sebagai   ilustrasi,   marah,   sedih,   dan   senyum   dalam kehidupan sehari-hari dapat  diekspresikan dengan berbagai cara sesuai kepekaan diri di dalam melakukan luapan kemarahan dan rasa senyum. Dalam tari semua ungkapan yang diperagakan harus distilisasi/didistorsi, sehingga wujud ungkapannya menjadi berbeda dengan keadaan sehari-hari. Di sinilah letak pembeda cara menghayati  sebuah   ungkapan  ekspresi   diri   dan   penghayatan karakter dalam seni maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Ekspresi dalam tari lebih merupakan daya ungkap melalui tubuh ke dalam aktivitas pengalaman seseorang yang selanjutnya dikomunikasikan kepada penonton/pengamat menjadi bentuk gerakan jiwa, kehendak, emosi atas penghayatan peran yang dilakukan. Dengan demikian daya penggerak diri penari ikut menentukan penghayatan jiwa ke dalam greget (dorongan perasaan, desakan jiwa, ekspresi jiwa dalam bentuk tari yang terkendali).

SUMBER :

http://spectradancestudio.wordpress.com/2012/09/02/unsur-dasar-seni-tari/
http://zulfikart.blogspot.com/2011/10/unsur-unsur-tari.html

Tuesday, August 13, 2013

Sendratari Ramayana, Drama dalam Tarian Khas Jawa

Sendratari Ramayana adalah seni pertunjukan yang cantik, mengagumkan dan sulit tertandingi. Pertunjukan ini mampu menyatukan ragam kesenian Jawa berupa tari, drama dan musik dalam satu panggung dan satu momentum untuk menyuguhkan kisah Ramayana, epos legendaris karya Walmiki yang ditulis dalam bahasa Sanskerta.

Friday, May 24, 2013

Lagu Lir ilir

  • PENDAHULUAN
Lagu Lir ilir adalah salah satu karya besar Sunan, ada yang mengatakan ciptaan Sunan Kalijogo, ada yang mengatakan ciptaan Sunan Giri, bahkan ada yang mengatakan ciptaan Sunan Ampel. Lagu in digunakan oleh Walisongo sebagai sarana dakwah. Karyanya ini sangat dikenal oleh para masyarakat terdahulu hingga kini, karena lagu ini mengandung makna yang patut untuk diteladani dan mudah dicerna orang zaman dahulu karena mengandung unsur kebudayaan jawa.
  • SYAIR  LAGU LIR  ILIR

Lir-ilir, Lir-ilir, Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo,
Tak sengguh temanten anyar
Cah angon – cah angon,
Penekno blimbing kuwi,
Lunyu-lunyu ya penekno,
Kanggo mbasuh dodotiro.
Dodotiro – dodotiro,
Kumitir bedah ing pinggir,
Dondomana jlumatana,
Kanggo seba mengko sore.
Mumpung padang rembulane,
Mumpung jembar kalangane,
Yo suraka, surak hiyo.
  • URAIAN  MAKNA  LAGU  LIR  ILIR
Berikut adalah penjabaran makna yang terkandung dalam syair tembang Lir Ilir, berdasarkan beberapa sumber penulis :
Bait pertama menggambarkan mulai bangkitnya islam
Bait kedua perintah menjalankan rukun islam dan perintah-perintahNYA
Bait ketiga yaitu anjuran untuk bertaubat dari segala maksiat yang diperbuat
Bait keempat adanya hasil baik yang didapat bila mau berusaha dengan baik.
Selanjutnya di bawah ini adalah uraian makna lagu Lir ilir dari tiap barisnya
- Lir-ilir, Lir-ilir
Tandure wus sumilir
Artinya : Bangunlah, bangunlah tanamannya sudah tumbuh.
>Dalam baris ini maksud dari bangunlah yang diulang dua kali adalah menyuruh untuk segera bangun.
>Tanamannya sudah tumbuh, yang di maksud tanaman adalah agama islam.
Jadi maksud dari bait ini adalah menyerukan kepada umat untuk segera bangun dari keterpurukan setelah runtuhnya kerajaan Majapahit pada masa itu, karena islam telah datang menaungi seluruh masyarakat.
- Tak ijo royo-royo,
Artinya : Bagaikan warna hijau yang menyegarkan.
Warna hijau disini, menggambarkan agama islam yang sering dilambangkan dengan warna hijau, menampakkan penampilan Islam yang menyenangkan. Juga menggambarkan tanaman yang tumbuh subur nan hijau, dimana iman yang di pelihara dengan baik, maka akan tumbuh dengan baik seperti tanaman yang tumbuh subur dan lebat.
Selain itu, apabila iman seseorang di kotori dengan perbuatan maksiat, maka akan merusak iman seseorang. Sama halnya dengan tanaman yang akan rusak bila terganggu hama, maka harus dihilangkan dengan memberikan anti hama, seperti hati yang akan kembali bersih dengan berbagai penawar hati, misalnya ;
-          Membaca Al qur’an
-          Memperbanyak dzikir
-          Menghadiri pengajian
-          Berpuasa sunnah
-          Dan lain lain
- Tak sengguh temanten anyar
Artinya : Bagaikan pengantin baru
Pengantin baru adalah sepasang mempelai, yang umunya sedang bahagia menempuh hidup barunya. Kalimat ini bermaksudkan kebahagiaan seorang muslim bagaikan kebahagiaan sepasang mempelai dalam menapaki keyakinan imannya.
- Cah angon – cah angon
Penekno blimbing kuwi
Artinya : Anak gembala – Anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu
>Anak gembala disini maksudnya pemimpin yang menjadi contoh bagi pengikutnya.
>Mengapa buah belimbing? Buah belimbing memiliki lima sisi, yang menggambarkan rukun islam dan sholat lima waktu




Dalam sebuah hadits disebutkan :
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ:  سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ و إِقَامُ  الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ  الْبَيْتِ  وَصَوْمُ رَمَضَانَ
Artinya : Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (Riwayat Turmuzi dan Muslim)
Jadi yang dimaksud syair ini, bahwa seorang pemimpin haruslah menjadi contoh yang baik untuk pengikutnya, yaitu dengan menjalankan rukun islam dan sholat lima waktu
>Anak gembala juga dapat diartikan sebagai diri kita, dimana penggembala pasti memiliki gembalaan, dan bagi manusia gembalaannya adalah nafsunya. Diharapkan manusia dapat menggembalakan nafsunya dengan baik, agar tidak merusak dan melanggar aturanNYA sehingga merusak imannya.
- Lunyu-lunyu ya penekno
Artinya : meskipun licin, tetap panjatlah
>Baris ini berhubungan dengan baris sebelumnya (panjatlah pohon belimbing itu). Licin dalam baris ini adalah penghambat bagi si pemanjat (cah angon), yang apabila tidak berhati-hati dan bersungguh-sunggu maka akan mudah tergelincir. Sama halnya dalam perintah agama, apabila tidak berhati-hati dari maksiat bisa tergelincir ke dalam lubang dosa. Analogi ini seperti jalan turun yang lebih mudah di bandingkan jalan naik, untuk memanjat dan mendapatkan buah belimbing akan mendapat banyak halangan, tidak seperti jalan turun yang lebih mudah. Analogi tersebut menggambarkan jalan untuk mendapatkan buah syurga memang tidak mudah, semudah jalan turun ke neraka, namun cah angon yang mau berusaha dengan sebaik-baiknya maka akan mendapatkan kebahagiaan abadi.
- Kanggo mbasuh dodotiro
Artinya : Untuk membasuh kain dodot
>Dodot adalah semacam kain kebesaran jaman dahulu yang di gunakan pada acara-acara keratin dan menurut orang jawa, pakaian adalah lambing agama. Pohon belimbing mengandung kadar keasaman yang pada zaman dahulu sering di gunakan untuk merawat kain batik agar tidak mudah rusak dan awet. Dengan maksud lain, islam adalah pembersih hati dan mensucikan kepercayaan manusia dengan rukun islam yang dituntunkan oleh ALLAH.
- Dodotiro – dodotiro
Kumitir bedah ing pinggir
Artinya : Kain dodotmu – kain dodotmu, telah rusak dan robek
>Telah disebutkan sebelumnya, dodot adalah kain dan pakaian merupakan lambang agama. >Dalam hal ini dilambangkan kain dodot yang telah rusak dan robek. Karena kemajuan zaman yang menyebabkan kemerosotan moral manusia, maka rusaklah agama dan akhlaq manusia seperti robeknya kain dodot tersebut.
Sumber lain menyebutkan, kumitir artinya kain yang tertiup angin dan terlihat sobek dipinggirannya. Zaman dahulu ketika raja-raja telah memeluk agama islam, masyarakat pinggiran belum terlalu mengerti islam, masih bercampur dengan kebiasaan nenek moyang yang menganut hindu jawa. Jadi pinggiran kain dodot yang robek disini maksudnya adalah para masyarakat pinggiran yang belum terlalu memahami islam, inilah tugas besar yang diemban oleh para pemimpin.
- Dondomana jlumatana,
Kanggo seba mengko sore.
Artinya : Jahitlah, tisiklah untuk menghadap nanti sore
>Masih berhubungan dengan baris sebelumnya, bahwa Sunan Kalijaga memerintahkan untuk menjahit kain dodot yang robek. Masih seperti di atas, kain dodot maksudnya adalah agama maka maksud perintah Sunan Kalijaga adalah untuk memperbaiki agama.
>Makna untuk menghadap nanti sore, ‘nanti sore’ maksudnya waktu senja yaitu akhir perjalanan hidup, atau menjelang ajal.
Jadi maksud baris ini, diperintahkan kepada manusia untuk memperbaiki agamanya dari berbagai macam maksiat untuk mempersiapkan diri ketika menghadap Illahi nanti.
- Mumpung padang rembulane,
Mumpung jembar kalangane,
Artinya : Selagi masih terang bulannya, selagi masih luas lapangannya
>Terang bulan jelas ada saat malam hari. Tanpa bulan, malam hari akan gelap gulita dan tidak dapat membedakan yang hak dan yang bathil, disinilah maksud sinar bulan adalah agama Islam yang menerangi kegelapan, sehingga dengan sinar bulan (Agama Islam) manusia akan dapat membedakan yang baik dan yang buruk.
>Selagi masih luas lapangannya, maksudnya selagi masih ada waktu untuk memperbaiki.
Sehingga bila digabungkan, Agama Islam telah memberikan tuntunan kepada kita didunia, maka manfaatkanlah waktu yang diberikan untuk menjadi muslim yang sebaik-baiknya sebelum waktu kita didunia habis.
- Yo suraka, surak hiyo.
Artinya : ya, bersoraklah, berteriak-lah iya
Baris terakhir ini merupakan ajakan untuk bersorak bahagia. Berbahagialah bagi orang yang mampu menjaga agamanya dengan baik. Berbahagialah bagi ‘cah angon’ yang mampu memanjat hingga mendapatkan buahnya (surga), sambut seruan Islam dengan bahagia.
Di dalam Al qur’an surat Al Anfaal ayat 24 disebutkan :
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu ….
  • KESIMPULAN
Lagu ini menyimpan makna dan pelajaran yang sangat bermanfaat bagi kehidupan.
Bila disimpulkan menjadi satu bagian, Lagu Lir ilir menggambarkan bahwa kala itu Islam baru saja berkembang di pulau jawa khusunya. Dimana kerajaan majapahit baru saja runtuh dan masyarakat masih didominasi oleh agama nenek moyang, yaitu hindu jawa.
Agama Islam digambarkan dengan tanaman yang berwarna hijau, menampakkan penampilan Islam yang menyenangkan, dan bagi seorang muslim patutlah berbahagia seperti bahagianya sepasang pengantin baru.
Lagu ini menganalogikan seorang penggembala (cah angon) mewakilkan makna diri kita yang memiliki gembalaan nafsu, diharapkan manusia dapat menggembalakan nafsu dengan baik. Cah angon juga diartikan sebagai pemimpin yang menjadi contoh para pengikutnya, diharapkan seorang pemimpin mengamalkan rukun islam sehingga akan menjadi contoh yang baik bagi pengikutnya, rukun islam dilambangkan dalam buah belimbing yang memiliki lima sisi.
Dalam mempertahankan iman tidaklah mudah, pasti ada rintangan dalam menjaga keimanan. Karena jalan menuju neraka memang lebih mudah di banding menuju syurga. Seperti analogi dalam lagu ini, perintah untuk memanjat pohon meskipun susah mencapai buahnya (surga).
Selanjutnya analogi dalam kain dodot, yang merupakan pakaian kebesaran di kraton. Menurut orang jawa pakaian adalah lambang agama yang biasanya dirawat dengan mencucinya menggunakan buah belimbing. Seperti halnya agama yang harus dipelihara dan dirawat keimanannya. Kain dodot yang telah rusak dan robek diga,barkan seperti telah merosotnya iman seseorang, sehingga merusak keimanannya, maka kain ini harus di jahit dan diperbaiki. Keimanan harus kembali diperbaiki untuk menghadap Illahi pada akhir hayat nanti. Selagi masih ada waktu dan kesempatan dan waktu. Dan berbahagialah bagi para muslim yang memelihara keimanannya.