Thursday, November 25, 2021

Pengimbasan Bimtek Literasi dan Numerasi

 Pengimbasan ini penting untuk menyebarluaskan apa yang sudah didapat selama mengikuti bimtek. Peserta bimtek literasi numerasi dapat menularkan, mengajak, mengimbaskan kepada guru-guru lain. Pengimbasan dapat dilakukan pada komunitas guru menurut mata pelajaran ataupun komunitas belajar lainnya. Dengan pengimbasan harapannya Peserta bimtek literasi numerasi yang sudah berhasil mengikuti dengan baik dapat mengimbaskan ilmu yang Peserta bimtek peroleh kepada teman-teman yang belum berkesempatan untuk mengikuti diklat ini.

Karakteristik peserta

Karakteristik peserta yang mengikuti Pengimbasan Bimtek Literasi dan Numerasi.

Sasaran peserta
Sasaran peserta pengimbasan Bimtek Literasi dan Numerasi adalah rekan Guru di sekolah saya mengajar (luring) dan juga masyarakat umum (daring).

Jenis kegiatan
Bimtek Literasi dan Numerasi

Tempat kegiatan
Sekolah saya mengajar (luring) dan juga masyarakat umum (daring)

Karakteristik peserta
Karakteristik peserta Pengimbasan Bimtek Literasi dan Numerasi adalah beragam, baik usia, mata pelajaran yang diampu, jenis kelamin dan latar belakang pendidikannya.

Latar belakang pendidikan peserta
Latar belakang pendidikan peserta Pengimbasan Bimtek Literasi dan Numerasi rata-rata minimum adalah Sarjana.

Instansi (sekolah) mana berasal
Peserta Pengimbasan Bimtek Literasi dan Numerasi berasal dari Sekolah saya mengajar (luring) dan juga masyarakat umum (daring) melalui kanal YouTube.

Materi pengimbasan

Materi pengimbasan membahas modul ke-1
Modul 1 yang berjudul Konsep Dasar Literasi dan Numerasi, membahas tentang 
  1. konsep dasar literasi, 
  2. konsep dasar numerasi, 
  3. perkembangan literasi, 
  4. perkembangan numerasi, dan 
  5. pemrofilan literasi anak.
Pembahasan lebih dalam:
  • 1A. Konsep Dasar Literasi. Miskonsepsi Konsep Dasar Literasi Numerasi. Definisi, Konsep dan Makna Literasi dalam Lintasan Waktu. Studi Kasus Konsep Dasar Literasi. 
  • 1B. Konsep Dasar numerasi. Miskonsepsi Konsep Dasar Numerasi. Konsep numerasi. Studi Kasus Konsep Dasar numerasi. 
  • 1C. Perkembangan literasi. Miskonsepsi Perkembangan literasi. Konsep Perkembangan literasi. Studi Kasus Perkembangan literasi. 
  • 1D. Perkembangan Numerasi. Miskonsepsi Perkembangan Numerasi. Konsep Perkembangan Numerasi. Studi Kasus Perkembangan Numerasi. 
  • 1E. Proses Pemrofilan Perkembangan Literasi. Miskonsepsi Proses Pemrofilan Perkembangan Literasi. Konsep Proses Pemrofilan Perkembangan Literasi. Studi Kasus Proses Pemrofilan Perkembangan Literasi.
Materi pengimbasan membahas modul ke-2
Modul 2 yang berjudul Implementasi Literasi dan Numerasi Berbasis Kelas, membahas tentang 
  1. Implementasi Literasi dan Numerasi di kelas, 
  2. Implementasi Literasi dan Numerasi  tematik, 
  3. Implementasi Literasi dan Numerasi berbasis mata pelajaran, dan 4. Penyusunan program literasi dan numerasi di sekolah.
Pembahasan lebih dalam:
  • 2A. Implementasi Literasi dalam Pembelajaran. Miskonsepsi Implementasi Literasi dalam Pembelajaran. Konsep Implementasi Literasi dalam Pembelajaran. Studi Kasus Implementasi Literasi dalam Pembelajaran. 
  • 2B. Implementasi Numerasi dalam Pembelajaran. Miskonsepsi Implementasi Numerasi dalam Pembelajaran. Konsep Implementasi Numerasi dalam Pembelajaran. Studi Kasus Implementasi Numerasi dalam Pembelajaran. 
  • 2C. Penyusunan Program Literasi dan Numerasi berdasarkan Profil Peserta Didik. Miskonsepsi Penyusunan Program Literasi dan Numerasi berdasarkan Profil Peserta Didik. Konsep Penyusunan Program Literasi dan Numerasi berdasarkan Profil Peserta Didik. Studi Kasus Penyusunan Program Literasi dan Numerasi berdasarkan Profil Peserta Didik.
Materi pengimbasan membahas modul ke-3
Modul 3 yang berjudul Praktik Baik Penyelenggaraan Literasi dan Numerasi, membahas tentang 
  1. Literasi dan numerasi pada Keluarga, 
  2. Literasi dan numerasi di Sekolah, dan 
  3. Literasi dan Numerasi  di masyarakat.
Pembahasan lebih dalam:
  • 3A. Praktik Baik Literasi dan Numerasi di Sekolah. Miskonsepsi Praktik Baik Literasi dan Numerasi di Sekolah. Konsep Praktik Baik Literasi dan Numerasi di Sekolah. Studi Kasus Praktik Baik Literasi dan Numerasi di Sekolah. 
  • 3B. Praktik Baik Literasi dan Numerasi di lingkungan keluarga. Miskonsepsi Praktik Baik Literasi dan Numerasi di lingkungan keluarga. Konsep Praktik Baik Literasi dan Numerasi di lingkungan keluarga. Studi Kasus Praktik Baik Literasi dan Numerasi di lingkungan keluarga. 
  • 3C. Praktik Baik Literasi dan Numerasi di masyarakat. Miskonsepsi Praktik Baik Literasi dan Numerasi di masyarakat. Konsep Praktik Baik Literasi dan Numerasi di masyarakat. Studi Kasus Praktik Baik Literasi dan Numerasi di masyarakat.

Pada video di atas hanya berupa peta materi pengimbasan saja yang ditampilkan. Adapun materi selengkapnya, yang didapat saat bimtek dapat disesuaikan untuk dipresentasikan atau dibagikan secara langsung kepada peserta pengimbasan.

Hikmah pengimbasan

1. Materi yang dipahami
Saya cukup memahami sebagian besar materi bimtek, baik di modul 1, modul 2, dan modul 3.

2. Apa yang dilakukan untuk lebih memahami materi
Untuk lebih memahami materi bimtek, saya melakukan pencarian materi penunjang dari referensi lain baik melalui internet maupun melalui pencarian bahan bacaan secara offline. Langkah kedua saya berdiskusi dengan rekan-rekan guru baik di sekolah maupun di forum komunitas di media sosial bahkan di LMS Bimtek sehingga saya mendapat tambahan ilmu, tambahan pengetahuan dan pemahaman juga tambahan teman.

3. Materi apa yang ingin didalami lebih lanjut
Saya ingin memperdalam pemahaman materi tentang bagaimana cara mengimplementasikan praktik baik literasi numerasi ke dalam kolaborasi beberapa mata pelajaran.

4. Mengapa materi tersebut ingin didalami lebih lanjut
Praktik baik literasi numerasi ke dalam kolaborasi beberapa mata pelajaran sangat diperlukan.

Sunday, March 29, 2020

Alat Musik Tradisional

Modul ini dipergunakan untuk Pembelajaran Daring / Belajar Dari Rumah.


Petunjuk Pembelajaran

  1. Siapkan modul pada kegiatan pembelajaran alat musik tradisional
  2. Bacalah dengan cermat dan teliti tentang alat musik tradisional Nusantara
  3. Catatlah poin-poin penting tentang jenis, simbol, makna, apresiasi, dan lainnya.

Indikator Pencapaian Kompetensi

  1. Mampu mengidentifikasi alat musik tradisional
  2. Mampu mengidentifikasi teknik dan gaya bermain alat musik tradisional
  3. Mampu mengkorelasikan makna, simbol musik tradisional


Uraian Materi 1 : Musik Tradisional

Sebelum membahas apresiasi dan penilaian estetis, terlebih dahulu perlu dijelaskan tentang musik tradisional secara singkat. Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat dalam file berikut:
Uraian Materi 1 : Musik Tradisional
Uraian Materi 1 : Fungsi Musik Tradisional


Uraian Materi 2 : Apresiasi dan Penilaian Estetis Musik Tradisional

Apresiasi seni adalah menikmati, menghayati, memahami, memaknai, menghargai dan merasakan kesenangan pada karya seni. Apresiasi terbagi dua macam yaitu apresiasi aktif dan apresiasi pasif. Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat dalam file berikut:

Rangkuman
Rangkuman dari materi pada Kegiatan Belajar ini dapat dilihat pada lampiran berkas berikut:


Tugas

Anda telah mempelajari materi pada Kegiatan Belajar ini. Tunjukkan bahwa Anda telah menguasai materi dengan menyelesaikan tugas berikut ini!

Tuesday, September 27, 2016

Siswa SMK MUTU Belajar Membatik

SALAM BUDAYA !!!

Hampir semua orang sudah tau tentang Batik. Tapi hanya segelintir orang yang mengerti proses pembuatan batik yang cukup panjang. Karena praktik membatik tak selalu diajarkan di setiap sekolah, padahal jika mau memelajarinya pasti akan terasa mudah dan menyenangkan. Seperti halnya siswa SMK Muhammadiyah 1 Gresik jurusan Akuntansi kelas XI kali ini belajar membuat batik yang diaplikasikan menjadi taplak meja. Tak hanya mahir dalam akuntan yang diajarkan setiap harinya untuk bekal terampil dan siap kerja, mereka pun terampil dalam membuat batik yang indah. Pembelajaran membatik ini merupakan kegiatan praktik Mata Pelajaran Seni Budaya, pada kompetensi dasar merancang dan membuat karya seni rupa terapan dengan materi pokok ragam hias.
Siswa kelas XI akuntansi SMK Muhammadiyah 1 Gresik telah melalui proses yang panjang dalam pembuatan batik, dimulai dari proses pembuatan pola/motif pada kain mori (molani) secara berkelompok. 

Hmmm... Bingung Nih.... MAu Nggambar Apa Ya... ???? 

Dimulai dari mana ini ... ????

Siswa melakukan proses pembuatan pola/motif batik

Gambar pola batik yang mereka buat kebanyakan mengambil motif flora, fauna, geometris, alam benda dan tak lupa logo sekolah SMK Muhammadiyah 1 Gresik tercinta juga ikut mereka gambarkan pada selembar mori putih.

Selesai pembuatan pola, mereka melanjutkan proses berikutnya yaitu proses pelekatan lilin (nyanting). Di sini selain menggunakan canting, mereka juga menggunakan kuas untuk melekatkan lilin/malam batik agar prosesnya lebih cepat. Alhasil dalam waktu kurang dari 1 jam mereka telah menyelesaikan proses tersebut. 

Proses pelekatan lilin (nyanting)
  
Antri yaaa.. ngambil lilinnya !!!

 Melukis motif batik

 Mega Mendung pun dilukis

Sedikit demi sedikit lama-lamapun tinggal dikit

 Tarrraaaaaaa.... inilah hasil cantingan kelompok Syamsi dkk...

Hasil setelah proses penyantingan selesai

Setelah proses pelekatan lilin selesai, siswa melanjutkan proses pewarnaan. Kali ini untuk pewarnaan mereka menggunakan pewarna batik remasol. Proses peracikan warna mereka lakukan pada wadah-wadah botol dan gelas aqua, setelah itu mereka mulai proses pewarnaannya. Kain yang sudah mereka gambar polanya lalu mereka bentangkan dan mereka warnai bersama-sama. 

 Proses pewarnaan dengan teknik lukis

 Tetap semangat mewarnai meskipun terkena panas

 Pegangi yang kuat ya, soalnya ga ada bentangannya

Proses pewarnaan hampir selesai kawan

Pewarnaannya menggunakan teknik kuas agar bisa menghasilkan beraneka ragam warna secara cepat. Bagian-perbagian mereka kuaskan warna sesuai keinginan kelompoknya masing-masing hingga seluruh kain mori putih tertutupi warna. 

 Hasil batik yang sudah diwarnai

 Mega mendung yang sudah diwarnai

Akhirnya proses mewarna sudah selesai


Proses selanjutnya adalah fixasi atau pengikatan warna agar warna menjadi awet dan tidak luntur. Mereka mengoleskan waterglass sebagai pengikatnya yang telah dicampur air dan costic soda, lalu meniriskan sejenak kain yang telah terolesi agar meresap ke dalamnya. 



 Proses fixasi dengan mengoleskan waterglass

Warna hijau setelah diberi waterglass kok berubah menjadi warna coklat ya....???

 Pelapisan dengan waterglass

Setelah proses fixasi, tahapan berikutnya mereka mencuci dengan air bersih dan mengalir agar sisa-sisa zat warna yang masih ada dan waterglassnya luntur bersama air. Setelah itu mereka tiriskan airnya.


 Proses pencucian kain yang sudah dilapisi waterglass


Proses membatik belum selesai, tetapi mereka masih bersemangat untuk melakukan proses selanjutnya. Tiba ke proses terakhir yaitu pelepasan lilin (nglorod).

Proses pelepasan lilin mereka lakukan dengan cara merebus kain ke dalam air mendidih yang telah dicampuri dengan soda abu agar lilin/malam mudah luntur dari kain. Secara bergantian siswa merebus kainnya masing-masing, lalu mengaduk-aduknnya. 


 Proses pelepasan lilin dengan cara direbus


Setelah lilin benar-benar sudah terlepas dari kain, mereka angkat kemudian dicuci dengan air bersih dan meniriskannya hingga kering.

Akhirnya selesai sudah petualangan membatik siswa Akuntansi kelas XI SMK Muhammadiyah 1 Gresik dan jadilah karya batik taplak meja yang siap digunakan.


Hasil akhir batik yang sudah dilepas lilinnya

Tuesday, June 7, 2016

SENI GRAFIS CETAK TINGGI DENGAN MEDIA STYREFOAM BEKAS

SALAM BUDAYA,,,,

3R atau yang disebut Reuse, Reduce, dan Recycle itulah prinsip yang harus diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran di SMPN 1 SIDAYU yang merupakan salah satu sekolah adiwiyata mandiri, selain itu juga harus diaplikasikan dalam seluruh kegiatan yang ada di sekolah sebagai upaya menjaga kenyamanan belajar dalam upaya mewujudkan sekolah yang unggul dalam berprestasi, berstandar nasional, berwawasan global, peduli dan berbudaya lingkungan berdasarkan Iman dan Taqwa. Seluruh pembelajaran di kelas juga terintegrasi dengan materi lingkungan hidup, diantaranya seperti mata pelajaran seni budaya, yang banyak memanfaatkan barang bekas yang tidak memiliki nilai guna menjadi karya seni yang bermanfaat bahkan memiliki nilai jual tinggi.
Pada kompetensi dasar mengekspresikan diri melalui karya seni grafis, siswa kelas 8 melakukan praktik membuat karya seni seni grafis cetak tinggi dari bahan bekas sampah kotak nasi styrefoam yang terkenal sebagai salah satu sampah yang sulit terurai. Selanjutnya kotak styrefoam tersebut dibuat sebagai cetakan untuk menghasilkan duplikat karya dalam jumlah banyak. 
"Apa sih cetak tinggi itu ???" Cetak tinggi adalah proses pembuatan cetakan dari bahan yang dicungkil atau dicuil, sehingga permukaannya menjadi tinggi dan rendah, seperti relief pada candi borobudur. Pada bagian yang tinggi dilumuri dengan tinta cetak dan alat rol karet. Lalu dicetak pada lembaran kertas sehingga membentuk gambar. NAh sekarang bagaimana ide kreatif siswa-siswi SMPN1 Sidayu membuat seni grafis dari sisa kotak nasi bahan styrefoam bekas ??? Mari kita simak aktivitas mereka berikut.

Alat Dan Bahan Yang Dibutuhkan :
  1. Kotak Nasi Styrefoam (Bekas)
  2. Tinta Cetak / Cat Air / Cat Akrilik
  3. Cutter / Silet
  4. Pensil
  5. Rol Karet / Kuas

Langkah-Langkah Pembuatan :
  1. Siapkan kotak nasi bahan styrefoam bekas, kemudian cucilah terlebih dahulu dari sisa kotoran makanan, lalu keringkan dengan kain lap sampai kering.
  2. Potonglah bagian tutup atas atau bagian bawah kotak nasi menjadi lempengan bentuk persegi empat.


  3. Buatlah desain gambar di atas permukaan lempengan segi empat yang sudah dipotong menggunakan pensil.


  4. Setelah desain jadi, perdalamlah garis-garis / kontur desain tadi dengan menggunakan pensil yang tidak terlalu tajam, sampai kedalamannya cukup dalam, tapi AWAS jangan terlalu bersemangat sehingga sampai menyebabkan lubang atau bolong. Prinsipnya semakin dalam semakin bagus, tapi jangan sampai berlubang, tembus ke belakang. Makanya saat membuat rendah permukaan styrefoam harus HATI-HATI dan harus menggunakan perasaan mendalam.



  5. Setelah proses mendalamkan selesai, cetakan siap digunakan. Langkah berikutnya adalah mengolesi  tinta (kalau tidak punya tinta bisa pakai cat air/akrilik). Oleskan tinta/cat secara merata ke permukaan cetakan styrefoam dengan menggunakan rol karet (kalau tidak punya, oleskan pakai kuas). kelemahan kalau menggunakan cat, proses mengoleskan cat harus cepat langsung dicetak, karena cat adalah bahan yang cepat kering.


  6. Setelah styrefoam terolesi tinta, cetak pada kertas yang telah disiapkan, dan tekan / gosok-gosoklah agar tinta/cat meresap secara merata ke dalam kertas.
  7. Buka cetakan, dan biarkan kertas yang sudah dicetak tersebut hingga tinta/cat kering.



  8. Karya seni grafis cetak tinggi dari bahan styrefoam bekas sudah jadi dan siap dimanfaatkan sebagai karya seni yang artistik dan indah. 


Selamat Mencoba !!! Jangan Berhenti Berkarya !!!




SENI GRAFIS - CETAK TINGGI / CUKIL KAYU

Teknik cetak merupakan bagian dari seni rupa yang sering disebut sebagai seni grafis. Terdapat beberapa teknik cetak manual dalam seni grafis, antara lain teknik cetak tinggi atau teknik cukil, teknik intaglio, teknik etsa, teknik cetak saring atau disebut pula teknik sablon. Cetak tinggi bukan merupakan seni yang otentik, karena sifatnya yang reproduktif, yaitu dapat dicetak berulang kali. Hal yang otentik hanya terletak pada acuan cetaknya. Namun hasil cetaknya dianggap sebagai karya seni yang orisinil, bukan merupakan salinan. Teknik cukil ini dapat menampilkan ekspresi dari senimannya. Cetak tinggi sendiri dikenal dengan beberapa variasi, antara lain cukil pada permukaan kayu (woodcut), cukil pada permukaan linoleum (linocut) dan cukil pada permukaan logam (metalcut). Cetak tinggi ini banyak diaplikasikan karena hasil cetaknya jauh lebih murah apabila dibandingkan dengan karya lukisan.
 
Papan Cukil Kayu (Seni Grafis - Cetak Tinggi)

Di Indonesia, seni cukil dikenal sejak masa perjuangan. Media cukil kayu menjadi pilihan utama dalam memproduksi poster-poster perjuangan dan selebaran propaganda. Sampai saat ini di Indonesia, teknik cetak tinggi atau cukil merupakan seni grafis yang paling popular. Teknik ini mendominasi munculnya teknik-teknik lain. Walaupun teknik cetak pada saat ini telah maju karena didukung oleh teknologi yang canggih, namun teknik cetak tinggi atau cukil masih digunakan dan digemari oleh sebagian seniman karena efek estetiknya memiliki ciri khas yang tidak dapat dicapai melalui teknologi canggih. Teknik cetak ini dapat bernilai ekonomis dalam kondisi tidak tersedianya peralatan canggih, dapat diterapkan untuk kebutuhan melipatgandakan suatu image yang bersifat komersial.
Cetak tinggi atau cukil memang merupakan teknik cetak yang paling sederhana dan relatif mudah dilakukan dibandingkan dengan teknik-teknik cetak (seni grafis) yang lain, seperti cetak dalam atau cetak datar, karena tidak membutuhkan peralatan studio yang lengkap. Material atau bidang yang dicukil mudah didapatkan, misalnya papan kayu, hardboard, karet vinyl, dan sejenisnya. Alat-alat dan tinta cetak juga mudah didapatkan, studio untuk mengerjakan tidak memerlukan ruang yang luas. Produk cetaknya tidak kalah bernilai dengan produk cetak yang menggunakan media lain maupun produk seni lukis. Melalui cetak tinggi, dengan leluasa dapat melakukan eksperimen visual, dengan menerapkan teknik cukil pada permukaan acuan cetak, sambil memanfaatkan tinta-tinta warna yang beraneka ragam. Melaui teknik cukil sebagai media yang mendorong untuk bereksperimen dengan teknik-teknik dan kemungkinan berekspresi dengan bentuk estetik sendiri. Teknik cetak tinggi pada dasarnya digunakan untuk mereproduksi sebuah gambar dengan citra yang sama dalam jumlah yang banyak.

Cotoh Hasil Karya Seni Grafis Cetak Tinggi (Cukil Kayu)

Cetak tinggi atau relief print adalah salah satu dari beberapa macam teknik cetak yang memiliki acuan permukaan timbul atau meninggi, dimana permukaan timbul tersebut berfungsi sebagai penghantar tinta. Bagian yang dasar atau permukaan yang tidak timbul merupakan bagian yang tidak akan terkena tinta atau disebut bagian negatif, sedangkan bagian yang kena tinta disebut bagian positif. Untuk memperoleh acuan cetak yang timbul dapat dilakukan dengan cara menghilangkan bagian-bagian yang tidak diperlukan menghantarkan tinta, sehingga tinggal bagian-bagian yang memang berfungsi sebagai penghantar warna atau tinta. Salah satu sifat cetak tinggi adalah apabila acuan cetaknya diamati, maka permukaannya acuan akan tampak sebagai permukaan yang berukir atau berelief. Oleh karena itu cetak tinggi disebut pula sebagai cetak relief atau relief print.
Teknik cukil kayu (woodcut) adalah teknik seni grafis yang paling awal, dan merupakan satu-satunya yang dipakai secara tradisional di Asia Timur. Seni cukil kayu disebut juga dengan istilah xilografi (xylography). Teknik cetak tinggi atau cukil ini menghasilkan gambar maupun tulisan melalui proses pencetakan dengan menggunakan permukaan lembar kayu, linoleum, hardboard atau karet vinyl yang dipahat atau dicukil sebagai acuan cetak atau plat. Bagian yang bukan merupakan gambar atau tidak dicetak selanjutnya dicukil, sedangkan bagian gambar atau yang tidak dicukil akan tetap sejajar dengan permukaan plat. Kemudian plat tersebut dibubuhi cat atau pewarna, setelah itu plat dicetak ke kertas dengan cara digosok, dengan bantuan sendok atau alat press. Apabila ingin menggunakan kombinasi beberapa warna, maka kita harus menggunakan acuan cetak atau plat yang berbeda bagi setiap warna yang digunakan.
Prinsip kerjanya adalah mendapatkan bagian positif (permukan yang timbul) dan negatif (permukaan yang cekung). Bagian negatif yang dihasilkan oleh cukilan tidak terkena warna, sebaliknya bagian positif yang tidak tercukil terkena warna. Bagian yang timbul akan diberi tinta dengan menggunakan roller, kemudian dicetak ke permukaan bidang cetak. Teknik cetak ini bertolak belakang dengan teknik cetak intaglio dan etsa (etching) yang justru bagian yang tergores menampung tinta yang kemudian dicetakkan pada kertas.
Perbedaan dengan teknik cetak lainnya, cetak tinggi ini memiliki kesederhanaan dalam peralatan, tidak membutuhkan teknologi yang canggih. Seniman dapat lebih ekspresif dalam menghasilkan karya seni grafis, lagipula ada beberapa nilai estetika yang tidak dapat diperoleh dengan menggunakan teknologi yang canggih. Pada umumnya proses cetak diaplikasikan pada permukaan benda yang datar. Proses pembuatan cetak tinggi dilakukan secara manual, namun tidak menutup kemungkinan apabila sketsa gambar merupakan hasil print-out.

Sumber : http://dkv.binus.ac.id/2015/05/18/seni-cetak-tinggi-1-pengertian-seni-cetak-tinggi-teknik-cukil/

BUKU SENI BUDAYA KELAS 9 SMP KURIKULUM 2013 EDISI TAHUN 2015

BUKU GURU SENI BUDAYA KELAS 9 SMP KURIKULUM 2013 EDISI REVISI 2015



Untuk mendownload/mengunduh silahkan klik link di bawah ini
LINK DOWNLOAD



_______________________________________________________________________________________________________




BUKU SISWA SENI BUDAYA KELAS 9 SMP KURIKULUM 2013 EDISI REVISI 2015



Untuk mendownload/mengunduh silahkan klik link di bawah ini
LINK DOWNLOAD


Sumber : www.matematohir.wordpress.com

Kunjungi juga :


BUKU SENI BUDAYA SMA/SMK/MA KELAS 12 KURIKULUM 2013 EDISI REVISI TAHUN 2015

BUKU PEGANGAN GURU SENI BUDAYA KELAS 12 SMA/SMK/MA KURIKULUM 2013 REVISI 2015

Untuk mendownload/mengunduh silahkan klik link di bawah ini


_______________________________________________________________________________________________________



BUKU PEGANGAN SISWA SENI BUDAYA SEMESTER 1 KELAS 12 SMA/SMK/MA KURIKULUM 2013 REVISI 2015



Untuk mendownload/mengunduh silahkan klik link di bawah ini


_______________________________________________________________________________________________________



BUKU PEGANGAN SISWA SENI BUDAYA SEMESTER 2 KELAS 12 SMA/SMK/MA KURIKULUM 2013 REVISI 2015



Untuk mendownload/mengunduh silahkan klik link di bawah ini

_______________________________________________________________________________________________________


Jangan lupa kunjungi juga 

Saturday, September 20, 2014

KISI-KISI SOAL UTS SEMESTER GANJIL SENI BUDAYA SMP KELAS 7


Kisi-kisi Soal Ujian Tengah Semester Mata Pelajaran Seni Budaya Kelas 7 
Tahun Pelajaran 2014/2015



Download File Kisi-kisi Format Word


SELAMAT BERJUANG. SEMOGA SUKSES.

BUKU SENI BUDAYA KELAS 7 SMP KURIKULUM 2013 EDISI REVISI

MENGGAMBAR RAGAM HIAS GEOMETRIS


Ragam hias geometris adalah ragam hias yang menggunakan beraneka ragam unsur-unsur garis, seperti garis lurus, lengkung, zigzag, spiral, dan berbagai bidang seperti segi empat, persegi panjang, lingkaran, layang-layang, dan bentuk lainnya sebagai motif bentuk dasarnya.

Ragam hias geometris merupakan motif tertua dalam ornamen karena sudah dikenal sejak jaman prasejarah. Motif geometris berkembang dari bentuk titik, garis, atau bidang yang berulang dari yang sederhana sampai dengan pola yang rumit.

Ragam hias geometris, flora, dan fauna banyak di terapkan pada kain tenun, kain batik, kain sulam, kain bordir, bangunan rumah, candi-candi, ukiran, perabotan rumah tangga, kerajinan tangan, dan sebagainya. 

Berikut ini beberapa motif dasar ragam hias geometris nusantara:
  1. Swastika
    Swastika adalah motif hias berbentuk dasar huruf Z yang saling berlawanan.

  2. Pilin
    Pilin adalah ragam hias yang memiliki bentuk dasar huruf S. Dalam variasinya juga berbentuk SS (pilin ganda).

  3. Meander
    Meander adalah ragam hias yang memiliki bentuk dasar huruf T. Dalam perkembangannya, ragam hias ini memunculkan ragam hias swastika.


  4. Kawung
    Kawung di dalam bahasa Sunda berarti arena tau kolang-kaling. Karena itu ragam hias kawung memiliki bentuk menyerupai buah aren yang dipotong melintang sehingga kelihatan empat biji aren.

  5. Tumpal
    Tumpal yaitu ragam hias tradisional Nusantara yang memiliki bentuk dasar segitiga sama kaki.


  6. Ceplokan
    Motif hias ceplokan adalah ragam hias yang terdiri atas satu motif dan disusun berulang-ulang.



Contoh Gambar Ragam Hias Geometris:
























Contoh Gambar Ragam Hias Geometris Karya Siswa













































 









eperti segiempat, persegi panjang, lingkaran, laying-layang dan bentuk lainnya. - See more at: http://bahankain.com/2013/08/26/penggolongan-motif-batik-motif-geometris-non-geometris/#sthash.amWLiYTj.dpuf
eperti segiempat, persegi panjang, lingkaran, laying-layang dan bentuk lainnya. - See more at: http://bahankain.com/2013/08/26/penggolongan-motif-batik-motif-geometris-non-geometris/#sthash.amWLiYTj.dpuf
eperti segiempat, persegi panjang, lingkaran, laying-layang dan bentuk lainnya. - See more at: http://bahankain.com/2013/08/26/penggolongan-motif-batik-motif-geometris-non-geometris/#sthash.amWLiYTj.dpuf
eperti segiempat, persegi panjang, lingkaran, laying-layang dan bentuk lainnya. - See more at: http://bahankain.com/2013/08/26/penggolongan-motif-batik-motif-geometris-non-geometris/#sthash.amWLiYTj.dpuf
eperti segiempat, persegi panjang, lingkaran, laying-layang dan bentuk lainnya. - See more at: http://bahankain.com/2013/08/26/penggolongan-motif-batik-motif-geometris-non-geometris/#sthash.amWLiYTj.dpuf
eperti segiempat, persegi panjang, lingkaran, laying-layang dan bentuk lainnya. - See more at: http://bahankain.com/2013/08/26/penggolongan-motif-batik-motif-geometris-non-geometris/#sthash.amWLiYTj.dpuf
eperti segiempat, persegi panjang, lingkaran, laying-layang dan bentuk lainnya. - See more at: http://bahankain.com/2013/08/26/penggolongan-motif-batik-motif-geometris-non-geometris/#sthash.amWLiYTj.dpuf