Friday, July 26, 2013

Membuat Kriya Keramik dengan Teknik Putar



Teknik Putar


Membuat karya dengan tehnik putar adalah pembuatan karya yang sangat sulit dan sangat menguras tenaga, pikiran, ketekunan dan kesabaran.

Karena membuat karya dengan tehnik ini memang sepertinya mudah tapi aslinya sangat susah.

Tanah yang sudah siap pakai kita taruh di meja putar. Kita buat bola tanah kemudian letakkan dibagian tengah meja dan agak tekan bagian tengahnya.

Kemudian dengan tangan yang sudah dibasahi, kita mulai membentuk dengan memutar meja perlahan. Siku kita tumpukan pada lutut agar menjadi penahan agar tangan tidak bergoyang.

Dalam keadaan meja berputar (pelarik) kita bentuk tanah liat naik keatas kemudian turunkan kembali. Ini dimaksudkan agar tanah menjadi benar-benar bersatu dan agar tanah bisa menjadi lebih plastis.

Kemudian tanah tengahnya dibentuk lubang dengan menggunakan ibu jari kita. Perlahan sambil posisi tanah dinaikkan keatas jika kita ingin membentuk karya yang tinggi dan kita tekan tanah kebawah jika kita ingin membuat karya yang rendah. Selama pembentukan itu, kita menggunakan ibu jari dengan posisi di dalam dan untuk penahannya kita gunakan empat jari yang berada diluar. Kita mulai bentuk tanah tersebut menjadi karya yang kita inginkan.

Kita juga bisa memotong bagian atas karya apabila tidak diinginkan karena tidak rapih atau karena alas dan apapun dengan menggunakan senar/kawat/benang.

Untuk pembuatan karya dengan tehnik putar, kita harus benar-benar hati-hati dan sabar. Kunci utama pembuatan karya dengan tehnik ini adalah sabar dan tidak tergesa-gesa agar karya bisa menjadi karya yang baik.

Untuk karya dengan tehnik putarpun semakin tipis karya maka karya itu menjadi semakin baik.

Setelah selesai, karya kita pindah dari meja pelarik dengan menggunakan kawat untuk diangin-anginkan selama satu malam. Setelah tanah agak kering dan agak kuat, bagian bawah karya yang tadinya rata, kita bentuk menjadi seperti tumpuan agar apabila dibakar karya tidak lengket atau menempel.














Membuat Kriya Keramik dengan Teknik Pilin





Karya Teknik Pilin




Membuat karya dengan teknik pilin memang membutuhkan ketekunan dan kesabaran lebih dari tehnik pijat.

Tanah siap pakai kita ambil sedikit, kemudian kita buat pilinan hingga membentuk pilinan tanah liat yang panjang dan untuk menempelkan pilinan tersebut, kita harus mengguankan bubur tanah liat yang bias kita buat sendiri.

*Cara membuat bubur tanah liat.
Kita campur tanah liat dengan air yang lumayan banyak tetapi jangan terlalu banyak agar tanah tidak terlalu encer seperti air namun menjadi bubur yang bisa merekatkan tanah liat pilinan yang ingin kita rekatkan dengan bubur tanah liat ini.

Kita bentuk pilinan tersebut menjadi sebuah karya yang sekali lagi dengan patokan karya harus bisa digunakan atau karya fungsional.

Untuk menempel sisi dan untuk menyambung pilinan, kita harus menggunakan bubur tanah liat agar apabila karya sudah kering, karya tidak akan lepas atau hancur, atau copot atau lain sebagainya yang tidak kita inginkan.

























Beberapa karya tehnik pilin lainnya..







Kriya Keramik, Tanah Liat



Kriya dalam konteks masa lampau dimaknai sebagai suatu karya seni yang unik dan karakteristik yang didalamnya mengandung muatan nilai estetik, simbolik filosofis dan fungsional serta ngrawit dalam pembuatannya.

Adapun kriya dalam masa kini merupakan hasil kreasi generasi yang mengambil manfaat dari kriya masa lampau yang “dimodifikasi” dalam berbagai variasi dengan didasari oleh pikiran-pikiran yang tumbuh sebegai gagasan personal yang diekspresikan dalam wujud karya seni personal maupun gagasan yang sifatnya kolektif untuk kepentingan ekonomi komersial.


Kriya Keramik

Kata keramik berasal dari bahsa  Yunani “Keramos” yang berarti : Periuk atau Belangga yang dibuat dari tanah. Sedang yang dimaksud dengan barang atau bahan keramik ialah: semua barang atau bahan yang dibuat dari bahan-bahan tanah atau batuan silikat yang proses pembuatannya melalui pembakaran pada suhu tinggi.

Tanah liat sebagai bahan pokok untuk untuk pembuatan keramik, merupakan salah satu bahan yang kegunaannya sangat menguntungkan bagi manusia karena bahannya yang mudah didapat dan pemakaian hasil jadinya yang sangat luas. Juga sifat tanah liat yang sangat menguntungkan adalah mudah dibentuk bila tanah liat ini telah dicampur dengan air dalam perbandingan tertentu. Jika campurannya pas, tidak lebih ataupun kurang, maka sifat tanah itu akan plastis.


PROSES PEMBUATAN KRIYA KERAMIK

Sebelum kita membahas bagaimana proses pembuatan karya kriya dengan berbagai tehnik, lebih baik kita bahas dulu tentang tanah liat.

Tanah liat yang kita gunakan bisa dari tanah liat kering ataupun yang basah.


Tanah Liat Basah



Tanah Liat Kering

Tanah liat yang kering kita hancurkan hingga menjadi halus atau bisa juga hingga menjadi debu. Lalu kita ayak dan kita campur dengan air secukupnya. Kita aduk hingga merata dan tanah liat itu kita diamkan selama minimal satu malam.

Tanah liat yang sudah basah atau sudah tinggal pakai kita taruh di meja gips. Dan kita uli tanah tersebut hingga air yang berlebih terserap meja dan gelembung udara yang ada dalam tanah bisa terbuang.

Proses Menguli



Proses Menguli



Proses Menguli



Selain diuli tanah juga harus dipukul-pukul dan dibanting agar udara yang terkandung dalam tanah benar-benar hilang.

Cara lain juga tanah bisa di potong-potong dengan senar kemudian diuli kembali.

Ini dimaksudkan agar tanah liat memiliki sifat plastisitas, homogen, bebas dari gelembung udara, dan memiliki kemampuan bentuk.

Plastisitas.
Plastisitas tanah merupakan syarat utama agar tanah bisa dibentuk sesuai dengan keinginan kita. Dan fungsi plastisitas sendiri adalah sebagai pengikat dalam proses pembentukan sehingga karya kita nantinya tidak mudah retak, berubah atau runtuh.

Homogen.
Campuran masa tanah harus homogen, maksudnya plastisitasnya merata dan tidak ada yang keras atau lembek.

Bebas dari gelembung udara.
Tanah harus bebas dari gelembung udara, karena jika masih ada gelembung udara dalam tanah liat bisa menyulitkan kita dalam proses pembentukan. Juga menimbulkan masalah ketika proses pengeringan atau pembarakan. Karena karya kita bisa retak atau pecah.

Memiliki kemampuan bentuk.
Tanah harus memiliki kemampuan bentuk yang berfungsi sebagai penyangga sehingga tidak mengalami perubahan bentuk pada waktu proses pembentukan atau setelah pembentukan selesai.

Setelah tanah siap seperti ini, kita tinggal buat karya dengan beberapa tehnik yang akan ku bahas. Misalnya Teknik Pijat, Teknik Pilin, Teknik Lempeng atau Slab, Teknik Putar.

DP

Grafis - Dry Print, Cetak Dalam




Dry Print
Dry print adalah salah satu tehnik dalam grafis. Dengan menggunakan alat pencetak, seperti gilingan.
Penampakannya seperti ini..
 Alat Penggiling

Alat Penggiling

Sebelum dicetak, kita harus sudah membuat master yang akan dicetak pada kertas. Tidak seperti tehnik grafis lainnya, dry print menggunakan master pada seng.

 Seng
Master

Seng kita gambar dengan menggunakan benda runcing, seperti paku atau sejenisnya. Tehnik ini juga termasuk ke dalam tehnik cetak dalam. Setelah itu, master kita beri tinta. Namun tipis saja dan tinta yang tidak diperlukan (tinta yang tidak pada objek gambar) dihapus hingga bersih. Agar hasil cetakan tidak kotor.

Kita siapkan juga kertas yang sudah dibasahi, jangan sampai terlalu basah. Hanya lembab saja sudah cukup. Ini dimaksudkan agar kertas dan master bisa menempel ketika digiling.

Letakkan atau tempelkan master pada kertas (sama seperti mencetak pada tehnik grafis lainnya), yang menjadi perbedaan pada tehnik ini hanyalah, kita harus menggilingnya agar tinta tercetak pada kertas. Sedangkan pada tehnik lainnya kita hanya menggosoknya hingga tinta tertempel pada kertas. Giling, giling, giling! Jadi!!

Karya Dry Paint

Yang perlu diperhatikan adalah kebersihan dari kertas atau seng sangatlah mempengaruhi kerapihan karya kita. Kerikil sekecil apapun bisa menjadi pembuat lubang pada kertas. Karena ketika kita menggiling, makin keras atau kencang menjepit kertas dan master, maka semakin bagus pula hasilnya.
Ini ada beberapa contoh karya dry print.

Karya Dry Paint

Karya Dry Paint



Karya Dry Paint




DP

Teknik-Teknik Membuat Patung



Patung Kodok


Membuat PatungTeknik 1


1.         Siapkan tanah liat atau plastisin.
2.         Siapkan alat bantu butsir dan air.
3.         Siapkan meja putar (kalau ada).
4.         Siapkan gambar rancangan patung.
5.         Tempatkan tanah liat atau plastisin diatas meja putar sedikit demi sedikit.
6.         Pijat-pijat bahan hingga mendekati bentuk yang diinginkan secara global.
7.         Jika bahan kurang  bias ditambah, sebaliknya bila berlebih bias dikurangi.
8.         Sempurnakan bentuk dengan alat bantu.
9.         Berikan sentuhan akhir dengan pembentukan detail patung dan dihaluskan.


Teknik 2

1.         Langkah 1
-            Siapkan balok kayu sesuai dengan ukuran pola yang kita gambar.
-            Pindahkan gambar/pola di atas permukaan kayu. Gambar pola pada kayu kelihatan dari semua sisi (atas, bawah, samping kiri, kanan, depan, belakang).
2.         Langkah 2
-      Berilah selotip melingkar pada balok. Selotip ini berfungsi sebagai pengikat jika dilakukan pemotongan/kayunya sambungan. Tetapi, jika dipahat langsung tidak perlu menggunakan selotip.
3.         Langkah 3
-            Lakukan pemotongan dengan menggunakan gergaji dari empat sisi.
-            Pembentukan sedikit demi sedikit hingga mendekati bentuk global.
4.         Langkah 4
-            Buatlah bentuk global.
-            Bandingkan dengan gambar/pola. Usahakan mendekati bentuknya.
-            Gosoklah dengan menggunakan kertas gosok atau amplas.
-            Penggosokan dilakukan dengan dua tahap:
Menggunakan amplas no. 150.
Menggunakan amplas no. 250 atau 400
5.         Langkah 5
-            Lanjutkan dengan membuat detail bagian bagiannya.
-            Haluskan dengan amplas lagi.
6.         Langkah 6
-            Difinishing dengan menggunakan cat akrilik atau melamin.


Teknik 3

1.         Siapkan semen dan pasir yang sudah disaring.
2.         Siapkan cetakan, ember, sendok adonan, dan tali karet.
3.         Cetakan diikat dengan tali karet.
4.         Siapkan adonan semen, pasir dan air secukupnya.
5.         Tuangkan adonan kedalanm cetakan hingga penuh.
6.         Rendam didalam air selama +- 2 hari.
7.         Buka ikatan tali karet dan cetakan secara perlahan-lahan.
8.         Sentuhan akhir patung dihaluskan.


Teknik 4

1.         Siapkah bahan besi, kawat, semen dan pasir halus.
2.         Siapkan alat gergaji besi, kaka tua, sendok semen dan ember.
3.         Siapkan gambar rancangan patung.
4.         Potonglah besi dengan gergaji besi sesuai dengan gambar rancangan patung. dan diikat dengan kawat diatas papan.
5.         Bentuk besi menjadi kerangka sesuai gambar rancangan patung dan diikat dengan kawat diatas papan.
6.         Siapkan adonan semen, pasir dan air secukupnya.
7.         Lepakan adonan pada bagian p[aling bawah menuju keatas sedikit demi sedikit.
8.         Sempurnakan bentuk patung dengan membuat detailnya.
9.         Untuk sentuhan akhir patung dapat  diwarnai polos atau sesuai rencanamu.


Setelah kalian mencoba berbagai teknik diatas ternyata dapat ditarik kesimpulan, bahwa teknik 1 disebut teknik membutsir yaitu dilakukan dengan cara memijit, menambah dan mengurangi bahan yang dibentuk, dengan dibantu alat butsir. Membuat patung dengan cara membutsir biasanya mempergunakan bahan tanah liat atau plastisin.



Alat Butsir


Alat Butsir


Sedangkan pada teknik 2 adalah teknik memahat, berbeda dengan teknik membutsir yang dapat dilakukan dengan memijit, menambah, dan mengurangi, dalam teknik memahat hanya dapat dilakukan pengurangan. Biasanya yang dipahat bahan yang cukup padat seperti kayu atau batu.


Alat Pahat


Alat Pahat


Alat Pahat


Pada teknik 3 disebut teknik mencetak. Dalam teknik mencetak biasanya digunakan teknik cetak tuang atau cor. Bahan yang dipergunakan untuk teknik ini umumnya cair atau bahan yang dapat dicairkan. Misalnya semen, gips, fiberglass, perunggu atau emas.

Patung Cetak
Teknik 4 adalah teknik kontruksi, yaitu membuat patung dengan cara menyusun bahan, baik dengan kerangka ataupun tanpa kerangka, cara menyusunnya dapat direkatkan dengan lem, dilepa, atau dilas/dipatri. Bahan yang dipergunakan dapat berupa semen, pasir, kawat, besi, plastisin, bubur kertas, atau bahan bekas.

Patung Konstruksi








Jenis Bahan, Sablon, Jahitan dan Proses Washing






©  BAHAN:
Cotton Combed (CC) 20′s, 30′s dan 40′s
  • bahan baku utama dari cotton ini adalah kapas. Kapas lantas dijadikan serat benang yang halus. Hasil berupa rajutan dan tentunya bahan ini lebih rata.
  • Javacustom menyediakan 3 macam bahan cotton combed yaitu: CC 20′s, CC 30′s, CC 40′s. semakin bertambah angka pada jenis cotton tersebut berarti semakin tipis kain tersebut.