Sunday, June 26, 2011

Video art stop motion "kesetiaan"

ART VIDEO

By : Abdul Aziz Ma'any

(KESETIAAN)


Ini adalah sebuah Art Video yang mengisahkan tentang sebuah Kesetiaan pada pasangannya.

Konsep :

Pencarian tentang kekasih yang hilang dari sepasang pasangan, dia berjalan untuk mencari pasangannya ke manapun sampai ketemu. Dia tetap setia meskipun kehilangan pasangannya, setelah waktu berputar lama dalam pencariannya, akhirnya dia bertemu juga dengan pasangannya.


Sinopsis :

Menceritakan tentang kisah pencarian seorang pasangan yang hilang, dan digambarkan dengan spidol dan tutupnya sebagai pasangannya. Karena dipisahkan oleh tangan manusia, tutup spidol pun bingung mencari pasangannya yang hilang. Dia berjalan berputar dan berkeliling untuk mencari pasangannya. Dari rumah sampai ke luar rumah, ia kelilingi. Hari berganti hari dia mencari tak kunjung ketemu juga. Semakin bingung dia mencari, sering kali dia bertemu dengan benda sejenisnya, namun dia tetap setia dengan pasangannya yang hilang. Pencarianpun berlanjut sampai pada akhirnya dia menemukan kembali pasangannya yang hilang, yaitu spidol dan tutupnya.


Tuesday, May 10, 2011

Cara Menjadikan Setiap Kalimat Atau Paragraf Dalam Artikel Otomatis Rata Kiri Dan Kanan




Sobat Blogger, seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya apabila menyusun artikel dengan menuliskannya menggunakan editor Blogger, maka setelan perataan default yang dipakai pada tiap kalimat atau paragraf dalam artikel tersebut adalah teks rata kiri. Sehingga dengan sistem perataan teks rata kiri seperti ini, maka kita harus mengubah setelan perataan (alignment) dari setiap paragraf agar tampak lebih rapi (sebagai contoh misalnya adalah dengan menggunakan sistem perataan justify atau rata kiri dan kanan) sebelum artikel tersebut diterbitkan.
Dalam hal mengatur setelan perataan teks untuk setiap kalimat atau paragraf yang terdapat dalam artikel sebenarnya tidaklah sulit, karena dapat dilakukan secara cepat yaitu dengan cara mengeblok kalimat atau paragraf yang dimaksud dan kemudian mengeklik salah satu tombol perataan teks yang terdapat dalam toolbar alignment. Namun perlu diketahui bahwasanya pengaturan untuk setelan perataan teks dapat dipermudah lagi yaitu dengan menambahkan kode CSS tertentu ke dalam template, sehingga setelah artikel diterbitkan maka secara otomatis sistem perataan teks yang digunakan pada setiap kalimat atau paragraf yang terdapat dalam artikel tersebut adalah sesuai dengan sistem perataan teks yang dipakai pada kode CSS dalam template.
Sebagai contoh misalnya jika setelan sistem perataan teks yang dipakai pada kode CSS dalam template adalah rata kiri-kanan (justify), maka tanpa harus melakukan pengaturan perataan teks pada setiap kalimat atau paragraf, secara otomatis setelah artikel diterbitkan setiap kalimat atau paragraf yang terdapat di dalamnya akan menjadi rata kiri-kanan. Demikian pula jika setelan perataan teks yang dipakai adalah rata tengah atau rata kanan, maka setelah artikel diterbitkan secara otomatis pula setiap kalimat atau paragraf yang terdapat di dalamnya akan menjadi rata tengah atau rata kanan.
Oke, selanjutnya untuk keperluan tersebut dapat dilakukan dengan cara mengerjakan langkah-langkah berikut ini secara berurutan.

Pertama, buka editor template dengan cara mengeklik menu ‘Template>Edit HTML>Lanjutkan’.
Kedua, cari kode ]]></b:skin> dan kemudian sisipkan kode CSS berikut ini tepat di atasnya.
.post-body.entry-content {
  text-align: justify;
}

Ketiga, simpan template.

Dengan demikian maka Anda tidak perlu lagi repot-repot menentukan sistem perataan teks yang digunakan untuk setiap kalimat atau paragraf yang terdapat dalam artikel, karena setelah diterbitkan maka secara otomatis setiap kalimat atau paragraf yang terdapat dalam artikel tersebut akan menjadi rata kiri-kanan. Sehingga dengan demikian dapat diartikan pula bahwa Anda dapat menulis dan atau menyusun artikel untuk kemudian diterbitkan tanpa perlu mengkhawatirkan sistem perataan teks yang digunakan untuk artikel tersebut karena sistem perataan teks secara otomatis akan menyesuaikan dengan sistem perataan yang digunakan pada kode CSS di atas.
Semoga berguna dan bermanfaat.

Tuesday, February 15, 2011

Membuat Scroll pada Widget Arsip Blog

Widget arsip blog yang panjang kadang membuat kita merasa tidak nyaman dengan tampilannya, untuk mengatasinya kita bisa meletakkan widget arsip blog ke dalam kotak scroll, seperti yang ada pada blog ini.



Berikut ini adalah cara membuat scrool widget arsip blog, bisa juga diterapkan untuk widget yang lain. Tetapi, kali ini kita akan fokus membuat scroll untuk widget arsip blog. ada cara mempersingkatnya dengan scroll.

Untuk membuat widget arsip dengan scroll ikuti langkah-langkah yang sangat singkat ini.
Buka Dashboard blog anda yang akan edit, kemudian ke  > Template > Edit HTML.

Lalu carilah code  ]]></b:skin> (Gunakan Ctrl + F untuk mempermudah pencarian. Caranya klik pada kotak HTML, kemudian Ctrl+F) Lalu copy code di bawah ini.
 
#BlogArchive1 .widget-content{
height:240px;
width:auto;
overflow:auto;
}

Letakkan code tersebut tepat di bawah kode  ]]></b:skin> :

Sehingga hasilnya nanti akan tampak seperti ini :
#BlogArchive1 .widget-content{
height:240px;
width:auto;
overflow:auto;
}
]]></b:skin>
NB : Angka 240 (Berwarna Biru) merupakan tinggi kotak scroll, dan bisa anda ubah sesuai keperluan.

Lalu klik pratinjau template untuk melihat hasilnya. Jika sudah sesuai dengan apa yang anda inginkan, klik simpan template.

Friday, January 28, 2011

CARA MEMBUAT TABEL DI BLOG TANPA CODING

Cara membuat tabel dalam sebuah artikel bagi sebagian blogger mungkin merupakan hal yang sulit, karena bagi kita yang belum paham kode-kode HTML tentu akan kebingungan. Sebenarnya bisa saja kita membuat tabel dengan mengcopy paste dokumen tabel yang sudah kita buat di Microsoft word atau Excel. tapi jika sobat blogger memiliki koneksi internet yang lelet, terkadang tidak bisa terpublikasi. Mengapa bisa tidak terpublikasi? Karena tabel atau dokumen yang langsung kita copy paste dari microsoft word / Excel tadi sebenarnya mengandung kode-kode rumit. Terkadang pula tabel yang sudah kita copas dari excel, ketika di masukkan ke posting blog tidak menjadi sebuah tabel yang diinginkan / tidak ada garisnya.
Jika sobat sudah memakai software/aplikasi Windows Live Writer, membuat tabel akan mudah dilakukan, karena dalam toolsnya sudah ada pembuat tabel. Berbeda dengan blogger yang belum ada.

Buat sobat yang menemui kendala dalam pembuatan tabel di blog karena belum mengenal kode-kode HTML/CSS tabel, mungkin bisa mengikuti cara berikut ini.

1. Buatlah terlebih dulu tabel artikel kita di MS word/excel.

2. Blok/Highlight tabel yang sudah jadi tadi, kemudian copy.

3. Lalu Masuk ke http://tableizer.journalistopia.com/

4. Paste dokumen tabel tadi di dalam form/kotak.

Paste your cells from Excel, Calc or other spreadsheet here:



5. Jangan lupa mengatur ukuran huruf, jenis huruf dan warna header tabel di posting blog.

6. Jika sudah selesai, lihat preview kodenya di bagian bawah, Klik Tableize it!

7. Tunggu sebentar, maka Akan di dapat kode HTML untuk tabel yang siap dimasukkan ke dalam posting blog.

8. Langkah berikutnya adalah copy kode yang di dapat di form/kotak.

9. Masuk ke pembuatan artikel, Silakan masukkan kata atau kalimat yang dikehendaki
 
Klik menu HTML di samping menu Compose.

Memasukkan kode yang sudah di copy tadi pada tempat yang dikehendaki

10. Kembali ke menu Compose untuk memasukkan kalimat atau kata-kata yang lainnya, seandainya tabel berada di tengah postingan.

Sebagai contoh bisa dilihat pada tabel di bawah adalah hasil Tableizer. 


No.Daftar BarangJumlahSatuan
1Sandal 5Kodi
2Topi4Kodi
3Tas7Kodi


Cukup mudah bukan? Memang untuk pewarnaan hanya bisa di header tabel saja. Silakan sobat coba-coba.

Saturday, May 2, 2009

SEJARAH UMUM SENI LUKIS


SENI LUKIS

Seni lukis adalah salah satu induk dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari drawing.

Sejarah umum seni lukis

Zaman prasejarah

Secara historis, seni lukis sangat terkait dengan gambar. Peninggalan-peninggalan prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan bagian-bagian penting dari kehidupan mereka.

Semua kebudayaan di dunia mengenal seni lukis. Ini disebabkan karena lukisan atau gambar sangat mudah dibuat. Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya. Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya dengan kunyahan daun-daunan atau batu mineral berwarna.

Hasilnya adalah jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar (dan selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni rupa lain seperti seni patung dan seni keramik.

Seperti gambar, lukisan kebanyakan dibuat di atas bidang datar seperti dinding, lantai, kertas, atau kanvas. Dalam pendidikan seni rupa modern di Indonesia, sifat ini disebut juga dengan dwi-matra (dua dimensi, dimensi datar). Seiring dengan perkembangan peradaban, nenek moyang manusia semakin mahir membuat bentuk dan menyusunnya dalam gambar, maka secara otomatis karya-karya mereka mulai membentuk semacam komposisi rupa dan narasi (kisah/cerita) dalam karya-karyanya.

Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah manusia, binatang, dan obyek-obyek alam lain seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Bentuk dari obyek yang digambar tidak selalu serupa dengan aslinya. Ini disebut citra dan itu sangat dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis terhadap obyeknya. Misalnya, gambar seekor banteng dibuat dengan proporsi tanduk yang luar biasa besar dibandingkan dengan ukuran tanduk asli. Pencitraan ini dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis yang menganggap tanduk adalah bagian paling mengesankan dari seekor banteng. Karena itu, citra mengenai satu macam obyek menjadi berbeda-beda tergantung dari pemahaman budaya masyarakat di daerahnya. Pencitraan ini menjadi sangat penting karena juga dipengaruhi oleh imajinasi. Dalam perkembangan seni lukis, imajinasi memegang peranan penting hingga kini.

Pada mulanya, perkembangan seni lukis sangat terkait dengan perkembangan peradaban manusia. Sistem bahasa, cara bertahan hidup (memulung, berburu dan memasang perangkap, bercocok-tanam), dan kepercayaan (sebagai cikal bakal agama) adalah hal-hal yang mempengaruhi perkembangan seni lukis. Pengaruh ini terlihat dalam jenis obyek, pencitraan dan narasi di dalamnya. Pada masa-masa ini, seni lukis memiliki kegunaan khusus, misalnya sebagai media pencatat (dalam bentuk rupa) untuk diulangkisahkan. Saat-saat senggang pada masa prasejarah salah satunya diisi dengan menggambar dan melukis. Cara komunikasi dengan menggunakan gambar pada akhirnya merangsang pembentukan sistem tulisan karena huruf sebenarnya berasal dari simbol-simbol gambar yang kemudian disederhanakan dan dibakukan.

Pada satu titik, ada orang-orang tertentu dalam satu kelompok masyarakat prasejarah yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggambar daripada mencari makanan. Mereka mulai mahir membuat gambar dan mulai menemukan bahwa bentuk dan susunan rupa tertentu, bila diatur sedemikian rupa, akan nampak lebih menarik untuk dilihat daripada biasanya. Mereka mulai menemukan semacam cita-rasa keindahan dalam kegiatannya dan terus melakukan hal itu sehingga mereka menjadi semakin ahli. Mereka adalah seniman-seniman yang pertama di muka bumi dan pada saat itulah kegiatan menggambar dan melukis mulai condong menjadi kegiatan seni.

Seni lukis zaman klasik

Seni lukis zaman klasik kebanyakan dimaksudkan untuk tujuan:

  • Mistisme (sebagai akibat belum berkembangnya agama)
  • Propaganda (sebagai contoh grafiti di reruntuhan kota Pompeii),

Di zaman ini lukisan dimaksudkan untuk meniru semirip mungkin bentuk-bentuk yang ada di alam. Hal ini sebagai akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan dimulainya kesadaran bahwa seni lukis mampu berkomunikasi lebih baik daripada kata-kata dalam banyak hal. Selain itu, kemampuan manusia untuk menetap secara sempurna telah memberikan kesadaran pentingnya keindahan di dalam perkembangan peradaban.

Seni lukis zaman pertengahan

Sebagai akibat terlalu kuatnya pengaruh agama di zaman pertengahan, seni lukis mengalami penjauhan dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sihir yang bisa menjauhkan manusia dari pengabdian kepada Tuhan. Akibatnya, seni lukis pun tidak lagi bisa sejalan dengan realitas.

Kebanyakan lukisan di zaman ini lebih berupa simbolisme, bukan realisme. Sehingga sulit sekali untuk menemukan lukisan yang bisa dikategorikan "bagus".

Lukisan pada masa ini digunakan untuk alat propaganda dan religi. Beberapa agama yang melarang penggambaran hewan dan manusia mendorong perkembangan abstrakisme (pemisahan unsur bentuk yang "benar" dari benda).

Namun sebagai akibat pemisahan ilmu pengetahuan dari kebudayaan manusia, perkembangan seni pada masa ini mengalami perlambatan hingga dimulainya masa renaissance.

[sunting] Seni lukis zaman Renaissance

Berawal dari kota Firenze. Setelah kekalahan dari Turki, banyak sekali ahli sains dan kebudayaan (termasuk pelukis) yang menyingkir dari Bizantium menuju daerah semenanjung Italia sekarang.

Dukungan dari keluarga deMedici yang menguasai kota Firenze terhadap ilmu pengetahuan modern dan seni membuat sinergi keduanya menghasilkan banyak sumbangan terhadap kebudayaan baru Eropa.

Seni Rupa menemukan jiwa barunya dalam kelahiran kembali seni zaman klasik. Sains di kota ini tidak lagi dianggap sihir, namun sebagai alat baru untuk merebut kembali kekuasaan yang dirampas oleh Turki.

Pada akhirnya, pengaruh seni di kota Firenze menyebar ke seluruh Eropa hingga Eropa Timur.

Tokoh yang banyak dikenal dari masa ini adalah:

Art Nouveau

Revolusi Industri di Inggris telah menyebabkan mekanisasi di dalam banyak hal. Barang-barang dibuat dengan sistem produksi massal dengan ketelitian tinggi. Sebagai dampaknya, keahlian tangan seorang seniman tidak lagi begitu dihargai karena telah digantikan kehalusan buatan mesin.

Sebagai jawabannya, seniman beralih ke bentuk-bentuk yang tidak mungkin dicapai oleh produksi massal (atau jika bisa, akan biaya pembuatannya menjadi sangat mahal). Lukisan, karya-karya seni rupa, dan kriya diarahkan kepada kurva-kurva halus yang kebanyakan terinspirasi dari keindahan garis-garis tumbuhan di alam.

Sejarah seni lukis di Indonesia

Seni lukis modern Indonesia dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia. Kecenderungan seni rupa Eropa Barat pada zaman itu ke aliran romantisme membuat banyak pelukis Indonesia ikut mengembangkan aliran ini. Awalnya pelukis Indonesia lebih sebagai penonton atau asisten, sebab pendidikan kesenian merupakan hal mewah yang sulit dicapai penduduk pribumi. Selain karena harga alat lukis modern yang sulit dicapai penduduk biasa.

Raden Saleh Syarif Bustaman adalah salah seorang asisten yang cukup beruntung bisa mempelajari melukis gaya Eropa yang dipraktekkan pelukis Belanda.

Raden Saleh kemudian melanjutkan belajar melukis ke Belanda, sehingga berhasil menjadi seorang pelukis Indonesia yang disegani dan menjadi pelukis istana di beberapa negera Eropa.

Namun seni lukis Indonesia tidak melalui perkembangan yang sama seperti zaman renaisans Eropa, sehingga perkembangannya pun tidak melalui tahapan yang sama.

Era revolusi di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah "kerakyatan". Objek yang berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang mengkhianati bangsa, sebab dianggap menjilat kepada kaum kapitalis yang menjadi musuh ideologi komunisme yang populer pada masa itu. Para pelukis kemudian beralih kepada potret nyata kehidupan masyarakat kelas bawah dan perjuangan menghadapi penjajah.

Selain itu, alat lukis seperti cat dan kanvas yang semakin sulit didapat membuat lukisan Indonesia cenderung ke bentuk-bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan abstraksi.

Gerakan Manifesto Kebudayaan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi komunisme membuat pelukis pada masa 1950an lebih memilih membebaskan karya seni mereka dari kepentingan politik tertentu, sehingga era ekspresionisme dimulai. Lukisan tidak lagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat propaganda, namun lebih sebagai sarana ekspresi pembuatnya. Keyakinan tersebut masih dipegang hingga saat ini.

Perjalanan seni lukis kita sejak perintisan R. Saleh sampai awal abad XXI ini, terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan konsepsi.

Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran keberhasilan sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif atau seni kontemporer, dengan munculnya seni konsep (conceptual art): “Installation Art”, dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. Bersama itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi merupakan bisnis alternatif investasi.[rujukan?]

Aliran seni lukis


Naturalisme Yaitu suatu bentuk karya seni lukis (seni rupa) dimana seniman berusaha melukiskan segala sesuatu sesuai dengan nature atau alam nyatan, artinya disesuaikan dengan tangkapan mata kita. Supaya lukisan yang dibuat benar – benar mirip atau persis dengan nyata, maka susunan, perbandingan, perspektif, tekstur, pewarnaan serta gelap terang dikerjakan seteliti mungkin, setepat –setepanya. di dalam seni rupa adalah usaha menampilkan objek realistis dengan penekanan seting alam. Hal ini merupakan pendalaman labih lanjut dari gerakan realisme pada abad 19 sebagai reaksi atas kemapanan romantisme.

Salah satu perupa naturalisme di Amerika adalah William Bliss Baker, yang lukisan pemandangannya dianggap lukisan realis terbaik dari gerakan ini. Salahs atu bagian penting dari gerakan naturalis adalah pandangan Darwinisme mengenai hidup dan kerusakan yang telah ditimbulkan manusia terhadap alam.

Daftar Pelukis Naturalisme :

§ Soeboer Doellah

§ William Bliss Baker

§ Raden Saleh

§ Hokusai

§ Affandi

§ Fresco Mural

§ Basuki Abdullah

§ William Hogart

§ Frans Hail

Realisme di dalam seni rupa berarti usaha menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa tambahan embel-embel atau interpretasi tertentu. Maknanya bisa pula mengacu kepada usaha dalam seni rupa unruk memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan hal yang buruk sekalipun. Pembahasan realisme dalam seni rupa bisa pula mengacu kepada gerakan kebudayaan yang bermula di Perancis pada pertengahan abad 19. Namun karya dengan ide realisme sebenarnya sudah ada pada 2400 SM yang ditemukan di kota Lothal, yang sekarang lebih dikenal dengan nama India.

Realisme sebagai gerakan kebudayaan

Realisme menjadi terkenal sebagai gerakan kebudayaan di Perancis sebagai reaksi terhadap paham Romantisme yang telah mapan di pertengahan abad 19. Gerakan ini biasanya berhubungan erat dengan perjuangan sosial, reformasi politik, dan demokrasi.

Realisme kemudian mendominasi dunia seni rupa dan sastra di Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat di sekitar tahun 1840 hingga 1880. Penganut sastra realisme dari Perancis meliputi nama Honoré de Balzac dan Stendhal. Sementara seniman realis yang terkenal adalah Gustave Courbet dan Jean François Millet.

Realisme dalam seni rupa

Perupa realis selalu berusaha menampilkan kehidupan sehari-hari dari karakter, suasana, dilema, dan objek, untuk mencapai tujuan Verisimilitude (sangat hidup). Perupa realis cenderung mengabaikan drama-drama teatrikal, subjek-subjek yang tampil dalam ruang yang terlalu luas, dan bentuk-bentuk klasik lainnya yang telah lebih dahulu populer saat itu.

Dalam pengertian lebih luas, usaha realisme akan selalu terjadi setiap kali perupa berusaha mengamati dan meniru bentuk-bentuk di alam secara akurat. Sebagai contoh, pelukis foto di zaman renaisans, Giotto bisa dikategorikan sebagai perupa dengan karya realis, karena karyanya telah dengan lebih baik meniru penampilan fisik dan volume benda lebih baik daripada yang telah diusahakan sejak zaman Gothic.

Kejujuran dalam menampilkan setiap detail objek terlihat pula dari karya-karya RembrandtBarbizon School memusatkan pengamatan lebih dekat kepada alam, yag kemudian membuka jalan bagi berkembangnya impresionisme. Di Inggris, kelompok Pre-Raphaelite Brotherhood menolak idealisme pengikut Raphael yang kemudian membawa kepada pendekatan yang lebih intens terhadap realisme. yang dikenal sebagai salah satu perupa realis terbaik. Kemudian pada abad 19, sebuah kelompok di Perancis yang dikenal dengan nama

Teknik Trompe l'oeil, adalah teknik seni rupa yang secara ekstrim memperlihatkan usaha perupa untuk menghadirkan konsep realisme.

Daftar pelukis realisme terkenal

· Karl Briullov

· Ford Madox Brown

· Jean Baptiste Siméon Chardin

· Camille Corot

· Gustave Courbet

· Honoré Daumier

· Edgar Degas

· Thomas Eakins

· Nikolai Ge

· Aleksander Gierymski

· William Harnett

· Louis Le Nain

· Édouard Manet

· Jean-François Millet

· Ilya Yefimovich Repin

Pengertian Ekspresionisme yaitu aliran seni lukis yang mengutamakan kebebasan dalam bentuk dan warna untuk mencurahkan emosi atau perasaan.

Ekspressionisme adalah kecenderungan seorang seniman untuk mendistorsi kenyataan dengan efek-efek emosional. Ekspresionisme bisa ditemukan di dalam karya lukisan, sastra, film, arsitektur, dan musik. Istilah emosi ini biasanya lebih menuju kepada jenis emosi kemarahan dan depresi daripada emosi bahagia.

Pelukis Matthias Grünewald dan El Greco bisa disebut ekspresionis.

Daftar Pelukis Ekspresionisme dari abad 20 yang tergolong adalah:

· Jerman: Heinrich Campendonk, Emil Nolde, Rolf Nesch, Franz Marc, Ernst Barlach, Wilhelm Lehmbruck, Erich Heckel, Karl Schmidt-Rottluff, Ernst Ludwig Kirchner, Max Beckmann, August Macke, Elfriede Lohse-Wächtler, Ludwig Meidner, Paula Modersohn-Becker, Gabriele Münter, dan Max Pechstein.

· Austria: Egon Schiele dan Oskar Kokoschka

· Russia: Wassily Kandinsky dan Alexei Jawlensky

· Netherlands: Charles Eyck, Willem Hofhuizen, Jaap Min, Jan Sluyters, Jan Wiegers dan Hendrik Werkman

· Belgia: Constant Permeke, Gust De Smet, Frits Van den Berghe, James Ensor, Floris Jespers, dan Albert Droesbeke.

· Perancis: Gen Paul dan Chaim Soutine

· Norwegia: Edvard Munch

· Swiss: Carl Eugen Keel

· Indonesia: Affandi

kubisme adalah sebuah gerakan modern seni rupa pada awal abad ke-20 yang dipelopori oleh Picasso dan Braque. Prinsip-prinsip dasar yang umum pada kubisme yaitu menggambarkan bentuk objek dengan cara memotong, distorsi, overlap, penyederhanaan, transparansi, deformasi, menyusun dan aneka tampak. Gerakan ini dimulai pada media lukisan dan patung melalui pendekatannya masing-masing

pada kubisme, bentuk –bentuk karyanya menggunakan bentuk –bentuk geometri (segitiga, segiempat, kerucut, kubus, lingkaran dan sebagainya) seniman kubisme sering menggunakan teknik kolase, misalnya menempelkan potongan kertas surat kabar, gambar –gambar poster dan lain- lain.

Kubisme sebagai pencetus gaya nonimitative muncul setelah Picasso dan Braque menggali sekaligus terpengaruh bentuk kesenian primitif, seperti patung suku bangsa Liberia, ukiran timbul (basrelief) bangsa Mesir, dan topeng-topeng suku Afrika. Juga pengaruh lukisan Paul Cezanne, terutama karya still life dan pemandangan, yang mengenalkan bentuk geometri baru dengan mematahkan perspektif zaman Renaisans. Ini membekas pada keduanya sehingga meneteskan aliran baru.

Istilah "Kubis" itu sendiri, tercetus berkat pengamatan beberapa kritikus. Louis Vauxelles (kritikus Prancis) setelah melihat sebuah karya Braque di Salon des Independants, berkomenmtar bahwa karya Braque sebagai reduces everything to little cubes (menempatkan segala sesuatunya pada bentuk kubus-kubus kecil. Gil Blas menyebutkan lukisan Braque sebagai bizzarries cubiques (kubus ajaib). Sementara itu, Henri Matisse menyebutnya sebagai susunan petits cubes (kubus kecil). Maka untuk selanjutnya dipakai istilah Kubisme untuk memberi ciri dari aliran seperti karya-karya tersebut.

Perkembangan awal

Dalam tahap perkembangan awal, Kubisme mengalami fase Analitis yang dilanjutkan pada fase Sintetis. Pada 1908-1909 Kubisme segera mengarah lebih kompleks dalam corak yang kemudian lebih sistematis berkisar antara tahun 1910-1912. Fase awal ini sering diberi istilah Kubisme Analitis karena objek lukisan harus dianalisis. Semua elemen lukisan harus dipecah-pecah terdiri atas faset-fasetnya atau dalam bentuk kubus.

Objek lukisan kadang-kadang setengah tampak digambar dari depan persis, sedangkan setengahnya lagi dilihat dari belakang atau samping. Wajah manusia atau kepala binatang yang diekspos sedemikian rupa, sepintas terlihat dari samping dengan mata yang seharusnya tampak dari depan.

Pada fase Kubisme Analitis ini, para perupa sebenarnya telah membuat pernyataan dimensi keempat dalam lukisan, yaitu ruang dan waktu karena pola perspektif lama telah ditinggalkan.

Bila pada pereiode analitis Braque maupun Picasso masih terbelenggu dalam kreativitas yang terbatas, berbeda pada fase Kubisme Sintetis. Kaum Kubis tidak lagi terpaku pada tiga warna pokok dalam goresan-goresannya. Tema karya-karya mereka pun lebih variatif. Dengan keberanian meninggalkan sudut pandang yang menjadi ciri khasnya untuk beranjak ke tingkat inovatif berikutnya.

Perkembangan karya kaum Kubis selanjutnya adalah dengan perhatian mereka terhadap realitas. Dengan memasukkan guntingan-guntingan kata atau kalimat yang diambil dari suratpaper colle. kabar kemudian direkatkan pada kanvas sehingga membentuk satu komposisi geometris. Eksperimen tempelan seperti ini lazim disebut teknik kolase atau

Daftar Pelukis Kubisme :

  • Paul Cezane
  • Pablo Picasso
  • George Braque
  • Metzinger
  • Albert Glazez
  • But Mochtar
  • Moctar Apin
  • Fajar Sidik
  • Andre Derain

Fauvisme adalah suatu aliran dalam seni lukis yang berumur cukup pendek menjelang dimulainya era seni rupa modern. Nama fauvisme berasal dari kata sindiran "fauve" (binatang liar) oleh Louis Vauxcelles saat mengomentari pameran Salon d'Automne dalam artikelnya untuk suplemen Gil Blas edisi 17 Oktober 1905, halaman 2.

Kepopuleran aliran ini dimulai dari Le Havre, Paris, hingga Bordeaux. Kematangan konsepnya dicapai pada tahun 1906.

Fauvisme adalah aliran yang menghargai ekspresi dalam menangkap suasana yang hendak dilukis. Tidak seperti karya impresionisme, pelukis fauvis berpendapat bahwa harmoni warna yang tidak terpaut dengan kenyataan di alam justru akan lebih memperlihatkan hubungan pribadi seniman dengan alam tersebut.

Konsep dasar fauvisme bisa terlacak pertama kali pada 1888 dari komentar Paul GauguinPaul Sérusier: kepada

"How do you see these trees? They are yellow. So, put in yellow; this shadow, rather blue, paint it with pure ultramarine; these red leaves? Put in vermilion."

"Bagaimana kau menginterpretasikan pepohonan itu? Kuning, karena itu tambahkan kuning. Lalu bayangannya terlihat agak biru, karena itu tambahkan ultramarine. Daun yang kemerahan? Tambahkan saja vermillion."

Segala hal yang berhubungan dengan pengamatan secara objektif dan realistis, seperti yang terjadi dalam lukisan naturalis, digantikan oleh pemahaman secara emosional dan imajinatif. Sebagai hasilnya warna dan konsep ruang akan terasa bernuansa puitis. Warna-warna yang dipakai jelas tidak lagi disesuaikan dengan warna di lapangan, tetapi mengikuti keinginan pribadi pelukis.

Penggunaan garis dalam fauvisme disederhanakan sehingga pemirsa lukisan bisa mendeteksi keberadaan garis yang jelas dan kuat. Akibatnya bentuk benda mudah dikenali tanpa harus mempertimbangkan banyak detail.

Pelukis fauvis menyerukan pemberontakan terhadap kemapanan seni lukis yang telah lama terbantu oleh objektivitas ilmu pengetahuan seperti yang terjadi dalam aliran impresionisme, meskipun ilmu-ilmu dari pelukis terdahulu yang mereka tentang tetap dipakai sebagai dasar dalam melukis. Hal ini terutama terjadi pada masa awal populernya aliran ini pada periode 1904 hingga 1907.

Pengaruh

Pengaruh awal dari aliran ini mungkin sekali didapat dari rintisan yang dimulai oleh karya-karya Paul Cezanne, Gustave Moreau, Paul Gauguin, maupun Vincent van Gogh. Meskipun pelukis tersebut tidak melibatkan diri kepada gerakan fauvisme dan berbeda era dengan dimulainya aliran ini, namun karyanya menjadi acuan bagi pelukis muda yang nantinya akan menjadi pelukis fauvis.

Meskipun hanya berumur pendek, aliran fauvisme menjadi tonggak konsep seni rupa modern berikutnya.

PENGERTIAN SENI RUPA




Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.

Seni rupa dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu seni rupa murni, kriya, dan desain. Seni rupa murni mengacu kepada karya-karya yang hanya untuk tujuan pemuasan eksresi pribadi, sementara kriya dan desain lebih menitikberatkan fungsi dan kemudahan produksi.

Secara kasar terjemahan seni rupa di dalam Bahasa Inggris adalah fine art. Namun sesuai perkembangan dunia seni modern, istilah fine art menjadi lebih spesifik kepada pengertian seni rupa murni untuk kemudian menggabungkannya dengan desain dan kriya ke dalam bahasan visual arts.




BIDANG SENI RUPA

1. SENI RUPA MURNI
Seni lukis
Seni grafis
Seni patung
Seni instalasi
Seni pertunjukan
Seni keramik
Seni film
Seni koreografi
Seni fotografi


2. DESAIN
Arsitektur
Desain grafis
Desain interior
Desain busana
Desain produk


3. KRIYA
Kriya tekstil
Kriya kayu
Kriya keramik
Kriya rotan





GAYA-GAYA DALAM SENI RUPA :




Gaya Primitif

1.Tidak mengutamakan keindahan, teteapi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kepercayaan

2.Untuk upacara ritual

3.Terkesan misteri, magis, dan makna lambing

4.Proporsi bentuk tidak sempurna

5.Lugas atau apa adanya




Gaya Klasik

Seni rupa gaya klasik memiliki cirri sebagai berikut :

1.Pada masa prasejarah atau jaman kerajaan penuh keindahan, kemegahan, kewibawaan, dan kesempurnaan

2.Penggambaran segala sesuatu serba sempurna, termasuk obyek manusia

3.Seni kriya dan seni bangunan tampak kemewahan berupa ornament, ukiran sehingga tampak glamour




Gaya Baru/ seni modern

Seni rupa modern mempunyai cirri sebagai berikut:

1.Berbentuk unik

2.Batasan seni jadi kabur, antar seni lukis, seni patung dan seni arsitektur

3.Obyek dan coraknya tampak bebas

4.Wujud karyanya terkesan aneh




Corak seni modern berkembang jadi berbagai aliran, antara lain:




1.Klakisme

Mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1)Generalisme

2)Mewah

3)Idealisme

4)Rasio menjadi titik tolak seni

Tokohnya : Vigee Lebrum, Jon Ingres




2.Neo klakisme

Aliran ini dipengaruhi oleh seni klasik Yunani dan Romawi kuno sifat-sifatnya sebagai berikut :

1)Homosentris dan idealisme

2)Subyektif

3)Mendambakan yang hamornis

4)Berusaha memikat hati

Contoh : Girodet, Da Vinci, Raphael




3.Romantisme

Menghendaki suatu lukisan hatus menggambarkan suatu peristiwa, yang didalamnya terkandung suasana kehidupan yang penuh dengan pertentangan dan emosi yang berlebih-lebihan

Tokohnya : Teodore Gericault, Eugene Delacroix,dll




4.Realisme

Aliran ini dipengaruhi hal yang nyata. Sifatnya antara lain:

1)Melukiskan dunia tanpa fantasi

2)Cenderung melebih-lebihkan karakter

3)Menggambarkan sesuai dengan kenyataan

Contoh : Gustave Courbet




5.Naturalisme

Aliran ini sebenarnya masih hampir dengan aliran realisme. Bedanya, aliran naturalisme cenderung melukiskan segala sesuatu dengan keadaan aslinya.

Contohnya : Theodore Rosseaeu

6.Impresionisme

Melukis dengan mengutamakan kesan yang dihasilkan dari hasil pandangan seniman

Lukisan ini tidak ada kontur yang membatasi ruang benda

Tokohnya : Monet, Aguste Renoir

7.Ekspresionisme

Melukis dengan goresan garis dan warna yang tampak spontan, tegas, cepat, dan dinamis, sehingga hasilnya semata-mata sebagai hasil ungkapan isi hati seniman tersebut.

Contoh : Van Gough, Gaughin dan Eduard Munch

8.Kubisme

Melukis dengan menampilkan obyek yang terdiri dari bidang-bidang geometris, persegi, kotak, seperti kubus yang tersusun.

Contoh : picasso

9.Surealisme

Melukis yang banyak mengungkap hal-hal aneh dan ajaib yang ada di luar kesadaran

Contoh : Salvador Dalli dan Yofra

10.Abstrakisme

Melukis dengan tidak menggambarkan obyek alam secara nyata atau rill karena banyak ditentukan ide pelukisnya, akan tetapi bentuknya artistic dan unik

Contohnya : Kanainsky, Piet Mondrian