Thursday, August 16, 2012

PENDIDIKAN SENIRUPA YANG ‘IDEAL’, ADAKAH?

1.   Latar Belakang
Berbicara mengenai pendidikan seni rupa, tidak lepas dari pengertian pendidikan itu sendiri. Education menurut Oxford Dictionary;
education
 Pronunciation:/ɛdjʊˈkeɪʃ(ə)n/
noun
[mass noun] the process of receiving or giving systematic instruction, especially at a school or university:a course of education
a process of teaching, training and learning, especially in schools or colleges, to improve knowledge and develop skills
(http://oald8.oxfordlearnersdictionaries.com/dictionary/education)
Sedangkan pendidikan menurut kamus besar Bahasa Indonesia sendiri berarti;
pendidikanpen.di.dik.an
[n] proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dl usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik
(http://kamusbahasaindonesia.org/pendidikan#ixzz1qHPhUiFy)
Tetapi jika kita berbicara mengenai pendidikan secara praktikal tentunya tidak bisa sedangkal itu merunut apa yang dituliskan dalam kamus. Kamus hanya berarti pengertian secara literal dari pendidikan itu sendiri. Pendidikan dapat berarti luas karena menyangkut manusia di dalamnya. Manusia adalah spesies (katakanlah begitu) yang amat kompleks, amat rumit, dan amat dinamis. Bukan hanya fisikalnya, kompleksitas juga terjadi di wilayah non-material dari manusi itu sendiri, seperti kesadaran (consciousness).
“As used here the term consciousness refers to all those attributes we usually associate with a sentient human such as thought, emotion, memory, awareness, intelligence, self- knowledge, a sense of being, and so on.” (Pepperel, 2003:13)
Jika kita semua mengamini hal itu maka kita akan dengan mudah berpendapat bahwa pendidikan juga haruslah seperti itu, haru kompleks, harus rumit, dan dinamis. Dalam hal apa? Pendidikan harusnya dapat menjangkau dimensi lain dari sekedar definisi, menjangkau dimensi lain dari sekedar tata aturan baku. Pendidikan harus dinamis sedinamis orang-orang yang berada di dalamnya.
Pendidikan bukan agama atau dogma yang tertutup dengan segala gugatan dan perubahan, pendidikan harusnya sebaliknya terbuka dengan segala perubahan yang terjadi. Lebih khusus lagi kita bicara mengenai pendidikan seni rupa. Pendidikan seni rupa mengusung sebuah keilmuan besar dalam wilayah seni dan rupa. Kedua hal yang juga tidak memiliki definisi tunggal, wilayah multi tafsir, yang sampai saat ini menimbulkan kebingungan dan kerancuan di sana-sini. Hanya orang-orang yang berada di lingkarannyalah yang kemudian akan menemukan alurnya, menikmati, melihat, bahkan ikut terseret.
Dunia seni berbeda dengan dunia lain seperti sains, dan sebagainya. Pendidikan seni juga kemudian menjadi wilayah yang sangat khusus, dengan problem yang khusus pula. Pendidikan seni adalah wilayah yang unik sehingga tidak semua orang dapat memahfuminya. Tidak masalah sesungguhnya, karena begitulah seni.
Jika kita lihat sejarah, lebih spesifik lagi, sekolah seni berawal di Barat sana, kita semua tahu Bauhaus sebagai pelopor institusi yang berpijak pada keilmuan seni rupa dan desain. Bauhaus adalah sekolah desain pertama yang didirikan di Weimar, Jerman oleh Walter Groupis di tahun 1919. Bauhaus menjadi sekolah desain paling ternama di abad ke-20. Gropius mengubah sekolah seni lokal menjadi Staatliches Bauhaus, sehingga kemudian menjadi pusat ide-ide mutakhir seni maupun desain. Selanjutnya Bauhaus pindah ke Dessau, dibuka pada 4 Desember 1926.
Bangunan barunya, mewakili cita rasa baru, gaya baru, era baru (new age), yang dirancang oleh Groupis yang juga merupakan kontributor penting era modern. Pada tahun 1932, Bauhaus akhirnya dibawa ke Berlin. Bauhaus baru tersebut menyediakan gaya hidup modern yang sangat lengkap bagi staff dan siswanya. Furniture, studio, hingga kantin menggunakan desain dari Marcel Breur, kepala workshop.
Lampu oleh Marianne Brandt. Gropius mengajak beberapa praktisi seni penting di era modern seperti Wassily Kadinsky, Johannes Itten, Paul Klee, dan Herbert Bayer. Sejarah pasca perang, Bauhaus menekankan pada satu gerakan modern pendekatannya kepada desain, sebuah dedikasi pada pure geometric form (bentuk geometris murni) yang berbasis pada bentuk lingkaran dan persegi, warna dasar merah, biru, dan kuning, material modern dan industrial technique.
Di Negeri sendiri kita punya Persagi yang didirika oleh tokoh seni rupa, bapak seni rupa modern S. Sudjojono. Di Persagi inilah kemudian pendidikan seni rupa kita terbangun. Bukan hanya diajari skill melukis, darwing, dan lain-lain tetapi juga diperkenalkan kepada wacana seni rupa, serta pembentukan karakter kesenimanan. S. Sudjojono yang dikenal dengan jiwa ketoknya (ekspresi dari jiwa) tersebut kemudian menjadi tokoh, pendidik, sekaligus role model bagi para siswanya. Yang kemudian menjadi cikal bakal ASRI atau sekarang lebih dikenal dengan ISI Jogjakarta. Dan hingga saat ini karakter, serta identitas kesenimannya masih terasa.

1.    Persoalan-Persoalan yang Dihadapi Dalam Dunia Pendidikan Seni Rupa di Indonesia

Dalam makalahnya, Prof. M. Dwi Marianto, dosen ISI Jogjakarta menyebutkan dengan nada kerasa bahwa pendidikan seni saat ini tengah menghadapi sebuah problem besar secara umum.
“Dunia pendidikan seni rupa dewasa ini rasanya sudah kehilangan rasa seninya. Dilihat dari cakrawala quantum, yang tergarap dan terasa hanyalah aspek partikelnya saja; aspek gelombangnya – rasa, ruh, kedalaman kualitas, atmosfer kreatifitasnya yang puitik – tidak mendapatkan ruang dan perhatian nan cukup. Sebagai ilustrasi, lembaga pendidikan seni kini sudah tak berbeda dari lembaga-lembaga pendidikan non-seni, karena sistem yang tersentralisasi dan tren sekarang mengkondisikan para pejabat dan staff pengajar harus menghabiskan energi, waktu, dan perhatian guna untuk mengerjakan formalisme akademik”. (Marianto, 2012:1)
Lebih jauh lagi menurutnya ritual-ritual akademik ini yang terus-menerus dilakukan dikhawatirkan akan mereduksi kualitas keilmuan dari seorang staff pengajar, dan berimbas pada kualitas anak didik serta penihilan aura kreatifitas akan berimbas pada kondisi stagnan kampus seni rupa, yang seharusnya tumbuh subur kreatifitas dan ide-ide mutakhir dalam bidang seni  dan desain.
“…creativity is in essence no different from any other thought process; creativity is thinking in general and thinking in general is creative. But creativity is not just about thinking — it is as much about doing, and creative acts are almost by definition productive acts in that they modify the world in some way. Creative thoughts alone are of little use or interest to anyone unless in some way expressed.” (Pepperel, 2003:13)
Secara garis besar dapat kita lihat bahwa persoalan tersebut telah menjadi isu umum di setiap sekolah seni rupa di Indonesia, yang sebaiknya bisa kita bersama mencari jalan keluar.
Problem lainnya yang bisa penulis lihat dari gejala-gejala yang terlihat adalah persoalan motifasi, bahwa tujuan pendidikan bukan hanya satu pihak memberi dan lainnya menerima, sebuah proses linear yang tertutup, tetapi juga persoalan memotifasi agar proses pengajaran menjadi dua arah atau based on discussion. Jadi teringat sebuah ungkapan terkenal yang diungkpakan oleh filsuf besar Aristoteles kepada para muridnya, ia berkata; saya bukan guru yang memberikan ilmu, saya adalah layaknya seorang bidan yang membantu anda sekalian melahirkan pemikiran-pemikiran hebat.
Terakhir yang menurut penulis cukup penting untuk dibahas adalah persoalan dunia profesi. Dalam seni rupa khsususnya seni rupa murni persoalah keprofesian akan menjadi isu yang rumit sekaligus membingungkan. Bagaimana menjadi seniman setelah lulus nanti? Atau bagaimanan menjadi seniman yang terkenal? Bagaimana sekolah memfasilitasi kesenimanan saya nanti? Sesungguhnya pertanya-pertanyaan itu kerap menguak. Lalu apa yang harus dilakukan? Dunia profesi dalam hal ini adalah sebuah wilayah yang harus dekat dengan lembaga pendidikan karena dunia profesi inilah tempat pertaruhan lulusan juga reputasi lembaga itu sendiri. Seorang pengajar dalam hal ini memiliki tugas beratnya sebagi role model yang kemudian akan ditiru anak-anak didiknya kelak. Hal seperti ini telah berlangsung dan akan terus seperti itu. Sebuah tanggung jawab yang berada di atas pundak kita para pengajar.

2.    Pendidikan dan Kapital

Kapital memang merupakan aspek penting dalam penyelenggraan pendidikan, terutama lembaga pendidikan seperti sekolah. Kapital juga adalah kewajaran dalam segala lini kehidupan hari-hari ini. Kapital sendiri bermakna sebagai modal pokok dalam perniagaan, yang berarti proses menghasilkan modal guna menjalankan sebuah proses dalam hal ini pendidikan. Sebagai sebuah lingkaran mutualisme antara penyelenggaraan pendidikan untuk menghasilkan modal untuk kembali dapat menyelengrakan proses pendidikan. Sebuah hubungan ideal mutualisme inilah yang kemudian harus menjadi basic capital dalam lembaga pendidikan.
Kapital sendiri dibedakan menjadi 4 kategori, diantarnya;
§  Financial capital, which represents obligations, and is liquidated as money for trade, and owned by legal entities. It is in the form of capital assets, traded in financial markets. Its market value is not based on the historical accumulation of money invested but on the perception by the market of its expected revenues and of the risk entailed.
§  Public capital, which encompasses the aggregate body of government-owned assets that are used to promote private industry productivity, including highways, railways, airports, water treatment facilities, telecommunications, electric grids, energy utilities, municipal buildings, public hospitals and schools, police, fire protection, courts and still others.
§  Natural capital, which is inherent in ecologies and protected by communities to support life, e.g., a river that provides farms with water.
§  Spiritual capital, which refers to the shower, influence and dispositions created by a person or an organization’s spiritual belief, knowledge and practice.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Capital_%28economics%29)
Dilihat dari kategori di atas dapat kita jadikan psoses kapital dalam pendidkan ke arah Public Capital, atau sebuah layanan jasa kepada masyarakat. Kapital model ini tentunya harus pula melibatkan respon masyarakat, serta pemerintah dalam hal ini untuk dapat berperan aktif sebagai penjaga nilai.
Kapital yang kita maksud tentunya masih dalam tataran penjaga nilai-nilai sebagai salah satu bagian terpenting dari sebuah lembaga pendidikan. Kapital dalam hal ini dipertimbagkan sebagai bahan bakar katakanlah demikian, agar penyelenggrakan pendidikan dapat berjalan baik. Agar lembaga pendidkan mampu berdiri sebagai media public improvement, sumbangan terhadap masyarakat dunia  dan kebudayaan pada umunya.
Kapital adalah alat untuk meningkatkan mutu anak didik, mengembangkan keilmuan, berkontribusi penuh dalam peradaban, seni, dan keilmuan secara lebih luas.

3.    Menumbuhkan Paradigma  Baru Sebagai Solusi

Dalam makalahnya, Dolorosa Sinaga mengungkapkan solusi-solusi sebagai sebuah paradigma baru dalam mengatasi berbagai macam problematika dalam pendidikan senirupa di Indonesia.  Sinaga menyebutkan diantaranya;
a.     Membentuk Asosiasi Perguruna Tinggi Seni Rupa Indonesia dengan tujuan membangun sinergi dengan pemerintah untuk melakukan perubahan yang signifikan dalam pendidikan senirupa Indonesia. Mengajak pemerintah untuk mendukung program revitalisasi, terutama dalam mengantisipasi perubahan sosial budaya yang terjadi di masyarakat.
b.     Membangun kurikulum yang lebih kontekstual dan bersifat reciprocal dalam kaitannya dengan kemajuan teknologi dan perkembangan praksisi seni rupa.
c.     Mencari paradigma baru dalam melakukan pengajaran, pendidikan, dan trasformasi pengetahuan, baik yang bersifat teori maupu praktek: program kuliah live-in, program kuliah interaktif lokal dan internasional, yang memperkenalkan subyek pengetahuan lain yang bisa punya kaitan dengan bidang seni rupa, dan mendorong kerja kreatif interdisipliner.
d.     Membentuk identitas seniman sebagai warga dunia yang mengakar pada bumi budaya negerinya, pada nilai kemanusiaan, pada nilai etika, nilai kesetaraan dan nilai kemerdekaan.
Mungkin itulah yang memang haru kita semua pertimbangkan dalam uaya meningkatkan, mamajukan, dan menjadikan pendidikan senirupa sebagai dalam satu track besar guna perannya dalam peradaban manusia.

4.    Sumber
(1999): Teaching Art Since 1950, National Gallery of Art, Washington
Barnard, A, Spencer, J (1996): Enciclopedia of Social and Cultural Antropology, Routledge, London
Lacey, A (1976): Dictionary of Philosophy, Routledge, New York
Pepperel, R (2003): The Posthuman condition, Consciousness Beyond the Brain, Intellect, Bristol
Sugiharto, B (2008): Seni, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, Epistetika
Marianto, D (2012): Dimana Rasa dan Sikap Kritis Dunia Pendidikan Seni, Makalah untuk Seminar Nasional: Kondisi Global, dikaji dari pandanga dunia pendidikan
Sinaga, D (2012): Mencari Paradigma Baru Pendidikan Seni Rupa, Makalah untuk Seminar Nasional: Kondisi Global, dikaji dari pandanga dunia pendidikan
http://kamusbahasaindonesia.org/pendidikan#ixzz1qHPhUiFy
kamusbahasaindonesia.org/pendidikan#ixzz1qHPhUiFy
http://en.wikipedia.org/wiki/Capital_%28economics%29

Komputer dan Seni Musik


Untuk menghasilkan suatu karya musik yang indah, tidak hanya dibutuhkan kepiawaian senimannya. Kini komputer telah menunjukkan perannya dalam membantu manusia guna mewujudkan karya yang indah. Hal ini dapat berupa sound effect, recording, maupun dalam music arranger. Kali ini akan dibahas sedikit mengenai music arranger.

Komputer dan Seni Rupa


Banyak manfaat yang telah diberikan oleh komputer dalam hal Seni Gambar atau picture atau image. Manusia banyak di bantu dalam berbagai hal yang meliputi proses membuat gambar (Creating image), Mengubah gambar (image Processing), Menyajikan Gambar (image Presenting).
Gambar yang diproses secara komputerisasi diatas dapat berupa gambar apa saja dalam berbagai bentuk dari 2 dimensi hingga 3 dimensi. Dalam menggambar dengan sistem komputer, gambar dibedakan datarn beberapa format yaitu:
  • Web Pages (HTML) supports two types of image files
  • GIF ‑ Graphics Interchange Format yaitu format untuk gambar yang dibentuk oteh berbagai garis dan hanya menggunakan beberapa warna.
  • JPEG (JPG) ‑ Joint Photographic Experts Group yaitu format untuk gambar yang dibentuk oleh banyak warna dan spectrum sepeti foto.
                  
Format gambar di tentukan oleh jurntah warna yang membentuknya. Berikut adalah klasifikasi gambar berdasarkan warna yang membentuknya.
          * 16 colors (GIF)
          * 256 colors (GIF or JPG)
          * 16 million (JPG)
         
Foto (dalam format JPEG) yang diproses, memitiki berbagai format
yaitu:      BMP ‑ bitmap
               TIF ‑ Tagged Image Fite Format
               PCX ‑ Zsoft Paintbrush
               WMF ‑ Windows MetaFile
               etc., etc., etc


CREATING IMAGE
Menciptakan gambar dengan komputer adalah menggarnbar dengan basis titik, garis dan bangun. Hingga Saat ini telah banyak software dan hardware yang diciptakan untuk membuat gambar. Diantaranya adalah:
‑ Paint Et Draw Programs Paint
‑ Microsoft Paint
‑ L view Pro
- Paint Shop Pro
‑ Core[ Photo‑Paint Draw
‑ PowerPoint
‑ Core[ Draw

Biasanya, software ‑ software tersebut bukan hanya untuk proses creating tetapi juga sekaligus untuk editing atau image processing.



Tentunya banyak keuntungan yang didapat dengan menggambar menggunakan komputer. Misalnya :
1. Tidak dibutuhkan ruang yang besar untuk meja gambar
2.  Tidak menimbulkan sampah kertas karena kesalahan dapat di perbaiki di layar komputer.
3. Dapat diciptakan gambar yang sangat sulit di buat manusia. Dalam proses ini manusia sebagai Brainware diharapkan memiliki kernampuan untuk operasional misainya: Resizing an image, Cropping an image, Capturing an image, Adding text, Using Paint/Draw functions,dan Applying Filters

Komputer dan Arsitektur
          Kernudahan menggambar dengan teknik komputer juga dirasakan          pada  bidang arsitektur. Kini desain bangunan dapat di buat dalam perspective 3 dimensi bahkan berbentuk animasi. Selain itu design yang dibuat pun           tampak sangat nyata. Pada umumnya design yang dibuat dengan komputer sangat mirip dengan bangunan yang telah terealisasi. Software yang digunakan misalnya ArchiCAD dan Paralelo

Selain itu hal yang paling menakjubkan adalah, dengan komputer keindahan dan kecanggihan tekbologi berpadu. Dengan software tertentu seorang arsitek dapat membuat design bahkan blueprint yang indah dan sekaligus disertai dengandetail perhitungan konstruksi. Hal ini sangat membantu para awam untuk memahami design yang dibuat. Dari segi ekonomi pun, rancangan anggaran dapat dirancang secara lebih efisien. Kini telah hadir pula design perspektif 4dimensi yang di sajikan dalam bentuk animasi. Hal ini akan sangat meningkatkan efisiensi jika dibandingkan dengan membuat maket.




Image Processing
Setelah menciptakan gambar , komputer juga memiliki kemampuan untuk memproses gambar yang telah dibuat. Proses ditakukan dengan berbagai tujuan namun tujuan utamanya adalah mencapai keindahan yang mernuaskan. Gambar atau image yang diproses dapat berupa gambar yang dihasilkan dengan komputer maupun sumber lain seperti:
‑ Clip Art files, Web Pages
‑ Scanning
‑ Prints, negatives, 35mm slides
‑ Digital Cameras
‑ Draw an image from scratch
         
Contoh Software yang digunakan untuk kepentingan ini misalnya:
·      Paint (Untuk proses pewarnaan)
·      Microsoft Paint
·      Lview Pro
·      Paint Shop Pro
·      Core [ Photo‑Paint ]
·      Draw (Untuk Proses menggambar)
·      PowerPoint
·      Core( Draw
·      ACDsee

Dalam proses image processing, image yang di ciptakan dengan komputer lebih mudah diciptakan karena hanya dibentuk oleh titik dan garis berskala. Berbeda dengan image berupa foto, sulit dan rumit diproses karena dibentuk oleh pixel.

PRESENTING AN IMAGE
Setelah diciptakan , hasil karya seni yang telah dibuat kemudian akan disajikan dalam berbagai wujud. Untuk itu dibutuhkan berbagai hardware untuk merealisasikan karya seni ini. Printer adalah contoh yang sangat sederhana. Perkembangan printer terus mengalami kemajuan. Salah satunya adalah large scale printer Yang biasanya digunakan untuk mencetak image datam skala besar.

ISTILAH-ISTILAH DALAM SENI RUPA

  1. Apresiasi : Kesadaran untuk menghargai nilai-nilai seni dan budaya
  2. Artisitik : Berniali seni, mempuyai nilai keindahan
  3. Maestro : Sebutan orang yang ahli dalam bidang seni
  4. Nirmana : Desain, rancangan, konsep
  5. Desainer : Orang yang ahli dalam membuat gambar desain
  6. Illustrator : Orang yang ahli membuat gambar  illustrasi
  7. Arsitek : Orang yang ahli membuat desain rancang bangun/bangunan
  8. Arsitektur : Bangunan
  9. Kartunis : Orang yang ahli membuat gambar kartun
  10. Pelukis/Painter : Orang yang ahli membuat lukisan/melukis
  11. Kritikus : Orang yang ahli menilai baik/buruk terhadap karya seni
  12. Filosof : Orang yang alhli filsafat/ahli pikir
  13. Sketsel : Tempat memajang karya seni dua demensi
  14. Sketsa  : Lukisan cepat, sederhana dan hanya garis-garis, gambar rencana
  15. Publikasi : Pengumunan
  16. Display : Menata/menyusun benda-benda yang akan di pamerkan
  17. Dokumentasi : Penngumpulan dan penyimpanan data sebagai arsip
  18. Multimedian: Berbagai jenis alat
  19. Tembikar : Barang kerajinan terbuat dari tanah yang dibakar
  20. Demensi : Ukuran (panjang, lebar, tinggi)
  21. Distorsi : Penyimpangan dari bentuk alami
  22. Stilasi/Stilir : Merubah dari bentuk alamiah menjadi bentuk baru
  23. Ekspresi : Pengungkapan perasaan atau gagasan
  24. Mood : Puncak kepuasan dalam berkarya seni
  25. Epos : Cerita kapahlawanan
  26. Fundamental : Bersifat dasar
  27. Ikonografi : Ilmu tentang seni membuat arca
  28. Simultan : Terjadi atau berlaku dalam waktu yang bersamaan
  29. Textur : Nilai raba suatu permukaan
  30. Transparant : Bening, tembus, kelihatan, terbuka
  31. Eksperimen : Percobaan yang bersistem dan berencana
  32. Komposisi : Susunan, penataan, tata letak
  33. Subang Pelarik : Meja putar untuk membuat  seni keramik
  34. Konteksvisual : Situasi yang berhubungan dengan penglihatan 
  35. Tonil : Gambar background (latar belakang) dalam pertunjukan kethoparak, wayang orang, drama dan sebagainya
  1. Seni Klasik : Karaya seni yang mengalami keemasan pada masa tertentu
  2. Pola/Pattern : Motif, corak, Ragam bentuk
  3. Form : Ujud
  4. Palet : Alat/tempat untuk mencampur warna
  5. Mistar  : Penggaris
  6. Figura : Bingkai lukisan/photo
  7. Humanistis : Bersifat kemanusiaan
  8. Balance : Keseimbangan
  9. Kontras : Berlawanan
  10. Kontur  : Garis pembatas
  11. Bidang  : Area/wilayah dua demensi  yang dibatasi oleh garis
  12. Imanjinasi : Khayalan, Rekaan, daya angan-angan
  13. Gradasi : Perubahan, perpindahan 
  14. Monoton : Berulang-ulang
  15. Advertensi : Iklan, promosi, pemberitahuan barang produksi

Seni Rupa Murni (Eropa)

  1. Kesenian Yunani
    Kesenian Yunani mengutamakan keindahan (idelaisme) berdasarkan akal
    (rasionalisme) dan berpusat pada manusia (humanisme). Peninggalan karya seni dan seni patung yang bermutu tinggi dibuat berdasarkan pedoman yang dirumuskan pada buku“Golden Section”Bangsa Yunani termasuk penganut Polyteisme (banyak Dewa). Dan diwujudkan dengan bentuk manusia yang cantik dan tampan (Antroforfisme) seperti Dewa Apolo, Dewa ZeusDewi Nike, dllKebudayaan Yunani diawali dari kebudayaan – kebudayan daerah disekitar laut tengah,yaitu kebudayaan Kreta (Minois), kemudian berkembang hingga mencapai klasiknya.
     
  2. Kesenian Romawi
    Bangsa Romawi adalah bangsa yang terbuka terhadap kebudayaan luar dan memiliki
    sifat – sifat kepercayaan dan peradaban hidup yang sama dengan bangsa Yunani.Demikian pula dalam kesenianya, segala bentuk keindahan dan kagungan seni Yunaniditiru dan diabadikan.

  3. Kesenian Abad Pertengahan
    Keketika bangsawan dan kaisar Romawi dipengaruhi oleh agama nasrani (Katholik),
    maka segala kegiatan seni yang harus berdasarkan peeraturan agama yang dipusatkan di biara – biara. Membuat lukisan atau patung harus bertemakan tentang yesus, mendirikan bangunan harus mengutamakan gereja atau basilica dengan sifat vertikalisme sebagailambang kekuasaan diatas segalanya. Kemudian dalam senu musikpun yangdikembangkan hanya musik – musik gereja yang disebut Liturgi.
  4. Kesenian Masa Renaisance
    Seni renaissance muncul di Itali (berpusat di Plorence) pada abad ke 15. renaissance
     berarti kelahiran kembali kebudayaan Yunani dan Romawi yang gemilang segalakegiatan yang bersifat Theokratis (berdasarkan peraturan agama) menjadi sifatAntroposentis ( berpusat pada manusia), zaman ini kembali manusia bebas berfikir, bebasmenuangkan ide, bebas mencari dan menikmasti kenikmatan duniawi.

Tuesday, August 14, 2012

Semiotika dalam Desain Komunikasi Visual

Ilmu Grafis Komvis Teori Semiotika dalam Desain Komunikasi Visual mengacu pada Roland Barthes sebagai panduan berkomunikasi secara visual melalui semiologi. Semilogi atau semiotik selain dipakai sebagai alat komunikasi secara visual yang dipahami oleh masyarakat. Dalam artikel ini kita akan mempelajari bagaimana cara Menemukan makna teks Desain Komunikasi Visual.
Semiotik secara etimologi berasal dari kata Yunani semeion yang berarti ”tanda”. Secara terminologi semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial/masyarakat dan kebudayaan itu merupakan bentuk dari tanda- tanda. Semiotik juga mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut memiliki arti.
Semiotika moderen mempunyai dua orang pelopor, yaitu Charles Sanders Peirce (1839-1914) dan Ferdinand de Saussure. Pierce mengusulkan kata semiotika untuk bidang penelaahan ini, sedangkan Saussure memakai kata semiologi. Sebenarnya kata semiotika tersebut telah digunakan oleh para ahli filsafat Jerman bernama Lambert pada abad XVIII.
Roland Barthes adalah orang pertama kali yang menyusun model skematik untuk menganalisis negoisasi dan gagasan makna interaktif antara pembaca, penulis dan teks. Ketika Saussure menekankan pada teks semata, Barthes menekankan pada cara tanda-tanda di dalam teks berinteraksi dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya dan memperhatikan konvensi pada teks yang berinteraksi dengan konvensi yang dialami. Dan inti teori Barthes adalah gagasan tentang dua tatanan pertandaan (order of signification).
Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya dalam tanda adalah peran pembaca (the reader). Dalam Mithologies-nya (1983) secara tegas ia membedakan antara denotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama dengan sistem pemaknaan tataran ke-dua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya, sistem kedua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif Roland Barthes sangat terpengaruh dengan Saussure dengan semiologi yang kental dengan inspirasi linguistik.
Dari peta Barthes dapat digambarkan bahwa tanda denotatif terdiri dari atas penanda (signifier) dan petanda (signified), akan tetapi pada saat bersamaan tanda denotatif adalah juga penanda konotatif. Denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna. Sedangkan konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai ’mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda dan tanda pada sistem pemaknaan tataran kedua.
Gambar Semiologi Roland Barthes
Pada tingkatan pertama (Language) Barthes meperkenalkan signifier (1) dan signified (2), yang gabungan keduanya menghasilkan sign (3) pada tingkatan pertama. Pada tingkatan kedua, sign (3) kembali menjadi SIGNIFIER (I) dan digabungkan dengan SIGNIFIED (II) dan menjadi SIGN (III). Sign yang ada ditingkatan ke dua inilah yang berupa MYTH (mitos) disebut juga sebagai metalanguage.
Di sini dapat dikatakan bahwa Makna denotatif adalah makna yang digunakan untuk mendeskripsikan makna definisional, literal, gamblang atau common sense dari sebuah tanda. Makna konotatif mengacu pada asosiasi-asosiasi budaya sosial dan personal berupa ideologis, emosional dan lain sebagainya.
Gambar Semiologi Roland Barthes
Barthes mencontohkan istilah “mawar”. Sebagai signifier adalah kata “mawar” itu sendiri (citra suara). Berfungsi sebagai signified adalah objeknya (bentuknya) “wujud bunga mawar” sebagai konsep (mental). Ketika kedua hal tersebut digabungkan akan terwujud sign (1), yaitu “mawar” sebagai entitas kongkrit. Dan mawar sebagai entitas kongkrit, ketika dikaitkan atau dikonotasikan secara arbitrer dengan hasrat (passion) akan menghasilkan SIGN (III) yang berarati sudah menjadi mitos. secara sederhana pada sign (3) mengandung makna denotatif dan pada SIGN (III) mengandung makna konotatif.
Barthes dalam menjelaskan membaca teks ”visual” menggunakan contoh seorang negro yang memberi hormat pada sampul majalah Paris Match. Di situ digambarkan seorang bocah negro dengan seragam khas Perancis sedang berdiri memberi hormat dengan latar belakang bendera kebangsaan Perancis.
Gambar Sampul majalah Paris Match
Pada semiologi tingkat pertama, gambar majalah itu tidak mengandung penafsiran apapun kecuali sebatas yang terlihat, yaitu bocah negro yang atribut seragam Perancis yang tengah memberi hormat pada bendera Perancis. Penghormatan itu layak dilakukan, karena perancis adalah sebuah negara besar, bahwa semua yang berada dalam naungannya adalah anak-anak ibu pertiwi, tanpa diskriminasi dan warna kulit. Tetapi pada semiologi tingkat dua memiliki penafsiran seorang yang memberi hormat kepada bendera Perancis tersebut tidak sekedar memberi hormat akan tetapi ada makna-makna lain di balik itu.
Misalnya saja mengapa anak negro yang dipilih? Mengapa dia memakai atribut khas Perancis, mengapa sorot mata agak ke atas? Semua itu jeli ditafsirkan oleh Roland Barthes dengan mengaitkan berbagai fakta penunjang. Seperti misalnya situasi politik masa itu, di mana Perancis tengah mengalami konfrontasi dengan atau tepat di tengah menjajah Aljazair, yang notabene adalah warganya kulit hitam.
Sementara perlawanan Aljazair telah berujung pada kemenangan. Sementara itu telah menunjukan realitas bahwa Perancis adalah salah satu negara imprealis penjajah yang wilayah negeri jajahannya sebagian besar adalah kulit hitam. Frustasi yang tersembunyi dari Perancis, ” dilipur” dengan visusalisasi sampul majalah Paris Match, yang sebenarnya hanyalah mitos tentang keagungan imprealitas Perancis.
Mengakhiri paparannya, Barthes menegaskan bahwa mitos adalah sarana mendistorsikan fakta sehingga masyarakat akan menerima begitu saja tanpa perlawanan. Inilah yang diinginkan oleh apa yang disebut oleh Barthes dengan norma-norma borjuisi khas milik ideologi kapitalisme. Maka mitosisasi adalah bungkus yang dibutuhkan, dikekalkan, diperkuat mendukung sistem maenstrem modern secara ideologis. Disinilah barthes menunjukkan ketika kebudayaan mewujudkan dirinya di dalam teks-teks, maka ideologi pun mewujudkan dirinya melalui berbagai kode yang merembes masuk ke dalam teks dalam bentuk penanda-penanda penting, seperti tokoh, latar, sudut pandang dan lain-lain.
Dan dibalik penanda-penanda yang ada ideologi memerankan sebuah kontruksi budaya yang terwujud dalam karya-karya DKV sebagai bentuk dari komunikasi masa yang sangat dipengaruhi sistem sosial ekonomi bahkan politik sebuah masyarakat. Mengakhiri artikel kali ini penulis ingin mengutip sebuah tuliasan dari Yasraf Amir Piliang dalm bukunya Dunia Yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, Jalasutra, Yogyakarta, 2004, hlm. 327, menyatakan bahwa Tugas seorang cendekiawan justru adalah menjadikan semiotika sebagai suatu metode untuk menegakkan yang hak dan mendekonntruksi yang bathil.
Sehingga sebuah alat atau ilmu bagi cendekiawan merupakan sebuah bentuk pertanggungjawaban intelektual yang harus memberikan kontribusi positif bagi terciptanya budaya yang manusiawi sesuai kodrat manusia sebagai makhluk berakal yang diciptakan Tuhan.

Catatan:

Ideologi sendiri secara etimologis berasal dari bahasa Greek, terdiri atas kata idea dan logia. Idea bersal dari kata idein yang berarti melihat. Idea dalam Webster’s New Collogiate Dictionary berarti ” something existing in the mind as the result of the formulation of an opinion, a plan or the like” (sesuatu yang ada dalam pikiran sebagai hasil dari perumusan sesuatu pemikiran atau rencana). Sedangkan logis bersal dari kata logos yang berarti word. Kata ini berasal dari kata legein yang berarti to speak (berbicara). Selanjunya kata logia berarti science (pengetahuan) atau teori.
Jadi menurut arti kata pengucapan dari yang terlihat atau pengutaraan apa yang terumus dalam pikiran sebagai hasil dari pemikiran (Sukarna, 1981:1)1 Meminjam pandangan filosof matrealis (komunis) Marx mengatakan ideologi adalah kesadaran palsu; kesadaran yang mengacu pada nilai-nilai moral tertinggi dengan sekaligus menutup kenyataan bahwa di belakang nilai-nlai luhur tersembunyilah kepentingan-kepentingan egois kelas-kelas berkuasa. Jadi ideologi sebagai teori yang menunjang kepentingan yang tidak dapat dilegetimasi secara wajar.
Daftar Pustaka
  1. Amir Piliang, Yasraf, ,Hiper Semiotika : Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, Jalasutra, Yogyakarta, 2003
  2. Amir Piliang, Yasraf, Dunia Yang Dilipat tamasya melampaui batas-batas kebudayaan, Jalasutra, Yogyakarta, 2004.
  3. Barthes, Roland, S/Z. Penerjemah Richard Miller. New York: Hill and Wang 1974
  4. Budiman, Kris, Semiotika Visual, Yogyakarta, Buku Baik dan Yayasan Seni Cemeti, 2004.
  5. Fiske, John, Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar Komprehensif, Jalasutra, Yogyakarta, 2006.
  6. Sobur, Alex , Analisis Teks Media Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, Dan Analisis Framing, PT. Remaja Rosda Karya Offset, Bandung, 2006.
  7. Tinarbuko, Sumbo, Semiotika Komunikasi Visual, Jalasutra, Yogyakarta, 2008.


Batik Fraktal, Gabungan Seni dan Teknologi

Batik telah lama dikenal sebagai kain tradisional Indonesia, yang oleh UNESCO pun telah diakui sebagai warisan budaya dunia. Kain yang telah dipakai sejak berabad-abad lalu ini bukan sekadar kain biasa. Setiap motif batik mengandung filosofi, sejarah, dan kisah tersendiri, yang lalu menghasilkan kompleksitas motif yang indah.

Zaman yang semakin modern ternyata tak membuat batik punah. Malah sebaliknya, teknologi komputer nan canggih ternyata bisa digunakan untuk melestarikan kain tradisional ini. Itulah yang dilakukan oleh People Pixel Project, sebuah kelompok riset desain dari Bandung. Kelompok yang didirikan oleh Nancy Margried, Muhammad Lukman dan Yun Hariadi ini menemukan bahwa kompleksitas motif batik serupa dengan konsep fraktal dalam matematika atau fisika. Bermula saat mereka iseng-iseng menggambar tumbuhan dengan menggunakan teknik fraktal, ternyata setelah dilihat malah menghasilkan pola yang mirip batik. Lalu, Yun meriset 300 motif batik Indonesia. Sebagai alat kerjanya, kami perlu softwareyang dirancang oleh teman-teman programmer. Jadilah sebuah software bernama JBatik.
Ternyata pola batik tradisional dapat dimodelkan dalam rumus matematika yaitu fraktal. Fraktal adalah salah satu cabang ilmu matematika yang berfokus pada pengulangan, dimensi, literasi, dan pecahan. Semua motif batik pasti mengandung unsur ini. Akhir 2006 lalu saya kumpul bersama dua teman, Muhamad Lukman dan Yun Hariadi. Mereka berasal dari jurusan arsitektur dan matematika ITB.
Kata 'batik' adalah istilah terkenal dengan tangan tradisional dibuat dengan kain pola tertentu, ikon budaya Indonesia dan telah dikenal sebagai salah satu warisan Dunia, sejak 2009. Batik Fractal adalah sebuah inovasi, produk dan merek (Fractal Batik Indonesia). Kami membuat pola batik menggunakan rumus fraktal pada Software jBatik, dan kemudian menerapkannya ke dalam kain dengan tangan tradisional menulis atau stamping menolak pewarna pewarna dengan pengrajin batik tradisional. Perangkat lunak kami generatif menciptakan pola batik. Dikombinasikan dengan proses buatan tangan, itu akan membawa sebuah kain batik kontemporer.Dengan menggunakan rumus fraktal, pola batik diterjemahkan hingga dapat dimodifikasi dengan bantuan teknologi komputer sehingga menghasilkan desain pola baru yang sangat beragam. People Pixel Project kemudian menciptakan perangkat lunak “jBatik” yang dapat membuat desain motif batik dengan menggunakan konsep matematis fraktal.
“Hasilnya, dari motif-motif batik tradisional yang sudah ada, bisa dimodifikasi dengan berbagai motif baru yang dihasilkan dari teknik fraktal,” kata Nancy Margried, CEO Batik Fractal Indonesia. Batik memang memiliki pakem-pakem tersendiri dalam pendesainan dan penggunaan motif. Misalnya adalah motif kawung, huk dan parang rusak, yang biasanya hanya boleh digunakan oleh kalangan bangsawan di momen-momen tertentu saja. Namun, untuk keperluan industri, adanya perangkat lunak untuk menciptakan ragam motif batik tentu menjadi sebuah inovasi bernilai.
Batik fraktal dapat menjadi solusi bagi permasalahan keterbatasan desain motif batik. Dengan bantuan perangkat lunak jBatik, berbagai motif batik dapat diciptakan secara cepat, baik motif dasar maupun motif hasil modifikasi. Ada 3 bentuk batik fraktal yang dapat dihasilkan:
Batik Fraktal Sederhana
: hasil simulasi komputer dalam bentuk fraktal yang memiliki kemiripan dengan desain batik tradisional.
Batik Hibrida
: Pola motif dalam fraktal dan motif batik digunakan sebagai bahan ornamentasi dan dekorasi untuk desain batik secara bersamaan.
Batik Inovatif
: Pola motif batik tradisional didesain ulang dengan menggunakan teknologi komputasional fraktal.
Nancy mengatakan, perangkat lunak jBatik hanya membantu dalam mendesain motif-motif batik, namun dalam hal pengerjaannya tetap dilakukan secara tradisional, yaitu dengan teknik batik tulis atau cap. “Pengerjaannya masih dilakukan oleh para pengrajin batik tradisional di Cirebon dan Pekalongan,” tambahnya.
Dengan inovasi dan kualitas yang mereka hasilkan, produk Batik Fractal Indonesia memang patut diapresiasi dengan harga yang pantas. Selembar kain batik tulis dibandrol dengan harga Rp700.000 hingga jutaan rupiah. “Bahkan pernah ada yang terjual seharga Rp10 juta, saat itu memang ada kolektor yang memesan khusus, dan dia berani membayar segitu setelah melihat hasilnya,” kata Nancy. Tak heran, untuk menghasilkan selembar kain batik tulis dibutuhkan waktu 1 hingga 5 bulan. Tergantung variasi dan kesulitan motif serta warna. Semakin rumit motif dan semakin banyak warna, maka proses pembuatannya pun akan semakin panjang. Itulah sebabnya, Batik Fraktal Indonesia lebih sering mengerjakan kain batik tulis sesuai pesanan.
Meski awalnya baru menghasilkan produk berupa kain batik panjang, saat ini Batik Fraktal Indonesia tengah mulai memproduksi pakaian batik ready to wear. “Ada batik tulis, ada juga batik cap, namun semua desain motifnya dibuat dengan menggunakan konsep fraktal,” tutur Nancy.
Karya anak bangsa ini telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO. Pada Oktober 2008, UNESCO menganugerahi People Pixel Project dengan Award of Excellence sebagai ‘Stamp of Approval’. Artinya produk mereka memiliki kualitas tertinggi pada level internasional dan berpotensi besar untuk masuk pasar dunia.





Psikologi Warna

Warna-warni memiliki efek psikologis. Efeknya berpengaruh terhadap pikiran, emosi, tubuh, dan keseimbangan. Aplikasi warna pada sebuah ruangan dapat menghasilkan kesan perasaan yang semakin luas atau justru kebalikannya.
Berikut ini sifat-sifat psikologis beberapa warna:

• Merah - Berani, penuh semangat, agresif, memicu emosi, dan menarik perhatian. Secara positif, warna merah mengandung arti cinta, gairah, berani, kuat, agresif, merdeka, kebebasan, dan hangat. Negatifnya adalah punya arti bahaya, perang, darah, anarki, dan tekanan.
• Kuning - Menciptakan perasaan optimis, percaya diri, pengakuan diri, akrab, dan lebih kreatif. Kuning juga dapat merugikan kita karena menyampaikan pesan perasaan ketakutan, kerapuhan secara emosi, depresi, kegelisahan, dan keputusasaan. Pilihan warna kuning yang tepat dan penggunaan yang sesuai akan mengangkat semangat kita dan lebih percaya diri.
• Hijau - berarti kesehatan, keseimbangan, rileks, dan kemudaan. Unsur negatif warna ini di antaranya memberi kesan pencemburu, licik, terasa jenuh, serta dapat melemahkan pikiran dan fisik. Di dalam sejarah China, warna hijau adalah warna perempuan. Lain dengan budaya muslim, yang menganggap warna hijau adalah warna yang suci. Warna untuk perdamaian juga hijau.
• Biru - Melambangkan intelektualitas, kepercayaan, ketenangan, keadilan, pengabdian, seorang pemikir, konsistensi, dan dingin. Selain itu, dapat memicu rasa depresi dan ragu-ragu. Biru gelap akan membantu berpikir tajam, tampil jernih, dan ringan. Biru muda akan menenangkan dan menolong berkonsentrasi dengan tenang. Terlampau banyak biru akan menimbulkan rasa terlalu dingin, tidak akrab, dan tak punya emosi atau ambisi.
• Ungu - Memberi efek spiritual, kemewahan, keaslian, dan kebenaran. Ungu mampu menunjang kegiatan bermeditasi dan berkontemplasi. Kemerosotan dan mutu yang jelek adalah sifat-sifat negatif warna ini.
• Putih - Warna murni, suci, steril, bersih, sempurna, jujur, sederhana, baik, dan netral. Warna putih melambangkan malaikat dan tim medis. Warna ini juga bisa berarti kematian karena berkonotasi kehampaan, hantu, dan kain kafan.
• Abu-abu - Bijaksana, dewasa, tidak egois, tenang, dan seimbang. Warna abu-abu juga mengandung arti lamban, kuno, lemah, kehabisan energi, dan kotor. Karena warnanya tergolong netral atau seimbang, warna ini banyak dipakai untuk warna alat-alat elektronik, kendaraan, perangkat dapur, dan rumah.
• Hitam - Berkesan elit, elegan, memesona, kuat, agung, teguh, dan rendah hati. Kesan negatifnya adalah hampa, sedih, ancaman, penindasan, putus asa, dosa, kematian, atau bisa juga penyakit. Tak seperti putih yang memantulkan warna, hitam menyerap segala warna. Dengan hitam, segala energi yang datang akan diserap. Walau mampu memesona dan berkarakter kuat, tapi banyak orang yang takut akan "gelap". Warna hitam berkonotasi gelap.


Bentuk Ragam Hias

Ragam hias adalah bentuk dasar hiasan yang biasanya akan menjadi pola yang diulang-ulang dalam suatu karya kerajinan atau seni. Karya ini dapat berupa tenunan, tulisan pada kain (misalnya batik), songket, ukiran, atau pahatan pada kayu/batu. Ragam hias dapat distilasi (stilir) sehingga bentuknya bervariasi.
Ragam hias Nusantara dapat ditemukan pada motif batik, tenunan, anyaman, tembikar, ukiran kayu, dan pahatan batu. Ragam hias ini muncul dalam bentuk-bentuk dasar yang sama namun dengan variasi yang khas untuk setiap daerah. Dalam karya kerajinan atau seni Nusantara tradisional, sering kali terdapat makna spiritual yang dituangkan dalam stilisasi ragam hias.
Terdapat ragam hias asli Nusantara, yang biasanya merupakan stilisasi dari bentuk alam atau makhluk hidup (termasuk manusia), dan ada pula ragam hias adaptasi pengaruh budaya luar, seperti dari Tiongkok, India, Persia, serta Barat.
Desain hiasan dapat dibuat dari berbagai bentuk ragam hias. Adapun jenis-jenis ragam hias yang dapat digunakan untuk menghias bidang atau benda yaitu :
a. Bentuk naturalis
Bentuk naturalis yaitu bentuk yang dibuat berdasarkan bentukbentuk yang ada di alam sekitar seperti bentuk tumbuh-tumbuhan, bentuk hewan atau binatang, bentuk batu-batuan, bentuk awan, matahari, bintang, bentuk pemandangan alam dan lain-lain.
b. Bentuk geometris
Bentuk geometris yaitu bentuk-bentuk yang mempunyai bentuk teratur dan dapat diukur menggunakan alat ukur.
Contohnya bentuk segi empat, segi tiga, lingkaran, kerucut, silinder dan lain-lain.
c. Bentuk dekoratif
Bentuk dekoratif merupakan bentuk yang berasal dari bentuk naturalis dan bentuk geometris yang sudah distilasi atau direngga sehingga muncul bentuk baru tetapi ciri khas bentuk tersebut masih terlihat. Bentuk-bentuk ini sering digunakan untuk membuat hiasan pada benda baik pada benda-benda keperluan rumah tangga maupun untuk hiasan pada busana.