Friday, August 17, 2012

Menggambar Bentuk


Menggambar Bentuk adalah memindahkan objek/benda-benda yang ada disekitar kita dengan tepat seperti keadaan benda yang sebenarnya, menurut arah pandang dan cahaya yang ada.

Menurut Dr. Cut Kamaril WS. Menggambar Bentuk merupakan usaha mengungkapkan dan mengkomunikasikan ide/gagasan, perasaan dalam wujud dwi matra yang bernilai artistik dengan menggunakan garis dan warna. Ungkapan tersebut sesuai dengan bentuk benda yang digambar. Hasil gambarnya menunjukkan kreativitas maupun keterampilan penggambar dalam menampilkan ketepatan bentuk maupun jenis benda yang digambar.

Dalam menggambar bentuk dituntut ketepatan bentuk benda yang digambar. Oleh sebab itu, diperlukan pengetahuan tentang dasar-dasar ketepatan bentuk yakni proporsi atau ukuran perbandingan dan ketepatan barik/tekstur yang menunjukkan ketepatan jenis benda tersebut. Bagi orang yang pandai menggambar dapat menggambar langsung dengan tepat apa yang digambar. Bagi orang yang masih belajar perlu mengetahui dasar-dasar proporsi tersebut, dengan menggunakan garis-garis pertolongan untuk membagi-bagi bentuk benda dalam ukuran perbandingan tertentu supaya gambarnya tepat.

Hakikat Menggambar

Menggambar adalah membuat guratan di atas sebuah permukaan yang secara grafis menyajikan kemiripan mengenai sesuatu.

Kata menggambar atau kegiatan menggambar dapat diartikan sebagai memindahkan satu atau beberapa objek ke atas bidang gambar tanpa melibatkan emosi, perasaan dan karakter penggambarnya. Pemindahan ini dalam pengertian pemindahan bentuk atau rupa dengan memperkecil atau memperbesar ukuran keseluruhan yang untuk kepentingan tertentu dapat juga mempergunakan skala perbandingan (perbandingan ukuran) secara akurat.

Jenis-jenis pensil/potlot untuk menggambar

Menggambar dimulai dengan memilih jenis kertas yang cocok,  disesuaikan dengan media pensil/potlot. 

Potlot adalah alat yang lembut, tidak banyak memeberikan kedalaman, tingkat kekerasannya bermacam-macam; untuk permulaan gunakanlah potlot yang sedang lunaknya. (Untuk merampungkan gambar kelak hendaknya selalu digunkan potlot yang paling bermutu sejauh yang dapat diperoleh). Kekuatan garis bergantung pada kertas yang dipergunakan. Makin kasap kertas yang digunakan, makin gelap goresan potlot yang diperoleh. Sebaliknya makin licin kertas, makin abu-abu goresan itu. Kertas harus cukup kasap agar diperoleh garis potlot yang baik dan cukup keras sehingga tidak bercalar oleh potlot.
Banyak sekali macam dan jenis potlot/pensil sesuai dengan penggunaannya, antara lain:

a. Pensil Biasa:

Pensil biasa dengan batang kayu relatif murah, dapat dipakai untuk membuat berbagai macam goresan, dan dapat digunakan untuk menutup bidang gambar dan membuat bayangan. Walaupun pensil biasa sudah cukup cocok untuk dipergunakan menggambar, namun dalam pengunaannya harus diperhatikan mutu dan jenis pensilnya.

b. Pensil Keras (dengan istilah pensil Hard/H)

Pensil jenis ini memiliki tingkat dan kwalitas kekerasan mulai dari 9 H (sangat keras) kemudian F. Pensil jenis ini biasanya banyak dipakai untuk menggambar mistar, karena jenisnya yang keras tersebut. Semakin keras tingkatan isi pensil, semakin dapat digunakan untuk menghasilkan garis-garis yang padat, halus dan tipis.

c. Pensil sedang (dengan istilah pensil medium hard/HB).

         Pensil ini dipakai untuk membuat desain/ sket/ gambar rencana, baik untuk gambar dekorasi maupun gambar reklame.

d. Pensil Lunak (dengan istilah pensil Soft/B)

Isi pensil yang lunak dapat menghasilkan garis-garis yang padat, gelap dan nada gelap terang. Untuk hampir semua gambar tangan bebas, pensil jenis B merupakan jenis pensil yang banyak manfaatnya. Jenis pensil ini banyak dipakai untuk menggambar potret, benda atau pemandangan alam dalam warna hitam putih.
e. Konte 
         berwarna hitam arang dan berbeda dengan pensil biasa karena mempunyai goresan yang tebal dan lebar. Dibedakan pula menjadi:
1) Hard/H/keras.
2) Medium/HB/sedang
3) Soft/B/Lunak, dipakai untuk menggambar potret, pemandangan alam dan benda.


f. Pensil berwarna.
          
           Pensil ini mengandung lilin dan tersedia dalam 12 macam warna. (untuk kategori pensil warna bukan merupakan bahasan dalam penelitian ini).

g. Teknik-teknik yang digunakan dalam menggambar dengan pensil/potlot antara lain:
1) Teknik Stippel. Yaitu menggambar dengan titik-titik atau noda-noda yang diulang-ulang.
2) Teknik Dussel, atau disebut dengan teknik gosok. Yaitu menggambar dengan cara menggosok-gosokkan tangan atau kertas yang sudah diberi/dibubuhi dengan pensil. (Teknik ini tidak diperkenankan untuk digunakan dalam dunia pendidikan, akan tetapi kenyataan di lapangan para pelukis wajah/potret sering menggunakannya).
3). Teknik Arsir, Untuk menyampaikan kesan bentuk tiga dimensi yang tidak dapat terwakili hanya dengan garis kontur saja. Garis-garis arsir mengacu pada serangkaian garis sejajar dengan jarak berdekatan atau rapat

Jenis-Jenis Arsir antara lain:
a) Arsir Biasa, yaitu garis-garis arsir yang mengacu pada serangkaian garis rapat sejajar, seirama sesuai dengan bentuk benda yang digambar.
b) Arsir Silang, ialah arsir yang melibatkan penggunaan dua lapis garis arsir untuk mendapatkan kepadatan yang lebih tinggi dan menghasilkan nada gelap terang.
c) Teknik Scribbling, adalah suatu jenis arsiran jaringan yang terdiri dari garis-garis berbagai arah yang dibuat secara acak, sehingga tekstur visualnya akan bervariasi dengan teknik garis yang digunakan.

Dengan pengetahuan yang mantap mengenai sifat bahan dan fungsi alat, seniman dapat mengembangkan kekuatan menggambarnya tanpa kendala yang bersifat teknis. Menggambar merupakan soal rasa, pikiran, keterampilan, ide dan teknik yang tidak terpisah-pisahkan. Dorongan menggambar timbul pada umumnya karena adanya gagasan dalam pikiran untuk menyatakannya dengan bentuk visual. 

Alat terakhir untuk pengoreksian gambar adalah penghapus, untuk menghilangkan bagian gambar yang tidak berhasil. Penghapus potlot yang biasa sudah cukup, sepanjang bersifat lentur, lunak dan bersih.

Ada kertas yang licin dan ada pula yang kasap, ada kertas bersadur dan kertas serap, kertas yang tebal dan yang tipis. Ada tiga jenis kertas yang dapat digunakan:
a.  Kertas murah yang dapat digunakan dengan bebas. Barangkali kertas stensil atau kertas koran (yang dipakai untuk surat kabar, dapat diperoleh dalam ukuran kwarto dibungkus per rim).
b.  Kertas Lakar ukuran saku (berbentuk buku ukuran saku)
c.   Kertas gambar yang baik dengan tebal yang bermacam-macam, dalam lembaran, gulungan, atau bentuk buku. Kertas gambar biasanya berwarna putih mengkilap, tetapi ada juga yang berwarna putih kusam atau berwarna putih-India. Menurut Ajat Sakri dalam bukunya menjelaskan;

    Menggambar dimulai jauh sebelum menarik garis yang pertama. Permulaannya ialah sikap badan yang baik dan sikap yang benar terhadap pekerjaan. Lengan dan seluruh tubuh harus santai. Pandangan tertuju pada permukaan kertas sebagai satu keseluruhan, menaklukkan dan menguasainya.

Thursday, August 16, 2012

Apresiasi Karya Seni Rupa




I. Pengertian Apresiasi
Apresiasi seni ialah suatu proses penghayatan karya seni yang diamati dan penghargaan pada karya seni itu sendiri serta penghargaan pada penciptanya. Dari sudut pandang bahasa, kata apresiasi (appreciation) dengan kata kerja to appreciate, artinya berarti menentukan atau menunjukkan nilai atau menilai, menilai bobot karya, menikmati dan akhirnya menghayati. Secara umum apresiasi dapat diartikan sebagai kesadaran menilai lewat penghayatan suatu karya.

Penghayatan dalam proses apresiasi harus dilakukan secara obyektif (tanpa prasangka). Mutu hasil sebuah apresiasi tergantung dari pengalaman dan intensitas kita dan pergulatan kita di dalam menghayati karya seni di banyak ivent dan ragam karya yang pernah kita lihat. Artinya makin sering kita melihat karya-karya seni (tertentu), maka pengalaman artistik dan estetik kita makin panjang dan wawasan kita makin bertambah, sehingga mutu apresiasi kita juga makin baik.

Oleh karena itu selain cara pandang antara pencipta seni dengan apresiator juga memiliki perbedaan, juga antara apresiator yang satu dengan yang lain juga punya penilaian yang berbeda karena pengalaman dan wawasannya juga berbeda.

II. Unsur-Unsur Apresiasi
Untuk mengapresiasi suatu karya seni rupa, berikut adalah unsur-unsur yang perlu diperhatikan:
·         Gaya
·         Teknik
·         Tema
·         Komposisi

III. Syarat Menjadi Apresiator yang Baik
Agar seseorang dapat menjadi apresiator yang baik, ia harus sadar dalam melakukan penghayatan dan penilaian serta menggunakan aspek logika dalam menentukan nilai suatu karya dengan melalui proses pengamatan-pemahaman-tanggapan-penilaian-dan berakhir pada penghayatan sebuah karya.
Menurut Verbeek, pengamatan tidak hanya menggunakan satu indra saja, melaikan memberdayakan seluruh pribadi, dunia kejiwaan yang terorganisir, pengetahuan, pengalaman, perasaan, keinginan sehingga totalitas penghayatan penuh arti.

IV. Mengapresiasi Karya Seni Rupa


Judul Lukisan: Pengemis (1974)
Pelukis : Affandi Koesoema
Gaya : Ekspresionis
Ukuran: 99 x 129 cm
Media: Cat Minyak di Atas Kanvas / Oil on Canvas

Lukisan Affandi ini menggambarkan seorang pengemis lewat gaya ekspresionisnya. Goresan-goresan abstrak yang mengalir menggambarkan penderitaan dan betapa rentanya pengemis tersebut. Pewarnaan coklat tua pada pengemis menampakkan ekspresi kerasnya kehidupan pengemis. Ditambah warna kuning membuat suasana semakin muram.
Pemilihan objek pengemis pada lukisan Affandi ini mengekspresikan bagaimana kehidupan masyarakat bawah baik dalam keadaan sosial maupun ekonomi. Pengemis yang dalam kehidupan sehari-hari sering direpresentasikan kalangan rendah yang selalu mengandalkan belas kasihan orang lain demi kelangsungan hidupnya digambarkan memiliki kehidupan yang sengsara dan keras.
Namun Affandi juga memberikan corak-corak abstrak di luar objek pengemis yang melukiskan kegiatan orang-orang di sekitar pengemis. Corak dan warna yang kuat membuat lukisan menjadi dinamis dan semakin menekankan suasana kemuraman dan penderitaan pengemis.

PENDIDIKAN SENIRUPA YANG ‘IDEAL’, ADAKAH?

1.   Latar Belakang
Berbicara mengenai pendidikan seni rupa, tidak lepas dari pengertian pendidikan itu sendiri. Education menurut Oxford Dictionary;
education
 Pronunciation:/É›djʊˈkeɪʃ(É™)n/
noun
[mass noun] the process of receiving or giving systematic instruction, especially at a school or university:a course of education
a process of teaching, training and learning, especially in schools or colleges, to improve knowledge and develop skills
(http://oald8.oxfordlearnersdictionaries.com/dictionary/education)
Sedangkan pendidikan menurut kamus besar Bahasa Indonesia sendiri berarti;
pendidikanpen.di.dik.an
[n] proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dl usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik
(http://kamusbahasaindonesia.org/pendidikan#ixzz1qHPhUiFy)
Tetapi jika kita berbicara mengenai pendidikan secara praktikal tentunya tidak bisa sedangkal itu merunut apa yang dituliskan dalam kamus. Kamus hanya berarti pengertian secara literal dari pendidikan itu sendiri. Pendidikan dapat berarti luas karena menyangkut manusia di dalamnya. Manusia adalah spesies (katakanlah begitu) yang amat kompleks, amat rumit, dan amat dinamis. Bukan hanya fisikalnya, kompleksitas juga terjadi di wilayah non-material dari manusi itu sendiri, seperti kesadaran (consciousness).
“As used here the term consciousness refers to all those attributes we usually associate with a sentient human such as thought, emotion, memory, awareness, intelligence, self- knowledge, a sense of being, and so on.” (Pepperel, 2003:13)
Jika kita semua mengamini hal itu maka kita akan dengan mudah berpendapat bahwa pendidikan juga haruslah seperti itu, haru kompleks, harus rumit, dan dinamis. Dalam hal apa? Pendidikan harusnya dapat menjangkau dimensi lain dari sekedar definisi, menjangkau dimensi lain dari sekedar tata aturan baku. Pendidikan harus dinamis sedinamis orang-orang yang berada di dalamnya.
Pendidikan bukan agama atau dogma yang tertutup dengan segala gugatan dan perubahan, pendidikan harusnya sebaliknya terbuka dengan segala perubahan yang terjadi. Lebih khusus lagi kita bicara mengenai pendidikan seni rupa. Pendidikan seni rupa mengusung sebuah keilmuan besar dalam wilayah seni dan rupa. Kedua hal yang juga tidak memiliki definisi tunggal, wilayah multi tafsir, yang sampai saat ini menimbulkan kebingungan dan kerancuan di sana-sini. Hanya orang-orang yang berada di lingkarannyalah yang kemudian akan menemukan alurnya, menikmati, melihat, bahkan ikut terseret.
Dunia seni berbeda dengan dunia lain seperti sains, dan sebagainya. Pendidikan seni juga kemudian menjadi wilayah yang sangat khusus, dengan problem yang khusus pula. Pendidikan seni adalah wilayah yang unik sehingga tidak semua orang dapat memahfuminya. Tidak masalah sesungguhnya, karena begitulah seni.
Jika kita lihat sejarah, lebih spesifik lagi, sekolah seni berawal di Barat sana, kita semua tahu Bauhaus sebagai pelopor institusi yang berpijak pada keilmuan seni rupa dan desain. Bauhaus adalah sekolah desain pertama yang didirikan di Weimar, Jerman oleh Walter Groupis di tahun 1919. Bauhaus menjadi sekolah desain paling ternama di abad ke-20. Gropius mengubah sekolah seni lokal menjadi Staatliches Bauhaus, sehingga kemudian menjadi pusat ide-ide mutakhir seni maupun desain. Selanjutnya Bauhaus pindah ke Dessau, dibuka pada 4 Desember 1926.
Bangunan barunya, mewakili cita rasa baru, gaya baru, era baru (new age), yang dirancang oleh Groupis yang juga merupakan kontributor penting era modern. Pada tahun 1932, Bauhaus akhirnya dibawa ke Berlin. Bauhaus baru tersebut menyediakan gaya hidup modern yang sangat lengkap bagi staff dan siswanya. Furniture, studio, hingga kantin menggunakan desain dari Marcel Breur, kepala workshop.
Lampu oleh Marianne Brandt. Gropius mengajak beberapa praktisi seni penting di era modern seperti Wassily Kadinsky, Johannes Itten, Paul Klee, dan Herbert Bayer. Sejarah pasca perang, Bauhaus menekankan pada satu gerakan modern pendekatannya kepada desain, sebuah dedikasi pada pure geometric form (bentuk geometris murni) yang berbasis pada bentuk lingkaran dan persegi, warna dasar merah, biru, dan kuning, material modern dan industrial technique.
Di Negeri sendiri kita punya Persagi yang didirika oleh tokoh seni rupa, bapak seni rupa modern S. Sudjojono. Di Persagi inilah kemudian pendidikan seni rupa kita terbangun. Bukan hanya diajari skill melukis, darwing, dan lain-lain tetapi juga diperkenalkan kepada wacana seni rupa, serta pembentukan karakter kesenimanan. S. Sudjojono yang dikenal dengan jiwa ketoknya (ekspresi dari jiwa) tersebut kemudian menjadi tokoh, pendidik, sekaligus role model bagi para siswanya. Yang kemudian menjadi cikal bakal ASRI atau sekarang lebih dikenal dengan ISI Jogjakarta. Dan hingga saat ini karakter, serta identitas kesenimannya masih terasa.

1.    Persoalan-Persoalan yang Dihadapi Dalam Dunia Pendidikan Seni Rupa di Indonesia

Dalam makalahnya, Prof. M. Dwi Marianto, dosen ISI Jogjakarta menyebutkan dengan nada kerasa bahwa pendidikan seni saat ini tengah menghadapi sebuah problem besar secara umum.
“Dunia pendidikan seni rupa dewasa ini rasanya sudah kehilangan rasa seninya. Dilihat dari cakrawala quantum, yang tergarap dan terasa hanyalah aspek partikelnya saja; aspek gelombangnya – rasa, ruh, kedalaman kualitas, atmosfer kreatifitasnya yang puitik – tidak mendapatkan ruang dan perhatian nan cukup. Sebagai ilustrasi, lembaga pendidikan seni kini sudah tak berbeda dari lembaga-lembaga pendidikan non-seni, karena sistem yang tersentralisasi dan tren sekarang mengkondisikan para pejabat dan staff pengajar harus menghabiskan energi, waktu, dan perhatian guna untuk mengerjakan formalisme akademik”. (Marianto, 2012:1)
Lebih jauh lagi menurutnya ritual-ritual akademik ini yang terus-menerus dilakukan dikhawatirkan akan mereduksi kualitas keilmuan dari seorang staff pengajar, dan berimbas pada kualitas anak didik serta penihilan aura kreatifitas akan berimbas pada kondisi stagnan kampus seni rupa, yang seharusnya tumbuh subur kreatifitas dan ide-ide mutakhir dalam bidang seni  dan desain.
“…creativity is in essence no different from any other thought process; creativity is thinking in general and thinking in general is creative. But creativity is not just about thinking — it is as much about doing, and creative acts are almost by definition productive acts in that they modify the world in some way. Creative thoughts alone are of little use or interest to anyone unless in some way expressed.” (Pepperel, 2003:13)
Secara garis besar dapat kita lihat bahwa persoalan tersebut telah menjadi isu umum di setiap sekolah seni rupa di Indonesia, yang sebaiknya bisa kita bersama mencari jalan keluar.
Problem lainnya yang bisa penulis lihat dari gejala-gejala yang terlihat adalah persoalan motifasi, bahwa tujuan pendidikan bukan hanya satu pihak memberi dan lainnya menerima, sebuah proses linear yang tertutup, tetapi juga persoalan memotifasi agar proses pengajaran menjadi dua arah atau based on discussion. Jadi teringat sebuah ungkapan terkenal yang diungkpakan oleh filsuf besar Aristoteles kepada para muridnya, ia berkata; saya bukan guru yang memberikan ilmu, saya adalah layaknya seorang bidan yang membantu anda sekalian melahirkan pemikiran-pemikiran hebat.
Terakhir yang menurut penulis cukup penting untuk dibahas adalah persoalan dunia profesi. Dalam seni rupa khsususnya seni rupa murni persoalah keprofesian akan menjadi isu yang rumit sekaligus membingungkan. Bagaimana menjadi seniman setelah lulus nanti? Atau bagaimanan menjadi seniman yang terkenal? Bagaimana sekolah memfasilitasi kesenimanan saya nanti? Sesungguhnya pertanya-pertanyaan itu kerap menguak. Lalu apa yang harus dilakukan? Dunia profesi dalam hal ini adalah sebuah wilayah yang harus dekat dengan lembaga pendidikan karena dunia profesi inilah tempat pertaruhan lulusan juga reputasi lembaga itu sendiri. Seorang pengajar dalam hal ini memiliki tugas beratnya sebagi role model yang kemudian akan ditiru anak-anak didiknya kelak. Hal seperti ini telah berlangsung dan akan terus seperti itu. Sebuah tanggung jawab yang berada di atas pundak kita para pengajar.

2.    Pendidikan dan Kapital

Kapital memang merupakan aspek penting dalam penyelenggraan pendidikan, terutama lembaga pendidikan seperti sekolah. Kapital juga adalah kewajaran dalam segala lini kehidupan hari-hari ini. Kapital sendiri bermakna sebagai modal pokok dalam perniagaan, yang berarti proses menghasilkan modal guna menjalankan sebuah proses dalam hal ini pendidikan. Sebagai sebuah lingkaran mutualisme antara penyelenggaraan pendidikan untuk menghasilkan modal untuk kembali dapat menyelengrakan proses pendidikan. Sebuah hubungan ideal mutualisme inilah yang kemudian harus menjadi basic capital dalam lembaga pendidikan.
Kapital sendiri dibedakan menjadi 4 kategori, diantarnya;
§  Financial capital, which represents obligations, and is liquidated as money for trade, and owned by legal entities. It is in the form of capital assets, traded in financial markets. Its market value is not based on the historical accumulation of money invested but on the perception by the market of its expected revenues and of the risk entailed.
§  Public capital, which encompasses the aggregate body of government-owned assets that are used to promote private industry productivity, including highways, railways, airports, water treatment facilities, telecommunications, electric grids, energy utilities, municipal buildings, public hospitals and schools, police, fire protection, courts and still others.
§  Natural capital, which is inherent in ecologies and protected by communities to support life, e.g., a river that provides farms with water.
§  Spiritual capital, which refers to the shower, influence and dispositions created by a person or an organization’s spiritual belief, knowledge and practice.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Capital_%28economics%29)
Dilihat dari kategori di atas dapat kita jadikan psoses kapital dalam pendidkan ke arah Public Capital, atau sebuah layanan jasa kepada masyarakat. Kapital model ini tentunya harus pula melibatkan respon masyarakat, serta pemerintah dalam hal ini untuk dapat berperan aktif sebagai penjaga nilai.
Kapital yang kita maksud tentunya masih dalam tataran penjaga nilai-nilai sebagai salah satu bagian terpenting dari sebuah lembaga pendidikan. Kapital dalam hal ini dipertimbagkan sebagai bahan bakar katakanlah demikian, agar penyelenggrakan pendidikan dapat berjalan baik. Agar lembaga pendidkan mampu berdiri sebagai media public improvement, sumbangan terhadap masyarakat dunia  dan kebudayaan pada umunya.
Kapital adalah alat untuk meningkatkan mutu anak didik, mengembangkan keilmuan, berkontribusi penuh dalam peradaban, seni, dan keilmuan secara lebih luas.

3.    Menumbuhkan Paradigma  Baru Sebagai Solusi

Dalam makalahnya, Dolorosa Sinaga mengungkapkan solusi-solusi sebagai sebuah paradigma baru dalam mengatasi berbagai macam problematika dalam pendidikan senirupa di Indonesia.  Sinaga menyebutkan diantaranya;
a.     Membentuk Asosiasi Perguruna Tinggi Seni Rupa Indonesia dengan tujuan membangun sinergi dengan pemerintah untuk melakukan perubahan yang signifikan dalam pendidikan senirupa Indonesia. Mengajak pemerintah untuk mendukung program revitalisasi, terutama dalam mengantisipasi perubahan sosial budaya yang terjadi di masyarakat.
b.     Membangun kurikulum yang lebih kontekstual dan bersifat reciprocal dalam kaitannya dengan kemajuan teknologi dan perkembangan praksisi seni rupa.
c.     Mencari paradigma baru dalam melakukan pengajaran, pendidikan, dan trasformasi pengetahuan, baik yang bersifat teori maupu praktek: program kuliah live-in, program kuliah interaktif lokal dan internasional, yang memperkenalkan subyek pengetahuan lain yang bisa punya kaitan dengan bidang seni rupa, dan mendorong kerja kreatif interdisipliner.
d.     Membentuk identitas seniman sebagai warga dunia yang mengakar pada bumi budaya negerinya, pada nilai kemanusiaan, pada nilai etika, nilai kesetaraan dan nilai kemerdekaan.
Mungkin itulah yang memang haru kita semua pertimbangkan dalam uaya meningkatkan, mamajukan, dan menjadikan pendidikan senirupa sebagai dalam satu track besar guna perannya dalam peradaban manusia.

4.    Sumber
(1999): Teaching Art Since 1950, National Gallery of Art, Washington
Barnard, A, Spencer, J (1996): Enciclopedia of Social and Cultural Antropology, Routledge, London
Lacey, A (1976): Dictionary of Philosophy, Routledge, New York
Pepperel, R (2003): The Posthuman condition, Consciousness Beyond the Brain, Intellect, Bristol
Sugiharto, B (2008): Seni, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, Epistetika
Marianto, D (2012): Dimana Rasa dan Sikap Kritis Dunia Pendidikan Seni, Makalah untuk Seminar Nasional: Kondisi Global, dikaji dari pandanga dunia pendidikan
Sinaga, D (2012): Mencari Paradigma Baru Pendidikan Seni Rupa, Makalah untuk Seminar Nasional: Kondisi Global, dikaji dari pandanga dunia pendidikan
http://kamusbahasaindonesia.org/pendidikan#ixzz1qHPhUiFy
kamusbahasaindonesia.org/pendidikan#ixzz1qHPhUiFy
http://en.wikipedia.org/wiki/Capital_%28economics%29

Komputer dan Seni Musik


Untuk menghasilkan suatu karya musik yang indah, tidak hanya dibutuhkan kepiawaian senimannya. Kini komputer telah menunjukkan perannya dalam membantu manusia guna mewujudkan karya yang indah. Hal ini dapat berupa sound effect, recording, maupun dalam music arranger. Kali ini akan dibahas sedikit mengenai music arranger.

Komputer dan Seni Rupa


Banyak manfaat yang telah diberikan oleh komputer dalam hal Seni Gambar atau picture atau image. Manusia banyak di bantu dalam berbagai hal yang meliputi proses membuat gambar (Creating image), Mengubah gambar (image Processing), Menyajikan Gambar (image Presenting).
Gambar yang diproses secara komputerisasi diatas dapat berupa gambar apa saja dalam berbagai bentuk dari 2 dimensi hingga 3 dimensi. Dalam menggambar dengan sistem komputer, gambar dibedakan datarn beberapa format yaitu:
  • Web Pages (HTML) supports two types of image files
  • GIF ‑ Graphics Interchange Format yaitu format untuk gambar yang dibentuk oteh berbagai garis dan hanya menggunakan beberapa warna.
  • JPEG (JPG) ‑ Joint Photographic Experts Group yaitu format untuk gambar yang dibentuk oleh banyak warna dan spectrum sepeti foto.
                  
Format gambar di tentukan oleh jurntah warna yang membentuknya. Berikut adalah klasifikasi gambar berdasarkan warna yang membentuknya.
          * 16 colors (GIF)
          * 256 colors (GIF or JPG)
          * 16 million (JPG)
         
Foto (dalam format JPEG) yang diproses, memitiki berbagai format
yaitu:      BMP ‑ bitmap
               TIF ‑ Tagged Image Fite Format
               PCX ‑ Zsoft Paintbrush
               WMF ‑ Windows MetaFile
               etc., etc., etc


CREATING IMAGE
Menciptakan gambar dengan komputer adalah menggarnbar dengan basis titik, garis dan bangun. Hingga Saat ini telah banyak software dan hardware yang diciptakan untuk membuat gambar. Diantaranya adalah:
‑ Paint Et Draw Programs Paint
‑ Microsoft Paint
‑ L view Pro
- Paint Shop Pro
‑ Core[ Photo‑Paint Draw
‑ PowerPoint
‑ Core[ Draw

Biasanya, software ‑ software tersebut bukan hanya untuk proses creating tetapi juga sekaligus untuk editing atau image processing.



Tentunya banyak keuntungan yang didapat dengan menggambar menggunakan komputer. Misalnya :
1. Tidak dibutuhkan ruang yang besar untuk meja gambar
2.  Tidak menimbulkan sampah kertas karena kesalahan dapat di perbaiki di layar komputer.
3. Dapat diciptakan gambar yang sangat sulit di buat manusia. Dalam proses ini manusia sebagai Brainware diharapkan memiliki kernampuan untuk operasional misainya: Resizing an image, Cropping an image, Capturing an image, Adding text, Using Paint/Draw functions,dan Applying Filters

Komputer dan Arsitektur
          Kernudahan menggambar dengan teknik komputer juga dirasakan          pada  bidang arsitektur. Kini desain bangunan dapat di buat dalam perspective 3 dimensi bahkan berbentuk animasi. Selain itu design yang dibuat pun           tampak sangat nyata. Pada umumnya design yang dibuat dengan komputer sangat mirip dengan bangunan yang telah terealisasi. Software yang digunakan misalnya ArchiCAD dan Paralelo

Selain itu hal yang paling menakjubkan adalah, dengan komputer keindahan dan kecanggihan tekbologi berpadu. Dengan software tertentu seorang arsitek dapat membuat design bahkan blueprint yang indah dan sekaligus disertai dengandetail perhitungan konstruksi. Hal ini sangat membantu para awam untuk memahami design yang dibuat. Dari segi ekonomi pun, rancangan anggaran dapat dirancang secara lebih efisien. Kini telah hadir pula design perspektif 4dimensi yang di sajikan dalam bentuk animasi. Hal ini akan sangat meningkatkan efisiensi jika dibandingkan dengan membuat maket.




Image Processing
Setelah menciptakan gambar , komputer juga memiliki kemampuan untuk memproses gambar yang telah dibuat. Proses ditakukan dengan berbagai tujuan namun tujuan utamanya adalah mencapai keindahan yang mernuaskan. Gambar atau image yang diproses dapat berupa gambar yang dihasilkan dengan komputer maupun sumber lain seperti:
‑ Clip Art files, Web Pages
‑ Scanning
‑ Prints, negatives, 35mm slides
‑ Digital Cameras
‑ Draw an image from scratch
         
Contoh Software yang digunakan untuk kepentingan ini misalnya:
·      Paint (Untuk proses pewarnaan)
·      Microsoft Paint
·      Lview Pro
·      Paint Shop Pro
·      Core [ Photo‑Paint ]
·      Draw (Untuk Proses menggambar)
·      PowerPoint
·      Core( Draw
·      ACDsee

Dalam proses image processing, image yang di ciptakan dengan komputer lebih mudah diciptakan karena hanya dibentuk oleh titik dan garis berskala. Berbeda dengan image berupa foto, sulit dan rumit diproses karena dibentuk oleh pixel.

PRESENTING AN IMAGE
Setelah diciptakan , hasil karya seni yang telah dibuat kemudian akan disajikan dalam berbagai wujud. Untuk itu dibutuhkan berbagai hardware untuk merealisasikan karya seni ini. Printer adalah contoh yang sangat sederhana. Perkembangan printer terus mengalami kemajuan. Salah satunya adalah large scale printer Yang biasanya digunakan untuk mencetak image datam skala besar.