Home » All posts
Wednesday, August 28, 2013
DESAIN TEKSTIL
TEKSTIL adalah sebuah hasil karya buatan manusia yang berfungsi sebagai alat untuk melindungi tubuh dari udara panas dan dingin, kebutuhan dari sikap kesusilaan, dan sebagai wujud/ bagian dari gaya hidup sebagai manusia modern.
Tekstil terbuat dari lembaran kain yang terbentuk dari anyaman benang lungsi dan pakan. Digunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam kebutuhan sandang dan sejenisnya.
DESAIN TEKSTIL
Desain tekstil adalah `rancangan motif dan corak baik struktur kain maupun permukaan kain dengn teknik titik,garis,bidang warna.
Proses merencana motif atau pola pada kain dengan memperhatikan fungsi,komposisi warna, bentuk, taawal/pra desain tata letak,harga dan bisa di produksi banyak,sambungan ,langkah dan pengulangan motif.juga dipikirkan keinginan pasar serta bisa laku dijual.
Desain
Artinya membuat pola-pola; proses merencana suatu karya seni yang terpakai dengan meningdahkan fungsi,komposisi warna,tata letak,bentuk,harga memenuhi keinginan pasar dan bisa dijual.
Tahap-Tahap desain:
- Desain awal/pra desain
Rancangan awal desain, biasanya hanya brupa beberapa skets dengan beberapa alternative motif dan warna yang akan dipilih. - Desain pengembangan/developing desain
Sesudah ada yang terpilih dari pra desain maka angsung diproses lenngkap menjadi desain utuh dengan beberapa alternative lain untuk dipilih. - Desain akhir
Sesudah ada yang dipilih dari developing desain maka ditambah atau dikurangi sesuai dengan keinginan konsumen lalu dibuatkan color way-nya serta model sehingga menjadi satu port folio.
Unsur desain tekstil
Beberapa unsur yang harus diperhatikan di dalam membuat desain tekstil antara lain:
- Ide
- Motif
- Warna
- Teknik
- Ukuran
- Step dan repeat
- Joint
- Colour window
- Drapping model
- Presentasi
Jenis desain tekstil:
- Desain flora
- Desain fauna
- Desain geometris
- Desain abstrak
- Desain tradisional/etnik
- Desain polkadot
- Desain paisley
- Desain black and white
- Desain strip/garis
- Desain check/kotak
Perkembangan teknologi finishing tekstil dalam memberikan nilai pada permukaan kain yaitu painting, batik, cap, print.
Penggunaan alat produksi kain/motif dengan beragam jenis mesin:
- Mesin otomatis
- Mesin semi otomatis
- Mesin computer
- Era digital
Sejarah Tekstil
Di masa lalu nenek moyang kita yang sudah mulai mengenal dan berfikir untuk menutupi sebagian dari auratnya berusaha menutupinya dengan daun-daunan atau kulit kayu dll, kemudian mereka berfikir dan mencari akal untuk menganyam serat alam yang terbuat dari sejenis tumbuhan menjadi sebuah benang, dan akhirnya ditenun menjadi kain.
Maka diciptakan selembar kain sebagai alat untuk melindungi badan dari cuaca dan keadaan alam. Sejalan dengan ditemukannya ATBM yaitu alat tenun bukan mesin, maka dapat dibuatlah kain dengan cara yang sederhana.
Secara garis besarnya desain tekstil terbagi menjadi 2 bentuk. Yaitu:
1. Desain struktural
Adalah sebuah cara membuat desain pada kain yang dilakukan perubahan pada struktur kain itu sendri. Contoh antara lain adalah: tapestry, pembuatan seni serat yang diberlakukan hiasan struktur benangnya.
Yang dimaksud desain struktural yaitu bentuknya menyatu dengan struktur tenunan kainnya. Desain tersebut diperoleh dengan merubah variasi konstruksi tenunan, merubah variasi susunan bentuk maupun warna benang yang ditenun.
Celup ikat pada serat /benang di daerah NTT khususnya di Manggarai, watublapi dan Ende.dan juga berkembang di Timor Timur, Sumba,Waingapu dll.
Sekilas Tentang Batik Tuban
Tuban sebagai salah satu wilayah di bagian Timur dari pulau jawa, memiliki satu corak kebudayaan yang unik, mengapa? Karena dalam sejarah wilayah ini telah masuk 3 tata nilai kebudayaan yang saling mempengaruhi, dan sampai sekarang kebudayaan ini masih tetap eksis dan sama-sama berkembang, tanpa membuat salah satu kebudayaan ini tersingkir. Ketiga kebudayaan tersebut adalah :
- Jawa, yang meresap saat wilayah ini dalam kekuasaan jaman Majapahit (abad XII-XIV)
- Islam, karena diwilayah ini hidup seorang ulama yang ternama yaitu Sunan Bonang (1465- 1525 M)
- Tiongkok(cina), karena di Tubanlah para sisa lascar tentara kubalai khan melarikan diri dari kekalahannya pada saat menyerang Jawa di awal abad XII, hingga kini masyarakat keturunan ini banyak bermukim di Tuban.
Proses interaksi ketiga kebudayaan ini berlangsung sekian lamanya hingga sekarang dan sangat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat Tuban sampai kini.
Motif Batik Tulis Tradisional Tuban, apabila di cermati, terlihat betapa motif-motif tersebut sangat dipengaruhi nilai-nilai budaya jawa, islam, dan tiongkok. Gambar-gambar burung pada motif batik tulis Tuban jelas terlihat pengaruh dari budaya tiongkok, karena gambar burung yang dimotifkan pada batik tulis tersebut Nampak adalah burung”Hong”yang jelas tidak terdapat di wilayah Tuban.
Sedang pada motif bunga jelas terlihat adalah motif-motif tradisional yang sejak lama dibuat dihampir seluruh wilayah pulau Jawa. Sedangkan pengaruh islam pada motif batik tulis Tuban terlihat pada motif dengan nama yang religious seperti kijing miring.
Dahulu batik tulis ini hanya digunakan untuk upacara-upacara tradisional masyarakat Tuban seperti sedekah bumi, pernikahan, pemakaman.
Pada perkembangan jaman, sekarang ini penggunaan batik tulis Tuban tidak hanya untuk upacara-upacara adat, namun telah meluas pada penggunaannya seperti ; taplak meja, sarung bantal, dekorasi, hiasan dinding, model baju modist baik untuk pria dan wanita.
Dari hal-hal tersebut diatas jelaslah bahwa batik tulis tradisional Tuban yang memiliki ciri khas yang unik sangat perlu untuk dilestarikan keberadaannya apalagi potensi pengembangannya sangat prospektif.
Macam-macam motif batik Tuban yaitu :
1. Batik Gedog Tuban
Kata Gedog yang menjadi trade mark sebenarnya berasal dari bunyi dog dog dog dog dari bunyi kain tenun untuk membuat kain yang digunakan kai, pembatikan di Tuban vertikal dan merupakan satu kesatuan (integrated). Maksudnya, bahan kain yang digunakan untuk membatik dipintal langsung dari kapas. Jadi gulungan kapas dipintal menjadi benang, lalu ditenun, dan setelah jadi selembar kain lalu dibatik.
Batik Gedog pada awalnya merupakan kegiatan ibu desa yang menunggu suaminya pulang dari bercocok, sembari mengisi waktu ibu –ibu didaerah Kecamatan Kerek melakukan kegiatan membatik.
Berkembangnya Tuban sebagai pusat perdagangan Nusantara di Zaman Majapahit menjadikan Batik Gedog mengalami metamorfosis dalam hal Motif, karena ada sentuhan Budaya lain khususnya Cina. Motif batik Gedog natural karena motif di pengaruhi alam sekitar, maka motif yang muncul seperti: Kijing Miring, Kembang Waluh, Uler keket, Rengganis, Blaraan, Manggaran, Uker, Liren, Panjiori, Ririnan, Kelopo Segantet,Remekan, Manuk Jalak, Irengan, Supit, Dudo Brenggola, kenongo uleren, ganggeng Motif panji krentil, panji serong dan panji konang. panji krentil, panji serong, dan panji konang, dahulu kala konon hanya dipakai pangeran. Batik motif panji krentil berwarna nila justru diyakini bisa menyembuhkan penyakit. Berkembangnya Tuban sebagai kota perdagangan yang kosmopolit waktu itu, Batik Gedog juga menjadi komoditas ekonomi yang mengiurkan, maka motif berkembang menjadi beragam,unsur Cina pun masuk dalam motif seperti burung Hong serta warna batik Gedog tidak hanya gelap semata tapi juga berkembang warna warna cerah, seperti merah Khas Cina.
Layaknya Batik pesisiran lainnya batik Gedog dalam soal warna dan motif tidak terpengaruh dengan pakem layaknya batik Jawa Tengahan yang wawarna sogan, indigo, hitam dan putih, dan motif di pengaruhi oleh budaya hindhu-Budha, yang bersifat simbolis,ragam hias batik Tuban Ragam hias batik Jawa Timur bersifat naturalis dan juga di pengaruhi budaya asing.
Pusat batik Gedog Tuban berada di Kecamatan Kerek merupakan pusat pembuatan kain tenun. Konon, di tahun k 2000-an, jumlah perajin tenun mencapai 1.500-an orang, tersebar di desa-desa. Saat itu, kapas yang dibutuhkan 1.500 pembatik se-Kecamatan Kerek sekitar satu ton per bulan. Setiap 1,5 kilogram kapas jika ditenun menghasilkan selembar batik berukuran 2,5 meter dengan lebar 85 sentimeter.Namun pada perkembangannya, perajin di desa-desa se-Kecamatan Kerek, seperti Kedungrejo, Margorejo, Jarorejo, Karanglo, Margomulyo, Temayang, Wolutengah dan Gaji, jumlahnya makin menyusut. Ditaksir perajin yang tersisa hanya sekitar 1000 orang. Jumlah itupun termasuk perajin baru yang tersebar di desa Bongkol dan Semanding Merakurak,Salah satu ciri batik gedog dari Tuban adalah serat benangnya yang kasar .Batik Tulis Gedog, biasanya perajin membuat tiga variasi ukuran kain tenun selain ukuran baku tersebut. "Kalau seser berukuran panjang dua meter, taplak panjangnya satu meter, sedangkan putihan sepanjang tiga meter," katanya.Selain panjang kain yang beragam, setiap kain juga mempunyai kerapatan tenunan yang berlainan. Struktur tenunan yang merangkai kain itu akan menentukan bentuk perlakuan yang akan diterima oleh kain selanjutnya. Misalnya kain seser, yang mempunyai kerapatan rendah. Jalinan benang penyusun kain tersusun jarang-jarang sehingga terdapat celah antarbenang yang berbentuk kotak-kotak. Akibatnya, kain seser ini tidak dapat diberi motif batik seperti yang saat ini sedang dikembangkan oleh para perajin.
"Kalau mau dibatik, mending buat tenun putihan saja yang tenunannya rapat dan kainnya lemas. Batik Gedog Tuban merupakan Batik yang masih eksis sampai sekarang di banding batik Jawa Timuran lainya, seperti Sidoarjo karena hilang nya kader batik yang potensial.
Proses Pembuatan Batik Tulis Tradisional Tuban
Batik Gedog Tulis Tradisonal (kain katun):
Kata Gedog yang menjadi trade mark sebenarnya berasal dari bunyi dog dog dog dog dari bunyi kain tenun untuk membuat kain yang digunakan kai, pembatikan di Tuban vertikal dan merupakan satu kesatuan (integrated). Maksudnya, bahan kain yang digunakan untuk membatik dipintal langsung dari kapas. Jadi gulungan kapas dipintal menjadi benang, lalu ditenun, dan setelah jadi selembar kain lalu dibatik.
Batik Gedog pada awalnya merupakan kegiatan ibu desa yang menunggu suaminya pulang dari bercocok, sembari mengisi waktu ibu –ibu didaerah Kecamatan Kerek melakukan kegiatan membatik.
Berkembangnya Tuban sebagai pusat perdagangan Nusantara di Zaman Majapahit menjadikan Batik Gedog mengalami metamorfosis dalam hal Motif, karena ada sentuhan Budaya lain khususnya Cina. Motif batik Gedog natural karena motif di pengaruhi alam sekitar, maka motif yang muncul seperti: Kijing Miring, Kembang Waluh, Uler keket, Rengganis, Blaraan, Manggaran, Uker, Liren, Panjiori, Ririnan, Kelopo Segantet,Remekan, Manuk Jalak, Irengan, Supit, Dudo Brenggola, kenongo uleren, ganggeng Motif panji krentil, panji serong dan panji konang. panji krentil, panji serong, dan panji konang, dahulu kala konon hanya dipakai pangeran. Batik motif panji krentil berwarna nila justru diyakini bisa menyembuhkan penyakit. Berkembangnya Tuban sebagai kota perdagangan yang kosmopolit waktu itu, Batik Gedog juga menjadi komoditas ekonomi yang mengiurkan, maka motif berkembang menjadi beragam,unsur Cina pun masuk dalam motif seperti burung Hong serta warna batik Gedog tidak hanya gelap semata tapi juga berkembang warna warna cerah, seperti merah Khas Cina.
Layaknya Batik pesisiran lainnya batik Gedog dalam soal warna dan motif tidak terpengaruh dengan pakem layaknya batik Jawa Tengahan yang wawarna sogan, indigo, hitam dan putih, dan motif di pengaruhi oleh budaya hindhu-Budha, yang bersifat simbolis,ragam hias batik Tuban Ragam hias batik Jawa Timur bersifat naturalis dan juga di pengaruhi budaya asing.
Pusat batik Gedog Tuban berada di Kecamatan Kerek merupakan pusat pembuatan kain tenun. Konon, di tahun k 2000-an, jumlah perajin tenun mencapai 1.500-an orang, tersebar di desa-desa. Saat itu, kapas yang dibutuhkan 1.500 pembatik se-Kecamatan Kerek sekitar satu ton per bulan. Setiap 1,5 kilogram kapas jika ditenun menghasilkan selembar batik berukuran 2,5 meter dengan lebar 85 sentimeter.Namun pada perkembangannya, perajin di desa-desa se-Kecamatan Kerek, seperti Kedungrejo, Margorejo, Jarorejo, Karanglo, Margomulyo, Temayang, Wolutengah dan Gaji, jumlahnya makin menyusut. Ditaksir perajin yang tersisa hanya sekitar 1000 orang. Jumlah itupun termasuk perajin baru yang tersebar di desa Bongkol dan Semanding Merakurak,Salah satu ciri batik gedog dari Tuban adalah serat benangnya yang kasar .Batik Tulis Gedog, biasanya perajin membuat tiga variasi ukuran kain tenun selain ukuran baku tersebut. "Kalau seser berukuran panjang dua meter, taplak panjangnya satu meter, sedangkan putihan sepanjang tiga meter," katanya.Selain panjang kain yang beragam, setiap kain juga mempunyai kerapatan tenunan yang berlainan. Struktur tenunan yang merangkai kain itu akan menentukan bentuk perlakuan yang akan diterima oleh kain selanjutnya. Misalnya kain seser, yang mempunyai kerapatan rendah. Jalinan benang penyusun kain tersusun jarang-jarang sehingga terdapat celah antarbenang yang berbentuk kotak-kotak. Akibatnya, kain seser ini tidak dapat diberi motif batik seperti yang saat ini sedang dikembangkan oleh para perajin.
"Kalau mau dibatik, mending buat tenun putihan saja yang tenunannya rapat dan kainnya lemas. Batik Gedog Tuban merupakan Batik yang masih eksis sampai sekarang di banding batik Jawa Timuran lainya, seperti Sidoarjo karena hilang nya kader batik yang potensial.
Proses Pembuatan Batik Tulis Tradisional Tuban
Batik Gedog Tulis Tradisonal (kain katun):
- Kain katun
- Diputihkan, dicuci
- Dijemur sampai kering
- Dilengkreng/dipola
- Isen-isen
- Ditembok
- Dicelup dengan warna dasar
- Diangin-anginkan hingga kering
- Isen-isen
- Celup warna yang dikehendaki
- Diangin-anginkan
- Dilorot, untuk memisahkan malam
- Diangin-anginkan hingga kering
Proses Batik Gedog Tulis Tradisional pada kain katun memerlukan waktu 3-4 hari kerja, dan apabila musim hujan, bisa memakan waktu lebih lama lagi.
Batik Gedog Tulis Tradisonal (kain tenun):
- Benang Lawe, sebagai bahan baku
- Diangin-anginkan
- Dilorot, untuk memisahkan malam
- Diangin-anginkan hingga kering
- Benang direbus untuk menghilangkan lemak
- Dijemur sampai kering
- Dikanji dengan tepung jagung/tepung kanji
- Disikat dengan sabut kelapa
- Di dihani, untuk menentukan panjang dan lebar kain
- Memasukkan benang dalam sisir ; dimasukkan dalam teropong, digulung dipalet/pemaletan
- Ditenun
- Kain Lawon
- Diputihkan, dicuci
- Dijemur sampai kering
- Dilengkreng/dipola
- Isen-isen
- Ditembok
- Dicelup, dengan warna dasar
- Diangin-anginkan hingga kering
- Isen-isen
- Celup warna yang dikehendaki
Proses Batik Gedog Tulis Tradisional pada kain tenun memerlukan waktu 14-18 hari kerja, dan apabila musim hujan, bisa memakan waktu lebih lama lagi.Motif Batik Gedog
BATIK NUSANTARA
Batik Merupakan warisan budaya Bangsa Indonesia,
hampir tiap daerah di Indonesia menghasilkan Batik yang menghasilkan berbagai
macam corak serta motif yang berbeda-beda. Secara garis besar Batik Indonesia
di kelompokan 2 macam Madzab yaitu : batik
vorstenlanden dan batik pesisir. Yang disebut batik vorstenlanden menurut buku
Ungkapan Sehelai Batik karya Rahmaniar Soerianata Djoemena adalah batik dari
daerah Solo dan Yogyakarta.
Yang dinamakan batik pesisir adalah semua batik yang pembuatannya dikerjakan di luar daerah Solo dan Yogyakarta . Pembagian asal batik dalam dua kelompok ini terutama berdasarkan sifat ragam hias dan warnanya.
Yang dinamakan batik pesisir adalah semua batik yang pembuatannya dikerjakan di luar daerah Solo dan Yogyakarta . Pembagian asal batik dalam dua kelompok ini terutama berdasarkan sifat ragam hias dan warnanya.
Batik Solo dan Yogyakarta merupakan Batik Pakem
dalam motifnya mengandung berbagai macam makna Filosofis yang berlandaskan
makrokosmos dan mikrokosmos, misanya motif :
- Parang Rusak
Adalah salah satu motif sakral yang hanya digunakan di lingkungan kraton. Motif ini juga bisa mengidentifikasi asal kraton pemakainya, apakah dari kraton Solo atau Yogya.
Saturday, August 24, 2013
SENI RUPA ZAMAN PRASEJARAH DAN HINDU DI INDONESIA
Perkembangan
seni rupa tradisional Indonesia sudah dimulai sejak zaman
prasejarah. Meskipun tidak ada orang yang tahu secara pasti kapan dimulainya
zaman prasejarah. Periodesasi zaman prasejarah di Indonesia di bagi menjadi
beberapa periode di antaranya : zaman batu dan zaman logam. Kedua zaman
prasejarah ini, sama-sama memiliki karya seni rupa ( tradisional ) hal itu
dapat di buktikan dengan adanya peninggalan-peninggalan yg berupa karya seni
rupa yg bersipat tradisional seperti kapak genggam, gelang, kalung, tembikar
bahkan ada lukisan.
PENGERTIAN SENI ADALAH KEINDAHAN DAN SENI ADALAH EKSPRESI
A. SENI
ADALAH KEINDAHAN
Secara umum banyak orang yang mengemukakan pengertian seni
sebagaikeindahan. Pengertian seni adalah produk manusia yang mengandung nilai
keindahanbukan pengertian yang keliru, namun tidak sepenuhnya benar. Jika
menelusuri arti senimelalui sejarahnya, baik di Barat (baca: sejak Yunani
Purba) maupun di Indonesia, nilaikeindahan menjadi satu kriteria yang utama.
Sebelum memasuki tentang pengertian seni,ada baiknya dibicarakan lebih dahulu
tentang: apakah keindahan itu.
PERANAN GURU DALAM PROSES PENDIDIKAN SENI RUPA DI SEKOLAH
PERANAN
GURU SENI RUPA
Guru
memegang peranan penting dalam pendidikan seni. Setiap guru seni perlu memahami
kepemimpinan bagaimana dan tanggungjawab apa yang dituntut para siswa serta
bimbingan mana yang dapat memberi inspirasi kepada mereka; apa yang boleh dan
apa yang tidak boleh dia lakukan. Di ruangan kelas, setiap saat guru senantiasa
diperlukan siswanya.
PENDEKATAN BERBASIS DISIPLIN ILMU DAN PENDEKATAN KOMPETENSI DALAM PENDIDIKAN SENI RUPA
A.
Pendekatan
Berbasis Disiplin Ilmu dalam Pendidikan Seni Rupa
Pendekatan seni rupa berbasis disiplin
ilmu (dicipline based art education,
disingkat DBAE) berintikan pemikiran bahwa seni telah hadir dalam kehidupan
bukan hanya sebagai kegiatan penciptaan , tetapi juga sebagai cabang pengetahuan yang menjadi bahan kajian filosofis maupun ilmiah dan berhak
dipelajari di lembaga pendidikan. Seni adalah disiplin ilmu yang khas dengan
karakter yang dimilikinya, mendapat dukungan kelompok ilmuwan, dikembangkan
melalui penelitian.


PENGERTIAN SENI RUPA MENURUT PARA AHLI
Seni
Rupa adalah salah satu cabang kesenian, seni rupa merupakan ungkapan gagasan
dan perasaan manusia yang diwujudkan melalui pengolahan median dan penataan
elemen serta prinsip-prinsip desain.
Seni
rupa merupakan realisasi imajinasi yang tanpa batas dan tidak ada batasan dalam
berkarya seni. Sehingga dalam berkarya seni tidak akan kehabisan ide dan
imajinasi. Dalam seni rupa murni, karya yang tercipta merupakan bentuk dua
dimensi dan tiga dimensi. Sehingga objek yang dibuat merupakan hasil dari satu
atau lebih dari satu media yang ada (sebagai catatan bahwa media atau bahan
seni di dunia juga tidak terbatas).
SENI SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN
Pernahakah
kita menyaksikan anak-anak (di bawah usia 10 tahun)yang sedang bermain bersama
temannya atau bermain sendirian? Betapa asyiknya anak-anak bermain ‘rumah-rumahan’,
bermain ‘mobil-mobilan’ dan beraneka ragam permainan yang disukainya. Mereka bermain
sambil berbicara, berpura-pura seperti orang dewasa. Mereka menirukan
gerak-gerik dan perilaku orang tuanya dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari.
Benda-benda yang tidak terpakai lagi seperti kotak korek api, kotak sabun, dan
berbagai peralatan sederhana yang mudah dijumpainya di rumah, dijadikannya ‘teman
bermain’. Benda-benda mati itu dianggapnya sebagai benda yang hidup, dan bisa
diajak bicara. Betapa anak dalam dunianya itu penuh imajinasi dan fantasi.










