Apa itu Jelungan ???? Permainan jelungan ini mungkin saja baru pertama kali anda dengarkan, atau mungkin anda pernah mendengar tetapi tidak tahu bagaimana bentuk dan cara permainannya. Dan jugan mungkin masih banyak juga diantara kita yang tahu tentang permainan jelungan ini. Bagaimanapun jugan permainan jelungan ini harus tetap kita lestarikan, karena jelungan merupakan salah satu permainan tradisional Indonesia yang juga pada jaman dahulu dipergunakan oleh para Wali untuk media dakwah penyebaran agama Islam lewat permainan jelungan ini.
Home » Posts filed under Budaya
Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts
Monday, March 17, 2014
Saturday, October 5, 2013
Dinamika Seni Pesisir Gresik
Naskah ini disampaikan dalam acara SARASEHAN FESTIVAL KESENIAN PESISIR UTARA (FKPU) 2012, Tanggal 9 Maret 2012 di Gresik :
Latar Belakang Gresik
Sejak zaman kerajaan Majapahit, keberadaan kota Gresik sudah disebut-sebut sebagai salah satu prototype kota tua. Peranannya sebagai kota dagang mulai berkembang sejak pertengahan abad ke-14, seirama dengan dinamika kota-kota dagang lainnya di Nusantara yang juga terkait dalam jaringan perdagangan dunia. Kawasan nusantara menjadi kawasan paling timur yang dijadikan titik simpul perdagangan internasional terutama dari bangsa-bangsa Eropa dan Asia Tengah. Dari Maluku, jalur perdagangan melintasi selat Flores, Laut Jawa, Selat Malaka, Teluk Benggala, Pantai Coromandel dan Malabar di India, Gujarat, Persia serta diteruskan sampai ke Eropa dengan melewati simpul-simpul perdagangan lainnya. Pada jalur inilah kota Gresik menjadi salah satu simpul perdagangan yang sangat penting. Tome Pires, musafir Portugis yang mengunjungi kota ini pada abad ke-16 menyaksikan bahwa transaksi perdagangan sudah ramai dilakukan. Kapal-kapal yang singgah berasal dari Gujarat, Siam dan Cina. Disamping itu juga kapal-kapal dari dan Banda yang tampak ramai. Kesaksian Tome Pires yang dikutip oleh H. De Graaff the Piqeaud, Kerajaan Islam di Jawa.
Latar Belakang Gresik
Sejak zaman kerajaan Majapahit, keberadaan kota Gresik sudah disebut-sebut sebagai salah satu prototype kota tua. Peranannya sebagai kota dagang mulai berkembang sejak pertengahan abad ke-14, seirama dengan dinamika kota-kota dagang lainnya di Nusantara yang juga terkait dalam jaringan perdagangan dunia. Kawasan nusantara menjadi kawasan paling timur yang dijadikan titik simpul perdagangan internasional terutama dari bangsa-bangsa Eropa dan Asia Tengah. Dari Maluku, jalur perdagangan melintasi selat Flores, Laut Jawa, Selat Malaka, Teluk Benggala, Pantai Coromandel dan Malabar di India, Gujarat, Persia serta diteruskan sampai ke Eropa dengan melewati simpul-simpul perdagangan lainnya. Pada jalur inilah kota Gresik menjadi salah satu simpul perdagangan yang sangat penting. Tome Pires, musafir Portugis yang mengunjungi kota ini pada abad ke-16 menyaksikan bahwa transaksi perdagangan sudah ramai dilakukan. Kapal-kapal yang singgah berasal dari Gujarat, Siam dan Cina. Disamping itu juga kapal-kapal dari dan Banda yang tampak ramai. Kesaksian Tome Pires yang dikutip oleh H. De Graaff the Piqeaud, Kerajaan Islam di Jawa.
Friday, August 23, 2013
Seni tentang Teater
Sejarah panjang seni teater dipercayai keberadaannya
sejak manusia mulai melakukan interaksi satu sama lain. Interaksi itu
juga berlangsung bersamaan dengan tafsiran-tafsiran terhadap
alam semesta. Dengan demikian, pemaknaan-pemaknaan teater tidak
jauh berada dalam hubungan interaksi dan tafsiran-tafsiran antara
manusia dan alam semesta. Selain itu, sejarah seni teater pun diyakini
berasal dari usaha-usaha perburuan manusia primitif dalam
mempertahankan kehidupan mereka. Pada perburuan ini, mereka menirukan
perilaku binatang buruannya. Setelah selesai melakukan perburuan,
mereka mengadakan ritual atau upacara-upacara sebagai bentuk “rasa
syukur” mereka, dan penghormatan” terhadap Sang Pencipta semesta.
Ada juga yang menyebutkan sejarah teater dimulai dari Mesir pada 4000 SM
dengan upacara pemujaan dewa Dionisus. Tata cara upacara ini kemudian
dibakukan serta difestivalkan pada suatu tempat untuk dipertunjukkan
serta dihadiri oleh manusia yang lain.
Jenis-Jenis Teater Tradisional
Berbicara masalah
seni tearer tradisi (daerah), kita akan berbicara mengenai masalah
keragaman, kekhasan/keunikan, dan perkembangan di masyarakat. Hampir di
setiap daerah kabupaten terdapat seni teater yang memiliki keunikan
masing-masing. Suatu jenis kesenian daerah dikelompokkan sebagai seni
tearer jika dalam teks pertunjukan terdapat unsur-unsur berikut.
a. naskah, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis;
b. tempat pertunjukan atau pentas, baik arena ataupun prossenium,
c. pemain (aktor dan aktris) atau para penari; dan
d. property (perkakas pementasan).
a. naskah, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis;
b. tempat pertunjukan atau pentas, baik arena ataupun prossenium,
c. pemain (aktor dan aktris) atau para penari; dan
d. property (perkakas pementasan).
Media
untuk mengungkapkan sebuah gagasan, bisa berupa bahasa verbal (dialog
atau monolog dengan kata-kata), bahasa visual(gerak, tarian, dan rupa),
dan bahasa audio (musik atau karawitan).
a. Teater boneka, yaitu pertunjukan water yang tokoh-tokoh ceritanya berupa boneka yang dimainkan oleh seorang dalang. Bentuk teater boneka di antaranya Wayang Kulit, Wayang Golek, dan Wayang Cepak. Wayang Kulit dan Wayang Golek biasanya membawakan cerita Ramayana dan Mahabrata, sedangkan Wayang Cepak biasanya membawakan cerita Babad. Jenis teater boneka termasuk teater total, maksudnya jenis teater ini menyertakan berbagai cabang seni, seperti tari, karawitan, sastra, rupa, dan seni.
Defenisi Teater
Teater berasal dari kata Yunani, “theatron” (bahasa Inggris, Seeing
Place) yang artinya tempat atau gedung pertunjukan. Dalam
perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan
sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan
demikian, dalam rumusan sederhana teater adalah pertunjukan, misalnya
ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, sintren, janger, mamanda,
dagelan, sulap, akrobat, dan lain sebagainya. Teater dapat dikatakan
sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak
bermain sebagai ayah dan ibu, bermain perang-perangan, dan lain
sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata
sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya,
upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur
teatrikal dan bermakna filosofis. Berdasarkan paparan di atas,
kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan
tentang teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak
ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka,
terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton,
serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993).
Dengan demikian teater adalah pertunjukan lakon yang dimainkan di atas
pentas dan disaksikan oleh penonton.
Macam - Macam Tarian Tradisional Indonesia
1. Tari Gantar
Tarian yang menggambarkan gerakan orang menanam padi. Tongkat menggambarkan kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian didalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya.
Tarian ini cukup terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara lainnya.Tari ini tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh suku Dayak Benuaq. Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn, Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak.
Tarian yang menggambarkan gerakan orang menanam padi. Tongkat menggambarkan kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian didalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya.
Tarian ini cukup terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara lainnya.Tari ini tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh suku Dayak Benuaq. Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn, Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak.
Macam Macam Tarian Mancanegara
Tarian Negara Kamboja.
Gerakannya lambat, seperti menghipnotis, mencerminkan gerakan tarian
dari Negara Kamboja. Tubuh penari harus fleksibel dan seperti tak
bertulang.
Tarian Samba, Brazil.
Gerakannya cepat dan seperti halnya tarian dari Amerika Selatan, mereka memiliki akar dari Afrika dan Karibia.
Tari Bali, Indonesia.
Di Bali, pelajaran menari diberikan secara terbuka sehingga semua orang dapat menyaksikannya. Pengajar tari bali tak hanya mengajarkan gerakan tari Bali, namun juga membetulkan posisi badan agar tercapai bentuk yang sempurna.
Tarian Samba, Brazil.
Gerakannya cepat dan seperti halnya tarian dari Amerika Selatan, mereka memiliki akar dari Afrika dan Karibia.
Tari Bali, Indonesia.
Di Bali, pelajaran menari diberikan secara terbuka sehingga semua orang dapat menyaksikannya. Pengajar tari bali tak hanya mengajarkan gerakan tari Bali, namun juga membetulkan posisi badan agar tercapai bentuk yang sempurna.
PENGERTIAN TARI MENURUT AHLI
Pengertian tari menurut beberapa ahli :
Tari menurut Drs. Soedarsono Pringgobroto dalam kuliah-kuliah ASTI Yogyakarta sekitar tahun 1967.
Tari adalah ekspresi jiwa manusia melalui gerak-gerak yang indah dan ritmis.
Tari menurut Susan K.Lenger
Tari adalah gerak-gerak yang dibentuk secara ekspresif yang diciptakan manusia untuk dapat dinikmati.
Tari menurut Curt Sacha seorang ahli tari Jerman dalam bukunya “World History of the Dance”.
Tari adalah gerak yang ritmis
Tari menurut Drs. Soedarsono Pringgobroto dalam kuliah-kuliah ASTI Yogyakarta sekitar tahun 1967.
Tari adalah ekspresi jiwa manusia melalui gerak-gerak yang indah dan ritmis.
Tari menurut Susan K.Lenger
Tari adalah gerak-gerak yang dibentuk secara ekspresif yang diciptakan manusia untuk dapat dinikmati.
Tari menurut Curt Sacha seorang ahli tari Jerman dalam bukunya “World History of the Dance”.
Tari adalah gerak yang ritmis
Tari menurut Kamala Devi Chattopadhyaya seorang ahli seni dari India.
Tari adalah suatu instinct atu desakan emosi didalam diri kita yang mendorong kita untuk mencari ekspresi pada tari.
Tari menurut Hawkins menyatakan bahwa tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi bentuk gerak yang simbolis dan sebagai ungkapan si pencipta (Haukins: 1990, 2).
Tari menurut La Mery dalam bukunya “Dance Compotition” bahwa ekspresi yang berbentuk simbolis dalam wujud yang lebih tinggi harus diinternalisasikan.
Tari menurut Suryo mengedepankan tentang tari dalam ekspresi subyektif yang diberi bentuk obyektif (Meri:1987,12).
Tari menurut M. Jazuli dalam (Soeryobrongto:1987, 12-34) dikemukakan bahwa gerak-gerak anggota tubuh yang selaras dengan bunyi musik adalah tari.
Irama musik sebagai pengiring dapat digunakan untuk mengungkapkan
maksud dan tujuan yang ingin disampaikan pencipta tari melalui penari
(Jazuli, 1994:44).
Tari menurut Corry Hamstrong dalam bukunya “Danskunst” menyatakan bahwa, tari merupakan gerak yang diberi bentuk dalam ruang.
Tari menurut Suryodiningrat, Ingkang
kawastanan beksa inggih punika ebahing sadaya saranduning badan,
kesarengan ungeling gangsa, katata pika tuk wiramaning gending,
jumbuhing pasemon kalihan pikajenging joged
(arti: tari adalah gerak seluruh badan yang diiringi irama lagu musik
yang diselaraskan dengan ekspresi tarinya). Dikemukakan oleh BPH
Suryodiningrat, seorang ahli tari dari Daerah Istimewa Yogyakarta dalam
bukunya “Babad lan Mekaring Joged Jawi”.
Drs. Wisnoe Wardhana dalam bukunya “Pengajaran Tari” menyatakan bahwa Tari adalah ekspresi estetis dalam gerak dengan media tubuh manusia.
SUMBER: http://spectradancestudio.wordpress.com/2012/08/31/hello-world/
JENIS TARI MENURUT KOREOGRAFI
Istilah koreografi adalah suatu istilah yang digunakan untuk susunan tari.Sedang untuk menyebut orang yang menyusun tari adalah koreografer.
Tari menurut koreografi dapat dibedakan menjadi :
a. Tari Rakyat
Tari rakyat adalah tari yang hidup dan berkembang pada masyarakat tertentu sejak jaman primitif sampai sekarang.Ciri-ciri tari rakyat adalah :
- Sederhana ( pakaian,rias,gerak dan ringan )
- Tidak mengindahkan norma-norma keindahan
- Memiliki kekuatan magis
Contoh tari rakyat :
Lengger, Tayub, Orek-Orek, Joget, Kubrasiwa, Buncis, Ndulalak, Sintren, Angguk, Rodat
Sekilas Tentang Seni Tari Tradisional Rakyat Jawa
Kebudayaan yang menjadi sebuah peradaban adalah hasil dari karya,
cipta, dan karsa dari sekumpulan manusia yang disebut masyarakat. Hal
tersebut karena manusia merupakan makhluk yang selalu untuk berkarya
dalam menciptakan sesuatu. Seperti kata Koentjaraningrat: “Alam,
kemajuan, dan perkembangan akal manusia sangat besar peranannya dalam
pertumbuhan budaya.” Berangkat dari konsep ini melihat bahwa tari
tradisional merupakan produk budaya yang dihasilkan, dipelihara,
dikontrol, dan dikembangkan oleh suatu budaya tradisi tertentu, akan
memberikan konsekuensi dalam proses kehidupan budaya.
PENGELOMPOKAN TARI JAWA TIMUR
Berdasarkan jenis koreografi, tari pada saat ini dapat diklasifikasi menjadi 3, yaitu Tari Klasik, Tari Kreasi, dan Tari kontemporer.
A. Tari klasik adalah tari yang mengalami
kristalisasi keindahan yang tinggi dan sudah ada sejak jaman feudal.Tari
ini biasanya hidup dilikgkungan keraton.
Ciri-ciri tari klasik adalah :
a. Mengalami kristalisasi keindahan yang tinggi
b. Hidup dikalangan raja-raja
c. Adanya standarisasi
d. Diturunkan antar generasi
a. Mengalami kristalisasi keindahan yang tinggi
b. Hidup dikalangan raja-raja
c. Adanya standarisasi
d. Diturunkan antar generasi
Contoh tari klasik Jawa Tengah adalah bedaya,srimpi,lawung
ageng,lawung alit dan juga karya-karya empu tari baik empu tari gaya
Yogyakarta dan empu tari gaya Surakarta seperti S.Mariadi dan
S.Ngaliman yang sampai sekarang masih bisa dinikmati seperti :
Gathotkaca Gandrung, Bondabaya, Bandayuda, Palguna-palgunadi, Retna
Tinanding, Srikandi Bisma, dll
Contoh tari klasik dari Jawa Timur:
1. Tari Tari Remo Bolet/jombangan dari Jombang
2. Tari Tari Remo Munali dari Surabaya
3. Tari Beskalan dari Malang
4. Tari Gandrung dari Banyuwangi
5. Tari Kuda Lumping dari Ponorogo
1. Tari Tari Remo Bolet/jombangan dari Jombang
2. Tari Tari Remo Munali dari Surabaya
3. Tari Beskalan dari Malang
4. Tari Gandrung dari Banyuwangi
5. Tari Kuda Lumping dari Ponorogo
B. Tari kreasi baru adalah tari-tari klasik yang
dikembangkan sesuai dengan perkembangan jaman dan diberi nafas
Indonesia baru. Contoh tari kreasi baru adalah karya-karya dari Bagong
Kusudiarjo dari padepokan Bagong Kusudiarjo dan Untung dari sanggar
kembang sore dari Yogyakarta.
Contohnya lainnya dari Jawa Tengah adalah :
Tari Kupu-Kupu , Tari Merak, Tari Roro Ngigel, Tari Ongkek Manis, Tari Manipuri, Tari Roro Wilis,dll
Tari Kupu-Kupu , Tari Merak, Tari Roro Ngigel, Tari Ongkek Manis, Tari Manipuri, Tari Roro Wilis,dll
Contoh tari kreasi dari Jawa Timur:
1. Tari Banjar Kemuning dari Sidoarjo
2. Tari Kasomber dari Madura
3. Tari Zavin Mandailing dari Bawean, Gresik
4. Tari Lenggang Surabaya dari Surabaya
5. Tari Eblas dari Madura
1. Tari Banjar Kemuning dari Sidoarjo
2. Tari Kasomber dari Madura
3. Tari Zavin Mandailing dari Bawean, Gresik
4. Tari Lenggang Surabaya dari Surabaya
5. Tari Eblas dari Madura
C. Tari Kontemporer, Istilah ‘kontemporer’ begitu
kerap digunakan di perbincangan dunia seni tari Indonesia, sementara
makna dan cakupan definisinya tidak pernah didiskusikan secara
diskursif. Akibatnya, pengertian ‘tari kontemporer’ cenderung
disederhanakan sebagai sebuah istilah yang terlanjur popular, dan berada
di antara dua kutub: yaitu semua karya seni tari yang bukan untuk
konsumsi hiburan popular, namun secara bentuk juga bukan termasuk seni
tari tradisional yang bersandar pada pakem-pakem yang sudah berlaku
lama. Tapi, karya tari ‘kontemporer’ adalah yang bukan
tari latar di acara seperti Gebyar BCA atau pertunjukan dangdut Inul,
tapi juga bukan tari sakral macam Bedaya Ketawang atau tari rakyat ala
jogedan ledek Banyuwangi.
Padahal, sebagai sebuah sistem pengetahuan dan wacana (diskursus),
tari modern/kontemporer adalah topik yang paling tidak telah berkembang
sejak seratus tahun terakhir. Jika bercermin pada diskusi yang
berlangsung di tingkat global, sebelum sampai pada istilah
‘kontemporer’, dunia tari (terutama di Eropa dan Amerika) lebih dulu
muncul dengan istilah ‘tari modern’ ― yang referensinya
mengarah pada sebuah momentum artistik ketika penciptaan tari
dimotivasi niat untuk menjadikan tari sebagai bahasa ucap ekpresi seni
tari itu sendiri. Yaitu, momentum ketika tari bukan lagi melayani
kebutuhan di luar dirinya ― entah itu konteks di dunia ritual, maupun
ruang-ruang sosial dan kultural ― melainkan melayani tari itu sendiri
(retro.blogspot.com).
Pengertian ‘kontemporer’ yang dapat dipahami selama ini adalah: Seni
kontemporer adalah seni yang disemangati oleh kebebasan: Kata
“kontemporer” yang berasal dari kata “co” (bersama) dan “tempo” (waktu).
Sehingga menegaskan bahwa seni kontemporer adalah karya yang secara
tematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui (spirit
kekinian). [ http://www.dikbangkes-jatim.com/?p=1255]
Biasanya, tari kontemporer disajikan secara eksklusif, bukan untuk
konsumsi hiburan popular/umum. Jenis tari ini biasa diciptakan untuk
suatu kepentingan seni khusus seperti festival seni tari nasional dan
international. Oleh karena itu orang umum kemungkinan banyak sekali yang
tidak tau judul-judul tarinya dan apalagi penampilannya.
Tari kontemporer yang berasal dari Indonesia umumnya tetap mengangkat
seni tradisi masing-masing daerah. Minimal koreografer mengangkat
budaya lokal yang ada. Seperti budaya tayub, disajikan dengan paduan
gerak-gerak lainnya yang non-tradisi. Dan kombinasi musik yang juga
berbau tradisi namun tidak pakem, seperti gamelan dikombinasikan dengan
biola.
Contoh tari kontemporer tradisi dari Jawa Timur:
1. Tari Ronjengan dari Madura (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2012 di gedung Cak Durasim)
1. Tari Ronjengan dari Madura (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2012 di gedung Cak Durasim)
2. Tari Barong Prejeng dari Banyuwangi (disajikan pada Perhelatan seni budaya dan pariwisata Kemilau Nusantara 2012)
3. Tari Ta’ Andhik Lesso dari Surabaya (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2005 di gedung Cak Durasim)
4.Tari Kidung Soren dari Surabaya (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2008 di gedung Cak Durasim)
5. Tari Somo Ellah dari Surabaya (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2012 di gedung Cak Durasim)
6. Tari Besut Beset dari Surabaya (disajikan pada Pekan Seni Mahasiswa Regional tahun 2012 di gedung Cak Durasim)
Ekspresi yang bersifat kekinian tentunya memiliki ciri-ciri yang
menonjolkan inovasi (pembaharuan) maka selanjutnya disebut sebagai seni
tari “modern”. Varian dari seni tari modern yang
seringkali tampil sebagai bentuk “kemasan” atau Kicth, adalah seni tari
yang bersifat menghibur, perkembangannya sesaat dan tidak memiliki dasar
filosifis yang dalam. Perkembangan seni tari hiburan ini disebut
sebagai popular performing art (seni tari populer).
Tari modern adalah sebuah tari yang mengungkapkan emosi manusia
secara bebas atau setiap penari bebas dalam mewujudkan ekspresi
emosionalnya yang tidak terikat oleh sebuah bentuk yang berstandar.
Contoh tari modern adalah : Caca, Break Dance, Penari Latar, Samba, dll
Dirangkum dari berbagai sumber
Dikutip dari: spectradancestudio.wordpress.com/2012/11/08/beberapa-judul-tari-jatim-berdasarkan-jenisnya/
Dikutip dari: spectradancestudio.wordpress.com/2012/11/08/beberapa-judul-tari-jatim-berdasarkan-jenisnya/
UNSUR-UNSUR DASAR SENI TARI
Tari adalah gerak-gerak dari seluruh anggota tubuh yang selaras
dengan musik, diatur oleh irama yang sesuai dengan maksud dan tujuan
tertentu dalam tari. Di sisi lain juga dapat diartikan bahwa tari
merupakan desakan perasaan manusia di dalam dirinya untuk
mencari ungkapan beberapa gerak ritmis.Tari juga bisa dikatakan
sebagai ungkapan ekspresi perasaan manusia yang diubah oleh imajinasi
dibentuk media gerak sehingga menjadi wujud gerak simbolis
sebagai ungkapan koreografer. Sebagai bentuk latihan-latihan, tari
digunakan untuk mengembangkan kepekaan gerak, rasa, dan irama
seseorang. Oleh sebab itu, tari dapat memperhalus pekerti manusia yang
mempelajarinya.
1. Gerak
Gerak
dapat diungkapkan dengan bermacam-macam. Diantara berbagai macam gerak
itu, salah satu diantaranya ada yang mengandung unsur keindahan (sedap
dipandang mata).
Angin
bertiup dari tengah sasmudra mendesak air laut bergerak menuju ke
pantai berupa gelombang samudra, menimbulkan suatu gerakan yang indah
dipandang mata. Daun nyiur di pantai meliuk-liuk atas tiupan angin indah
dalam pandangan mata.
Demikian
pula di musim kemarau kunang-kunang mengibas-ngibaskan sayapnya
menimbulkan cahaya gemerlapan di tengah sawah pada malam hari seperti
cahaya mutiara indah yang sedang memantulkan sinar. Ikan mas berenang
renang ke sana ke mari di dalam akuarium, selain menimbulkan pemandangan
yang indah juga menimbulkan suasana ketenangan.
Tetapi
mengingat bahwa seni tari merupakan salah satu cabang kesenian yang juga
merupakan salah satu hasil budi manusia, maka unsur dasar tari utama
yang berwujud gerak itu, tidak semua gerak dapat dikatakan gerak tari.
Gerak yang berfungsi sebagai materi gerak pokok tari hanyalah
gerakan-gerakan dari bagian tubuh manusia yang telah diolah dari gerak
keadaan wantah menjadi suatu bentuk gerak tertentu. Dalam istilah
kesenian, gerak yang telah mengalami stilisasi atau distorsi.
Dari
hasil pengolahan suatu gerakan atau gerak yang telah mengalami sitisasi
atau distorsi inilah nanti lahir dua jenis gerak tari. Yang pertama
gerak tari yang bersifat gerak murni dan yang kedua bersifat gerak
maknawi.
Gerak murni
adalah gerak tari darihasil pengolahan gerak wantah yang dalam
pengungkapannya tidak mempertimbangkan suatu pengertian dari gerak tari
tersebut. Disini yang dipertimbangkan adalah faktor nilai keindahan
gerak tarinya saja. Misalnya gerak-gerak memutar tangan pada pergelangan
tangan, beberapa gerak leher seperti pacak-jangga di Jawa, dan
sebagainya.
Sedangkan yang dimaksud dengan gerak maknawi
adalah gerak wantah yang telah diolah menjadi suatu gerak tari yang
dalam pengungkapannya mengandung suatu pengertian atau maksud disamping
keindahannya. Misalnya dalam tari nelayan, kita dapat melihat gerak tari
yang menggambarkan nelayan yang sedang mendayung. Gerak mendayung dalam
tari nelayan ini disamping sedap dilihat karena keindahannya, juga
tampak mengandung suatu arti atau maksud yaitu gambaran seorang nelayan
yang sedang mengayunkan dayungnya agar perahunya dapat laju jalannya.
Di
daerah pedalaman yang jauh dari pantai, seperti di hutan di dareah
Kalimantan atau di Irian Jaya kita banyak mendapatkan ragam tari yang
menggambarkan bagaimana dan dengan apa para pemburu akan manangkap
binatang. Disini banyak digambarkan atau dilukiskan cara menangkap
binatang dengan mengelu-elukan sebatang tombak, atau menarik anak panah.
Dalam suatu bentuk gerak tari jelas bukan merupakan gerak wantah,
tetapi berupa gerak yang telah distilisasi yang hasilnya disamping
mengandung unsur keindahan juga menggambarkan suatu pengertian atau
maksud tertentu. Disini yang digambarkan adalah seorang yang sedang
berburu binatang dengan senjata tombak atau panah.
Di
dataran rendah kita dapati beberapa bentuk tari pertanian, yang
menggambarkan bagaimana cara bercocok tanam atau tarian pengrajin yang
di dalamnya dapat berbentuk penggambaran cara masyarakat sedang menenun
kain, membatik atau membuat perkakas dari tanah liat, dan sebagainya.
Dalam
garapan suatu bentuk tarian, gerak-gerak maknawi ada yang masih tampak
jelas artinya dalam cara pengungkapan geraknya tetapi juga banyak pula
yang dalam pengungkapan geraknya tinggal tampak suatu kiasan saja. Untuk
mencari contoh yang terakhir banyak terdapat dalam garapan tari
tradisional atau tari klasik di pulau Jawa dan Bali. Seperti dalam tari
klasik tradisional di Jawa, kita dapati gerak ragam tari yang disebut
tari usap rawis yang menggambarkan bagaimana mengusap kumis. Ragam tari
ngilo yang mengandung pengertian seseorang yang sedang bercermin setelah
berbusana.
Begitu
pula beberapa ragam tari gerakan perang. Gerak tari nitig paha dan
nuding pada tari Bali mengadung pengertian terperanjat dan marah. Gerak
menghadapkan telapak tangan pada penari lain mengandung pengertian
menolak. Gerak menengadahkan telapak tangan dan muka ke langit berarti
sembah atau sujud memuja Tuhan. Sedangkan menggeleng-gelengkan kepala
berati kecewa, demikian pula gerak mengangguk-anggukkan kepala berarti
setuju. Dengan demikian maka berdasarkan jenis pengungkapan geraknya,
secara garis besar ada dua sifat gerak tari.
Ditinjau dari cara pengungkapannya ada dua bentuk tari, yaitu yang representatif dan yang non representatif.
Tarian yang bersifat representatif yaitu gerak tarinya menggambarkan
suatu pengertian atau maksud tertentu dengan gerakan tarian jelas.
Tarian yang bersifat nonrepresentatif yang gerakan tarinya tidak
menggambarkan suatu pengertian tertentu. Namun demikian dalam
keseluruhan penggarapan sebuah tari pasti tidak meninggalkan salah satu
sifat tersebut di atas. Keduanya saling bertautan dan isi mengisi. Hanya
mana yang lebih ditekankan. Pada garapan-garapan tari non representatif
banyak digunakan gerak murni atau pure movement. Sedang garapan yang
bersifat representatif pasti saja banyak disusun dari gerak-gerak
maknawi atau gesture. Bagi bangsa primitif ada suatu keyakinan bahwa
semakin tepat dan cermat seorang penari melaksanakan gerakan tarinya,
maka semakin tinggi atau semakin ampuh karunianya baik yang bersifat
moral atau material.
Pada
pengobatan misalnya, bila si pawang atau dukun selama menari untuk
memberi pengobatan pada si sakit dapat menunjukkan gerakan-gerakan yang
tepat dan cermat serta penuh konsentrasi, maka ini berarti akan cepat
penyembuhannya bagi si sakit. Demikian pula seorang juru bicara yang
mengungkapkan suatu pengertian lewat gerak dapat tepat dan gempang
diterima, maka ia akan semakin cepat diserap oleh pendengarnya. Dengan
demikian jelaslah bahwa unsur dasar tari yang utama adalah gerak
manusia.
2. Ritme
Di
dalam kehidupan dunia sebagai makroskosmos, ritme ini selalu ada dan
bersifat tetap. Contoh yang paling dekat bahwa matahari selalu terbit
dari sebelah timur. Selanjutnya naik dan berjalan berpindah tempat
sampai tenggelam di sebelah barat pada waktu sore hari. Ritme itu
sendiri sebenarnya merupakan jarak yang tetap. Untuk memberikan suatu
kehidupan maka perjalanan sepanjang jarak ini dilaksanakan dengan adanya
daya naik dan turun. Dalam dunia karawitan atau musik daya tersebut
sangat jalas. Daya ini bisa disebut padang-ulihan atau these-antithese.
Dari inilah maka sebenarnya ritme itu merupakan pola waktu yang
memberikan kehidupan.
3. Iringan
Di
atas telah disebutkan bahwa tari adalah suatu gerak ritmis. Untuk
memperkuat dan memperjelas gerak ritmis dari suatu bentuk tarian dapat
dilaksanakan dengan iringan. Iringan tersebut pada umumnya berupa suara
atau bunyi-bunyian. Sumber bunyi sebagai iringan tari yang pertama
adalah suara manusia sendiri.
Bangsa-bangsa
primitif menari-nari dengan teriakan-teriakan sebagai musik
pengiringnya. Anak kecil menari-nari dengan teriakan iringan nyanyian
suara ibu atau inang pengasuhnya. Selanjutnya pada tingkat berikutnya
demi keserempakan gerak mereka menari-nari dengan tepuk tangan sebagai
pengiringnya. Hal ini ada kalanya disamping dengan nyanyian ada juga
dengan tepuk tangan. Tarian Seudati dari Aceh merupakan tarian pria yang
ditarikan secara massal dikuatkan dengan suatu tepukan tangan pada
perut.
Bangsa
Indian di pedalaman Amerika ataupun bangsa Pigmi di pedalaman benua
Afrika menari-nari dengan menghentakkan kaki ke tanah. Suara yang
ditimbulkan karena hentakan kaki itulah yang dipergunakan sebagai
iringannya. Setelah mereka mengenal senjata atau tongkat, maka suara
hentakan kaki tadi diganti dengan suara yang ditimbulkan dari hentakan
tongkat pada tanah, ataupun suara lain yang ditimbulkan jarena pukulan
tongkat dengan tongkat lain.
Selama
orang laki-laki menari-nari, maka keluarga mereka melingkari sambil
menyanyi ataupun bertepuk tangan membantu menguatkan suara si penari.
Ada kalanya para istri mereka dan anak-anaknya memukul-mukul dahan pohon
yang telah tumbang sebagai alat bunyi-bunyian yang dia mainkan dengan
cara dipukul-pukul, seperti sekarang dapat kita lihat sebagai kentongan
ataupun lesung alat penumbuk padi.
Di
Jawa Tengah sampai saat ini ada suatu pertunjukan yang disebut Ketoprak
lesung, dan lesung tadi dipergunakan sebagai alat bunyi-bunyian
pengiringnya. Disamping alat musik pukul, dalam perkembangannya juga
dikenal alat musik tiu seperti seruling. Tari-tarian yang diiringi
dengan seruling sampai saat ini masih banyak terdapat di pulau Bali.
Bunyi-bunyian dapat pula berbentuk alat petik seperti kecapi Sunda atau
siter dan clempung di Jawa Tengah.
Alat
bunyi lainnya ada yang cara membunyikannya dengan ditepuk baik sebelah
sisi ataupun kedua sisinya, seperti terbang dan gendang. Khusus gendang
disamping cara memainkannya dengan ditepuk dengan tangan ada pula yang
cara memainkannya dengan dipukul dengan sebuah alat pukul seperti bedug.
Perkembangan
selanjutnya, di Indonesia terdapat bermacam-macam alat bunyi-bunyian
yang semuanya sesuai dengan tingkat perkembangan di setiap daerah.
Didaerah Sulawesi sampai sekarang masih hidup suatu tarian yang hanya
diiringi instrumen gendang saja, misalnya tari Bathara. Di daerah
tersebut juga ada tarian yang diiringi dengan gendang/bedug, seruling
dan semacam alat petik seperti instrumen gitar. Di pulau Sumatra kita
lihat banyak tarian yang pada dasarnya diiringi dengan suara rebana,
dengan viol ataupun akordion seperti tari Serampang duabelas, tari
payung.
Ensambel
instrumen pengiring yang lengkap pada umumnya terdapat di pulau Jawa
dan pulau bali. Tariannya telah diiringi dengan saru unit alat
bunyi-bunyian yang disebut gamelan. Dalam buhungannya dengan seni tari,
pada umumnya iringan itu berfungsi sebagai penguat ataupun pembentuk
suasana, misalnya iringan untuk tari perang, untuk mengiringi seorang
pahlawan yang gugur, untuk adegan percintaan dan untuk tari pemujaan.
Perlu diketahui bahwa ada pendapat yang mengatakan bilamana seorang
tidak tahu iringan seperti orang yang kakinya pincang.
4. Tata Rias dan tata Busana
Pada
mulanya para penari memakai pakaian sesuai dengan apa yang pada saat
itu sedang dipakai. Perkembangan selanjutnya, sesuai dengan kedudukannya
seagai salah satu unsur, maka pakaian atau busananya diatur dan ditata
sesui dengan kebutuhan tari tersebut. Yang paling utama mendapat
perhatian haruslah terlebih dahulu diketahui dan disadari bahwa yang
terpenting adalah pakaian atau busana tersebut harus enak dipakai, tidak
mengganggu gerak tari, menarik dan sedap dipandang. Bila perlu murah
harganya dan mudah didapat.
Di luar
jawa, kecuali daerah Bali, pakaian si penari tampak sangat dengat dengan
orang-orang yang mengiringinya (musician). Sedangkan di pulau Jawa dan
Bali pakaian antara penari dan pengiringnya tampak jauh berbeda.
Lebih-lebih untuk tarian yang mengambil cerita wayang, umpamanya untuk
tokoh Bima dan Rahwana. Bentuk dan warnanya telah mempunyai ketentuan
yang mapan. Ketentuan ini disesuaikan dengan bentuk dan warna
tokoh-tokoh tersebut dalam pewayangan.
Meskipun
dalam kehidupan sehari-hari dikenal bermacam-macam warna, namun dalam
hubungannya dengan kebutuhan pentas, hanyalah beberapa macam warna saja
yang biasa dipergunakan. Warna-warna tersebut diambil berdasarkan arti
simbolis, sebab secara umum setiap bangsa secara turun-temurun telah
memberi suatu pengertian yang bersifat simbolis pada warna-warna
tertentu. Misalnya warna merah berarti berani, warna putih berarti suci,
warna hijau berarti muda atau remaja dan sebagainya.
Selain
bahan pakaian yang dibuat dari kain, juga masih dipakai beberapa
perhiasan seperti kalung, binggel, sumping dan sebagainya. Perhiasan ini
ada yang dibuat dari jenis imitasi dan ada pula yang dibuat dari kulit
binatang. Pada tari tradisional selain perhiasan juga dipakai ikat
kepala., baik berbentuk peci atau ikat kepala yang disusun atau diatur
dari lembaran kain. Untuk tarian yang mengambil cerita wayang, maka
penutup kepala penarinya seperti bentuk kepala pada tokoh wayang
tersebut. Kita dapat melihat di Jawa dan di Bali apa yang disebut gelung
dan tropong.
Sedangkan
tata rias akan membantu menentukan wajah beserta perwatakannya, serta
untuk memperkuat ekspresi. Disini harus diketahui perbedaan antara tata
rias yang dipakai untuk sehari-hari dengan tata rias yang dipakai untuk
pertunjukan tari. Yang dimaksud dengan tata rias sehari-hari adalah yang
dipergunakan untuk kehidupan wajar, misalnya untuk pergi ke sekolah,
darma wisata ataupun untuk mengunjungi suatu upacara. Maka cara
pemakaiannya cukup serba tipis. Demikian pula untuk memperkuat bentuk
mata dan bibir perlu dibantu dengan garis-garis yang tipis saja.
Sedangkan untuk tata rias pertunjukan tari segala sesuatunya diharapkan
harus terlihat lebih jelas. Hal ini selain sebagai penguat perwatakan
dan keindahan juga yang penting diketahui bahwa tata rias ini akan
dinikmati dari jarak jauh. Misalnya dalam memperjelas wajah, maka garis
mata dan alis serta mulut perlu dibuat yang tebal.
Dalam
kehidupan modern seperti sekarang ini bahan tata rias tampaknya sudah
merupakan hal yang tidak sulit dicari. Hanya masalah harganya saja yang
masih sangat tinggi. Namun dapat juga dengan materi (bahan tata rias)
yang relatif murah harganya. Tata rias tari sebagai salah saru cabang
pertunjukan, pada waktu ini masih perlu dibedakan saja. Yaitu tata rias
bagi seni tari yang dipentaskan melalui panggung, melalui televisi
maupun melalui film.
5. Tema
Pada
mulanya, orang menari bukan semata-mata untuk ditonton. Namun dalam
perkembangan terakhir ini tari sengaja disusun untuk dipertontonkan.
Untuk mendekati tercapainya tujuan maka perlu adanya unsur tema. Tema
itu dapat diangkat dari bermacam-macam sumber. Hal ini dapat berasal
dari manusia sendiri, dapat berupa pengalaman hidupnya seperti kegiatan
sehari-hari, kisah ataupun pengalaman hidupnya sejak dalam kandungan ibu
sampai pada masa penguburan junazah. Serta dapat pula dari hasil
budidaya yang antara lain dapat berbentuk cerita-cerita baik yang
bersifat legende, mitos ataupun sejarah. Yang berbentuk cerita misalnya
epos Ramayana, epos Mahabarata. Yang berbentuk legende misalnya Nyai
Roro Kidul dan yang berbentuk sejarah misalnya Pangeran Diponegoro,
Gajah Mada.
Tari
dapat pula diangkat dari tema flora dan fauna. Tema yang diangkat dari
flora atau dunia tumbuh-tumbuhan misalnya tari tani, tari minta hujan,
tari kumbang sari. Yang diangkat dari tema fauna atau dunia binatang
misalnya tari kijang, tari burung, tari angsa dan sebagainya. Ada pula
tari yang diangkat dari alam semesta misalnya tari ombak, tari api dan
sebagainya. Biasanya tema tadi diambil dan disesuaikan dengan alam
sekitarnya serta taraf kehidupan masyarakat pada jamannya.
6. Tempat
Tari
dilakukan oleh manusia. Manusia sendiri adalah makhluk hidup yang
mempunyai ukuran tiga dimensi, yaitu tinggi, panjang dan lebar.
Sedangkan dalam kehidupannya manusia selalu bergerak berpindah-pindah.
Maka untuk melaksanakan suatu kegiatan tari dibutuhkan waktu dan ruangan
atau tempat.
Sepanjang
sejarah kehidupan manusia, kegiatan-kegiatan tari selalu dilakukan di
suatu tempat yang khusus. Tempat itu pada umumnya berbentuk suatu
ruangan yang datar dan terang, artinya dapat dilihat. Mungkin tempat itu
berbentuk suatu halaman atau lapangan yang dilingkari tumbuh-tumbuhan,
baik di luar ataupun di dalam hutan. Mungkin tempat tersebut terletak
di pinggiran sungai atau di tepi laut. Dalam perkembangannya kebudayaan
manusia sampai dewasa ini akhirnya terbentuklah suatu tempat khusus yang
dipergunakan untuk pagelaran seperti bentuk arena, lingkaran ataupun
pendapa. Ada pula tempat pertunjukan yang berbentuk proscenium, yaitu
tempat pertunjukan yang antara penonton dengan yang ditonton dibatasai
dengan suatu bingkai.
Mengingat
bahwa kegiatan ataupun pagelaran seni tari sebagai tontonan melibatkan
dua pihak, yaitu satu pihak yang ditonton dan pihak lain yang menonton,
tentu saja tempat pihak yang ditonton memerlukan persyaratan penerangan
lampu serta tata suara (sound system). Maka untuk mencapai keberhasilan
pagelaran tari dibutuhkan pengaturan tata lampu dan tata suara yang
baik.
7. Waktu
Dalam tarian, dinamika tari
terwujud melalui cepat-lambat gerakan dilakukan oleh penari.
Unsur dinamika ini apabila dijabarkan membutuhkan waktu
gerak. Penari bergerak
menggunakan bagian anggota tubuh dengan cara berpindah tempat, berubah posisi, dan merubah kedudukan tubuh membutuhkan waktu.
Kebutuhan
waktu yang diperlukan untuk perpindahan, perubahan posisi, dan
perubahan kedudukan tubuh membutuhkan waktu. Perubahan gerak,
perpindahan tempat, dan penempatan kedudukan sikap tubuh ekuivalen
dengan kebutuhan waktu yang dapat dijelaskan melalui cepat-lambat,
panjang-pendek, dan banyak-sedikit gerakan dilakukan butuh di dalam
proses yang terjadi. Dengan demikian waktu menjadi bagian integral dari
gerakan yang dilakukan.
8. Tenaga
Dalam gerak tari yang
diperagakan indikasi yang menunjukkan intensitas gerak menjadi salah
satu faktor gerakan tersebut dapat dilakukan dan dihayati. Tenaga
terwujud melalui
kualitas
gerak yang dilakukan. Pencerminan penggunaan dan pemanfaatan tenaga
yang disalurkan ke dalam gerakan yang dilakukan penari merupakan bagian
dari kualitas tari sesuai penghayatan tenaga. Penghasil gerak dalam
hubungannya dengan penggunaan tenaga dalam mengisi gerak tari sehingga
menjadi dinamis, berkekuatan, berisi, dan antiklimak merupakan cara
membangun tenaga dalam menari.
Ekstensi
(penegangan) dan relaksasi (pengendoran) gerak secara keseluruhan
berhubungan dengan kualitas, intensitas, dan penghayatan gerak tari.
Teknik mengakumulasi kualitas dan intensitas gerak tari seyogyanya
dikordinasikan melalui perintah kerja otak secara kordinatif.
9. Ekspresi
Dalam kehidupan sehari-hari,
manusia mengekspresikan diri bergantung pada situasi psikologis yang
bersangkutan dalam menghadapi berbagai masalah. Ekspresi diri manusia
secara umum berbeda cara dan ungkapnannya. Ungkapan ekspresi di dalam
tari lebih cenderung dimanipulasi atau sering disebut distilisasi.
Perbedaan ekspresi diri secara langsung dan ekspresi tari berhubungan
terletak pada perubahan psikologis pembawaan suatu karakter. Ungkapan
penghayatan ekspresi diri terletak pada perbedaan ekspresi sehari-hari
lebih vulgar.
Sebagai
ilustrasi, marah, sedih, dan senyum dalam kehidupan
sehari-hari dapat diekspresikan dengan berbagai cara sesuai kepekaan
diri di dalam melakukan luapan kemarahan dan rasa senyum. Dalam tari
semua ungkapan yang diperagakan harus distilisasi/didistorsi, sehingga
wujud ungkapannya menjadi berbeda dengan keadaan sehari-hari. Di
sinilah letak pembeda cara menghayati sebuah ungkapan ekspresi
diri dan penghayatan karakter dalam seni maupun dalam kehidupan
sehari-hari.
Ekspresi dalam tari
lebih merupakan daya ungkap melalui tubuh ke dalam aktivitas pengalaman
seseorang yang selanjutnya dikomunikasikan kepada penonton/pengamat
menjadi bentuk gerakan jiwa, kehendak, emosi atas penghayatan peran
yang dilakukan. Dengan demikian daya penggerak diri penari ikut
menentukan penghayatan jiwa ke dalam greget (dorongan perasaan, desakan
jiwa, ekspresi jiwa dalam bentuk tari yang terkendali).
SUMBER :
http://spectradancestudio.wordpress.com/2012/09/02/unsur-dasar-seni-tari/
http://zulfikart.blogspot.com/2011/10/unsur-unsur-tari.html
Tuesday, August 13, 2013
Sendratari Ramayana, Drama dalam Tarian Khas Jawa
Sendratari Ramayana adalah seni pertunjukan yang cantik,
mengagumkan dan sulit tertandingi. Pertunjukan ini mampu menyatukan
ragam kesenian Jawa berupa tari, drama dan musik dalam satu panggung dan
satu momentum untuk menyuguhkan kisah Ramayana, epos legendaris karya
Walmiki yang ditulis dalam bahasa Sanskerta.
Friday, May 24, 2013
Lagu Lir ilir
- PENDAHULUAN
Lagu Lir ilir adalah salah satu karya besar Sunan, ada yang mengatakan ciptaan Sunan Kalijogo, ada yang mengatakan ciptaan Sunan Giri, bahkan ada yang mengatakan ciptaan Sunan Ampel. Lagu in digunakan oleh Walisongo sebagai sarana dakwah.
Karyanya ini sangat dikenal oleh para masyarakat terdahulu hingga kini,
karena lagu ini mengandung makna yang patut untuk diteladani dan mudah
dicerna orang zaman dahulu karena mengandung unsur kebudayaan jawa.
- SYAIR LAGU LIR ILIR
Lir-ilir, Lir-ilir, Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo,
Tak sengguh temanten anyar
Cah angon – cah angon,
Penekno blimbing kuwi,
Lunyu-lunyu ya penekno,
Kanggo mbasuh dodotiro.
Dodotiro – dodotiro,
Kumitir bedah ing pinggir,
Dondomana jlumatana,
Kanggo seba mengko sore.
Mumpung padang rembulane,
Mumpung jembar kalangane,
Yo suraka, surak hiyo.
- URAIAN MAKNA LAGU LIR ILIR
Berikut adalah penjabaran makna yang terkandung dalam syair tembang Lir Ilir, berdasarkan beberapa sumber penulis :
Bait pertama menggambarkan mulai bangkitnya islam
Bait kedua perintah menjalankan rukun islam dan perintah-perintahNYA
Bait ketiga yaitu anjuran untuk bertaubat dari segala maksiat yang diperbuat
Bait keempat adanya hasil baik yang didapat bila mau berusaha dengan baik.
Selanjutnya di bawah ini adalah uraian makna lagu Lir ilir dari tiap barisnya
- Lir-ilir, Lir-ilir
Tandure wus sumilir
Artinya : Bangunlah, bangunlah tanamannya sudah tumbuh.
>Dalam baris ini maksud dari bangunlah yang diulang dua kali adalah menyuruh untuk segera bangun.
>Tanamannya sudah tumbuh, yang di maksud tanaman adalah agama islam.
Jadi maksud dari bait ini adalah menyerukan kepada umat untuk segera
bangun dari keterpurukan setelah runtuhnya kerajaan Majapahit pada masa
itu, karena islam telah datang menaungi seluruh masyarakat.
- Tak ijo royo-royo,
Artinya : Bagaikan warna hijau yang menyegarkan.
Warna hijau disini, menggambarkan agama islam yang sering
dilambangkan dengan warna hijau, menampakkan penampilan Islam yang
menyenangkan. Juga menggambarkan tanaman yang tumbuh subur nan hijau,
dimana iman yang di pelihara dengan baik, maka akan tumbuh dengan baik
seperti tanaman yang tumbuh subur dan lebat.
Selain itu, apabila iman seseorang di kotori dengan perbuatan
maksiat, maka akan merusak iman seseorang. Sama halnya dengan tanaman
yang akan rusak bila terganggu hama, maka harus dihilangkan dengan
memberikan anti hama, seperti hati yang akan kembali bersih dengan
berbagai penawar hati, misalnya ;
- Membaca Al qur’an
- Memperbanyak dzikir
- Menghadiri pengajian
- Berpuasa sunnah
- Dan lain lain
- Tak sengguh temanten anyar
Artinya : Bagaikan pengantin baru
Pengantin baru adalah sepasang mempelai, yang umunya sedang bahagia
menempuh hidup barunya. Kalimat ini bermaksudkan kebahagiaan seorang
muslim bagaikan kebahagiaan sepasang mempelai dalam menapaki keyakinan
imannya.
- Cah angon – cah angon
Penekno blimbing kuwi
Artinya : Anak gembala – Anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu
>Anak gembala disini maksudnya pemimpin yang menjadi contoh bagi pengikutnya.
>Mengapa buah belimbing? Buah belimbing memiliki lima sisi, yang menggambarkan rukun islam dan sholat lima waktu
Dalam sebuah hadits disebutkan :
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ
الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى
الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ
اللهِ و إِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ
الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ
Artinya : Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob
radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun diatas lima
perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan
bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat,
melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (Riwayat Turmuzi dan Muslim)
Jadi yang dimaksud syair ini, bahwa seorang pemimpin haruslah menjadi
contoh yang baik untuk pengikutnya, yaitu dengan menjalankan rukun
islam dan sholat lima waktu
>Anak gembala juga dapat diartikan sebagai diri kita, dimana
penggembala pasti memiliki gembalaan, dan bagi manusia gembalaannya
adalah nafsunya. Diharapkan manusia dapat menggembalakan nafsunya dengan
baik, agar tidak merusak dan melanggar aturanNYA sehingga merusak
imannya.
- Lunyu-lunyu ya penekno
Artinya : meskipun licin, tetap panjatlah
>Baris ini berhubungan dengan baris sebelumnya (panjatlah pohon belimbing itu). Licin dalam baris ini adalah penghambat bagi si pemanjat (cah angon),
yang apabila tidak berhati-hati dan bersungguh-sunggu maka akan mudah
tergelincir. Sama halnya dalam perintah agama, apabila tidak
berhati-hati dari maksiat bisa tergelincir ke dalam lubang dosa. Analogi
ini seperti jalan turun yang lebih mudah di bandingkan jalan naik,
untuk memanjat dan mendapatkan buah belimbing akan mendapat banyak
halangan, tidak seperti jalan turun yang lebih mudah. Analogi tersebut
menggambarkan jalan untuk mendapatkan buah syurga memang tidak mudah,
semudah jalan turun ke neraka, namun cah angon yang mau berusaha dengan sebaik-baiknya maka akan mendapatkan kebahagiaan abadi.
- Kanggo mbasuh dodotiro
Artinya : Untuk membasuh kain dodot
>Dodot adalah semacam kain kebesaran jaman dahulu yang di gunakan
pada acara-acara keratin dan menurut orang jawa, pakaian adalah lambing
agama. Pohon belimbing mengandung kadar keasaman yang pada zaman dahulu
sering di gunakan untuk merawat kain batik agar tidak mudah rusak dan
awet. Dengan maksud lain, islam adalah pembersih hati dan mensucikan
kepercayaan manusia dengan rukun islam yang dituntunkan oleh ALLAH.
- Dodotiro – dodotiro
Kumitir bedah ing pinggir
Artinya : Kain dodotmu – kain dodotmu, telah rusak dan robek
>Telah disebutkan sebelumnya, dodot adalah kain dan pakaian
merupakan lambang agama. >Dalam hal ini dilambangkan kain dodot yang
telah rusak dan robek. Karena kemajuan zaman yang menyebabkan
kemerosotan moral manusia, maka rusaklah agama dan akhlaq manusia
seperti robeknya kain dodot tersebut.
Sumber lain menyebutkan, kumitir artinya kain yang tertiup angin dan
terlihat sobek dipinggirannya. Zaman dahulu ketika raja-raja telah
memeluk agama islam, masyarakat pinggiran belum terlalu mengerti islam,
masih bercampur dengan kebiasaan nenek moyang yang menganut hindu jawa.
Jadi pinggiran kain dodot yang robek disini maksudnya adalah para
masyarakat pinggiran yang belum terlalu memahami islam, inilah tugas
besar yang diemban oleh para pemimpin.
- Dondomana jlumatana,
Kanggo seba mengko sore.
Artinya : Jahitlah, tisiklah untuk menghadap nanti sore
>Masih berhubungan dengan baris sebelumnya, bahwa Sunan Kalijaga
memerintahkan untuk menjahit kain dodot yang robek. Masih seperti di
atas, kain dodot maksudnya adalah agama maka maksud perintah Sunan
Kalijaga adalah untuk memperbaiki agama.
>Makna untuk menghadap nanti sore, ‘nanti sore’ maksudnya waktu senja yaitu akhir perjalanan hidup, atau menjelang ajal.
Jadi maksud baris ini, diperintahkan kepada manusia untuk memperbaiki
agamanya dari berbagai macam maksiat untuk mempersiapkan diri ketika
menghadap Illahi nanti.
- Mumpung padang rembulane,
Mumpung jembar kalangane,
Artinya : Selagi masih terang bulannya, selagi masih luas lapangannya
>Terang bulan jelas ada saat malam hari. Tanpa bulan, malam hari
akan gelap gulita dan tidak dapat membedakan yang hak dan yang bathil,
disinilah maksud sinar bulan adalah agama Islam yang menerangi
kegelapan, sehingga dengan sinar bulan (Agama Islam) manusia akan dapat
membedakan yang baik dan yang buruk.
>Selagi masih luas lapangannya, maksudnya selagi masih ada waktu untuk memperbaiki.
Sehingga bila digabungkan, Agama Islam telah memberikan tuntunan
kepada kita didunia, maka manfaatkanlah waktu yang diberikan untuk
menjadi muslim yang sebaik-baiknya sebelum waktu kita didunia habis.
- Yo suraka, surak hiyo.
Artinya : ya, bersoraklah, berteriak-lah iya
Baris terakhir ini merupakan ajakan untuk bersorak bahagia.
Berbahagialah bagi orang yang mampu menjaga agamanya dengan baik.
Berbahagialah bagi ‘cah angon’ yang mampu memanjat hingga mendapatkan
buahnya (surga), sambut seruan Islam dengan bahagia.
Di dalam Al qur’an surat Al Anfaal ayat 24 disebutkan :
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul
apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada
kamu ….
- KESIMPULAN
Lagu ini menyimpan makna dan pelajaran yang sangat bermanfaat bagi kehidupan.
Bila disimpulkan menjadi satu bagian, Lagu Lir ilir menggambarkan
bahwa kala itu Islam baru saja berkembang di pulau jawa khusunya. Dimana
kerajaan majapahit baru saja runtuh dan masyarakat masih didominasi
oleh agama nenek moyang, yaitu hindu jawa.
Agama Islam digambarkan dengan tanaman yang berwarna hijau,
menampakkan penampilan Islam yang menyenangkan, dan bagi seorang muslim
patutlah berbahagia seperti bahagianya sepasang pengantin baru.
Lagu ini menganalogikan seorang penggembala (cah angon) mewakilkan
makna diri kita yang memiliki gembalaan nafsu, diharapkan manusia dapat
menggembalakan nafsu dengan baik. Cah angon juga diartikan sebagai
pemimpin yang menjadi contoh para pengikutnya, diharapkan seorang
pemimpin mengamalkan rukun islam sehingga akan menjadi contoh yang baik
bagi pengikutnya, rukun islam dilambangkan dalam buah belimbing yang
memiliki lima sisi.
Dalam mempertahankan iman tidaklah mudah, pasti ada rintangan dalam
menjaga keimanan. Karena jalan menuju neraka memang lebih mudah di
banding menuju syurga. Seperti analogi dalam lagu ini, perintah untuk
memanjat pohon meskipun susah mencapai buahnya (surga).
Selanjutnya analogi dalam kain dodot, yang merupakan pakaian
kebesaran di kraton. Menurut orang jawa pakaian adalah lambang agama
yang biasanya dirawat dengan mencucinya menggunakan buah belimbing.
Seperti halnya agama yang harus dipelihara dan dirawat keimanannya. Kain
dodot yang telah rusak dan robek diga,barkan seperti telah merosotnya
iman seseorang, sehingga merusak keimanannya, maka kain ini harus di
jahit dan diperbaiki. Keimanan harus kembali diperbaiki untuk menghadap
Illahi pada akhir hayat nanti. Selagi masih ada waktu dan kesempatan dan
waktu. Dan berbahagialah bagi para muslim yang memelihara keimanannya.













