Thursday, June 27, 2013

Apakah Warna Itu? Bagaimana Warna Dibuat?


KESEMPURNAAN SENI WARNA ILAHI

(Harun yahya)


Dunia yang Beraneka Warna

Pernahkah terpikir oleh Anda seperti apa hidup di dunia tanpa warna? Bebaskan diri Anda sejenak dari pengalaman Anda. Lu-pakan semua yang pernah Anda pelajari. Dan mulailah menggu-nakan imajinasi. Coba bayangkan badan Anda, orang-orang di sekitar Anda, lautan, langit, pohon-pohon, bunga-bunga, singkatnya, semua-nya, berwarna hitam. Bayangkan bahwa di sekeliling Anda tidak ada warna. Coba pikirkan, bagaimana perasaan Anda jika orang, kucing, an-jing, burung, kupu-kupu, dan buah-buahan tidak berwarna sama sekali. Tentunya Anda tidak mau hidup di dunia seperti itu, bukan?
Dalam benak kebanyakan orang, mungkin tidak pernah terpikirkan, betapa beraneka warnanya dunia tempat hidup mereka; atau diper-tanyakan, bagaimana keanekaragaman warna seperti ini ada di bumi, atau seperti apa jadinya jika ada sebuah dunia tanpa warna. Ini karena setiap orang dengan penglihatan normal dilahirkan ke dunia yang penuh warna. Tetapi, sebuah model dunia hitam putih, tanpa warna, bukanlah suatu hal yang tidak mungkin terjadi. Justru karenanya, dunia yang penuh warna cemerlang, tempat kita hidup, menjadi benar-benar mengagumkan. (Da-lam bab-bab selanjutnya, akan didiskusikan secara terperinci mengapa keberadaan dunia penuh warna ini demikian mengagumkan).
Sebuah dunia tanpa warna biasanya dibayangkan hanya terdiri dari hitam, putih dan nuansa abu-abu. Tetapi, hitam, putih dan nuansa abu-abu sebenarnya warna juga. Maka, sulit sekali membayangkan ketiadaan warna. Untuk menjelaskan ketiadaan warna, seseorang selalu merasa per-lu menyebutkan satu warna. Orang mencoba menjelaskan ketiadaan war-na dengan pernyataan seperti, “Tidak ada warna, benar-benar hitam,” atau “Wajahnya sama sekali tidak berwarna; putih sekali.” Sebenarnya, semua itu bukan penjelasan tentang ketiadaan warna, melainkan hanya sebuah dunia hitam putih.
Cobalah, selama sedetik saja, membayangkan bahwa, tiba-tiba saja, semua kehilangan warnanya. Dalam keadaan demikian, segala sesuatu akan saling bercampur dan akan menjadi mustahil membedakan satu objek dengan objek lainnya. Akan mustahil melihat, misalnya, jeruk, stro-beri atau serangkai bunga di atas sebuah meja kayu, karena jeruk itu tidak berwarna oranye, meja itu tidak berwarna coklat, dan stroberi itu juga tidak berwarna merah. Betapa tidak nyaman bagi seseorang untuk hidup di dunia tanpa warna, sekalipun hanya sesaat. Karena dunia seperti itu bahkan sulit untuk digambarkan.
Warna berperan penting dalam komunikasi manusia dengan dunia luar, dalam kelancaran fungsi ingatannya, dan dalam pemenuhan fungsi belajar otaknya. Ini karena manusia dapat mengaitkan dengan tepat antara kejadian dan tempat, antara orang dan objek, hanya dari penampakan luar dan warnanya. Pendengaran atau sentuhan saja tidak cukup untuk mendefinisikan objek. Bagi manusia, dunia luar mempunyai makna hanya jika dilihat secara keseluruhan dengan warnanya.
Keanekaragaman warna tidak hanya memudahkan pengenalan pelbagai objek dan lingkungan sekeliling kita. Keselarasan warna yang sempurna di alam semesta memberikan kenikmatan sangat besar bagi jiwa manusia. Untuk dapat melihat keselarasan ini dari setiap detilnya, manusia telah dilengkapi sepasang mata dengan rancangan sangat isti-mewa. Di dunia makhluk hidup, mata manusia paling fungsional dan dapat menangkap warna-warni dalam detail sekecil-kecilnya, sedemi-kian rupa sehingga mata manusia sensitif terhadap jutaan warna.1 Nyata sekali bahwa alat penglihatan manusia yang bekerja begitu sempurna telah dirancang khusus untuk melihat dunia penuh warna.
Satu-satunya makhluk di bumi yang dapat memahami keberadaan keteraturan seperti itu di alam semesta adalah manusia, karena ia mem-punyai kemampuan untuk berpikir dan menggunakan nalar. Jadi, ber-dasarkan semua uraian di atas, kita simpulkan sebagai berikut:
Setiap detil, pola dan warna di langit dan di bumi telah diciptakan bagi manusia agar ia mengakui dan kemudian menghargai keteraturan ini dan memikirkannya. Warna-warni di alam telah diatur sedemikian rupa sehingga mempunyai daya tarik bagi jiwa manusia. Keselarasan dan simetri sempurna tampak dalam warna, baik di dunia makhluk hidup maupun benda mati. Situasi ini tentu saja akan membangkitkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran seseorang yang berpikir, misalnya:
Apa yang membuat bumi beraneka warna? Bagaimana warna-war-na itu, yang menjadikan dunia kita luar biasa indah, dapat terjadi? Siapa yang merancang keanekaragaman warna dan keselarasan di antara war-na-warna tersebut?
Bisakah dikatakan bahwa segala sesuatu muncul begitu saja karena perubahan-perubahan tak terarah yang ditimbulkan oleh serangkaian kejadian kebetulan?
Tentu saja, tak seorang pun akan menyatakan kemustahilan seperti itu. Kebetulan-kebetulan tak terkontrol tidak dapat menciptakan apa pun, apalagi miliaran warna. Coba saja amati sayap kupu-kupu atau bunga beraneka warna, yang masing-masing bagaikan keajaiban seni. Jelas, tidak mungkin bagi akal sehat menganggap semua ini adalah hasil dari proses yang tidak disengaja.
Kita akan memahami lebih baik fakta ini jika kita mengambil sebuah contoh. Ketika seseorang melihat sebuah lukisan yang menggambarkan pohon dan bunga di alam, ia tidak akan berkata, atau bahkan berpikir, bahwa keselarasan warna, keteraturan pola dan desain dalam lukisan ini muncul begitu saja karena kebetulan. Jika orang lain datang dan berkata, “Kaleng-kaleng cat itu terguling ditiup angin, catnya tercampur, dan de-ngan pengaruh hujan dan lain-lain, dan setelah melalui waktu yang lama, lukisan indah ini terbentuk“, pastilah tak ada orang yang menganggapnya serius. Ada situasi yang sangat menarik di sini. Meskipun tidak ada orang yang berusaha mengajukan pernyataan tak masuk akal seperti itu, ada saja orang yang menyatakan bahwa pewarnaan dan simetri sempurna di alam muncul melalui proses-proses tidak disengaja. Evolusionis, misalnya, membuat tesis tentang proses-proses kebetulan untuk menjelaskan masa-lah ini, dan mereka mengadakan berbagai riset. Mereka tidak sungkan-sungkan mengeluarkan pernyataan-pernyataan tidak berdasar dalam masalah ini.
Ini adalah kebutaan nyata, dan dengan kebutaan seperti itu, orang akan sulit untuk disadarkan. Namun, seseorang yang bisa lolos dari ke-butaan ini dengan menggunakan akalnya, akan memahami bahwa dia sebenarnya hidup dalam lingkungan yang penuh keajaiban di bumi. Dia juga akan mengakui sepenuhnya bahwa lingkungan yang dilengkapi dengan kondisi paling cocok untuk kelestarian hidup manusia, tidak mungkin terjadi karena kebetulan.
Seperti orang yang berpikir dan mengakui keberadaan seorang pelu-kis ketika dia melihat lukisan, dia akan mengerti bahwa lingkungan multiwarna di sekelilingnya yang penuh keselarasan dan demikian indah juga ada penciptanya.
Pencipta ini adalah Allah, yang tidak bersekutu dalam penciptaan, yang menciptakan segala sesuatu dengan penuh keselarasan, dan yang menempatkan kita di dunia ini dalam limpahan banyak keindahan de-ngan jutaan warna. Semua yang Allah ciptakan selaras sempurna satu dengan lainnya. Allah menggambarkan keunikan cita rasa seni-Nya dalam penciptaan melalui ayat Al Quran:
“Dialah yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat cacat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat ada kekurangan? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya pengli-hatanmu akan kembali kepadamu tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.“ (QS. Al Mulk, 67: 3-4) !
Kita selalu melihat dunia penuh warna
Jika gambar-gambar di atas dan di bawah ini dibandingkan, kenikmatan melihat dunia penuh warna akan lebih mudah dirasakan. Warna adalah salah satu karunia yang diberikan Allah kepada manusia di dunia

Bab 1

Apakah Warna Itu?

Bagaimana Warna Dibuat?



Beberapa detil mempunyai tempat penting dalam pikiran manusia dan itu tidak akan pernah berubah. Mari kita mulai dengan pohon, yang sangat akrab dalam pandangan kita. Warna pohon hampir pasti hijau atau nuansa hijau. Diketahui pula bahwa pada musim gugur, dedaunan berubah warna. Sama halnya, langit berwarna biru, nuansa abu-abu saat mendung atau kuning dan merah saat matahari terbit dan terbenam. Warna-warna buah tidak pernah berubah; warna buah jambu dan salak sudah seperti itu, dan selalu kita kenali dengan baik. Setiap makhluk hidup dan objek yang dipegang di bawah cahaya memiliki warna. Perhatikan baik-baik pelbagai benda di sekeliling Anda. Apa yang Anda lihat? Meja, kursi, pepohonan yang terlihat dari jendela, langit, dinding rumah, wajah-wajah orang lain, buah yang Anda makan, buku yang Anda baca saat ini.… Masing-masing mempunyai warna berbeda. Pernahkah Anda pikirkan, bagaimana semua warna ini dibentuk dan ditata?
Mari kita cermati secara umum apa yang diperlukan untuk pemben-tukan warna yang memainkan peran penting dalam kehidupan (Poin ini akan didiskusikan kemudian dengan terperinci). Untuk pembentukan warna tunggal, misalnya, merah atau hijau, setiap proses berikut harus terjadi dan, lebih penting lagi, harus mengikuti urutan berikut ini.

1. Kondisi pertama yang diperlukan untuk pembentukan warna adalah keberadaan cahaya (light). Dalam hal ini, ada baiknya memulai dengan mencermati sifat-sifat cahaya yang berasal dari matahari. Cahaya dari matahari yang datang ke bumi harus memiliki panjang gelombang tertentu untuk menghasilkan warna. Bagian cahaya ini, yang dikenal sebagai “cahaya tampak“, dibandingkan dengan semua cahaya lain yang dipancarkan matahari adalah satu berbanding 1025. Proporsi cahaya yang kecilnya hampir tak masuk akal ini, yang penting untuk pembentukan warna, mencapai bumi dari matahari

2. Bahkan, sebagian besar sinar (rays) yang dipancarkan matahari ke seluruh jagat raya mengandung beberapa karakteristik yang membahayakan mata. Oleh karena itu, cahaya yang tiba ke bumi harus dalam bentuk tertentu sehingga dapat ditangkap mata dengan mudah dan tidak membahayakannya. Untuk itu, sinar ini harus melewati suatu filter. Filter raksasa ini adalah “atmosfer“ yang menyelimuti bumi.

3. Cahaya yang melewati atmosfer disebarkan ke seluruh permukaan bumi, dan ketika mengenai objek, cahaya ini dipantulkan. Objek tempat cahaya jatuh harus dari jenis yang tidak menyerap cahaya, tetapi memantulkannya. Dengan kata lain, kualitas struktur objek harus selaras juga dengan cahaya yang mencapai bumi agar warna dapat terbentuk. Kondisi ini juga terpenuhi dan gelombang cahaya baru dipantulkan dari objek yang terkena cahaya matahari.
4. Syarat penting berikutnya dalam proses pembentukan warna adalah keberadaan alat yang dapat mengindra gelombang cahaya, yaitu mata. Sangat penting bahwa gelombang cahaya juga selaras dengan organ penglihatan.

5. Sinar yang datang dari matahari harus melewati lensa dan lapisan-lapisan mata dan kemudian diubah menjadi impuls-impuls saraf di dalam retina. Sinyal ini kemudian harus diangkut ke pusat penglihatan pada otak, yang bertugas menginterpretasikan pandangan.

6. Ada langkah terakhir yang harus dipenuhi agar kita dapat 'meli-hat' warna. Tahap akhir dalam pembentukan warna adalah interpretasi sinyal listrik sebagai “warna“ oleh sel saraf yang sangat khusus di dalam pusat penglihatan otak.
Demikianlah, untuk pembentukan satu warna saja, diperlukan urut-an proses yang sangat detail dan saling tergantung.
Semua informasi yang kita miliki tentang warna menunjukkan bah-wa setiap proses yang terjadi selama pembentukan warna diatur dalam keseimbangan yang rumit. Tanpa keseimbangan ini, tak pelak lagi kita akan berada di dunia yang gelap, bukan dunia penuh warna cemerlang, dan mungkin kita bahkan akan kehilangan kemampuan untuk melihat. Mari kita anggap bahwa satu bagian saja, misalnya, sel saraf penerima sinyal listrik yang dibangkitkan oleh retina, tidak ada. Yang terjadi adalah, cahaya matahari tidak berada dalam spektrum tampak, bagian-bagian lain dari mata tidak berfungsi secara utuh, dan keberadaan atmosfer saja tidak memadai atau mengkompensasi kekurangan ini.

Peran Retina dalam Melihat

Marilah kita mengkaji retina lebih dekat dan lebih detail. Anggaplah bahwa zat pewarna (pigmentary substance) yang disebut “rhodopsin“, yang bekerja di dalam retina, tidak ada. Rhodopsin adalah zat yang berhenti berfungsi di bawah cahaya terang benderang tetapi berfungsi kembali dalam kegelapan. Mata tidak dapat melihat dengan jelas dalam cahaya remang-remang kecuali jika sejumlah rhodopsin dihasilkan dalam mata. Fungsi rhodopsin adalah untuk meningkatkan efisiensi dan dengannya mata membangkitkan impuls saraf dari cahaya remang-remang. Zat ini diproduksi sebanyak kebutuhan, tepat pada saat diperlukan. Jika kese-imbangan rhodopsin terjaga, citra menjadi jelas. Apa yang akan terjadi, jika rhodopsin yang sangat penting untuk proses penglihatan, tidak ada? Jika demikian, manusia hanya bisa melihat di bawah cahaya terang.2 Oleh karena itu, terbukti bahwa ada sistem sempurna di dalam mata, yang telah dirancang sampai dengan detail sekecil-kecilnya.
Lalu, karya seni siapakah sistem ini, yang menyelamatkan kita dari kegelapan dan menyajikan kepada kita sebuah dunia penuh warna?
Setiap tahap yang telah disebutkan sejauh ini mencakup serang-kaian proses, yang memerlukan adanya kebijaksanaan, keinginan dan kekuasaan dalam penciptaan mereka. Jelaslah bahwa tidak mungkin rangkaian proses yang ada dalam keselarasan seperti itu, telah terbentuk secara kebetulan. Juga, tidaklah mungkin sistem seperti itu telah terben-tuk sendiri sejalan dengan waktu. Hasilnya tidak akan berubah sama sekali jika jutaan atau bahkan miliaran tahun dibiarkan berlalu. Sistem-sistem penyusun dunia yang beraneka warna tidak akan pernah muncul secara kebetulan. Sistem-sistem sempurna seperti itu hanya dapat mun-cul sebagai hasil dari desain khusus, yang berarti bahwa mereka dicipta-kan. Allah memiliki kekuatan dan kebijaksanaan abadi yang meliputi seluruh jagat raya. Contoh-contoh cita rasa seni Ilahi dalam penciptaan yang tiada taranya tersebar di seluruh semesta. Desain unik yang tampak jelas dalam pembentukan warna juga adalah ciptaan Allah semata. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi; dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya; mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.“ (QS. Al Baqarah, 2: 117) !

Tak dapat dibantah lagi betapa pentingnya warna dalam kehidupan manusia. Setiap benda mendapatkan arti dengan warna-warna yang dimilikinya. Bayangkan, warna-warna yang Anda lihat pada foto di samping ini (termasuk hitam dan putih) tidak ada sama sekali. Tentu saja, Anda tidak bisa melihat apa-apa dalam foto itu. Untuk membentuk satu saja dari sekian banyak warna pada objek-objek ini, ada beberapa faktor yang harus dipenuhi, semuanya pada saat bersamaan. Allah telah membuat pembentukan warna tergantung pada keberadaan sebuah sistem yang sangat terperinci.

“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun.” (QS. Qaaf, 50:6) !

Melalui lapisan-lapisan khusus yang dimilikinya, atmosfer menyerap hampir semua sinar berbahaya yang berasal dari matahari atau luar angkasa. Allah telah merancang setiap lapisan ini demi kehidupan di bumi.


Bersambung ke post berikutnya.

Sunday, May 26, 2013

Membuat Sketsa dengan Tusuk Sate dan Tinta China

Langsung aja kita lihat penampakan yang kita butuhkan dalam membuat sket.

Namanya juga kita buat karya pake tusuk sate, jadi hal yang paling pokok adalah si tusuk satenya itu.






Kemudian jangan lupa juga tinta china. Atau banyak orang juga yang menyebutnya tinta bak. Sama saja. Ini ada contoh dari tinta china.


Ini ada dua jenis tinta china, yang botolnya bulat dengan merk berwarna kuning itu lebih kental dan warnanya lebih pekat dan hitam. Dan yang satunya lebih encer dan warnanya tidak terlalu pekat. Namun keunggulannya jika kita menggunakannya secara tipis atau kita menambahkan air, akan ada kesan berwarna abu-abu mendekati biru. Jadi akan menimbulkan kesan bervariasi dengan menggunakan satu media.
Berikutnya bahan yang dibutuhkan yaitu kertas.


Kertas juga sangat penting dalam membuat sket. Karena benda ini adalah benda paling simpel dan paling mudah dicari dan dibawa. Bisa menggunakan kertas gambar ataupun kertas HVS.

Kemudian papan sket juga jangan lupa. Ini hanya untuk tambahan saja. Tidak terlalu wajib juga. Namun alangkah baiknya jika kita membawa papan sket agar kita menjadi lebih mudah dan lebih santai dalam membuat karya. Juga berfungsi untuk menahan kertas agar tidak kabur2 apabila ada angin (sebagai penjepit kertas.




Dan satu lagi, lap/tisu.




Sekarang tinggal kita membuat alat gambar dari tusuk satenya saja.
Yang dibutuhkan untuk membuat tusuk sate menjadi alat sket adalah cutter! Atau bisa juga menggunakan benda sejenis.

Langkah pertama, ambil sebuah tusuk sate.

Kemudian, ujung tusuk sate yang lancip belah menjadi dua. Setelah terbagi dua (hanya bagian ujung, tidak semuanya)




Kemudian dibelah lagi sehingga terbagi menjadi empat..


Setelah itu sisi-sisi bagian ujung yang telah terbelah beri gurat2 dengan menggunakan cutter agar tinta lebih bisa terserap.




Kalo sudah melakukan langkah-langkah di atas, berarti tinggal menuju lokasi yang ingin di sket!!



Ini ada beberapa hasil dari tusuk sate dan tinta china..

 

SKETSA



Sekelumit Tentang Sketsa

Oleh: Aryo Sunaryo




catatan: Tulisan ini pernah dibuat dalam rangka penerbitan Hasil Lomba Sketsa Arsitektur Stasiun KA Tawang Semarang, 12 Desember 1999.
Untuk melengkapinya, pada blog ini ditambahan gambar ilustrasinya.


Untuk melengkapinya, pada blog ini ditambahan gambar ilustrasinya.


I. Sketsa atau sket (sketch) secara umum dikenal sebagai bagan atau rencana bagi sebuah lukisan. Dalam pengertian itu, sketsa lebih merupakan gambar kasar, bersifat sementara, baik di atas kertas maupun di atas kanvas, dengan tujuan untuk dikerjakan lebih lanjut sebagai lukisan. Mengingat sederhana penampilannya, sketsa lebih merupakan “persiapan” dari lukisan yang akan datang, demikian tulis Putu Wijaya.

Menurut Meyers (1969) sketsa merupakan gambar catatan. Ia membedakannya dengan gambar karya lengkap dan gambar karya studi. Dalam karya studi, gambar merupakan eksplorasi teknis atau bentuk untuk penyelesaian lukisan, patung, dan lain-lain. Biasanya penggambarannya menyoroti rincian dari bagian-bagian tertentu, misalnya anatomi kepala, tangan atau bahu, draperi, dan sebagainya dalam mempelajari bentuk orang. Gambar semacam ini misalnya, dikerjakan oleh Leonardo da Vinci (1452-1519) dan Michaelangelo (1475-1564).





Gambar karya lengkap merupakan karya final, gambar sebagai karya jadi. Sebagai ungkapan dalam bentuk gambar, ia berfungsi sebagai sarana komunikasi, mendeskripsikan dan menjelaskan objek-objek secara visual, sebagaimana karya ilustrasi visual. Gambar karya lengkap berdiri sendiri sebagai karya yang selesai, seperti karya-karya lukis atau patung.

Dalam sketsa, kata Meyers, terdapat keinginan pembuatnya untuk merekam kejadian atau objek yang dilihat sebagai momen yang menarik perhatian penggambarnya. Sketsa mungkin dibuat untuk memenuhi kebutuhan sebagai latihan, main-main, atau semacam ungkapan pribadi. Dalam hal yang terakhir, karya sketsa dipandang setara dengan lukisan. Oleh karenanya, Agus Dermawan T ketika mengomentari sketsa-sketsa karya Ipe Ma’roef (1938 -) seorang empu sketsa Indonesia, mengungkapkan sebagai lukisan garis. Ungkapan ini sekaligus menegaskan, bahwa garis perannya amat menonjoldalam sebuah sketsa.

Meski bagi Fajar Sidik (1981) garis atau penggarisan merupakan unsur yang paling menonjol hakiki dalam seni lukis, namun pada dasarnya terdapat perbedaan antara sketsa dengan lukisan. Ada ungkapan yang menarik yang disampaikan oleh Kusnadi, seorang seniman dan kritikus seni rupa. Sketsa ibarat gesekan biola tunggal, sedangkan lukisan merupakan sebuah orkes yang lengkap. Ungkapan ini menyatakan dua hal, pertama, sketsa sebagai ungkapan estetis dihadirkan secara sangat sederhana karena menggunakan garis secara hemat dan selektif. Umumnya sketsa dikerjakan dengan cepat dan secara spontan. Jika sketsa dibangun oleh unsur-unsur garis sebagai medium utamanya, lukisan merupakan ungkapan lengkap, dalam arti penyajiannya dibangun dengan menggunakan unsur-unsur lain, seperti tekstur, kedalaman/ruang, gelap-terang, dan warna di samping unsur garis. Bahkan dalam lukisan, unsur warna menjadi penting sebagai unsur tambahannya (Schinneller,1966).

Kedua, baik sketsa maupun lukisan merupakan ungkapan artistik yang bersifat pribadi. Aspek ungkapan yang bersifat pribadi ini lebih penting dari pada aspek lain yang bersifat informatif-naratif. Melalui sketsa, pembuatnya dapat mengungkapkan pengalaman yang bersifat pribadi dengan total. Sebagaimana gesekan biola yang mendayu mengiris kalbu, sketsa dapat menggetarkan perasaan orang yang melihatnya, sama halnya dengan sebuah lukisan. Jadi, sketsa bukan lagi sebagai bagian dari perencanaan sebuah lukisan, melainkan memiliki otonomi sendiri, berdiri sejajar dengan lukisan. Dengan demikian, sikap berkarya sketsa sama dengan ketika akan berkarya lukisan. Ingat saja karya-karya Vincent van Gogh (1853-1890), pelukis ekspresionis Belanda itu.

Semasa hidupnya yang pendek, ia telah menyelesaikan kira-kira 3000 sketsa di samping 800 lukisan cat minyak. Baginya sikap membuat gambar atau sketsa sama dengan sikap membuat lukisan. Perasaan dan emosi sangat memegang peranan. Begitulah, karya-karya sketsanya sebagai gambar ekspresif. Dari sisi intensitas ekspresivitas, sejumlah karya sketsa beberapa pelukis bahkan tampil lebih kuat dan menarik, meski hanya berupa goresan-goresan hitam putih atau sebagai gambar rencana lukisan sekalipun. Sketsa karya Poussin (1593-1665) yang berjudul “Massacre of the Innocents” misalnya, rasanya lebih menarik dari pada lukisannya dengan judul yang sama. Daya tarik dan kekuatan-kekuatan serupa juga dapat dijumpai pada karya-karya sketsa pelukis Delacroix (1798-1863), Tiepolo (1690-1770), bahkan juga pada sketsa karya Auguste Rodin (1840-1917) dan Henry Moore(1898-1986) pematung kenamaan itu.

II. Sebagaimana halnya dengan karya lukisan, sketsa memiliki keragaman tema, gaya dan teknik pengungkapannya. Perbedaan yang mencolok hanyalah pada medium pengucapannya.

Mengenai tema, sketsa lebih banyak dikaitkan dengan subjek yang diangkat dari penggarapan objek-objek out door, mengingatkan orang pada kaum impresionis di abad XIX dengan out door painting-nya itu. Dalam hal ini, pemandangan di luar seperti kebun, ladang, jalan-jalan, perkampungan padat, keramaian kota, bangunan-bangunan, dan kesibukan-kesibukan orang di pasar, merupakan objek-objek menarik yang menggugah penggambar atau pelukis untuk membuat sketsa melalui pengalaman melihat langsung. Rupanya kontak langsung melalui pengamatan untuk mendapatkan impresi dan mengembangkan imaji menjadi bagian penting dari proses penciptaan dan pemilihan tema dalam sketsa. Itulah sebabnya sketsa dipandang sebagai rekaman atas objek atau peristiwa yang menarik perhatian penggambarnya. Dengan proses kerja seperti itu, tentulah banyak diperoleh keuntungan. Antara lain mempertajam pengamatan, meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengkoordinasikan antara hasil pengamatan dengan keterampilan tangan. Di lembaga-lembaga pendidikan seni, sketsa masih dipercaya sebagai latihan-latihan yang wajib dilakukan bagi mahasiswa, dalam rangka menumbuhkan dan mengkukuhkan keprofesionalannya.







Dalam perkembangannya, sketsa kemudian tidak hanya menampilkan objek-objek nyata yang kasat mata dan dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari, melainkan terjadi perkembangan tema-tema sketsa. Munculah tema sketsa yang lebih merupakan pernyataan imaji, impian, kesan-kesan, dan pikiran-pikiran penciptanya dan lebih abstrak. Sketsa pelukis Nashar (1928- ) misalnya, yang dipamerkan di Jakarta tahun 1976, dipandang Putu Wijaya telah membebaskan garis sebagai batas dari wadag. Garis tersebut telah dibiarkan hidup sebagai garis, menjadi wadag itu sendiri dalam kubungannya dengan kesan-kesan yang diperoleh batin pelukisnya. Atau dapat saja kesan-kesan dalam pelukis Oesman Effendi yang amat subjektif atas apa yang diamatinya itu, mewujudkan sketsa-sketsa yang hilang sosoknya dan berubah menjadi permainan irama garis. Rudi Isbandi ( 1937- ) pelukis asal Surabaya, pernah membuat sketsa berjudul “Kali Mas” dan yang tinggal dalam karyanya hanyalah berupa garis-garis seperti kawat namun sangat esensial, sehingga menjadi abstrak. Pelopor lukisan abstrak Indonesia, Fajar Sidik (1930- ) membuat sketsa-sketsanya terbebas dari kenyataan visual dan bergaya abstrak.

Mengenai gaya sketsa, hampir penciptanya mengembangkan gaya pribadi masing-masing sesuai dengan cita rasa dan tanggapannya atas lingkungan. Tetapi sebagai kecenderungan cara dan corak ungkapan karya, barangkali dapat dikelompokkan menjadi beberapa saja.

Untuk menyebut kecenderungan yang berkembang di sekitar kita, aganya dapat dikelompokkan menjadi sketsa yang bercorak figuratif, baik yang realistis, ekspresionistis, maupun dekoratif, kemudian corak surealistis-imajinatif dan corak abstrak.

Ipe Ma’roef dan kebanyakan pelukis sketsa, karya-karyanya dapat dikelompokkan ke dalam sketsa figuratif-realistis. Corak figuratif-realistis meski dimanifestasikan dengan garis yang sederhana dan hemat, secara keseluruhan menunjukkan hasil pengamatan yang cermat atas objek nyata dan masih setia pada proporsi, anatomi, dan gejala perspektif sebagaimana yang diberikan oleh alam atau kenyataan visual.

Jika karya-karya sketsa Ipe kebanyakan termasuk corak figuratif-realistis, sketsa-sketsa Affandi (1907-1988), Nyoman Gunarso (1944- ) dan Suwaji (1942- ) merupakan contoh sketsa figuratif ekspresionistis. Pada corak sketsa ini didorong oleh gejolak emosi dan spontanitas yang kuat, sosok atau bentuk-bentuk yang digambarkan mengalami pendistorsian. Tubuh orang, misalnya, dibuat meliuk-liuk mengikuti irama dan getaran emosi sehingga mengesampingkan proporsi yang wajar. Pelukis Widayat (1923- ) membuat sketsa figuratif-dekoratif dan surealistis-dekoratif. Kegemarannya melakukan stilisasi dan gubahan-gubahan ornamentik dalam lukisannya, menampak pula pada karya sketsanya.

Sketsa surealistis yang naïf kekanak-kanakan, yang menggambarkan alam bawah sadar dan penuh khayalan serta terasa absurd dapat dilihat pada karya pelukis muda Eddie Hara (1957- ). Jika Nashar dan Oesman Effendi membuat sketsa-sketsa semi abstrak, Fajar Sidik dan beberapa perupa muda membuat sketsa abstrak murni. Sketsa Fajar Sidik berupa pola-pola bidang organis yang tertata secara ritmis, mengingatkan pada lukisannya “Dinamika Keruangan” yang menjadi gayanya yang khas.

Dalam perjalanannya, dilihat dari segi teknik, sketsa belum seanekaragam lukisan. Barangkali karena pada sketsa, penggambarannya hanya mengandalkan garis sebagai medium pengucapannya. Soal garis, Read (1959) pernah bilang bahwa garis merupakan sarana yang paling singkat dan abstrak untuk melukiskan mutu objek.

Melalui garis, dapat dibangun raut atau bentuk, bidang, tekstur, ruang, atau gelap terang dengan arsir dan garis-garis silang, misalnya. Unsur warna, dapat saja dihadirkan dalam karya sketsa. Tetapi pada dasarnya warna garislah yang lebih berbicara. Justru penyajian hitam-putih merupakan kekuatan sketsa.

Membicarakan soal teknik tak dapat dilepaskan dari penggunaan bahan, alat, serta proses penyajian karya. Bahan dan alat yang sering disebut media, dalam penciptaan sketsa biasanya adalah pensil dan arang serta media kering lainnya, juga tinta, yang menggunakan kuas, pena atau alat lain sebagai media basah. Pensil dan arang merupakan media yang fleksibel serta dapat menghasilkan jejak-jejak yang cukup bervariasi. Namun kecuali mudah terhapus, umunya nilai kepekatannya kurang.

Penggunaan media basah dalam sketsa menampilkan goresan yang pekat, jelas, dan memiliki kemungkinan untuk divariasikan pula penggunaannya. Adakalanya kepekatan garis-garis dipadukan dengan cara bilas, yaitu membasahi atau menyapukan kuas basah dengan air. Cara demikian, dapat memperoleh objek efek khusus dan variasi nada atau nilai gelap terang, karena goresan tinta menjadi luntur dan mengembang. Tetapi upaya-upaya ini dalam sketsa dilakukan tidak untuk kepentingan membuat rincian yang berlebihan; sketsa yang baik haruslah tetap sumir dan menghindari penyajian rincian yang kurang esensial.

Bagaimanapun, garis merupakan unsur rupa yang fundamental dan potensial dalam karya sketsa, ia tidak semata membentuk kontur. Potensi lain dari garis ialah kemampuannya mengekspresikan gerakan-gerakan, ruang atau kedalaman, dan mengesankan massa bentuk. Potensi-potensi inilah yang harus dikuasai oleh pembuat sketsa beserta pemilihan dan pemanfaatan media dalam mencapai nilai-nilai artistik karya.

Terdapat dua pendekatan dalam menggunakan garis sebagai medium ungkapan sketsa. Pertama, pendekatan kontur dan yang kedua pendekatan gestur.

Pada pendekatan kontur, sketsa dihadirkan dengan garis-garis tunggal seakan tak terputus, sebagai batas yang mengelilingi bentuk subjek-subjeknya, tanpa harus kehilangan spontanitasnya. Garis-garis yang dikerjakan secara free-hand itu, tampak eksplesit, tajam dan presisi. Tak ada garis yang salah. Tak ada garis yang diulang dan berlebihan, apalagi arsir dalam sketsa itu. Picasso (1881-1973), Henri Matisse menciptakan sketsa dengan cara ini. Meski garis-garis mereka dibuat dengan tarikan sekali jadi dan dengan ketebalan yang sama, dengan susunan tertentu dan pemenggalan-pemenggalan kontur di tempat-tempat yang pas, dapat dihadirkan kesan ruang dalam sketsanya. Pengaturan bagian-bagian yang kosong menjadi penting dalam menyatakan kesan ruang. Demikianlah, tarikan garis sekali jadi amat menentukan dalam sebuah sketsa. Ipe mengibaratkan sketsa sebagai teater. Sekali pemain muncul di panggung, tak ada kesempatan untuk meralat kekeliruan, lain dengan dunia film yang diibaratkan melukis dengan cat minyak.

Pada pendekatan gestur, sketsa dibentuk oleh garis-garis yang dihadirkan dengan gesekan-gesekan tangan secara kontinyu sepanjang proses penciptaan. Dengan cara ini, bentuk sketsa lebih merupakan impresi tetapi mencitrakan gerak dan bentuk menjadi mengabur, karena dibangun oleh garis riuh bertindihan dan liar, sejalan dengan reaksi emosi yang bergelora ketika penggambarnya menghadapi objek. Jika dengan pendekatan kontur bentuk dirumuskan dengan garis tunggal, pada pendekatan gestur disugestikan dengan garis-garis jamak. Pelukis-pelukis seperti Vincent van Gogh, Daumier (1808-1879) atau Affandi membuat sketsa dengan pendekatan gestur. Baik pendekatan kontur maupun gestur, proses penggarapan sketsa dilakukan dengan teknik langsung (direct method), dalam arti dikerjakan sekali jadi tanpa melalui tahapan-tahapan. Oleh karena itu waktu pengerjaannya berjalan dengan singkat, tetapi dengan segenap jiwa yang intens dan total.

III. Demikian, sebagai bentuk ungkapan pengalaman estetis, sketsa memiliki karakteristik kegarisan, sumir, esensial, dikerjakan secara langsung dan spontan dalam waktu singkat. Ia tidak semata berupa kontur dan garis gestur yang riuh tanpa arti, ia tidak hanya rekaman objek, melainkan ungkapan emosi dan kesan-kesan dalam sampai pada ke tingkat esensi objek, bahkan hingga bernilai simbolik untuk menyatakan gagasan dan khayalan penciptanya. Ia dapat mempresentasikan kenyataan fisik yang dijumpai pada kehidupan sehari-hari sampai kepada pernyataan dunia batin yang lebih dalam dan abstrak.

Sungguh merupakan upaya yang perlu disambut dengan gembira, bila ada beberapa pihak yang mendukung dan menerbitkan kumpulan karya-karya sketsa, khususnya sketsa dengan objek arsitektur stasiun K.A Tawang yang dikerjakan sepuluh mahasiswa pemenang lomba sketsa baru-baru ini. Mudah-mudahan dapat meningkatkan apresiasi dan berdampak luas menggerakkan dunia sketsa yang semakin lesu.
Semoga…!






Daftar Pustaka

Bentara Budaya Jakarta. 1995. Garis dan Warna: Proses Kreatif Ipe Ma’roef. Jakarta: PT. gramedia Pustaka Utama
Bersinar Lubis. 1995. “Goresan sebuah Puncak”, artikel dalam Gatra 22 Juli 1995
Meyers S. Berray, 1969. Understanding the Arts. New York: Rinehart & Winst
Peter & Linda Murray. 1988. Dictionary of Art & Artists. London: Penguin Book
Read, Herbert. 1959. The Meaning of Art. Toronto: Penguin Book Ltd
Schinneller, J.A. 1966. Art Search and Self Discovery. Pensylvania: International Text Book Company
Sidik, Fajar & Aming P. 1981. Desain Elementer. Yogyakarta: STSRI ASRI
Simon, Howard. 1968. Teghniques of Drawing. New York: Dover Publiations Inc
Sunaryo, Aryo. 1990. “Garis, Medium Ungkapan yang Potensial”. Makalahdalam diskusi dalam rangka pergelaran seni di IKIP Ujung Pandang
Toney, Anthony. 1966. Creative Painting and Drawing. New York: Dover Publiations Inc.
Wijaya, Putu. 1976. “Kesan-kesan Dalam” Artikel dalam Tempo 27 November 1976 Wijaya, Putu. 1976. Sketsa-sketsa Henk Ngantung, dari Masa ke Masa. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan






Friday, May 24, 2013

Lagu Lir ilir

  • PENDAHULUAN
Lagu Lir ilir adalah salah satu karya besar Sunan, ada yang mengatakan ciptaan Sunan Kalijogo, ada yang mengatakan ciptaan Sunan Giri, bahkan ada yang mengatakan ciptaan Sunan Ampel. Lagu in digunakan oleh Walisongo sebagai sarana dakwah. Karyanya ini sangat dikenal oleh para masyarakat terdahulu hingga kini, karena lagu ini mengandung makna yang patut untuk diteladani dan mudah dicerna orang zaman dahulu karena mengandung unsur kebudayaan jawa.
  • SYAIR  LAGU LIR  ILIR

Lir-ilir, Lir-ilir, Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo,
Tak sengguh temanten anyar
Cah angon – cah angon,
Penekno blimbing kuwi,
Lunyu-lunyu ya penekno,
Kanggo mbasuh dodotiro.
Dodotiro – dodotiro,
Kumitir bedah ing pinggir,
Dondomana jlumatana,
Kanggo seba mengko sore.
Mumpung padang rembulane,
Mumpung jembar kalangane,
Yo suraka, surak hiyo.
  • URAIAN  MAKNA  LAGU  LIR  ILIR
Berikut adalah penjabaran makna yang terkandung dalam syair tembang Lir Ilir, berdasarkan beberapa sumber penulis :
Bait pertama menggambarkan mulai bangkitnya islam
Bait kedua perintah menjalankan rukun islam dan perintah-perintahNYA
Bait ketiga yaitu anjuran untuk bertaubat dari segala maksiat yang diperbuat
Bait keempat adanya hasil baik yang didapat bila mau berusaha dengan baik.
Selanjutnya di bawah ini adalah uraian makna lagu Lir ilir dari tiap barisnya
- Lir-ilir, Lir-ilir
Tandure wus sumilir
Artinya : Bangunlah, bangunlah tanamannya sudah tumbuh.
>Dalam baris ini maksud dari bangunlah yang diulang dua kali adalah menyuruh untuk segera bangun.
>Tanamannya sudah tumbuh, yang di maksud tanaman adalah agama islam.
Jadi maksud dari bait ini adalah menyerukan kepada umat untuk segera bangun dari keterpurukan setelah runtuhnya kerajaan Majapahit pada masa itu, karena islam telah datang menaungi seluruh masyarakat.
- Tak ijo royo-royo,
Artinya : Bagaikan warna hijau yang menyegarkan.
Warna hijau disini, menggambarkan agama islam yang sering dilambangkan dengan warna hijau, menampakkan penampilan Islam yang menyenangkan. Juga menggambarkan tanaman yang tumbuh subur nan hijau, dimana iman yang di pelihara dengan baik, maka akan tumbuh dengan baik seperti tanaman yang tumbuh subur dan lebat.
Selain itu, apabila iman seseorang di kotori dengan perbuatan maksiat, maka akan merusak iman seseorang. Sama halnya dengan tanaman yang akan rusak bila terganggu hama, maka harus dihilangkan dengan memberikan anti hama, seperti hati yang akan kembali bersih dengan berbagai penawar hati, misalnya ;
-          Membaca Al qur’an
-          Memperbanyak dzikir
-          Menghadiri pengajian
-          Berpuasa sunnah
-          Dan lain lain
- Tak sengguh temanten anyar
Artinya : Bagaikan pengantin baru
Pengantin baru adalah sepasang mempelai, yang umunya sedang bahagia menempuh hidup barunya. Kalimat ini bermaksudkan kebahagiaan seorang muslim bagaikan kebahagiaan sepasang mempelai dalam menapaki keyakinan imannya.
- Cah angon – cah angon
Penekno blimbing kuwi
Artinya : Anak gembala – Anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu
>Anak gembala disini maksudnya pemimpin yang menjadi contoh bagi pengikutnya.
>Mengapa buah belimbing? Buah belimbing memiliki lima sisi, yang menggambarkan rukun islam dan sholat lima waktu




Dalam sebuah hadits disebutkan :
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ:  سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ و إِقَامُ  الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ  الْبَيْتِ  وَصَوْمُ رَمَضَانَ
Artinya : Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (Riwayat Turmuzi dan Muslim)
Jadi yang dimaksud syair ini, bahwa seorang pemimpin haruslah menjadi contoh yang baik untuk pengikutnya, yaitu dengan menjalankan rukun islam dan sholat lima waktu
>Anak gembala juga dapat diartikan sebagai diri kita, dimana penggembala pasti memiliki gembalaan, dan bagi manusia gembalaannya adalah nafsunya. Diharapkan manusia dapat menggembalakan nafsunya dengan baik, agar tidak merusak dan melanggar aturanNYA sehingga merusak imannya.
- Lunyu-lunyu ya penekno
Artinya : meskipun licin, tetap panjatlah
>Baris ini berhubungan dengan baris sebelumnya (panjatlah pohon belimbing itu). Licin dalam baris ini adalah penghambat bagi si pemanjat (cah angon), yang apabila tidak berhati-hati dan bersungguh-sunggu maka akan mudah tergelincir. Sama halnya dalam perintah agama, apabila tidak berhati-hati dari maksiat bisa tergelincir ke dalam lubang dosa. Analogi ini seperti jalan turun yang lebih mudah di bandingkan jalan naik, untuk memanjat dan mendapatkan buah belimbing akan mendapat banyak halangan, tidak seperti jalan turun yang lebih mudah. Analogi tersebut menggambarkan jalan untuk mendapatkan buah syurga memang tidak mudah, semudah jalan turun ke neraka, namun cah angon yang mau berusaha dengan sebaik-baiknya maka akan mendapatkan kebahagiaan abadi.
- Kanggo mbasuh dodotiro
Artinya : Untuk membasuh kain dodot
>Dodot adalah semacam kain kebesaran jaman dahulu yang di gunakan pada acara-acara keratin dan menurut orang jawa, pakaian adalah lambing agama. Pohon belimbing mengandung kadar keasaman yang pada zaman dahulu sering di gunakan untuk merawat kain batik agar tidak mudah rusak dan awet. Dengan maksud lain, islam adalah pembersih hati dan mensucikan kepercayaan manusia dengan rukun islam yang dituntunkan oleh ALLAH.
- Dodotiro – dodotiro
Kumitir bedah ing pinggir
Artinya : Kain dodotmu – kain dodotmu, telah rusak dan robek
>Telah disebutkan sebelumnya, dodot adalah kain dan pakaian merupakan lambang agama. >Dalam hal ini dilambangkan kain dodot yang telah rusak dan robek. Karena kemajuan zaman yang menyebabkan kemerosotan moral manusia, maka rusaklah agama dan akhlaq manusia seperti robeknya kain dodot tersebut.
Sumber lain menyebutkan, kumitir artinya kain yang tertiup angin dan terlihat sobek dipinggirannya. Zaman dahulu ketika raja-raja telah memeluk agama islam, masyarakat pinggiran belum terlalu mengerti islam, masih bercampur dengan kebiasaan nenek moyang yang menganut hindu jawa. Jadi pinggiran kain dodot yang robek disini maksudnya adalah para masyarakat pinggiran yang belum terlalu memahami islam, inilah tugas besar yang diemban oleh para pemimpin.
- Dondomana jlumatana,
Kanggo seba mengko sore.
Artinya : Jahitlah, tisiklah untuk menghadap nanti sore
>Masih berhubungan dengan baris sebelumnya, bahwa Sunan Kalijaga memerintahkan untuk menjahit kain dodot yang robek. Masih seperti di atas, kain dodot maksudnya adalah agama maka maksud perintah Sunan Kalijaga adalah untuk memperbaiki agama.
>Makna untuk menghadap nanti sore, ‘nanti sore’ maksudnya waktu senja yaitu akhir perjalanan hidup, atau menjelang ajal.
Jadi maksud baris ini, diperintahkan kepada manusia untuk memperbaiki agamanya dari berbagai macam maksiat untuk mempersiapkan diri ketika menghadap Illahi nanti.
- Mumpung padang rembulane,
Mumpung jembar kalangane,
Artinya : Selagi masih terang bulannya, selagi masih luas lapangannya
>Terang bulan jelas ada saat malam hari. Tanpa bulan, malam hari akan gelap gulita dan tidak dapat membedakan yang hak dan yang bathil, disinilah maksud sinar bulan adalah agama Islam yang menerangi kegelapan, sehingga dengan sinar bulan (Agama Islam) manusia akan dapat membedakan yang baik dan yang buruk.
>Selagi masih luas lapangannya, maksudnya selagi masih ada waktu untuk memperbaiki.
Sehingga bila digabungkan, Agama Islam telah memberikan tuntunan kepada kita didunia, maka manfaatkanlah waktu yang diberikan untuk menjadi muslim yang sebaik-baiknya sebelum waktu kita didunia habis.
- Yo suraka, surak hiyo.
Artinya : ya, bersoraklah, berteriak-lah iya
Baris terakhir ini merupakan ajakan untuk bersorak bahagia. Berbahagialah bagi orang yang mampu menjaga agamanya dengan baik. Berbahagialah bagi ‘cah angon’ yang mampu memanjat hingga mendapatkan buahnya (surga), sambut seruan Islam dengan bahagia.
Di dalam Al qur’an surat Al Anfaal ayat 24 disebutkan :
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu ….
  • KESIMPULAN
Lagu ini menyimpan makna dan pelajaran yang sangat bermanfaat bagi kehidupan.
Bila disimpulkan menjadi satu bagian, Lagu Lir ilir menggambarkan bahwa kala itu Islam baru saja berkembang di pulau jawa khusunya. Dimana kerajaan majapahit baru saja runtuh dan masyarakat masih didominasi oleh agama nenek moyang, yaitu hindu jawa.
Agama Islam digambarkan dengan tanaman yang berwarna hijau, menampakkan penampilan Islam yang menyenangkan, dan bagi seorang muslim patutlah berbahagia seperti bahagianya sepasang pengantin baru.
Lagu ini menganalogikan seorang penggembala (cah angon) mewakilkan makna diri kita yang memiliki gembalaan nafsu, diharapkan manusia dapat menggembalakan nafsu dengan baik. Cah angon juga diartikan sebagai pemimpin yang menjadi contoh para pengikutnya, diharapkan seorang pemimpin mengamalkan rukun islam sehingga akan menjadi contoh yang baik bagi pengikutnya, rukun islam dilambangkan dalam buah belimbing yang memiliki lima sisi.
Dalam mempertahankan iman tidaklah mudah, pasti ada rintangan dalam menjaga keimanan. Karena jalan menuju neraka memang lebih mudah di banding menuju syurga. Seperti analogi dalam lagu ini, perintah untuk memanjat pohon meskipun susah mencapai buahnya (surga).
Selanjutnya analogi dalam kain dodot, yang merupakan pakaian kebesaran di kraton. Menurut orang jawa pakaian adalah lambang agama yang biasanya dirawat dengan mencucinya menggunakan buah belimbing. Seperti halnya agama yang harus dipelihara dan dirawat keimanannya. Kain dodot yang telah rusak dan robek diga,barkan seperti telah merosotnya iman seseorang, sehingga merusak keimanannya, maka kain ini harus di jahit dan diperbaiki. Keimanan harus kembali diperbaiki untuk menghadap Illahi pada akhir hayat nanti. Selagi masih ada waktu dan kesempatan dan waktu. Dan berbahagialah bagi para muslim yang memelihara keimanannya.