- Kesenian Yunani
Kesenian Yunani mengutamakan keindahan (idelaisme) berdasarkan akal(rasionalisme) dan berpusat pada manusia (humanisme). Peninggalan karya seni dan seni patung yang bermutu tinggi dibuat berdasarkan pedoman yang dirumuskan pada buku“Golden Section”Bangsa Yunani termasuk penganut Polyteisme (banyak Dewa). Dan diwujudkan dengan bentuk manusia yang cantik dan tampan (Antroforfisme) seperti Dewa Apolo, Dewa ZeusDewi Nike, dllKebudayaan Yunani diawali dari kebudayaan – kebudayan daerah disekitar laut tengah,yaitu kebudayaan Kreta (Minois), kemudian berkembang hingga mencapai klasiknya.
- Kesenian Romawi
Bangsa Romawi adalah bangsa yang terbuka terhadap kebudayaan luar dan memilikisifat – sifat kepercayaan dan peradaban hidup yang sama dengan bangsa Yunani.Demikian pula dalam kesenianya, segala bentuk keindahan dan kagungan seni Yunaniditiru dan diabadikan. - Kesenian Abad Pertengahan
Keketika bangsawan dan kaisar Romawi dipengaruhi oleh agama nasrani (Katholik),maka segala kegiatan seni yang harus berdasarkan peeraturan agama yang dipusatkan di biara – biara. Membuat lukisan atau patung harus bertemakan tentang yesus, mendirikan bangunan harus mengutamakan gereja atau basilica dengan sifat vertikalisme sebagailambang kekuasaan diatas segalanya. Kemudian dalam senu musikpun yangdikembangkan hanya musik – musik gereja yang disebut Liturgi. - Kesenian Masa Renaisance
Seni renaissance muncul di Itali (berpusat di Plorence) pada abad ke 15. renaissance berarti kelahiran kembali kebudayaan Yunani dan Romawi yang gemilang segalakegiatan yang bersifat Theokratis (berdasarkan peraturan agama) menjadi sifatAntroposentis ( berpusat pada manusia), zaman ini kembali manusia bebas berfikir, bebasmenuangkan ide, bebas mencari dan menikmasti kenikmatan duniawi.
Home » All posts
Thursday, August 16, 2012
Seni Rupa Murni (Eropa)
Tuesday, August 14, 2012
Semiotika dalam Desain Komunikasi Visual
Ilmu
Grafis Komvis Teori Semiotika dalam Desain Komunikasi Visual mengacu
pada Roland Barthes sebagai panduan berkomunikasi secara visual melalui
semiologi. Semilogi atau semiotik selain dipakai sebagai alat
komunikasi secara visual yang dipahami oleh masyarakat. Dalam artikel
ini kita akan mempelajari bagaimana cara Menemukan makna teks Desain
Komunikasi Visual.
Semiotik
secara etimologi berasal dari kata Yunani semeion yang berarti
”tanda”. Secara terminologi semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu
tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena
sosial/masyarakat dan kebudayaan itu merupakan bentuk dari tanda-
tanda. Semiotik juga mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan,
konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut memiliki arti.
Semiotika
moderen mempunyai dua orang pelopor, yaitu Charles Sanders Peirce
(1839-1914) dan Ferdinand de Saussure. Pierce mengusulkan kata
semiotika untuk bidang penelaahan ini, sedangkan Saussure memakai kata
semiologi. Sebenarnya kata semiotika tersebut telah digunakan oleh para
ahli filsafat Jerman bernama Lambert pada abad XVIII.
Roland
Barthes adalah orang pertama kali yang menyusun model skematik untuk
menganalisis negoisasi dan gagasan makna interaktif antara pembaca,
penulis dan teks. Ketika Saussure menekankan pada teks semata, Barthes
menekankan pada cara tanda-tanda di dalam teks berinteraksi dengan
pengalaman personal dan kultural penggunanya dan memperhatikan konvensi
pada teks yang berinteraksi dengan konvensi yang dialami. Dan inti
teori Barthes adalah gagasan tentang dua tatanan pertandaan (order of
signification).
Salah
satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya dalam tanda
adalah peran pembaca (the reader). Dalam Mithologies-nya (1983) secara
tegas ia membedakan antara denotatif atau sistem pemaknaan tataran
pertama dengan sistem pemaknaan tataran ke-dua, yang dibangun di atas
sistem lain yang telah ada sebelumnya, sistem kedua ini oleh Barthes
disebut dengan konotatif Roland Barthes sangat terpengaruh dengan
Saussure dengan semiologi yang kental dengan inspirasi linguistik.
Dari
peta Barthes dapat digambarkan bahwa tanda denotatif terdiri dari atas
penanda (signifier) dan petanda (signified), akan tetapi pada saat
bersamaan tanda denotatif adalah juga penanda konotatif. Denotasi
merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi
merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi lebih diasosiasikan
dengan ketertutupan makna. Sedangkan konotasi identik dengan operasi
ideologi, yang disebutnya sebagai ’mitos’ dan berfungsi untuk
mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang
berlaku dalam suatu periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola
tiga dimensi penanda, petanda dan tanda pada sistem pemaknaan tataran
kedua.
Gambar Semiologi Roland Barthes
Pada
tingkatan pertama (Language) Barthes meperkenalkan signifier (1) dan
signified (2), yang gabungan keduanya menghasilkan sign (3) pada
tingkatan pertama. Pada tingkatan kedua, sign (3) kembali menjadi
SIGNIFIER (I) dan digabungkan dengan SIGNIFIED (II) dan menjadi SIGN
(III). Sign yang ada ditingkatan ke dua inilah yang berupa MYTH (mitos)
disebut juga sebagai metalanguage.
Di sini
dapat dikatakan bahwa Makna denotatif adalah makna yang digunakan untuk
mendeskripsikan makna definisional, literal, gamblang atau common
sense dari sebuah tanda. Makna konotatif mengacu pada asosiasi-asosiasi
budaya sosial dan personal berupa ideologis, emosional dan lain
sebagainya.
Gambar Semiologi Roland Barthes
Barthes
mencontohkan istilah “mawar”. Sebagai signifier adalah kata “mawar” itu
sendiri (citra suara). Berfungsi sebagai signified adalah objeknya
(bentuknya) “wujud bunga mawar” sebagai konsep (mental). Ketika kedua
hal tersebut digabungkan akan terwujud sign (1), yaitu “mawar” sebagai
entitas kongkrit. Dan mawar sebagai entitas kongkrit, ketika dikaitkan
atau dikonotasikan secara arbitrer dengan hasrat (passion) akan
menghasilkan SIGN (III) yang berarati sudah menjadi mitos. secara
sederhana pada sign (3) mengandung makna denotatif dan pada SIGN (III)
mengandung makna konotatif.
Barthes
dalam menjelaskan membaca teks ”visual” menggunakan contoh seorang
negro yang memberi hormat pada sampul majalah Paris Match. Di situ
digambarkan seorang bocah negro dengan seragam khas Perancis sedang
berdiri memberi hormat dengan latar belakang bendera kebangsaan
Perancis.
Gambar Sampul majalah Paris Match
Pada
semiologi tingkat pertama, gambar majalah itu tidak mengandung
penafsiran apapun kecuali sebatas yang terlihat, yaitu bocah negro yang
atribut seragam Perancis yang tengah memberi hormat pada bendera
Perancis. Penghormatan itu layak dilakukan, karena perancis adalah
sebuah negara besar, bahwa semua yang berada dalam naungannya adalah
anak-anak ibu pertiwi, tanpa diskriminasi dan warna kulit. Tetapi pada
semiologi tingkat dua memiliki penafsiran seorang yang memberi hormat
kepada bendera Perancis tersebut tidak sekedar memberi hormat akan
tetapi ada makna-makna lain di balik itu.
Misalnya
saja mengapa anak negro yang dipilih? Mengapa dia memakai atribut khas
Perancis, mengapa sorot mata agak ke atas? Semua itu jeli ditafsirkan
oleh Roland Barthes dengan mengaitkan berbagai fakta penunjang. Seperti
misalnya situasi politik masa itu, di mana Perancis tengah mengalami
konfrontasi dengan atau tepat di tengah menjajah Aljazair, yang
notabene adalah warganya kulit hitam.
Sementara
perlawanan Aljazair telah berujung pada kemenangan. Sementara itu
telah menunjukan realitas bahwa Perancis adalah salah satu negara
imprealis penjajah yang wilayah negeri jajahannya sebagian besar adalah
kulit hitam. Frustasi yang tersembunyi dari Perancis, ” dilipur”
dengan visusalisasi sampul majalah Paris Match, yang sebenarnya
hanyalah mitos tentang keagungan imprealitas Perancis.
Mengakhiri
paparannya, Barthes menegaskan bahwa mitos adalah sarana
mendistorsikan fakta sehingga masyarakat akan menerima begitu saja
tanpa perlawanan. Inilah yang diinginkan oleh apa yang disebut oleh
Barthes dengan norma-norma borjuisi khas milik ideologi kapitalisme.
Maka mitosisasi adalah bungkus yang dibutuhkan, dikekalkan, diperkuat
mendukung sistem maenstrem modern secara ideologis. Disinilah barthes
menunjukkan ketika kebudayaan mewujudkan dirinya di dalam teks-teks,
maka ideologi pun mewujudkan dirinya melalui berbagai kode yang
merembes masuk ke dalam teks dalam bentuk penanda-penanda penting,
seperti tokoh, latar, sudut pandang dan lain-lain.
Dan
dibalik penanda-penanda yang ada ideologi memerankan sebuah kontruksi
budaya yang terwujud dalam karya-karya DKV sebagai bentuk dari
komunikasi masa yang sangat dipengaruhi sistem sosial ekonomi bahkan
politik sebuah masyarakat. Mengakhiri artikel kali ini penulis ingin
mengutip sebuah tuliasan dari Yasraf Amir Piliang dalm bukunya Dunia
Yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan, Jalasutra,
Yogyakarta, 2004, hlm. 327, menyatakan bahwa Tugas seorang cendekiawan
justru adalah menjadikan semiotika sebagai suatu metode untuk
menegakkan yang hak dan mendekonntruksi yang bathil.
Sehingga
sebuah alat atau ilmu bagi cendekiawan merupakan sebuah bentuk
pertanggungjawaban intelektual yang harus memberikan kontribusi positif
bagi terciptanya budaya yang manusiawi sesuai kodrat manusia sebagai
makhluk berakal yang diciptakan Tuhan.
Catatan:
Ideologi sendiri secara etimologis berasal dari bahasa Greek, terdiri atas kata idea dan logia. Idea bersal dari kata idein yang berarti melihat. Idea dalam Webster’s New Collogiate Dictionary berarti ” something existing in the mind as the result of the formulation of an opinion, a plan or the like” (sesuatu yang ada dalam pikiran sebagai hasil dari perumusan sesuatu pemikiran atau rencana). Sedangkan logis bersal dari kata logos yang berarti word. Kata ini berasal dari kata legein yang berarti to speak (berbicara). Selanjunya kata logia berarti science (pengetahuan) atau teori.Jadi menurut arti kata pengucapan dari yang terlihat atau pengutaraan apa yang terumus dalam pikiran sebagai hasil dari pemikiran (Sukarna, 1981:1)1 Meminjam pandangan filosof matrealis (komunis) Marx mengatakan ideologi adalah kesadaran palsu; kesadaran yang mengacu pada nilai-nilai moral tertinggi dengan sekaligus menutup kenyataan bahwa di belakang nilai-nlai luhur tersembunyilah kepentingan-kepentingan egois kelas-kelas berkuasa. Jadi ideologi sebagai teori yang menunjang kepentingan yang tidak dapat dilegetimasi secara wajar.
Daftar Pustaka
- Amir Piliang, Yasraf, ,Hiper Semiotika : Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, Jalasutra, Yogyakarta, 2003
- Amir Piliang, Yasraf, Dunia Yang Dilipat tamasya melampaui batas-batas kebudayaan, Jalasutra, Yogyakarta, 2004.
- Barthes, Roland, S/Z. Penerjemah Richard Miller. New York: Hill and Wang 1974
- Budiman, Kris, Semiotika Visual, Yogyakarta, Buku Baik dan Yayasan Seni Cemeti, 2004.
- Fiske, John, Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar Komprehensif, Jalasutra, Yogyakarta, 2006.
- Sobur, Alex , Analisis Teks Media Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, Dan Analisis Framing, PT. Remaja Rosda Karya Offset, Bandung, 2006.
- Tinarbuko, Sumbo, Semiotika Komunikasi Visual, Jalasutra, Yogyakarta, 2008.
Sumber : http://azizmaany.com/index.php/artikel/seni-rupa/135-semiotika-dalam-desain-komunikasi-visual
Batik Fraktal, Gabungan Seni dan Teknologi
Batik
telah lama dikenal sebagai kain tradisional Indonesia, yang oleh UNESCO
pun telah diakui sebagai warisan budaya dunia. Kain yang telah dipakai
sejak berabad-abad lalu ini bukan sekadar kain biasa. Setiap motif batik
mengandung filosofi, sejarah, dan kisah tersendiri, yang lalu
menghasilkan kompleksitas motif yang indah.
Zaman
yang semakin modern ternyata tak membuat batik punah. Malah sebaliknya,
teknologi komputer nan canggih ternyata bisa digunakan untuk
melestarikan kain tradisional ini. Itulah yang dilakukan oleh People
Pixel Project, sebuah kelompok riset desain dari Bandung. Kelompok yang
didirikan oleh Nancy Margried, Muhammad Lukman dan Yun Hariadi ini
menemukan bahwa kompleksitas motif batik serupa dengan konsep fraktal
dalam matematika atau fisika. Bermula saat mereka iseng-iseng menggambar
tumbuhan dengan menggunakan teknik fraktal, ternyata setelah dilihat
malah menghasilkan pola yang mirip batik. Lalu, Yun meriset 300 motif
batik Indonesia. Sebagai alat kerjanya, kami perlu softwareyang
dirancang oleh teman-teman programmer. Jadilah sebuah software bernama
JBatik.
Ternyata
pola batik tradisional dapat dimodelkan dalam rumus matematika yaitu
fraktal. Fraktal adalah salah satu cabang ilmu matematika yang berfokus
pada pengulangan, dimensi, literasi, dan pecahan. Semua motif batik
pasti mengandung unsur ini. Akhir 2006 lalu saya kumpul bersama dua
teman, Muhamad Lukman dan Yun Hariadi. Mereka berasal dari jurusan
arsitektur dan matematika ITB.
Kata 'batik'
adalah istilah terkenal dengan tangan tradisional dibuat dengan kain
pola tertentu, ikon budaya Indonesia dan telah dikenal sebagai salah
satu warisan Dunia, sejak 2009. Batik Fractal
adalah sebuah inovasi, produk dan merek (Fractal Batik Indonesia). Kami
membuat pola batik menggunakan rumus fraktal pada Software jBatik,
dan kemudian menerapkannya ke dalam kain dengan tangan tradisional
menulis atau stamping menolak pewarna pewarna dengan pengrajin batik
tradisional. Perangkat lunak kami generatif menciptakan pola batik.
Dikombinasikan dengan proses buatan tangan, itu akan membawa sebuah kain
batik kontemporer.Dengan menggunakan rumus fraktal, pola batik
diterjemahkan hingga dapat dimodifikasi dengan bantuan teknologi
komputer sehingga menghasilkan desain pola baru yang sangat beragam.
People Pixel Project kemudian menciptakan perangkat lunak “jBatik” yang dapat membuat desain motif batik dengan menggunakan konsep matematis fraktal.
“Hasilnya,
dari motif-motif batik tradisional yang sudah ada, bisa dimodifikasi
dengan berbagai motif baru yang dihasilkan dari teknik fraktal,” kata
Nancy Margried, CEO Batik Fractal Indonesia. Batik memang memiliki
pakem-pakem tersendiri dalam pendesainan dan penggunaan motif. Misalnya
adalah motif kawung, huk dan parang rusak, yang biasanya hanya boleh
digunakan oleh kalangan bangsawan di momen-momen tertentu saja. Namun,
untuk keperluan industri, adanya perangkat lunak untuk menciptakan ragam
motif batik tentu menjadi sebuah inovasi bernilai.
Batik
fraktal dapat menjadi solusi bagi permasalahan keterbatasan desain motif
batik. Dengan bantuan perangkat lunak jBatik, berbagai motif batik
dapat diciptakan secara cepat, baik motif dasar maupun motif hasil
modifikasi. Ada 3 bentuk batik fraktal yang dapat dihasilkan:
Batik Fraktal Sederhana : hasil simulasi komputer dalam bentuk fraktal yang memiliki kemiripan dengan desain batik tradisional.
Batik Hibrida : Pola motif dalam fraktal dan motif batik digunakan sebagai bahan ornamentasi dan dekorasi untuk desain batik secara bersamaan.
Batik Inovatif : Pola motif batik tradisional didesain ulang dengan menggunakan teknologi komputasional fraktal.
Batik Fraktal Sederhana : hasil simulasi komputer dalam bentuk fraktal yang memiliki kemiripan dengan desain batik tradisional.
Batik Hibrida : Pola motif dalam fraktal dan motif batik digunakan sebagai bahan ornamentasi dan dekorasi untuk desain batik secara bersamaan.
Batik Inovatif : Pola motif batik tradisional didesain ulang dengan menggunakan teknologi komputasional fraktal.
Nancy
mengatakan, perangkat lunak jBatik hanya membantu dalam mendesain
motif-motif batik, namun dalam hal pengerjaannya tetap dilakukan secara
tradisional, yaitu dengan teknik batik tulis atau cap. “Pengerjaannya
masih dilakukan oleh para pengrajin batik tradisional di Cirebon dan
Pekalongan,” tambahnya.
Dengan
inovasi dan kualitas yang mereka hasilkan, produk Batik Fractal
Indonesia memang patut diapresiasi dengan harga yang pantas. Selembar
kain batik tulis dibandrol dengan harga Rp700.000 hingga jutaan rupiah.
“Bahkan pernah ada yang terjual seharga Rp10 juta, saat itu memang ada
kolektor yang memesan khusus, dan dia berani membayar segitu setelah
melihat hasilnya,” kata Nancy. Tak heran, untuk menghasilkan selembar
kain batik tulis dibutuhkan waktu 1 hingga 5 bulan. Tergantung variasi
dan kesulitan motif serta warna. Semakin rumit motif dan semakin banyak
warna, maka proses pembuatannya pun akan semakin panjang. Itulah
sebabnya, Batik Fraktal Indonesia lebih sering mengerjakan kain batik
tulis sesuai pesanan.
Meski
awalnya baru menghasilkan produk berupa kain batik panjang, saat ini
Batik Fraktal Indonesia tengah mulai memproduksi pakaian batik ready to
wear. “Ada batik tulis, ada juga batik cap, namun semua desain motifnya
dibuat dengan menggunakan konsep fraktal,” tutur Nancy.
Karya
anak bangsa ini telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO. Pada Oktober
2008, UNESCO menganugerahi People Pixel Project dengan Award of
Excellence sebagai ‘Stamp of Approval’. Artinya produk mereka memiliki
kualitas tertinggi pada level internasional dan berpotensi besar untuk
masuk pasar dunia.
Psikologi Warna
Warna-warni memiliki efek psikologis.
Efeknya berpengaruh terhadap pikiran, emosi, tubuh, dan keseimbangan.
Aplikasi warna pada sebuah ruangan dapat menghasilkan kesan perasaan
yang semakin luas atau justru kebalikannya.
Berikut ini sifat-sifat psikologis beberapa warna:
Berikut ini sifat-sifat psikologis beberapa warna:
• Merah - Berani, penuh semangat,
agresif, memicu emosi, dan menarik perhatian. Secara positif, warna
merah mengandung arti cinta, gairah, berani, kuat, agresif, merdeka,
kebebasan, dan hangat. Negatifnya adalah punya arti bahaya, perang,
darah, anarki, dan tekanan.
• Kuning - Menciptakan perasaan optimis, percaya diri, pengakuan diri, akrab, dan lebih kreatif. Kuning juga dapat merugikan kita karena menyampaikan pesan perasaan ketakutan, kerapuhan secara emosi, depresi, kegelisahan, dan keputusasaan. Pilihan warna kuning yang tepat dan penggunaan yang sesuai akan mengangkat semangat kita dan lebih percaya diri.
• Hijau - berarti kesehatan, keseimbangan, rileks, dan kemudaan. Unsur negatif warna ini di antaranya memberi kesan pencemburu, licik, terasa jenuh, serta dapat melemahkan pikiran dan fisik. Di dalam sejarah China, warna hijau adalah warna perempuan. Lain dengan budaya muslim, yang menganggap warna hijau adalah warna yang suci. Warna untuk perdamaian juga hijau.
• Biru - Melambangkan intelektualitas, kepercayaan, ketenangan, keadilan, pengabdian, seorang pemikir, konsistensi, dan dingin. Selain itu, dapat memicu rasa depresi dan ragu-ragu. Biru gelap akan membantu berpikir tajam, tampil jernih, dan ringan. Biru muda akan menenangkan dan menolong berkonsentrasi dengan tenang. Terlampau banyak biru akan menimbulkan rasa terlalu dingin, tidak akrab, dan tak punya emosi atau ambisi.
• Ungu - Memberi efek spiritual, kemewahan, keaslian, dan kebenaran. Ungu mampu menunjang kegiatan bermeditasi dan berkontemplasi. Kemerosotan dan mutu yang jelek adalah sifat-sifat negatif warna ini.
• Putih - Warna murni, suci, steril, bersih, sempurna, jujur, sederhana, baik, dan netral. Warna putih melambangkan malaikat dan tim medis. Warna ini juga bisa berarti kematian karena berkonotasi kehampaan, hantu, dan kain kafan.
• Abu-abu - Bijaksana, dewasa, tidak egois, tenang, dan seimbang. Warna abu-abu juga mengandung arti lamban, kuno, lemah, kehabisan energi, dan kotor. Karena warnanya tergolong netral atau seimbang, warna ini banyak dipakai untuk warna alat-alat elektronik, kendaraan, perangkat dapur, dan rumah.
• Hitam - Berkesan elit, elegan, memesona, kuat, agung, teguh, dan rendah hati. Kesan negatifnya adalah hampa, sedih, ancaman, penindasan, putus asa, dosa, kematian, atau bisa juga penyakit. Tak seperti putih yang memantulkan warna, hitam menyerap segala warna. Dengan hitam, segala energi yang datang akan diserap. Walau mampu memesona dan berkarakter kuat, tapi banyak orang yang takut akan "gelap". Warna hitam berkonotasi gelap.
• Kuning - Menciptakan perasaan optimis, percaya diri, pengakuan diri, akrab, dan lebih kreatif. Kuning juga dapat merugikan kita karena menyampaikan pesan perasaan ketakutan, kerapuhan secara emosi, depresi, kegelisahan, dan keputusasaan. Pilihan warna kuning yang tepat dan penggunaan yang sesuai akan mengangkat semangat kita dan lebih percaya diri.
• Hijau - berarti kesehatan, keseimbangan, rileks, dan kemudaan. Unsur negatif warna ini di antaranya memberi kesan pencemburu, licik, terasa jenuh, serta dapat melemahkan pikiran dan fisik. Di dalam sejarah China, warna hijau adalah warna perempuan. Lain dengan budaya muslim, yang menganggap warna hijau adalah warna yang suci. Warna untuk perdamaian juga hijau.
• Biru - Melambangkan intelektualitas, kepercayaan, ketenangan, keadilan, pengabdian, seorang pemikir, konsistensi, dan dingin. Selain itu, dapat memicu rasa depresi dan ragu-ragu. Biru gelap akan membantu berpikir tajam, tampil jernih, dan ringan. Biru muda akan menenangkan dan menolong berkonsentrasi dengan tenang. Terlampau banyak biru akan menimbulkan rasa terlalu dingin, tidak akrab, dan tak punya emosi atau ambisi.
• Ungu - Memberi efek spiritual, kemewahan, keaslian, dan kebenaran. Ungu mampu menunjang kegiatan bermeditasi dan berkontemplasi. Kemerosotan dan mutu yang jelek adalah sifat-sifat negatif warna ini.
• Putih - Warna murni, suci, steril, bersih, sempurna, jujur, sederhana, baik, dan netral. Warna putih melambangkan malaikat dan tim medis. Warna ini juga bisa berarti kematian karena berkonotasi kehampaan, hantu, dan kain kafan.
• Abu-abu - Bijaksana, dewasa, tidak egois, tenang, dan seimbang. Warna abu-abu juga mengandung arti lamban, kuno, lemah, kehabisan energi, dan kotor. Karena warnanya tergolong netral atau seimbang, warna ini banyak dipakai untuk warna alat-alat elektronik, kendaraan, perangkat dapur, dan rumah.
• Hitam - Berkesan elit, elegan, memesona, kuat, agung, teguh, dan rendah hati. Kesan negatifnya adalah hampa, sedih, ancaman, penindasan, putus asa, dosa, kematian, atau bisa juga penyakit. Tak seperti putih yang memantulkan warna, hitam menyerap segala warna. Dengan hitam, segala energi yang datang akan diserap. Walau mampu memesona dan berkarakter kuat, tapi banyak orang yang takut akan "gelap". Warna hitam berkonotasi gelap.
Bentuk Ragam Hias
Ragam hias
adalah bentuk dasar hiasan yang biasanya akan menjadi pola yang
diulang-ulang dalam suatu karya kerajinan atau seni. Karya ini dapat
berupa tenunan, tulisan pada kain (misalnya batik), songket, ukiran,
atau pahatan pada kayu/batu. Ragam hias dapat distilasi (stilir)
sehingga bentuknya bervariasi.
Ragam
hias Nusantara dapat ditemukan pada motif batik, tenunan, anyaman,
tembikar, ukiran kayu, dan pahatan batu. Ragam hias ini muncul dalam
bentuk-bentuk dasar yang sama namun dengan variasi yang khas untuk
setiap daerah. Dalam karya kerajinan atau seni Nusantara tradisional,
sering kali terdapat makna spiritual yang dituangkan dalam stilisasi
ragam hias.
Terdapat
ragam hias asli Nusantara, yang biasanya merupakan stilisasi dari
bentuk alam atau makhluk hidup (termasuk manusia), dan ada pula ragam
hias adaptasi pengaruh budaya luar, seperti dari Tiongkok, India,
Persia, serta Barat.
Desain
hiasan dapat dibuat dari berbagai bentuk ragam hias. Adapun jenis-jenis
ragam hias yang dapat digunakan untuk menghias bidang atau benda yaitu :
a. Bentuk naturalis
Bentuk
naturalis yaitu bentuk yang dibuat berdasarkan bentukbentuk yang ada di
alam sekitar seperti bentuk tumbuh-tumbuhan, bentuk hewan atau binatang,
bentuk batu-batuan, bentuk awan, matahari, bintang, bentuk pemandangan
alam dan lain-lain.
b. Bentuk geometris
Bentuk geometris yaitu bentuk-bentuk yang mempunyai bentuk teratur dan dapat diukur menggunakan alat ukur.
Contohnya bentuk segi empat, segi tiga, lingkaran, kerucut, silinder dan lain-lain.
c. Bentuk dekoratif
Bentuk
dekoratif merupakan bentuk yang berasal dari bentuk naturalis dan bentuk
geometris yang sudah distilasi atau direngga sehingga muncul bentuk
baru tetapi ciri khas bentuk tersebut masih terlihat. Bentuk-bentuk ini
sering digunakan untuk membuat hiasan pada benda baik pada benda-benda
keperluan rumah tangga maupun untuk hiasan pada busana.
Pembelajaran Seni Rupa pada SD & SMP
Seni rupa merupakan hasil interpretasi dan tanggapan pengalaman
manusia dalam bentuk visual dan rabaan. Seni rupa berperanan dalam memenuhi
tujuan-tujuan tertentu dalam kehidupan manusia maupun semata-mata memenuhi
kebutuhan estetik. Karya seni rupa dapat menimbulkan berbagai kesan (indah,
unik, atau kegetiran) serta memiliki kemampuan untuk membangkitkan pikiran dan
perasaan. Dengan memahami makna tentang bentuk-bentuk seni rupa, akan diperoleh
rasa kepuasan dan kesenangan.
Seni rupa dapat dibedakan menjadi seni rupa murni, seni kriya, dan desain.
Jenis-jenis seni rupa ini menunjukkan proses pembuatan dan bentuk karya yang
dihasilkan, serta nama pembuatnya, yaitu seniman, kriyawan, dan desainer. Seni
murni menekankan pada ungkapan pikiran dan perasaan, meliputi seni lukis, seni
patung, dan seni grafis. Seni kriya menekankan pada keterampilan teknik
pembuatan karya, dengan hasil berupa karya kriya fungsional dan nonfungsional.
Seni kriya menggunakan berbagai teknik dan media tertentu, misalnya kriya kayu,
kriya logam, dan kriya tekstil. Desain menunjukkan proses pembuatan karya yang
maksud dan tujuannya telah ditentukan lebih dahulu. Karya desain merupakan
rancangan gambar, benda, atau lingkungan yang didasarkan pada
persyaratan-persyaratan tertentu. Seniman atau kriawan dapat bekerja secara
mandiri, sedangkan desainerbekerja untuk keperluan klien.
Pembelajaran seni
rupa di sekolah mengembangkan kemampuan siswa dalam berkarya seni yang bersifat
visual dan rabaan. Pembelajaran seni rupa memberikan kemampuan bagi siswa untuk
memahami dan memperoleh kepuasan dalam menanggapi karya seni rupa ciptaan siswa
sendiri maupun karya seni rupa ciptaan orang lain.
Melalui pengalaman
berkarya, siswa memperoleh pemahaman tentang berbagai penggunaan media, baik
media untuk seni rupa dwimatra maupun seni rupa trimatra. Dalam berkarya seni
rupa, siswa belajar menggunakan berbagai teknik tradisional dan modern untuk
mengeksploitasi sifat-sifat dan potensi estetik media. Melalui seni rupa, siswa
belajar berkomunikasi melalui gambar dan bentuk, serta mengembangkan rasa
kebanggaan dalam menciptakan ungkapan pikiran dan perasaannya.
Dalam pembelajaran seni rupa, peranan seni murni, kriya, maupun desain
bersifat saling melengkapi dan saling berkaitan. Pembelajaran seni rupa dapat
dilakukan dengan pendekatan studio, misalnya studio seni lukis, seni patung,
seni grafis, dan kriya. Pembelajaran seni rupa dapat juga dipisahkan menjadi
kegiatan pembelajaran seni rupa murni, kriya, dan desain.
Materi pokok seni rupa meliputi aspek apresiasi seni,
berkarya seni, kritik seni, dan penyajian seni. Apresiasi seni rupa berarti
mengenal, memahami, dan memberikan penghargaan atau tanggapan estetis (respons
estetis) terhadap karya seni rupa. Materi apresiasi seni pada dasarnya adalah
pengenalan tentang konsep atau makna, bentuk, dan fungsi seni rupa. Apresiasi
seni rupa dapat mencakup materi yang lebih luas, yaitu pengenalan seni rupa
dalam konteks berbagai kebudayaan.
Materi pelajaran apresiasi seni pada pendidikan Dasar dan
Menengah meliputi pengenalan terhadap budaya lokal, budaya daerah lain, dan
budaya mancanegara, baik yang bercorak primitif, tradisional, klasik, moderen,
maupun kontemporer. Selain pengenalan bentuk-bentuk seni rupa, materi apresiasi
juga meliputi pengenalan tentang latar belakang sosial, budaya, dan sejarah di
mana karya seni rupa dihasilkan serta makna-makna dan nilai-nilai pada seni
rupa tersebut.
Pembahasan konsep seni rupa meliputi struktur bentuk dan
ungkapan (ekspresi) dalam seni murni dan hubungan bentuk, fungsi, dan elemen
estetik dalam seni rupa terapan. Pembahasan tentang media seni rupa meliptui
ciri-ciri media, proses, dan teknik pembuatan karya seni rupa. Selain itu,
apresiasi seni juga perlu memberikan pemahaman hubungan antara seni rupa dengan
bentuk-bentuk seni yang lain, bidang-bidang studi yang lain, serta keberadaan seni
rupa, kerajinan, dan desain sebagai bidang profesi.
Berkarya seni rupa pada dasarnya adalah proses membentuk
gagasan dan mengolah media seni rupa untuk mewujudkan bentuk-bentuk atau
gambaran-gambaran yang baru. Untuk membentuk gagasan, siswa perlu dilibatkan
dalam berbagai pendekatan seperti menggambar, mengobservasi, mencatat, membuat
sketsa, bereskperimen, dan menyelidiki gambar-gambar atau bentuk-bentuk
lainnya. Selain itu, siswa juga perlu dilibatkan dalam proses pengamatan
terhadap masalah pribadi, realitas sosial, tema-tema universal, fantasi, dan
imajinasi.
Mengolah media pada dasarnya adalah
menggunakan bahan dan alat untuk menyusun unsur-unsur visual seperti garis,
bidang, warna, tekstur, dan bentuk. Dalam mengolah media, siswa perlu
diperkenalkan dengan teknik penggunaan berbagai bahan, dengan memperhatikan
keterbatasan-keterbatasan maupun kelebihan-kelebihannya. Dalam menyusun bentuk,
siswa perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan bentuk sehingga menjadi gaya
yang bersifat pribadi.
Dalam kritik seni, siswa dilibatkan dalam pembahasan
karya sendiri maupun karya teman atau orang lain. Pembahasan karya seni rupa di
sini merupakan proses analisis kritis, meliputi deskripsi, analisis,
interpretasi, dan penilaian. Unsur yang dianalisis adalah gaya, teknik, tema,
dan komposisi karya seni rupa. Melalui kegiatan ini, siswa dapat mengasah
keterampilan pengamatan visualnya.
Pembelajaran kritik seni rupa memberikan pengenalan dan
latihan menggunakan bahasa dan terminologi seni rupa untuk mendeskripsikan dan
memberikan tanggapan terhadap karya seni rupa. Tanggapan ini berkaitan dengan
sifat-sifat sensoris karya seni rupa, seperti aspek-aspek taktil (rabaan),
spasial (keruangan), dan kinestetik (gerak). Pembelajaran kritik seni juga
melatih kemampuan untuk memahami makna-makna yang disampaikan melalui
simbol-simbol visual, bentuk-bentuk, dan metafora.
Selain
berkarya seni rupa, materi pokok seni rupa juga mencakup penyajian karya seni
rupa. Materi penyajian karya seni meliputi penyajian secara lisan di kelas dan
pameran di lingkungan kelas, sekolah, bahkan juga di masyarakat. Materi pokok
pameran adalah seleksi, pemajangan karya, dan publikasi. Materi pameran juga
mencakup kegiatan pengorganisasian pameran, meliputi perancangan, pelaksanaan,
dan evaluasi pameran.
DAFTAR PUTAKA:
Modul UT.
Monday, August 13, 2012
Saturday, August 11, 2012
SEKILAS TENTANG DESAIN GRAFIS
Desain
Grafis berasal dari 2 buah kata yaitu Desain dan Grafis, kata Desain
berarti proses atau perbuatan dengan mengatur segala sesuatu sebelum bertindak
atau merancang. Sedangkan Grafis adalah titik atau garis yang
berhubungan dengan cetak mencetak. Jadi dengan demikian Desain Grafis
adalah kombinasi kompleks antara kata-kata, gambar, angka, grafik, foto dan
ilustrasi yang membutuhkan pemikiran khusus dari seorang individu yang bias
menggabungkan elemen-elemen ini, sehingga mereka dapat menghasilkan sesuatu
yang khusus atau sangat berguna dalam bidang gambar.
Desain Grafis adalah
cabang ilmu dari seni Desain yang dalam perkembangannya Desain Grafis
dibantu oleh komputer dalam mendesain sebuah object. Orang yang bekerja dalam
bidang ini di sebut seorang Desainer dan seorang Desainer harus
memiliki minimal 5 (lima) Dimensi Keilmuan yaitu :
1. Wawasan Teknologi
2. Wawasan Sains
3. Wawasan Seni
4. Wawasan Sosial Dan Budaya
5. Wawacan Filsafat Dan Etika
Software dalam Desain
Grafis
Banyak sekali software-software
yang digunakan dalam dunia Desain Grafis diantaranya adalah : Adobe
Photoshop, Corel Draw, Ilustrator dan lain sebagainya…
sehingga seorang Desainer Grafis dapat memilih software andalannya dalam
mengerjakan project Designnya.
Sedikit
Artikel yang berkaitan dengan salah satu software Grafis – Adobe Photoshop.
Adobe Photoshop
Adobe Photoshop adalah
software yang dibuat oleh perusahaan Adobe System, yang di khususkan
untuk pengeditan foto atau gambar dan pembuatan effect. Perangkat lunak ini banyak
digunakan oleh Fotografer Digital dan perusahaan iklan sehingga dianggap
sebagai pemimpin pasar (market leader) untuk perangkat lunak
pengolah gambar. Meskipun pada awalnya Photoshop dirancang untuk
menyunting gambar untuk cetakan berbasis-kertas, Photoshop yang ada saat
ini juga dapat digunakan untuk memproduksi gambar untuk World Wide Web.
Beberapa versi terakhir juga menyertakan aplikasi tambahan, Adobe ImageReady,
untuk keperluan tersebut.
Photoshop juga
memiliki hubungan erat dengan beberapa perangkat lunak penyunting media,
animasi, dan authoring buatan Adobe lainnya.
Kelebihan Adobe Photoshop
Adobe Photoshop
mempunyai banyak fasilitas yang memungkinkan seorang Desainer
menciptakan efek-efek tertentu dan bisa menggunakan banyak variasi dari fasilitas
yang disediakan oleh Adobe Photoshop, beberapa diantaranya yaitu:
- Membuat tulisan dengan
effect tertentu.
Photoshop dapat
mengubah bentuk tulisan menjadi lebih kreatif dan inovatif dengan tool effect
yang ada didalamnya
- Membuat tekstur dan
material yang beragam.
Dengan langkah-langkah
tertentu, seorang Desainer dapat membuat gambar misalnya daun, logam,
air, dan bermacam gambar lainnya
- Mengedit foto dan
gambar yang sudah ada.
Dengan Photoshop
kita dapat merubah gambar kita jelek menjadi bagus ataupun sebaliknya. Selain
itu juga Photoshop dapat merubah foto seseorang menjadi sebuah gambar
kartun. Atau dalam Design Grafis disebut vector and vexel.
- Memproses materi Web.
Photoshop juga
digunakan untuk keperluan web, misalnya: kompresi file gambar agar ukurannya
lebih kecil, memotong gambar kecil-kecil (slice), dan membuat web
photo gallery. Dengan Adobe Image Ready, gambar yang sudah ada bisa
dibuat untuk keperluan web, misalnya menjadi rollover dan animasi GIF.
Kelemahan Adobe
Photoshop
Kelemahan Adobe
Photoshop dalam menciptakan Image adalah bahwa Adobe Photoshop hanya
bisa digunakan untuk menciptakan Image yang statis, dan juga dengan
berkembangnya versi Photoshop sekarang ini spesifikasi Komputer untuk
menjalankan program Adobe Photoshop juga harus sudah tinggi dan yang
pasti akan diimbangi oleh harga yang tinggi pula.
Thursday, August 9, 2012
PENGERTIAN SENI
Istilah
"seni" yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris art,
sebenarnya usianya masih sangat muda (istilahnya). Ditinjau dari segi
etimologi, istilah ini masih sulit untuk dijelaskan.
Sebelum abad
ke-15 istilah seni digunakan untuk menyebutkan apa saja yang punya peraturan.
Ada istilah Seni berperang, seni memasak, seni bercinta, dokter yang
belum praktek namanya Semi Art.
Perkembangan
selanjutnya istilah art diklaim oleh seni rupa. Art hanya digunakan dalam
bidang seni rupa, hal itu dapat dilihat dari buku-buku art semuanya tentang
seni rupa, demikian juga Art Departement pada perguruan tinggi di Barat yang
dikelola hanya seni rupa. Hal itu disebabkan karena daerah jelajah seni lainnya
semua sudah punya nama seperti misalnya music, dance, theatre, drama dan
sebagainya..
Ada yang
menyebutkan istilah Seni berasal dari kata ”sani” dalam bahasa sansakerta yang
berarti pemujaan, pelayanan, donasi, permintaan, atau pencarian dengan hormat
dan jujur.
Ada juga yang
menyebutkan istilah seni berasal dari bahasa Belanda ”genie” yang artinya
jenius.
Istilah ”seniman”
merupakan istilah yang baru populer di masyarakat kita. Soalnya pekerjaan ini
dahulu belum merupakan suatu profesi, yaitu spesialisasi yang dikerjakan oleh
dalam sebagian besar masa hidupnya.
Seniman Profesional
- Ketrampilan
- Mampu menghidupi dirinya dari profesinya.
Definisi yang
paling bersahaja menyebutkan bahwa, Seni adalah keindahan yang dibuat oleh
manusia.
Everyman
Encyclopedia menyebutkan bahwa, Seni adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh
orang bukan atas dorongan kebutuhan pokoknya, melainkan adalah apa saja yang
dilakukannya semata-mata karena kehendak akan kemewahan, kenikmatan, ataupun
karena dorongan kebutuhan spiritual.
Menurut Ki Hajar
Dewantara, Seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dari hidup
perasaannya dan bersifat indah, hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia
lainnya.
Akhdiat Karta
Miharja menyebutkan, Seni adalah kegiatan rohani manusia yang merefleksi
realitet (kenyataan) dalam suatu karya yang berkat bentuk dan isinya mempunyai
daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani si penerimanya.
Thomas Munro
menyebutkan, Seni adalah alat buatan manusia untuk menimbulkan efek-efek
psikologis atas manusia lain yang melihatnya. Efek tersebut mencakup
tanggapan-tanggapan yang berwujud pengamatan, pengenalan, imajinasi, yang
rasional maupun emosional.
Kata Kunci
- Seni itu harus indah
- Seni dibuat oleh manusia
- Seni bukan kebutuhan pokok melainkan kebutuhan tertier
- Seni memiliki kekuatan transfer of feeling.
- Seni dapat menimbulkan efek psikologis bagi yang menikmati
Kesimpulan
Sementara
Seni adalah karya
manusia yang mengkomunikasikan pengalaman-pengalaman batinnya; pengalaman batin
tersebut disajikan secara indah atau menarik sehingga merangsang timbulnya
pengalaman batin pula pada manusia lain yang menghayatinya. Kelahirannya tidak
didorong oleh hasrat memenuhi kebutuhan manusia yang pokok, melainkan merupakan
usaha untuk melengkapi dan menyempurnakan derajat kemanusiaan, memenuhi
kebutuhan yang spiritual sifatnya.
Wednesday, August 8, 2012
BATIK URANG
Ini adalah Batik hasil karya saya sendiri, yang saya beri judul Batik Urang.
Makna Filosofis Batik Urang :
Kata “Urang” berasal dari bahasa Jawa yang berarti udang.
- Secara visual motif batik Urang memiliki makna bahwa Gresik merupakan daerah yang banyak menghasilkan udang. Karena di wilayah Gresik khususnya bagian utara banyak terdapat tambak-tambak yang membudidayakan udang sebagai hasil produksi utamanya.
- Secara simbolis motif batik Urang memiliki makna sebagai berikut :
- Gambar motif dua udang sebagai motif utama menggambarkan bahwa sepasang pasangan dengan kasih sayang memiliki kekuatan yang sangat besar dari pada seorang diri dalam menjalani kehidupan.
- Gambar motif antena udang yang menjulur-julur sangat banyak menggambarkan bahwa keseimbangan dalam menjalani kehidupan itu sangat diperlukan.
- Gambar motif kepala udang sebagai motif tambahan menggambarkan kepala merupakan unsur yang penting yaitu sebagai pemimpin, yang berarti bahwa betapa pentingnya seorang pemimpin dalam sebuah kehidupan.
- Gambar motif tiga udang yang saling berdekatan sebagai isen-isen menggambarkan bahwa manusia dalam hidupnya akan mengalami awal, tengah, dan akhir yang tidak bisa lepas dengan sesamanya.
- Motif pinggiran diambil dari bentuk ekor udang yang sudah dideformasi.















